4 April 2015

Aku Mulai Gila!

Aku mengikuti kebiasaan teman ketika pertama kali berkenalan. Perkenalan entah dimana, selalu muncul pertanyaan, "asal kamu dari mana? Jawaban lumrah, pasti menyebutkan kota besar, minimal ibukota provinsi. Meskipun asal sebenarnya adalah kabupaten yang tidak  tidak terkenal dan jarang muncul di berita TV atau koran. Ada dua alasan, pertama: menyebutkan daerah asal sebenarnya rawan memunculkan pertanyaan lanjutan, "itu dimana yah? Pertanyaan susulan yang selalu dihindari. Kedua: menyebut kota besar, minimal akan memberi kesan pertama bahwa kita tidak kampungan.

Aku ketika bepergian ke daerah lain, di luar provinsi asalku, selalu menyebut Makassar setiap ada pertanyaan seperti di atas. Terlebih aku mengenal kota tersebut sebaik aku mengenal mantan pacarku. Ah tidak penting keleus! Tidak ada pertanyaan susulan karena semua orang tahu dimana. Paling hanya komentar-komentar yang tidak penting. Makassar adalah kota besar dan aku bangga menyebutnya sebagai kota kelahiranku. Akan tetapi, ketika sudah cukup akrab dengan teman baruku, barulah aku mengatakan yang sebenarnya. Temanku tidak protes kenapa aku berbohong saat perkenalan pertama dan aku juga tidak keberatan menjelaskan pertanyaan susulan darinya.

Kau tahu, Makassar bukanlah kota yang ramah padaku. Makassar tidak memberiku percintaan yang memuaskan.  Aku tertahan lama hidup luntang lantung karena kuliah tak kunjung selesai. Juga Makassar tidak memberiku penghasilan yang cukup untuk mengajak perempuan menginjak sudut kafe mahal. Tapi aku tetap merindukan Makassar. Betul kata perempuan yang baru saja patah hati, rasa kehilangan datang saat tak lagi memilikinya. Aku berpisah dengan Makassar. Aku tak merayakan perpisahan itu karena diam-diam aku ingin kembali mengayuh kaki, menghabiskan umur di Makassar.

Kini, di Gorontalo. Sudah setahun lebih aku menghirup napas dan melihat bentor lalu lalang di sini. Aku menyukai kota ini karena relatif aman dibanding kota besar lain, meskipun Gorontalo tak layak disebut kota besar. Tak ada begal atau geng motor walaupun aku sering kelayapan tengah malam mencari ayam lalapan karena kelaparan. Pantas lemak tubuhku semakin kurang ajar, baru sadar.

Tak seperti Makassar, Gorontalo memberiku penghasilan lebih dari cukup untuk mengajak 3 perempuan sekaligus ke kafe paling mahal. Itu gambaran saja yang sebenarnya tidak pernah kuwujudkan. Terus terang, perempuan disini lebih murah senyum. Bermodal perkenalan dan basa- basi lewat BBM, kau bisa merogoh isi brahnya, tentunya dengan mengajaknya makan 2 atau 3 kali di restoran elit terlebih dahulu. Itu juga gambaran yang tidak pernah kulakukan. Sedikit hiperbolic, entah benar atau tidak, tapi itulah yang dikatakan teman padaku. Aku hanya meneruskan cerita.

Selain cuaca yang panasnya tak ketulungan dan tukang bentor yang tidak tahu cara minta maaf ketika menyenggol motormu, aku menyukai Gorontalo. Kuulangi sebagi penegasan. Ada beberapa toko buku kecil, tempat makan enak, kopi yang nikmat. Syarat bagiku untuk betah selain perempuan muda yang ramah tentunya. Aku rajin membeli buku untuk membunuh waktu. Tak masalah punya sedikit teman, yang penting ada novel berkualitas yang bisa kubaca, aku sudah bahagia. Sederhana.

Kau tahu, aku pernah dijodohkan dengan orang Gorontalo. Berkali-kali bahkan. Mungkin karena orang-orang kasihan padaku atau karena kekurangan topik untuk dibahas. Tapi aku tak tertarik. Aku ngeri dengan cerita temanku tentang merogoh brah. Jelas aku lebih percaya pada perempuan Makassar, meskipun tidak lebih cantik tapi aku percaya tak ada lelaki yang berani merogoh isi baju atau selangkangannya. Agak vulgar yah. Aku hanya meneruskan cerita.

Demi langit dan bumi, aku mulai gila!


Tidak ada komentar: