14 April 2015

Eka Suciningsih

Matari mengintip rendah di balik mega. Semburat jingga berbentuk garis tak beraturan mengelilingi awan senja. Aku memandanginya kagum sambil mengisap rokok dengan khusuk. Tanpa kopi. Ini sudah sore menjelang pulang kantor, yang tersisa hanya ampas kopi yang tak mungkin kuhirup lagi.

Aku menyapanya lewat BBM terakhir kali sekitar 2 bulan yang lalu. Maaf, bukan aku yang menyapanya tapi dialah yang menyapaku duluan. Tentang apa, aku sudah lupa.

Namanya Eka Suciningsih a ka eka, echa, esha, suci atau chiyoko. Aku agak kaku karenanya tidak pernah mengubah nama panggilan orang. Termasuk Eka Suciningsih yang sudah kuputuskan untuk memanggilnya Eka sejak pertama kali mengenalnya. Aku sengaja mengedit namanya di kontak BBM, supaya tidak salah orang jika dia mengubah namanya di BBM seperti yang sering dia lakukan.

Sekali waktu dia lewat di depanku, menoleh dan bilang dia ingin kentut. Sesaat kemudian dia menyunggingkan bokongnya dan proootttt....! Lalu berlalu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku merasa gagal sebagai laki-laki karena tak  menegurnya kala itu. Sewindu berlalu tapi peristiwa itu masih mengantuiku. Entahlah, mungkin dia sudah lupa kejadian tersebut.

Dia wanita yang baik dan sedikit ribut. Beruntung sebenarnya, belum pernah aku menulis tentang wanita lalu mempostingnya di blog. Eka adalah orang pertama, hanya karena selentingan kabar yang beredar bahwa dia ulang tahun hari ini. 

Gorontalo beranjak gelap. Aku kehabisan kata-kata.

Selamat ulang tahun, Eka. Semoga cepat dapat pasangan...

Tidak ada komentar: