18 September 2015

Bujang

Aku tiba di rumah tepat jam 9 malam. Rumah yang kusewa bersama 2 perantau lain yang juga mencari nafkah di Gorontalo. Seperti biasa, akulah orang pertama dan terakhir pulang ke rumah. Nyaris setiap hari. Aku duduk, melepas sepatu lalu merogoh handphone di saku celana. Terlihat panggilan tak terjawab dari kakakku di kampung, sampai beberapa kali. Mungkin ada hal penting. Tanpa mengganti baju kantor, aku menelpon balik. Cerita rumit baru saja dimulai.

Kakakku, saudaraku satu-satunya, langsung memulai. Awalnya sederhana saja. Dia bertanya dan aku jawab sekenanya. Aku tahu, dia pasti sudah memikirkan segalanya sebelum membicarakan hal tersebut. Aku berusaha tidak masuk dalam pusaran pembicaraan. Aku serius, tegasnya. Dia tahu aku mewarisi sifat kebanyakan laki-laki, menunda pernikahan sekuat yang mereka mampu.

Keseriusannya dijelaskan dengan panjang. Segala alasan dia utarakan. Sebagai laki-laki, tentu argumen rasional mendominasi penjelasannya. Pada dasarnya aku setuju saja. Tetapi dia mungkin lupa, atau pura-pura lupa menanyakan ihwal lain yang tak kalah pentingnya: perasaan. Aku minta waktu untuk memikirkan tawarannya. Tak ada waktu, dia menimpali. Suasana sedang genting, tak ada waktu untuk berpikir panjang, lanjut dia. 

Di ujung telepon, kudengar isak tangis kecil ibuku. Dia sengaja mendorong kakakku sebagai orang terkahir karena ibuku sudah mencoba entah berapa kali tapi jawabanku tetap sama: nanti. Dan dia tak bisa dan tak berniat memaksaku.

Aku mengalah dan mengabaikan urusan perasaan. Aku setuju akhirnya. Jawaban terakhir yang mempertegas kekalahanku.

2 hari kemudian, tersiar kabar keluargaku sudah mendatangi rumah perempuan itu. Melamar! Seketika aku syok berat. Tindakan yang menurutku terlalu cepat dan ceroboh. Aku bahkan tak pernah berkomunikasi dengan perempuan itu selama 1 tahun terakhir. Nyaris aku gantung diri pada tiang bendera di depan kantor. Tapi urung kulakukan karena aku tak bisa memanjat.

Apa jawaban perempuan itu. Tidak ada! Dia hanya merespon dengan menambahkan aku di kontak BBMnya, dia marah, jengkel, menganggapku tak berperasaan, dan tak mengerti bagaimana tentang perempuan. Aku minta maaf sebisanya. Belum sempat aku jelaskan lebih lanjut, dia sudah menghilang dari kontakku. Deleted! Aku sekali lagi ingin bunuh diri dengan menabrakkan diri di jalan raya. Tapi urung terjadi karena 2 jam berlalu dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat depan rumah. FYI, aku tinggal dalam kompleks perumahan. Syukurlah.

Cerita rumit usai, menguap begitu saja tanpa ada jawaban dari perempuan itu kecuali diam. Diam yang kupastikan sebagai penolakan.

Yang kusesali hingga kini, aku tak pernah bertanya padanya: maukah kau jadi istriku?
Aku gila!

***
Beberapa tahun terakhir aku jomblo (tolong abaikan kata "beberapa"). Ini tidak ada kaitannya dengan slogan "jomblo sampai halal" seperti yang didengungkan oleh hadirin ikhwan-ukhti sekalian. Ini juga tak ada hubungannya dengan orientasi seksualku. Aku normal sebagai laki-laki. Aku hanya tak begitu tertarik dengan status pacaran. Lebih tertarik pada status "teman dekat" seperti artis-artis terkenal itu.

Tentu saja, status "teman dekat" lebih sulit diperjuangkan. Perempuan butuh kepastian dan itu tidak akan didapat hanya dengan status "teman dekat". Kedua, hubungan jenis ini jarang bertahan lama. Tapi aku sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinannya dan punya solusi yang tak akan kusampaikan disini. 

Jauh sebelum tragedi lamaran di atas, aku pernah membayangkan untuk melamar perempuan yang bukan pacarku. Mendatangi orangtua perempuan yang kusuka, melamar, lalu nikah. Sesederhana itu. Kedengaran indah dan romantis bukan? Tapi yah sudahlah, tak usah dibayangkan lagi, insiden lamaran di atas cukup jadi pelajaran.

***

Bianglala menggantung di ufuk barat
Dikelilingi semburat cahaya rapat
Sendu bersama rintik hujan
Terbuai dalam lamunan

Kulihat jarum jam bergerak malas
Semut kecil sedang tertidur pulas
...
Bujang sedang merenungi nasibnya.

Tidak ada komentar: