8 Juni 2009

Flu Babi, Flu Burung, Globalisasi; Rencana Sistemik

Melihat berbagai fenomena dunia, ada hal menarik dan menggelitik jika kita melihatnya secara komprehensif. Akan kita dapatkan benang merah jika semuanya dihubungkan. Betapa sebuah rencana sistemik yang direncanakan oleh sekelompok orang, dimana rencana ini mampu menembus semua sisi kehidupan manusia. Semua perubahan ini bukan kebetulan, tapi sebuah rencana rapih yang telah direncanakan secara matang dan berkesinambungan yang mengarahkan manusia pada satu muara kehidupan. Namun, kebanyakan dari kita tidak menyadarinya sama sekali.

Isu globalisasi, mode, terorisme adalah bagian dari rencana tersebut. Dalam hal ini media massa menjadi tombak ampuh. Sebagai contoh, dalam setiap pidato kepresidenan AS, tidak kurang dari 20 kali sang presiden mengulang kata terorisme. PD II, perang Vietnam, Tragedi 11 September, Perang Irak, Agresi Israel, Flu Babi, Flu Burung, sampai pada Flu singapura tidak muncul begitu saja, ada tujuan dari semua itu. Kampanye stop global warming yang marak di TV ternyata hanya kedok. Faktanya, pembabatan hutan tetap terjadi dan yang melakukannya ternyata si pembuat kampanye itu sendiri. Aneh bukan…

AS yang dikenal sebagai pembela HAM, bangsa pencinta kedamaian ternyata hanya topeng bermuka manis yang terus berusaha meninabobokan. Supaya kita menutup mata terhadap kebejatannya. Faktanya, pembantaian semasa PD II, Perang Vietnam, dan Perang Irak adalah hasil kerja AS. Sangat Kontradiksi jika menyimak pidato pertama barrack Obama setelah dilantik menjadi presiden. Mulut manis mereka bicara perdamaian, di lain pihak mereka membantai jutaan orang tak bersalah di Irak. Sungguh ironis…

Globalisasi ternyata hanya sebuah symbol untuk mengarahkan manusia pada satu kehidupan. Kebebasan yang menjadi semu. Kecantikan di standarisasi, mode di standarisasi, kehidupan social ekonomi distandarisasi, pendidikan distandarisasi, sampai agama pun distandarisasi dengan cara menentukan sejauh mana agama bisa berperan dalam kehidupan. Karena malu dibilang norak, akhirnya sebagian besar dari kita tercengkram olehnya. Walaupun, cuma ikut-ikutan seperti kambing congek…

Bagaimana pendapat anda? Mohon komentarnya…

Tidak ada komentar: