14 Juni 2016

14 Juni 2005

14 Juni 2005. Ketika itu malam hendak menyergap senja dan bersiap menguburnya dalam gelap. Ayah kami menghebuskan napas terakhirnya. Perjuangan melawan tumor ganasnya berakhir dengan kematian yang tenang. Al Fatihah.

Tepat 11 tahun ayah meninggalkan kami. Tak ada lagi yang mengingatkan mengucap Alhamdulillah setiap kali mendapat nilai bagus di sekolah.

Ayah, kami selalu mengingatmu dalam setiap baris doa. Semoga kita dipertemukan dalam suka cita, di akhirat kelak. Amin.

Gorontalo, 14 Juni 2016

15 Mei 2016

Membaca Murakami

Tidak banyak penulis yang aku baca karyanya. Hanya bisa dihitung jari. Aku tidak suka mengakrabkan diri dengan banyak penulis. Terlebih aku tidak punya banyak waktu untuk membaca banyak buku. Apologi.

Penulis hebat akan menghasilkan karya yang berkualitas, sampai terbukti sebaliknya. Keyakinan itu yang saya pegang sampai detik ini. Aku membaca Pramoedya Ananta Toer setelah membeli tetralogi Bumi Manusia. Setelahnya aku memburu karya Pram yang lain, hampir semua. Aku terlanjur terpikat pada cara beliau bertutur. Aku membaca hampir semua karya Dewi Lestari sampai akhirnya kecewa dengan seri terakhir Supernova, Intelegensi Embun Pagi. Mungkin aku tidak akan membeli bukunya lagi. Aku juga memburu semua karya Eka Kurniawan. Penulis yang tidak dapat kau tebak isi kepalanya. Penulis cabul nan cerdas. Haha

Lalu kemudian aku berkenalan dengan Haruki Murakami. Penulis Jepang yang bukunya sangat rumit. Jujur, karena rumitnya, aku tertarik dengan bukunya yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, seperti Norwegian Wood, IQ84, dan Dunia Kafka. 

Rumit, detail, dan sedikit cabul. Itulah kesan pertama membaca Murakami. Tapi aku menyukai deskripsi sex yang ikut mewarnai buku-bukunya. Aku membayangkan artis JAV zaman kuliah dulu setiap kali dia menggambarkan detail sex. Aneh.

Sebagai catatan, aku hanya membaca 3 karya Murakami. Mungkin dia punya karya hebat lain yang plot dan cara bertuturnya beda. Tapi izinkan aku berkesimpulan: Tokoh utama dalam cerita Murakami adalah kutu buku, pendiam, penyendiri, cerdas dan pendengar yang baik. Dua sifat terakhir perlu digaris bawahi.

Cerdas dan pendengar yang baik adalah bakat. Tentu saja perlu dilatih. Saya yakin, Murakami sengaja mengangkat tokohnya sebagai pencinta buku untuk menegaskan sifat-sifat di atas. Kalau anda membaca tiga buku Murakami tersebut, kesan itu akan anda temui. Perhatikan katakter Tengo dalam IQ84, Watanabe pada Norwegian Wood, atau Kafka dalam Dunia Kafka. Ada kemiripan. Walaupun aku berpikir itu wajar karena ditulis oleh orang yang sama.

Tapi betul apa yang diceritakan oleh Murakami, dalam dunia nyata penggila buku adalah pediam (umumnya), cerdas, pendengar yang baik, dan teman cerita yang menghanyutkan. 

Anda bisa menghabiskan banyak waktu dengan penggila buku tanpa merasa bosan. Selalu ada kejutan di balik batok kepalanya dan tentu saja dia akan memberi pendapat jika anda memintanya.

12 Mei 2016

Membunuh John Lennon, Sekali Lagi

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace


Demikian potongan lirik imagine-nya John Lennon. Entah setan apa yang merasuki jiwanya sampai membuat lirik segila itu.

Lagu ini membuat aku merinding ketika pertama kali mendengarnya sekitar 8 tahun lalu. Dan daya magisnya masih menghantuiku hingga detik ini.

Sampai akhirnya aku mendapat ide yang tak kalah gilanya: berjanji melamar wanita yang spontan mengungkap pendapatnya ketika kutanyakan: apa pendapatmu tentang Imagine-nya John Lennon?

Apa daya, nasib sering -tak hanya kadang- berkata lain. 8 tahun berlalu, jawaban yang kudapatkan adalah pertanyaan: lagu apa itu? Siapa John Lennon? Oh my God! Sungguh di luar ekspektasi.

Mungkin tak seperti lanjutan lirik lagu tersebut

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one 

Mungkin aku hanya pemimpi dan tak seorang pun di dunia ini yang punya mimpi seperti mimpiku.

Aku semakin tua dan mulai berpikir untuk melupakan ide gilaku.

Aku ingin membunuh John Lennon. Sekali lagi.

Menjebak Hujan

Pakaianku nyaris basah kuyup dalam perjalanan ketika aku menepikan motor di sudut warung kopi. Berlindung dari hujan yang tiba-tiba tumpah dari langit. Sepertinya Tuhan tidak sedang bercanda. Atau mungkin Tuhan tiba-tiba mendapat ide untuk memaksaku singgah di warung kopi setelah sekian lama tidak menikmati kopi. Ditemani hujan. Tuhan yang Pengasih.

Perihal terjebak dan menjebak. Korban dan pelaku. Analogi keduanya mirip, dimana terjebak adalah korban, sementara menjebak adalah pelaku. Seringkali kita menempatkan diri sebagai pihak terjebak untuk mendiskreditkan atau menyudutkan pihak lain. Manusia terlalu banyak salah sampai lupa menyudutkan diri mereka.

Kembali ke ihwal hujan. Hujan dan perasaan terjebak. Manusia ketika dalam perjalanan lalu turun hujan, yang pertama kali muncul di benak adalah kita terjebak hujan. Karena hujan kita tidak dapat melanjutkan aktifitas. Manusia adalah korban dan hujan adalah pelakunya. Seperti yang kualami saat ini. Tersudut di warung kopi karena hujan.

Aku teringat wejangan Pramoedya Ananto Toer. Adil sejak dalam pikiran.

Hujan dan manusia adalah dua eksistensi. Bisakah kita menilai hujan secara adil? Pernahkah kita membayangkan hujan telah terjebak dan kita berada dalam jebakan itu. Kita di antara pihak yang dilibatkan Tuhan ketika hujan terjebak. Jangan-jangan hujan  sedang berpikir, manusia -yang terlibat- yang menjebaknya, sebelum kita berpikir telah dijebak hujan. Manusia menjebak hujan. Hujan hanyalah korban.

Hujan tak pernah memilih kapan dan dimana dia akan jatuh. Hujan jatuh di tempat kita berada, lalu menyalahkan hujan dan berdalih kita terjebak hujan. Sungguh tidak adil. Mas Pram, maafkan kami.

Aku ingin menjebak hujan.

18 September 2015

Bujang

Aku tiba di rumah tepat jam 9 malam. Rumah yang kusewa bersama 2 perantau lain yang juga mencari nafkah di Gorontalo. Seperti biasa, akulah orang pertama dan terakhir pulang ke rumah. Nyaris setiap hari. Aku duduk, melepas sepatu lalu merogoh handphone di saku celana. Terlihat panggilan tak terjawab dari kakakku di kampung, sampai beberapa kali. Mungkin ada hal penting. Tanpa mengganti baju kantor, aku menelpon balik. Cerita rumit baru saja dimulai.

Kakakku, saudaraku satu-satunya, langsung memulai. Awalnya sederhana saja. Dia bertanya dan aku jawab sekenanya. Aku tahu, dia pasti sudah memikirkan segalanya sebelum membicarakan hal tersebut. Aku berusaha tidak masuk dalam pusaran pembicaraan. Aku serius, tegasnya. Dia tahu aku mewarisi sifat kebanyakan laki-laki, menunda pernikahan sekuat yang mereka mampu.

Keseriusannya dijelaskan dengan panjang. Segala alasan dia utarakan. Sebagai laki-laki, tentu argumen rasional mendominasi penjelasannya. Pada dasarnya aku setuju saja. Tetapi dia mungkin lupa, atau pura-pura lupa menanyakan ihwal lain yang tak kalah pentingnya: perasaan. Aku minta waktu untuk memikirkan tawarannya. Tak ada waktu, dia menimpali. Suasana sedang genting, tak ada waktu untuk berpikir panjang, lanjut dia. 

Di ujung telepon, kudengar isak tangis kecil ibuku. Dia sengaja mendorong kakakku sebagai orang terkahir karena ibuku sudah mencoba entah berapa kali tapi jawabanku tetap sama: nanti. Dan dia tak bisa dan tak berniat memaksaku.

Aku mengalah dan mengabaikan urusan perasaan. Aku setuju akhirnya. Jawaban terakhir yang mempertegas kekalahanku.

2 hari kemudian, tersiar kabar keluargaku sudah mendatangi rumah perempuan itu. Melamar! Seketika aku syok berat. Tindakan yang menurutku terlalu cepat dan ceroboh. Aku bahkan tak pernah berkomunikasi dengan perempuan itu selama 1 tahun terakhir. Nyaris aku gantung diri pada tiang bendera di depan kantor. Tapi urung kulakukan karena aku tak bisa memanjat.

Apa jawaban perempuan itu. Tidak ada! Dia hanya merespon dengan menambahkan aku di kontak BBMnya, dia marah, jengkel, menganggapku tak berperasaan, dan tak mengerti bagaimana tentang perempuan. Aku minta maaf sebisanya. Belum sempat aku jelaskan lebih lanjut, dia sudah menghilang dari kontakku. Deleted! Aku sekali lagi ingin bunuh diri dengan menabrakkan diri di jalan raya. Tapi urung terjadi karena 2 jam berlalu dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat depan rumah. FYI, aku tinggal dalam kompleks perumahan. Syukurlah.

Cerita rumit usai, menguap begitu saja tanpa ada jawaban dari perempuan itu kecuali diam. Diam yang kupastikan sebagai penolakan.

Yang kusesali hingga kini, aku tak pernah bertanya padanya: maukah kau jadi istriku?
Aku gila!

***
Beberapa tahun terakhir aku jomblo (tolong abaikan kata "beberapa"). Ini tidak ada kaitannya dengan slogan "jomblo sampai halal" seperti yang didengungkan oleh hadirin ikhwan-ukhti sekalian. Ini juga tak ada hubungannya dengan orientasi seksualku. Aku normal sebagai laki-laki. Aku hanya tak begitu tertarik dengan status pacaran. Lebih tertarik pada status "teman dekat" seperti artis-artis terkenal itu.

Tentu saja, status "teman dekat" lebih sulit diperjuangkan. Perempuan butuh kepastian dan itu tidak akan didapat hanya dengan status "teman dekat". Kedua, hubungan jenis ini jarang bertahan lama. Tapi aku sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinannya dan punya solusi yang tak akan kusampaikan disini. 

Jauh sebelum tragedi lamaran di atas, aku pernah membayangkan untuk melamar perempuan yang bukan pacarku. Mendatangi orangtua perempuan yang kusuka, melamar, lalu nikah. Sesederhana itu. Kedengaran indah dan romantis bukan? Tapi yah sudahlah, tak usah dibayangkan lagi, insiden lamaran di atas cukup jadi pelajaran.

***

Bianglala menggantung di ufuk barat
Dikelilingi semburat cahaya rapat
Sendu bersama rintik hujan
Terbuai dalam lamunan

Kulihat jarum jam bergerak malas
Semut kecil sedang tertidur pulas
...
Bujang sedang merenungi nasibnya.

17 Mei 2015

Bukan Puisi

Semua tahu, aku tak lihai berpuisi.
Tak tahu menahu teori puisi.
Aturah puisi, sajak, Bait, larik, rima, aku tak mengerti.
Yang aku tahu, puisi hanyalah deretan kata.
Tentu saja untuk dibaca oleh kita maupun penulisnya.
Sesekali untuk dimengerti.

***
Nyaris 11 tahun aku menghabiskan malam di luar rumah. Rumah dalam arti sebenarnya. Kampungku.
Aku terbawa cita yang tak pernah sempat aku rumuskan.
Aku hanya berjalan melewati labirin waktu, tempat, dan juga hati.
Hingga aku betul-betul menjauh dari rumahku.

Tak ada yang menyangka, termasuk diriku.
Kamu anak bungsu pewaris rumah orang tua, tak boleh jauh-jauh. 
Kamu gagap sejak pertama kali mampu merapal kata.
Lidahmu kaku, sudah dikutuk untuk tak mampu menyebut R dengan sempurna.
Ya, huruf R seperti olok-olok ketika keluar dari ujung lidahku.
Itu kata banyak orang yang kukenal sejak kecil.

Waktu berjalan. Perjalananku semakin jauh. Dari rumahku, mulai dari jarak 30 km, 150 km, hingga ribuan km.
Aku semakin jauh.
Dulu, aku bertemu ibuku sekali seminggu, lalu sekali sebulan, lalu kini enam bulan sampai setahun sekali.

Tentang ibuku. Tujuan aku merunut kata-kata ini.
Tunggu sebelum kulanjutkan. Sebenarnya, aku menulis ini bukan untuk dibaca olehnya. Sebab;
Dia tak tahu alamat blogku.
Tak tahu mengakses internet.
Tak tahu menyalakan komputer.
Tak tahu membaca.
Bahkan tak tahu kalau aku menulis untuknya, saat ini.

Baik, kulanjutkan.

Dia, ibuku, menelponku sebulan lalu.
Bukan, aku yang menelpon atas permintaannya lewat kakakku.
Dia tak menanyakan kabar. Seperti biasa.
Dia hanya berpesan, jadilah lelaki yang berani menagih piutang.
Lalu melanjutkan basa-basi lain yang tak penting.

Perihal ibuku yang tak pernah menanyakan kabar.
Begini.
Dia menggunakan firasat seorang ibu.
Ketika aku sakit, dia pasti tahu.
Entah lewat apa, aku tak mengerti sama sekali.
Aku sedang gelisah pun, dia tahu.
Itulah kenapa, dia tak pernah menanyakan kabarku, kecuali untuk sekedar basa-basi.

Ibuku selalu ragu pada kemampuanku.
Katanya, aku terlalu muda sejak kali pertama merantau.
Terlalu lemah, karena aku bungsu.
Dia membandingkanku dengan anak pertamanya, kakakku, yang terlanjur tangguh sejak menggantikan peran ayahku.

Aku yatim.
Tak ada ayah yang melindungiku.
Itu ketakutan terbesar ibuku.
Dia takut, saat aku jauh dia tak mampu melindungiku.
Meskipun firasatnya kuat, jarak tetaplah jarak. Butuh waktu untuk menyelamatkan anaknya jika terjadi apa-apa.

Ibuku tak punya banyak nasihat.
Pesannya selalu berulang ketika aku pulang menemuinya.
Dia tak punya banyak kata-kata seperti dalam buku.
Lagipula, dia, seumur hidupnya tak pernah membaca buku.
Dia buta huruf. Kalian sudah tahu.
Berikut nasihatnya:
Jangan terlalu mudah meminjamkan uang.
Baik sama orang, siapa pun itu.
Jangan bermain perempuan.

Nasihat terakhirnya, aku bingung.
Aku tak bermain perempuan.
Juga perempuan tak ingin bermain denganku. 
Aku hanya tak serius dengan banyak perempuan. Beberapa maksudnya.
Aku pertegas: banyak, bukan semua.
Tak serius tidak sama dengan main-main.
Itu dua hal yang sama sekali berbeda.
Kalian paham maksudku.

Tapi tak tampan begini, aku pernah diajak menikah oleh seorang perempuan.
Bukan, dia bukan perempuan putus asa.
Dia berpendidikan dan cukup waras, seingatku.
Aku tertawa. Lalu mengalihkan pembicaraan.
Dia akhirnya putus asa. Sementara aku masih tertawa.
Aku sedih karena tak tahu cara berkomitmen. Ya, aku sedih tapi masih tertawa di hadapan perempuan itu.
Aku ikut putus asa dan masih tertawa.

Di umurmu sekarang, kakakmu sudah punya 2 anak, kata ibuku.
Aku mati akal.

***
Betul kan, tak seperti puisi.

14 April 2015

Eka Suciningsih

Matari mengintip rendah di balik mega. Semburat jingga berbentuk garis tak beraturan mengelilingi awan senja. Aku memandanginya kagum sambil mengisap rokok dengan khusuk. Tanpa kopi. Ini sudah sore menjelang pulang kantor, yang tersisa hanya ampas kopi yang tak mungkin kuhirup lagi.

Aku menyapanya lewat BBM terakhir kali sekitar 2 bulan yang lalu. Maaf, bukan aku yang menyapanya tapi dialah yang menyapaku duluan. Tentang apa, aku sudah lupa.

Namanya Eka Suciningsih a ka eka, echa, esha, suci atau chiyoko. Aku agak kaku karenanya tidak pernah mengubah nama panggilan orang. Termasuk Eka Suciningsih yang sudah kuputuskan untuk memanggilnya Eka sejak pertama kali mengenalnya. Aku sengaja mengedit namanya di kontak BBM, supaya tidak salah orang jika dia mengubah namanya di BBM seperti yang sering dia lakukan.

Sekali waktu dia lewat di depanku, menoleh dan bilang dia ingin kentut. Sesaat kemudian dia menyunggingkan bokongnya dan proootttt....! Lalu berlalu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku merasa gagal sebagai laki-laki karena tak  menegurnya kala itu. Sewindu berlalu tapi peristiwa itu masih mengantuiku. Entahlah, mungkin dia sudah lupa kejadian tersebut.

Dia wanita yang baik dan sedikit ribut. Beruntung sebenarnya, belum pernah aku menulis tentang wanita lalu mempostingnya di blog. Eka adalah orang pertama, hanya karena selentingan kabar yang beredar bahwa dia ulang tahun hari ini. 

Gorontalo beranjak gelap. Aku kehabisan kata-kata.

Selamat ulang tahun, Eka. Semoga cepat dapat pasangan...