8 September 2011

Karena Tuhan Bukan Pesulap

Seperti sering dilontarkan, takwa adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Para ulama sepakat dengan pengertian ini. Hanya saja pengertian ini tidak dijabarkan secara mendalam. Memahami takwa sebatas pengertian itu tidak akan membuat kita lebih baik, malah berpotensi menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan makna. 

Allah telah menjanjikan kesejahteraan bagi hamba yang menjalankan perintah-Nya. Jika kita menelusurinya lebih jauh, secara logis kaum muslim adalah orang-orang yang paling berhak meraih hal tersebut. Kesejahteraan yang dimaksud tidak hanya di kehidupan setelah ini, tetapi juga sejahtera dalam kehidupan dunia. 

Bagimana dengan realitas kekinian? Nyatanya, seperti yang kita saksikan umat muslim berada titik kronis. Secara politik, ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan umat muslim bedara di bawah tekanan barat (non-muslim, red). Bukankah ini bertentangan dengan janji Tuhan. Padahal dalam kacamata orang awam, umat muslim-lah yang paling bertakwa dibandingkan umat lain. Sampai disini kita perlu menafsirkan kembali makna takwa. Hemat penulis, memahami takwa secara mendalam sangat urgen perannya dalam membawa umat Muslim ke kancah terdepan peradaban dunia. 

Perintah Tuhan khususnya untuk manusia kalau kita menengok Al-Quran dibagi atas dua. Ada perintah yang berkaitan dengan syariat (agama) dan ada pula perintah yang berkaitan dengan hukum kemasyarakatan (sunnatullah).

Allah mahaadil. Menjalankan perintah-Nya, pasti ada ganjarannya pula. Tuhan tidak memilih, tapi memilah. Setiap yang kita kerjakan pasti ada balasan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Perintah agama seperti, shalat, zakat, haji, puasa, dan lain-lain akan dibalas di akhirat nanti. Sekali pun Tuhan membalasnya di dunia, itu bukan balasan sesungguhnya.

Berbeda dengan perintah berkaitan sunnatullah dimana sanksi dan ganjarannya dapat dirasakan d dunia ini. Hukum alam, konsekuensi logis, dan hukum kemasyarakatan termasuk jenis hukum ini. Siapa yang rajin belajar, bekerja keras, memeras keringat, maka akan diberi ganjaran berupa kesuksesan, kaya, dan berilmu. Begitu juga mereka yang malas bekerja, hidup kotor, maka akan diberi balasan berupak kemiskinan dan penyakit.

Menurut Muthahhari, keadilan Tuhan adalah soal kepantasan. Seperti yang saya utarakan di atas, Tuhan tidak memilih. Siapa saja yang berusaha maksimal di dunia ini, akan diberi balasan berupa keunggulan. Yakin saja Tuhan tidak akan menyulap kita menjadi unggul di segala bidang tanpa disertai usaha maksimal, termasuk doa tentunya. Jadi, ketika umat lain sukses dan lebih maju daripada umat muslim, jangan menyalahkan Tuhan karena mereka memang pantas mendapatkannya. 

Pula, jika ada yang bertanya: kenapa rezeki tak kunjung datang, padahal siang malam kita beribadah pada Tuhan? Ini keliru karena salah menempatkan ganjaran Tuhan. Ganjaran perintah agama didapatkan di akhirat nanti. Jangan pula keberatan, mengapa Tuhan tidak menyiksa umat yang ingkar. Karena tempatnya bukan di dunia, tapi di akhirat kelak.

Akhirnya kita harus sadar bahwa menjalankan perintah Tuhan sebagai implementasi takwa tidak sekedar syariat saja, namun termasuk juga sunnatullah yang berlaku di dunia ini. Sepakat atau tidak, sepertinya umat muslim saat ini baru menjalankan sebagian takwa, sedangkan sebagian dijalankan oleh umat yang lain. Saya pikir, ini adalah jawaban sempurna mengapa umat muslim jauh tertinggal.

Wallahu a’lam bishawab

2 komentar:

Tarry KittyHolic mengatakan...

Memang benar kata sampean. Orang2 non muslim kdng2 malah lbh sukses dan orang muslim bnyk yg jd fakir miskin. Kesannya Allah ga adil hehe

Kasim Muhammad mengatakan...

Banyak kok orang muslim yang bekerja keras dan mereka akhirnya sukses...:D