1 Mei 2011

Surat Pengunduran Diri Untuk Si Bos


Pukul 15.45, biasanya saya sudah nongol di kantor menyiapkan segala pesanan si bos. Aktivitas ini saya jalani setiap hari dengan semangatnya. Saking asyiknya, saya sering lupa waktu dan pulang larut malam. Kadang teman sekantor negur, “kasim, jangan lewatkan masa mudamu didepan monitor komputer, sekali-sekali cepat pulang dan nikmati hidupmu”. Teguran semacam ini sering terdengar sepanjang pekan ketika jarum jam bertengger di angka 10 dan teman sekantor sudah bersiap pulang.

Masih teringat jelas ucapan bos saya, “kasim, kami sepakat untuk menerimamu bergabung di sini dengan gaji Rp.xxxxxxx,-. Ingat, kita santai saja yah, nda usah protokoler yang penting target terpenuhi. Selamat..!!!”. Ucapan tersebut cukup menggairahkan dan dengan segera kujabat tangan bos erat-erat.

Beberapa bulan berlalu, pekerjaan menumpuk. Setiap hari si bos menugaskan tugas baru untuk diselesaikan. Karena karyawan sedikit, saya pun merangkap seksi sibuk. Marketing kantor, administrasi kantor, sampai konsumsi karyawan saya yang bertanggungjawab. Tidak masalah, yang penting ABS (Asal Bos Senang).

Suatu hari, saya mengalami kecelakaan motor di kampus UNHAS, Makassar. Walaupun tidak begitu parah, teman dilarikan saya ke rumah sakit. Di rumah sakit saya malah pusing, kenapa? Bukan karena kecelakaan, hari ini jumat (hari kerja), sebentar lagi jam 5 sore. Seharusnya saya sudah setor muka di kantor. Dengan Handphone pinjaman, saya menelpon bos. Berikut isi pembicaraan saya dengan bos,
Saya: “Assalamualaikum...”
Bos: ”yah, halo..”
Saya: “kasim ini pak,..”
Dengan suara enteng si bos bertanya “oh kamu sim, kenapa?”
Saya: ini pak, saya nda bisa masuk kerja hari ini karena sakit. Saya di rumah sakit sekarang, tadi kecelakaan motor”
Bos: “oh begitu yah, tapi file-file kantor sudah kamu kasi ke Evi kan?” (evi: teman sekantor, red)
Saya: “iya pak, saya sudah kasi evi kemarin”
Bos: “oh ya sim, yang saya suruhkan kemarin jadi kan? Soalnya kita butuh untuk marketing nanti.”
Saya: “iya pak, saya sudah bereskan semua”
Bos: “kalau masuk kantor, tolong cetak modul yang sudah jadi itu. Nanti saya kasi uang untuk cetak, ok!”
Saya: “iya pak. Maaf ya pak, saya minta izin hari ini. Terima kasih pak”
Bos: “iya nda apa-apa..”
Saya: “Assalamualaikum...”
Bos: “eh sim, bagaimana keadaanmu sekarang?”
Saya: “Alhamdulilah, semakin membaik pak. Mungkin beberapa hari baru bisa masuk kantor pak..”
Bos: “oh ya sudah kalau begitu, cepat masuk kantor yah”
Saya: “iya pak”
Tuuuuuuutttt...(telepon dimatikan oleh bos)
Saya merenung sekitar 15 menit. Ternyata bagi si bos urusan kantor jauh lebih penting daripada nyawa saya. Saya berjanji dalam hati untuk segera membuat surat pengunduran diri. Materi (duit,red) penting, tapi mengabdi kepada orang bermateri tapi tidak punya hati adalah kesalahan besar.
“Aduh, kok mundur kasim?” Pertanyaan bos yang tidak terjawab ketika saya masuk ke ruangannya dan membawa selembar surat berisi pengunduran diri. Tanpa sepatah kata saya meninggalkan kantor. Di seberang jalan, saya membalikkan badan “Maaf pak, saya masih punya hati, makanya saya meninggalkan pekerjaan ini...”

2 komentar:

etika maria mengatakan...

Nice post :)
seLamat hari buruh

Kasim Muhammad mengatakan...

thank you...:)
May Day....:D