13 Juni 2011

Plato Menggugat Demokrasi

Filsuf besar Yunani Kuno, Plato (428-348 SM) pernah berkata: "bisa saja demokrasi menjadi mimpi buruk dalam sistem pemerintahan". pertama: demokrasi bisa mengarah pada gerombolan 'mafia' pemuas hasrat sesaat. Kedua: demokrasi yang dikuasai pandir yang hanya pintar beretorika. Ketiga: demokrasi mengarah pada intrik pertikaian. Menghindari hal tersebut, Plato mengajukan filosof-raja sebagai kepala negara. Filosof tidak diragukan lagi sebagai pencinta kebenaran mestilah mengambil keputusan sesuai prinsip kebenaran dan keadilan. Pesan Plato cukup jelas, pemimpin harus cinta kebenaran dan mampu menegakkan keadilan.

Gugatan Plato sangat mungkin benar. Tidak perlu kembali ke Zaman Plato untuk membuktikannya, lihat saja negara kita sekarang. Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai negara penganut demokrasi semakin tidak becus saja. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, kapitalisme berwajah neoliberal, dan sekelumit masalah lain. Pemerintah yang seharusnya menjaga dan membangun negara tercinta, malah sibuk bersafari keluar negeri, menjajakan kekayaan alam pada investor asing, beretorika, dan pekerjaan konyol lainnya. Belum lagi budaya korupsi yang mengakar dari RT sampai pejabat teras. Akhirnya, kekuasaan diidentikkan dengan ladang korupsi. Akibatnya, pedagang, petani, akademisi, pengusaha sampai bencong ikut meramaikan Pemilihan Umum. Walaupun mungkin beberapa di antara mereka memang natin tulus, tapi yakinlah sebagian besar dari mereka bertujuan  untuk menduduki kursi empuk di gedung-gedung pemerintahan.

Belum lagi, ongkos demokrasi yang tidak kalah menterengnya. Tidak sedikit kandidat (bupati sampai Presiden) rela menggelontorkan milyaran rupiah demi kekuasaan. Seorang teman berseloroh, "ah, kekuasaan itu seperti barang dagangan dan pencari kekuasaan adalah pengusaha (pedangang,red)". Memang terlihat skeptis, tapi pernyataan teman saya ada benarnya. Korupsi disinyalir sebagai upaya 'mengembalikan modal'. Masih untuk kalau hanya mengembalikan modal. Toh, tidak ada pedagang mau rugi.

Artikel ini tidak akan selesai untuk menguraikan masalah yang mendera Bangsa Indonesia. Baiklah, kita kembali ke pokok pembicaraan. Pertanyaan yang paling mungkin kita lontarkan: sebagai sistem, benarkah kemusykilan terjadi karena sistem kita, demokrasi? Sistem multi-partai yang dianut pascarformasi yang dianggap kemajuan pesat bagi demokrasi malah semakin menenggelamkan Indonesia. Sekarang korupsi sudah dilakukan berjamaah. Istilah politisi, "yah, kita sama-sama tahulah...hehe". Apakah demokrasi yang patut dipersalahkan?

Anas Urbaningrum dalam acara Kuliah Tamu beberapa waktu lalu di Universitas Hasanuddin, menegaskan "perubahan mendadak pascareformasi membuat rakyat, termasuk politisi dan pemimpin kita, kaget. Reformasi dipahami secara sempit. Setiap pemilihan umum dianggap sebagai gelanggang kekuasaan, siapa saja boleh terlibat dan bertarung dalam politik. Inilah yang saya sebut demokrasi artifisial. Tapi, kita harus optimisi untuk mengubah demokrasi yang dipahami salah (artifisial,red) menuju demokrasi substansial, yaitu demokrasi yang beretika, menjunjung tinggi moral, dan mensejahterahkan bangsa sebagaimana cita-cita founding fathers kita". Perlu dipahami bahwa demokrasi semata alat dan hasilnya sangat bergantung bagaimana kita menggunakan alat tersebut.

Kita tidak pernah berharap gugatan Plato menjadi kenyataan, bahwa demokrasilah yang jadi biang keladinya. Hemat penulis, tidak perlu mengkambing-hitamkan demokrasi. Seperti kata pepatah, "daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin". Memperbaiki dan mencari pemimpin berintegritas yang memahami demokrasi sebagai alat untuk mensejahterahkan bangsa jauh bermanfaat.

Salam demokrasi...!

6 komentar:

Srie mengatakan...

Mantap. Demokrasi hnyalah sarana. Tujuannya adalah kesejahteraan rakyat. Itulah, Anas suka bilang demokrasi produktif..... yg tdk artifisial, tp jg substansial. Produktif demi kepentingan rakyat.

Salam

BLOG ALTERNATIF mengatakan...

bagus aq suka itu, demorasi hanya di kambing hitamkan

Kasim Muhammad mengatakan...

Bu Srie: Iya, saatnya memahami demokrasi sebagai alat/sarana perjuangan demi kehidupan yang lebih baik...:D


salam

Kasim Muhammad mengatakan...

Blog Alternatif: Yang terpenting sekarang, berhenti menyalahkan demokrasi. Ini penting karena seringkali kegagalan membuat kita berpikir sempit dengan mengkambing-hitamkan demokrasi...


terima ksih...:D

anisayu mengatakan...

sip deh artikelnya, mantab :-)

Kasim Muhammad mengatakan...

anisayu: thanks...:)