Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

25 Februari 2012

Jika

Jika kita senantiasa berdiri dengan kepala tegak ketika semua orang meninggalkan dan menimpakan kesalahan pada kita; Jika kita tetap percaya pada kemampuan diri di saat orang lain ragu dan berusaha mengubah keraguan itu menjadi keyakinan; Jika kita bisa menunggu dan tidak lelah menunggu, atau dibenci tapi tidak memendam kebencian, atau dibohongi tapi tidak membohongi.

Jika kita bermimpi dan tidak menjadi pemimpi; Jika kita mampu berpikir dan tidak berhenti di situ serta tidak menjadikan pikiran sebagai tujuan; Jika kita bisa bersikap sama pada sebuah kemenangan dan bencana; Jika kita bertaruh pada perjuangan untuk menang lantas kemudian kalah tapi tidak menyalahkan siapa pun meski satu hela napas.

Jika kita mampu menceritakan kebenaran yang pahit di depan seorang raja sekalipun; Jika kita tidak berhenti jika tidak diperhitungkan; Jika kita merasakan waktu adalah putaran detik, bukan menit, jam, dan hari. Jika kita  mampu melihat orang lain sebagai bagian dari alam semesta, diri kita yang tidak boleh disakiti; Jika kita menghargai alam sebagai harmoni ciptaan Tuhan yang luar biasa; Jika kita berbuat baik tanpa menunggu orang lain melakukannya.
Maka, kita telah menjadi manusia, kawanku!

22 November 2011

Ini Soal Kepantasan, Kawan!


Tidak sekedar pilihan, tetapi lebih pada soal kepantasan. Itulah hidup. Soal kepantasan.
Siapapun yang berniat untuk lebih baik, maka dia harus membuat dirinya pantas.
Tidak ada jalan yang lebih baik dari itu.

Soekarno dihargai sebagai tokoh sentral proklamator karena hal itu memang layak.
B.J Habibie diakui sebagai ahli konstruksi pesawat terbang yang handal
karena dia jago dan pantas disebut demikian.
Jusuf Kallla diacungi jempol sebagai negoisator ulung di medan konflik
disebabkan kemampuannya berunding untuk menyelesaikan
konflik dan sudah seyogyanya beliau diacung jempol.
Sampai saya berkesimpulan, kunci utama hidup adalah soal kepantasan.

Ada juga yang memahami, dibutuhkan keberuntungan di samping kepantasan.
Betul. Tapi, kita tidak akan lebih baik hanya dengan mengandalkan keberuntungan.
Keberuntungan hanyalah faktor penyerta, faktor turunan.
Dengan kata lain, keberuntungan tidak muncul dengan sendirinya.

Keberuntungan muncul karena kesempatan berbaur persiapan matang.
Dan apakah persiapan matang itu?
Yaitu membuat diri kita pantas.
Yang paling baik persiapannya, dialah yang paling pantas.
Once again, hidup adalah soal kepantasan.
Soal kepantasan, kawan!

16 November 2011

Mahasiswa, Seks, dan Tawuran

Mahasiswa. Sebutan untuk anak muda hebat yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Ilmu yang rumitnya tidak ketulungan. Anak muda yang setiap harinya bertatap muka dengan dosen berotak sempurna, bergelar professor. Anak muda yang bertarung dengan textbook tebal. Setebal 3 susun bata merah. Namanya saja anak muda hebat. Mereka bisa beradu pendapat dengan sang professor. Melumat buku tebal kemudian ditelan dan dicernanya mentah-mentah. Hebat betul. 

Tunggu dulu kawan. Masih ada yang belum kuceritakan. Bahkan masih banyak malah. Anak muda punya banyak energi. Begitu juga mahasiswa. Energi yang mereka miliki lebih besar dari energi yang tersimpan dalam reaktor nuklir. Sayang, energinya punya dua sisi yang bertolak belakang. Tepatnya, Energi bermata dua, mau digunakan untuk apa pun, tergantung si empunya. Bisa digunakan untuk membedah ilmu pengetahuan sampai akar terdalam. Juga bisa memporak-porandakan apa yang dilaluinya. Pilih yang mana? Sekali lagi, tergantung si empunya.

Hidup sebagai mahasiswa. Dimana libido, birahi anak muda memuncak. Membawa energi besar yang tidak  terpuaskan. Tidak jarang, nafsu birahi yang tinggi dilampiaskan pada sesama mahasiswa. Bermain syahwat. Tengoklah wilayah sekitar kampus yang dihuni banyak mahasiswa. Naudzubillah. Tidak jarang transaksi seks hanya bermodal kata-kata. Janji. Komitmen. Populer disebut pacaran. Sekalipun bapak/ibu kost melarang, transaksi tetap berjalan. Toh, mahasiswa adalah anak muda cerdas yang bisa "menguliahi" siapa saja. Mereka bukan binatang yang berakal mini, mereka manusia cerdas yang bisa mencari jalan dimana saja. Tentunya tidak semua semua mahasiswa melakukan hal demikian. Banyak juga mahasiswa baik-baik. Akan tetapi, tetap saja, mahasiswa dan seks adalah dua sisi koin yang saling bertautan.

Belum lagi soal berkelahi. Tidak, mereka tidak berkelahi. Mereka hanya tawuran. Harap dibedakan antara berkelahi dengan tawuran. Berkelahi adalah single (satu lawan satu), sedangkan tawuran adalah saling melempar dan melibatkan banyak orang. Soal yang satu ini (tawuran red) mahasiswa adalah ikon utama. Sepertinya, energi yang tidak terserap dengan baik di ruang kuliah atau organisasi disalurkan lewat adu kekuatan lengan. Kekuatan melempar batu sejauh dan sebanyak-banyaknya. Di beberapa kampus, tawuran adalah ritual tahunan. Tradisi yang turun temurun dilangsungkan dan menjadi bahan pembicaraan lintas generasi. Yang tawurannya paling seru akan mendapat pujian.

Baru saja saya menyaksikan bagaimana adu otot lewat lemparan batu dipertontonkan mahasiswa. Sebuah universitas di Makassar yang konon terbesar di Indonesia Timur. Dimana mahasiswanya baru saja membuat acara. Acara tawuran. Asyik yah, acara tawuran. Terdengar lebih keren. Tidak kurang dari 2000-an mahasiwa terlibat dalam kejadian tersebut. Gedung dan motor dibakar, bom molotov terbang di sana-sini. Seperti biasa, kejadian tersebut disorot media. "Lihat!Kami semua masuk TV dan besok akan dimuat di koran" kata seorang peserta tawuran. Dia lupa kalau kampusnya sedang menangis. Menangis darah. Nama baik kampus rusak seketika untuk kesekian kalinya hanya karena acara bodoh. 

Entah apa di benak mereka. Kebanggaan? Terlalu naif. Pamer otot lengan? Bukan kampus tempatnya. Balas dendam? Terlalu picik kawan. Jadi apa? Entahlah. Setiap kali saya tanya teman-teman yang ikut tawuran, jawaban mereka enteng saja, "Sudah lama tidak olahraga". Ya ya ya...!

Awalnya saya ragu melihat judul tulisan ini. Mahasiswa, seks, dan tawuran. Bagaimana tidak, status suci mahasiswa disandingkan begitu rendahnya. Disandingkan dengan cap buruk seks ala mahasiwa beserta tradisi tawurannya. "Kesucian "mahasiswa" tercemari saat bersentuhan dengan realitas". Begitu kata seorang kawan. "Tidak ada cara lain, kecuali medudukkan kembali "mahasiwa" di tahtanya sebagai penguasa ilmu, insan cita nan mulia" lanjut kawan saya. Jadi apalagi? Sekarang, tidaklah perlu saya risih dengan judul tersebut. Hitung-hitung bisa jadi pemantik semangat. Dan begitulah harapan saya. Bahwa tugas kita sebagai mahasiswa saat ini adalah mengembalikan status mahasiswa sebagaimana mestinya. Sebagai intelektual yang tahu membedakan benar dan salah, baik dan buruk.


Teruntuk anak muda yang peduli akan kehidupan yang lebih bermartabat. Y A K U S A...

5 November 2011

November

Adzan subuh berkumandang, membelah rimbunan pohon yang baru saja diguyur hujan lebat. Konon katanya, kala itu pertengahan bulan November 1987, bertepatan dengan hari pertama saya menjejakkan kaki di dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim ibu saya. Jenis kelamin yang tidak dinantikan, karena sebenarnya kedua orangtua saya berharap anak keduanya berkelamin perempuan. Hiks.

Orang tua saya meyakini satu hal: anak keduanya, saya, lahir pada kamis subuh. Itulah mengapa saya katakan "konon katanya", karena berdasarkan kelender Masehi, tanggal 15 November 1987 jatuh pada hari Minggu. Sudah saya cek berkali-kali dan hasilnya tetap sama, bahwa tanggal tersebut bertepatan pada hari Minggu, bukannya hari Kamis. Sampai saat ini, saya juga meyakini hal yang sama, bahwa saya lahir pada kamis subuh, entah tanggal dan tahun berapa. Juga karena tidak ada bukti lain mengenai tanggal kelahiran tersebut kecuali ingatan kedua orang tua. Itu pula yang menjadi alasan mengapa tidak pernah merayakan ulang tahun di sepanjang saya hidup di dunia ini. 15 November bukan tanggal kelahiran saya!

Di kampung kami, dulu, tanggal lahir adalah persoalan remeh-temeh. Tidak diperuntukkan bagi kami yang tinggal jauh di desa. Tanggal lahir adalah urusan orang pintar yang berpendidikan tinggi. Kalau ditanya umur anak-anak mereka, jawabannya pasti panjang. Kurang lebih jawabannya seperti ini, "Si A lahir di bulan syaban, dua tahun lebih muda dari kakaknya, satu tahun lebih tua dari sepupunya, dan seterusnya". Jadi, ketika salah satu anak mereka melanjutkan pendidikan, dimana tanggal lahir mesti dicantumkan, maka mereka akan meminta guru untuk "menentukan" tanggal lahir anak muridnya sendiri. Saya sendiri baru tahu kalau saya lahir di bulan November ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Tahukah kawan, "Bulan November" adalah hasil diskusi antara guru dengan kedua orang tua saya. Ajaib kan!

Sekali waktu saya komplain, mengapa tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak sesuai dengan hari ketika saya lahir. Jawaban kedua orang tua sederhana, katanya, saya lahir kamis subuh, saat frekuensi hujan mulai meninggi di kampung kami, kala petani mulai membajak sawahnya, saat semangat kehidupan warga kampung memuncak setelah lesu akibat musim kemarau. Dan kamu tahu, nak, kata bapak, hal tersebut terjadi di Bulan November saja. Entah benar atau tidak, tapi sejak saat itu saya tak pernah lagi menanyakannya.

Tingkat pendidikan adalah penyebab lain kenapa tanggal tak penting bagi kami, terutama bapak ibu saya. Kedua orang tua saya berpendidikan rendah. Tapi tunnggu, sebenarnya agak risih juga kalau mereka disebut "berpendidikan" - meskipun rendah. Musababnya, mereka berdua tidak punya ijazah sama sekali. Hanya bapak yang paham baca tulis, sedang ibu saya tragis; buta huruf. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai petani, dan saya percaya, tidak butuh ijazah untuk menguasai ilmu membajak sawah.

Saya selalu bingung setiap kali diperhadapkan dengan  blanko, formulir, atau semacamnya yang meminta data pendidikan orang tua. Saya harus mengisinya dengan apa? Sedangkan option "tidak berpendidikan" tidak tersedia. Karena persoalan gengsi, saya isi saja "tamat SLTA". Untungnya, tidak pernah ada yang mengklarifikasi langsung kepada kedua orang tua saya. Urusannya bisa panjang.

Meskipun "tidak berpendidikan", kedua orang tua saya tahu betul bagaimana filosofi pendidikan. Terutama bapak, beliau selalu mengajarkan bagaimana adab menuntut ilmu. Sampai saat ini, meskipun beliau sudah tidak ada (semoga tenang di sisiNya), pesannya selalu saya ingat. dan menjadi energi besar yang siap melecut semangat.

Syukurlah karena orang tua saya memilih Bulan November sebagai bulan dimana saya lahir. Saya suka November. Lovely November...:D

4 November 2011

Setelah Sumpah Pemuda, Apa lagi?

83 tahun berlalu sejak dikumandangkan sumpah pemuda untuk kali pertama. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, sekumpulan pemuda mengukuhkan komitmennya sebagai wujud kesejatian anak bangsa yang kemudian diperingati setiap tahunnya hingga sekarang. Dan sekarang ini kita tengah berada dalam suasana memperingati semangat sumpah pemuda. Sebagai anak kandung bangsa kita telah bersumpah setia untuk satu nusa, satu bangsa, dan berbahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Juga, momentum sumpah pemuda mesti kita maknai sebagai bongkahan komitmen akan negeri kita tercinta, bukannya sebagai ritual tahunan. Semarak sumpah pemuda wajib harus kita jadikan sebagai pelecut semangat dalam membangun Indonesia di tengah keragaman suku, budaya, dan agama.

Tidak bisa dipungkiri, pemuda telah ikut berperan dalam rentetan sejarah bangsa indonesia. Berdiri di barisan terdepan melawan penjajah, saat deklarasi kemerdekaan, ketika pembangunan bangsa, sampai era reformasi. Di setiap catatan historis tersebut, selalu muncul pemuda sebagai motor penggerak. Founding fathers kita juga meyakini bahwa pemuda adalah aktor utama yang dapat diandalkan dalam mewujudkan cita-cita pencerahan bangsa sebagaimana termaktub dalam UUD 1945. Tentu saja, energi besar pemuda memungkinkan untuk diberi peran serta tanggun jawab besar seperti yang diamanahkan founding fathers kita.

Bagaimana pun, Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas utamanya adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan supra struktur negara maupun di lingkup infrastruktur masyarakat, terbuka luas untuk kaum muda Indonesia masa kini.

Tidak sulit memprediksi masa depan suatu bangsa. Lihat saja bagaimana kondisi pemuda mereka. Jika baik, maka baiklah bangsa itu nantinya. Akan tetapi, jika buruk maka bisa dipastikan nasib bangsa tersebut tidak akan lebih, bahkan kemungkinannya hancur dimasa yang akan datang. Bagaimana dengan pemuda Indonesia? Di tengah kepungan masalah yang datang silih berganti tanpa henti, budaya asing yang merangsek masuk. Sampai kita tidak bisa menunjukkan diri sebagai bangsa yang punya identitas serta nilai luhur budaya nenek moyang. Belum lagi kalau sikap pesimis, acuh tak acuh, serta malas kian mendarah daging di kalangan pemuda. Sekiranya memang demikian, maka sumpah pemuda sebagai ikrar serta komitmen kita sebagai pemuda hanya menjadi ritual tahunan, tanpa makna dan aksi untuk membangun bangsa yang lebih baik.

Sedikit banyak, apa yang menjadi keresahan kita semakin menampakkan dirinya. Gejala penyakit sosial kronis mulai menimpa kamu muda bangsa Indonesia. Dimana kaum muda sibuk dengan dirinya sendiri dengan tidak mempedulikan realitas sosial masyarakat sekitar. Apatis, individualistik, mempertuhankan materi, serta akrab dengan budaya hedonisme. Ditempat lain, sekelompok pemuda meneriakkan keadilan, perlawanan terhadap penindasan, memperjuangkan wong cilik, serta slogan-slogan “aktivis” lainnya. Tapi apa, mereka tidak lebih baik. Teriakan di jalan menguap ketika mereka pulang ke rumah masing-masing. Bau aspal jalanan mereka lupakan ketika berbenturan dengan realitas. Hanya mampu berteriak, tanpa aksi nyata. Mereka yang semestinya menjadi ruh perubahan terhadap kehidupan yang lebih baik kini tenggelam dalam refleksi kata. Kondisi demikian oleh Prof. Jimly Asshiddiqie disebut verbalisme. Suatu keadaan dimana kemampuan reflection saja yang berkembang, sedangkan agenda action mandek. Padahal, dalam tataran ideal, keduanya mesti seimbang sebagai syarat utama menatap perbaikan bangsa di era selanjutnya.

Membentuk Karakter Pemuda
Menurut Quraish Shihab, serumit apa pun persoalan yang menimpa bangsa kita, maka selalu ada jalan yang membawa secercah harapan. Harapan yang dimaksud adalah kaum muda. Seharusnya memang demikian. Namun, kita mesti siap menelan pil pahit melihat kondisi pemuda sekarang ini. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Jawaban terakhir yang bisa dilontarkan adalah membentuk karakter pemuda yang berintegritas, satu kata dalam perbuatan.

Dalam membentuk karakter, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak praktis. Ini penting mengingat perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh setiap anak bangsa, terutama anak-anak muda masa kini.

Di samping kemampuan reflektif, kaum muda Indonesia juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Sebagaimana slogan learning by doing, dimana kebiasaan bertindak akan menjadi pengalaman yang selanjutnya membentuk kepribadian. Menggantungkan kemajuan pada tataran wacana tidak berarti banyak jika tidak ada agenda aksi yang nyata. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata. Karenanya, membentuk karakter kaum muda diperlukan kemampuan memaknai (rerleftion) serta bertindak (action). Hanya dengna begitu, harapan kaum muda membawa angin segar perubahan bangsa akan tercapai.

Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua anak muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, keterampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.

Zaman akan terus berlari dan menjauhi mereka yang tidak mau belajar dan berusaha. Terbukti, hanya orang-orang yang mau belajar dan berusaha yang mampu memimpin dan berada di garis terdepan peradaban. Sejarah telah berbicara banyak, bagaimana keberhasilan para pendahulu kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Kita semua berharap aroma perbaikan bangsa berasal dari para pemuda. Tentunya kita bisa optimis akan hal itu, sekiranya kaum muda punya karakter seperti yang disebutkan di atas.

Momentum sumpah pemuda baru saja berlalu dan kita tidak berharap peringatannya sekedar ritual tahunan belaka. Terserah bagaimana cara kita memperingatinya, karena yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai semangat yang dibawanya dalam konteks pembangunan bangsa yang lebih baik. Sekali lagi, sumpah pemuda mengajarkan kita bagaimana membentuk komitmen sebagai wujud kecintaan kita pada bumi pertiwi. Semangat ini tidak boleh berlalu begitu saja, mesti dijadikan bahan evaluasi serta refleksi terahadap sumbangan atau perjuangan kita pada bangsa.

wallahu a’lam bishawab

28 Oktober 2011

Sumpah Pemuda Sebagai Bentuk Komitmen Kaum Muda Terhadap Bangsanya

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia...

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia...

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia...
Tidak bisa dipungkiri, bahwa teks sejarah yang kita baca saat ini tidak ada yang persis sebagaimana adanya. Boleh jadi karena kepentingan pihak tertentu, sejarah diubah sedemikian rupa guna tujuan tertentu. Melihat konteks sejarah bangsa indonesia, hukum yang sama juga berlaku. Bahwa indikasi penyimpangan fragmen sejarah telah terjadi. Termasuk, ketika hasil kongres pemuda pada 28 Oktober 1928 dikukuhkan sebagai sumpah pemuda yang kita kenal sekarang ini.
Sumpah pemuda yang mulai dikenalkan pada zaman orde lama dan dikenal luas pada era Soeharto memimpin Indonesia. Langkah konkret yang ditempuh Soeharto adalah dengan mengikutsertakan sejarah sumpah pemuda pada kurikulum pendidikan. Hasilnya, sumpah pemuda dikenal baik oleh pelajar dan setiap tahunnya diperingati.
Memasuki era reformasi, dimana keterbukaan informasi jauh berkembang dibanding era Soeharto dulu. Terungkaplah banyak fragmen sejarah yang dibelokkan oleh mendiang Soeharto. Diduga keras, tujuannya  untuk melanggengkan kekuasaan.
Dalam perjalanannya, sumpah pemuda juga tidak luput dari gugatan sejarah. Banyak kalangan yang "menuduh" sumpah pemuda sebagai program pemerintah semata untuk menggugah spirit nasionalisme rakyat Indonesia. Yah, semacam pengalihan isu. Dalam konteks kekinian, mirip dukungan ke Timnas Indonesia atau kasus Reog Ponorogo yang diklaim Malaysia. Tujuannya jelas, supaya rakyat sejenak melupakan kebobrokan penguasa.
Terlepas dari kesimpang-siuran sejarah sumpah pemuda, apresiasi serta penghormatan tinggi mesti kita berikan. Saya masih memandang sumpah pemuda sebagai bentuk komitmen kaum muda terhadap bangsanya. Bagaimana pun, sumpah pemuda mengajari kita cara mkencintai negeri tercinta. Apa yang kita miliki, Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, serta Bahasa Indoensia, menjadi alasan bahwa kita bisa menjadi yang terbaik. 
Selamat hari sumpah pemuda...!

23 Maret 2011

Membangun Blog; Konsistensi, Originalitas, dan Budaya Copy paste

Banyak alasan mengapa orang menggeluti dunia blogging. Sekedar menyalurkan hobi, menulis, dan berbagi informasi, bahkan yang paling trend sekarang ini, mencari duit lewat blog. Awalnya saya memasuki dunia blogging karena ingin menulis dan berbagi informasi. Walaupun, saya juga sangat tertarik untuk 'berbisnis' karena peluang yang masih terbuka. 'Berbisnis' saya anggap sebagai pekerjaan sampingan karena bagaimana pun menulis dan berbagi informasi adalah tujuan awal saya. Kalau toh dapat duit, Alhamdulillah, mungkin itu barokah.

Pengalaman pribadi, membangun blog adalah bagian hal tersulit. Butuh konsistensi dan waktu yang cukup lama. Selain itu, originalitas blog adalah hal terpenting menurut saya. Kenapa? Masalah terbesar blogger adalah penyakit co-pas (copy paste) sehingga sulit menjaga originalitas blog, termasuk saya sendiri. Sudah menjadi rahasia umum 'budaya' co-pas (copy paste) berkembang dengan pesat di dunia blogger. Inspirasi yang kadang tidak muncul serta minimnya kreativitas menjadi sebab utama kenapa banyak blogger memilih jalan pintas dengan co-pas (copy paste). Selain itu, bukan pekerjaan mudah mengajak orang membaca postingan yang kita buat terlebih membuat postingan yang menarik, tidak semua blogger mampu melakukannya. Akibatnya, banyak blog yang berisi saduran dari website lain, ada yang diedit terlebih dahulu, yang parah adalah 100% co-pas (copy paste). Tapi, di kalangan blogger hal ini masih bisa ditolerir sepanjang mencantumkan sumber beserta linknya di postingan.

Terlepas dari problem di atas, menggeluti dunia blogging sangat besar manfaatnya. Menurut penulis, dibandingkan facebook, twitter, atau situs jejaring sosial lainnya blogging adalah media yang jauh lebih mendidik. Saya yakin sebagian besar orang merasa blogging adalah pekerjaan yang membosankan, tidak jarang ada teman yang mengeluh seperti itu. Penyakit 'bosan' juga pernah menggerogoti, pernah blog saya 'ambruk' mencapai titik nadir. Akhir 2009 dan sepanjang tahun 2010, saya tinggalkan dunia blogging. Alhamdulillah, akhir 2010 saya kembali aktif.

Pernah saya membuat postingan Suka Duka Blogger Amatiran, di tahun 2009. Saat itu lebih banyak duka-nya dibanding suka. Mungkin menjadi alasan kenapa saat itu saya cenderung mem-posting artikel yang berisi Motivasi. Tujuannya, saya bisa termotivasi untuk bertahan. Walaupun, saya pikir usaha itu gagal karena terbukti saya vakum cukup lama setelah menulis artikel tersebut. Toh, saya sudah kembali dan aktif lagi di dunia blogging. Semoga ke depannya bisa tetap konsisten dan termotivasi. Dukungan dari teman-teman blogger menjadi hal yang tak ternilai harganya. Meminjam istilah HMI, Yakin Usaha Sampai

17 Maret 2011

Jangan Mengoleksi Buku Motivasi, Haram!

Ratusan bahkan ribuan buku motivasi (self help, pengembangan diri) diterbitkan tiap tahunnya. Jenis maupun judulnya macam-macam. Walaupun isinya sama/hampir sama orang tetap saja membeli buku semacam ini. Tak jarang buku jenis ini menjadi bestseller setiap tahunnya. Coba saja anda jalan-jalan ke toko buku, saya yakin anda akan mendapati buku motivasi terpajang rapi di rak bestseller atau new arrival sebagai bukti betapa diminatinya buku ini. Tahukah anda, fakta ini hanya berlaku di Indonesia, tidak di negara lain, terutama negara maju.

Terus terang, mulanya saya adalah penggemar berat buku motivasi, self help. pengembangan diri, atau semacamnya. Tak jarang saya ke toko buku hanya untuk mendapatkan buku motivasi edisi terbaru. Bahkan saya sering lupa waktu kala berhadapan dengan halaman buku ini, Sungguh menyenangkan. Akhirnya, buku motivasi saya bertumpuk, jenis terbanyak di rak buku. Kenapa? Semua masalah seakan selesai dengan buku ini. Hal yang tidak mungkin anda dapatkan di buku filsafat, buku ke-profesi-an (kedokteran, farmasi, akuntansi, ekonomi, hukum, dll). Mungkin alasan yang sama sehingga ribuan orang rela menyisihkan uang demi buku 'ajaib' ini.

Anda jangan ikuti saya?
Mungkin anda bertanya, loh, kok begitu, buku motivasi kan sangat bagus untuk pengembangan diri. Sama sekali saya tidak melarang anda membeli buku, hanya saja 1-2 maksimal 3 buku motivasi sudah cukup, malah lebih dari cukup. Anda harus tahu, semua buku motivasi isinya sama! teknik untuk sukses tidak pernah berubah sejak zaman batu, anda harus jujur, disiplin, ulet, pantang menyerah, dll untuk sukses. Wejangan semacam ini sudah ada sejak dahulu kala. Buku motivasi kemudian muncul dengan bahasa yang berbeda, sedikit nyentrik supaya orang mau membaca wejangan usang tersebut dan tentunya laku dipasaran. Hemat saya, tidak ada gunanya anda menumpuk buku motivasi-seperti yang saya lakukan, hanya buang-buang uang. Kecuali anda punya harta melimpah. Buku jenis lain akan jauh lebih bermanfaat.

Saran?
Miliki buku motivasi, baca dengan tuntas. Sedikit saja, jangan mengoleksinya. Ini sebagai tahap awal merangsang minat baca. Selanjutnya cari (koleksi) buku yang anda minati atau yang berhubungan dengan profesi anda (diutamakan). Buat penggemar novel, silahkan koleksi, itu bagus, tapi sebaiknya anda menyisihkan uang untuk buku yang lebih aplikatif dan bisa digunakan dalam keseharian anda. Intinya, jangan mengoleksi buku motivasi! maksa...hehe

Hampir lupa, JANGAN terprovakasi dengan judul artikel ini, HARAM! Semoga bermanfaat, ada tanggapan, saran, atau caci maki, silahkan beri komentar

25 Desember 2009

Cara Jadi Kreatif

10 Cara Jadi Kreatif

Apakah kreativitas itu jatuh dari langit? Adilkah bila kita menganggap seseorang lebih kreatif ketimbang orang lainnya? Menurut beberapa ahli, itu semua nonsense! Memang benar kreativitas itu bakat dan anugerah, tapi tak berarti tak bisa diasah dan dibentuk. Kita sendiri juga bisa menciptakan kreativitas. Begitu pula Anda. Camkan bahwa:


1.Setiap orang bisa menjadi kreatif. Anda tak perlu menjadi orang yang sangat spesifik atau unik, apa lagi jenius untuk menjadi kreatif.

2.Kreativitas dapat diekspresikan dalam berbagai pekerjaan dan aspek kehidupan. Artinya, Anda bisa menciptakan suatu hukum baru, atau cara baru dalam mengisi hidup. Atau menciptakan hal-hal baru, atau alternatif baru dalam memecahkan masalah-masalah klasik.

Bagaimana memanfaatkan energi Anda untuk menjadi kreatif. Cobalah langkah ini:

3.Keluarkan jiwa kanak-kanak Anda Ketika kita belia, kita dibimbing oleh intuisi dan perkiraan. Tapi, setelah dewasa, sudah lebih banyak "dos" and "dont's". Beri pendekatakan kekanakan pada setiap proyek, beri kebebasan dan buka pikiran. Berpikirlah secara naif dan karanglah pertanyaan-pertanyaan tolol. Dulu, ketika pesawat terbang pertama diciptakan, pasti ada pertanyaan-pertanyaan 'tolol' yang tidak mungkin yang dilontarkan penciptanya pada diri sendiri.

4.Katakan 'jangan banyak omong' pada orang dewasa dalam diri Anda Kalau akan berkarya, bagian otak yang logis dan dewasa sering menghalangi karena adanya faktor ketidakmungkinan. Jangan dengarkan, teruslah berkarya. Soalnya, itu akan menekan ide-ide kreatif Anda. Entah itu dalam menulis, melakukan pekerjaan tangan, dan semacamnya.

5.Izinkan diri Anda melakukan kesalahan Ada satu langkah dalam kehidupan yang 'menyuruh' orang berbuat salah. Misalnya, mencoba sesuatu yang tidak lazim, dengan tujuan menciptakan sesuatu yang baru. Itu bagus, karena Anda akan belajar dari kesalahan itu, supaya langkah selanjutkan akan lebih baik. Bayangkan seorang pelukis yang memiliki buku sketsa yang tebal. Pasti dia telah melakukan banyak kesalahan sebelum mencapai gambar yang terbaik.

7.Isi 'baterai Anda Pikiran kreatif membutuhkan ide segar, seperti otot membutuhkan makanan. Jadi, lihatlah sekitar Anda. Tontonlah film, datangi toko, museum, atau apa pun yang Anda sukai. Pikiran Anda akan menyerap pelbagai hal, yang mungkin bisa menjadi sumber ide.

8.Cobalah memiliki kegiatan rutin Kalau pikiran Anda sedang buntu, beritirahatlah sejenak dan kerjakan sesuatu yang sifatnya rutin. Misalnya, mencuci piring, mandi, bercukur, atau cuma berjalan sekeliling tempat Anda. Pekerjaan ini akan membuat pikiran pragmatis Anda sibuk, sehingga pikiran yang kekanak-kanakan itu akan muncul tiba-tiba.

9.Tuliskan Ide bagus bisa muncul pada saat-saat tak terduga. Kalau Anda selalu punya alat tulis, Anda bisa menuliskannya segera supaya Anda tidak lupa. Konon, Paul McCartney menciptakan lagu Yesterday yang legendaris itu ketika bangun tidur. Kalau tak kontan menuliskannya, pasti ide itu keburu lenyap.

Bagi orang-orang Barat sana, yang terbiasa menulis jurnal harian, menulis bukan perkara yang sulit-sulit amat. Ada ahli yang menyarankan agar Anda menulis 3 halaman apa pun setiap pagi. Katanya, di antara yang nggak-nggak yang Anda tulis, pasti akan ketemu ide bagus. Soalnya, menulis itu bisa merangsang ide.

10.Percaya bahwa Anda bisa melakukannya. Jangan ragu-ragu ketika memulai sesuatu. Yang penting Anda percayai, kita semua punya kekuatan untuk menjadi kreatif, siapa pun dia adanya. Begitu pula Anda!

Cara Bangkit dari Kesedihan

10 Cara Bangkit dari Kesedihan

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Penyebabnya macam-macam, bisa karena sedang patah hati, sakit secara fisik, bokek alias tidak punya uang, dan semacamnya. Pada saat-saat seperti itu, bisa jadi orang mengalami frustrasi, depresi, dan ekstremnya, mencoba bunuh diri.


Mudah-mudahan Anda tidak usah seperti itu. Coba tip di bawah ini untuk menemukan kembali semangat diri.

1. Ayunkan tubuh dan bernyanyi
Pasang musik favorit, terutama yang berirama disko atau dance. Sambil bergoyang, Anda juga bisa ikut menyanyi.

2. Tersenyum
Tersenyum bisa 'mengakali' otak. Maksudnya, karena otot-otot Anda memaksakan senyum, otak akan berpikir bahwa Anda sedang senang.

3. Habiskan waktu dengan orang-orang tercinta
Ada orang yang senang kongkow dengan teman-temannya, ada juga yang senang bermain dengan anak-anak kecil. Terserah yang mana pilihan Anda, yang jelas pilihan kedua amat menyenangkan. Bayangkan Anda mencubit pipi seorang bocah, menyaksikan keriangannya menjilat es krim, bermain di kolam renang, atau melakukan apa pun. Percayalah, keriangan anak-anak akan menular pada Anda.

4. Hadiahi diri Anda sendiri
Kalau ada pekerjaan yang tidak Anda sukai, jangan ditunda. Segera kerjakan, supaya setelah itu usai, Anda bisa memberi kado bagi diri Anda sendiri. Hadiahnya tak usah mahal-mahal amat, bisa berupa memanjakan diri di spa atau salon, berendam di kamar mandi, membaca majalah atau buku, atau tak melakukan apa pun sambil mengunyah dua keping cokelat.

5. Bersihkan sekeliling Anda
Keadaan yang kacau balau memang bikin dada sesak. Karena itu, bebenahlah. Biarkan segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya. Seni kuno Feng Shui menyebutkan bahwa mengenyahkan kekacaubalauan di suatu tempat berarti akan mengusir energi negatif dari sana. Cobalah.

6. Lakukan tindakan
Bila ada sesuatu yang membuat Anda cemas, entah itu kesehatan, pekerjaan, atau kehidupan rumah tangga, lakukan sesuatu. Jangan biarkan suatu masalah menjadi berlarut-larut, menggerogoti kebahagiaan Anda, dan 'menikam' apa yang seharusnya Anda peroleh.

7. Berpikir positif
Para konsultan psikologis tak akan pernah bosan menghadiahi kedua kata ini. Sebab, ujung-ujungnya, segala masalah bisa terasa lebih ringan kalau Anda selalu berusaha berpikir positif.

8. Jadi orang yang kreatif
Kalau cuma duduk melamun sambil mengeluh bahwa dunia ini tidak adil, sudah jelas dunia ini memang 'terasa' tidak adil. Anda tidak punya kesibukan, sih. Cari sesuatu yang menyibukkan diri, seperti mengerjakan pekerjaan tangan, memasak, berkebun, meredekorasi rumah, dan sebagainya.

9. Menulis
Banyak ahli setuju bahwa menulis dapat menghilangkan stres. Cobalah dengan menuangkan apa yang Anda alami ke dalam selembar kertas. Anda akan kaget melihat hasilnya.

10. Berolahraga
Manfaat olahraga pasti sudah Anda ketahui. Tapi, melakukannya ketika Anda sedang sedih, bisa jadi membawa kegunaan lain. Di antaranya adalah, membuat Anda lupa masalah, dan membawa semangat baru. (hannie)

22 Desember 2009

Kebohongan Seorang Ibu [?]

Berikut sebuah cerita motivasi tentang kasih sayang seorang ibu.

Apa sumber motivasi terbesar dalam hidup? Mungkin jawaban yang tepat adalah CINTA!! Cinta di sini bukan hanya berarti hubungan sepasang insan berlainan jenis, namun lebih kepada cinta universal. Cinta seorang ibu / ortu pada anaknya atau sebaliknya.. Inilah kekuatan terbesar yang dimiliki yang bisa menjadi sumber motivasi bagi semua orang.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
SELAMAT HARI IBU !!!

8 Juni 2009

Pagi yang Menjadi Langkah Awal

Tak seperti biasanya, pagi ini aku bangun cepat. Seolah ada yang memaksaku. Padahal, jam 02.30 aku tidur malam tadi. Di kampus pun, tidak ada aktivitas perkuliahan, karena hari ini Sabtu. Biasanya, kalau libur begini, aku bangun sekitar jam 10 pagi. Makanya, kalau bangun cepat, berarti ada kelainan pada diriku. Entahlah.
Beberapa minggu terakhir, aku melalui hari-hari yang berat. Bukan karena tekanan dari luar, tapi seakan-akan berasal dari diriku sendiri dan ini sungguh berat. Kembali mengingatnya membuat aku merasa tidak berarti. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi, sesuatu yang kosong ada di sana, tak bermakna dan terus mengejar. Di sudut kamar aku mulai berpikir. What happened? Kenapa aku merasa bodoh sendiri. Apakah yang kulakukan selama ini hanya omong kosong?
Oh, Tuhan ampuni jika selama ini aku khilaf. Tuhan izinkan aku harus kembali berpikir keras. Melupakan aktivitas konyol dan kembali menata masa depan. Perjalanan masih panjang. Jalan terjal masih menanti, tapi itulah seni kehidupan. Sukses adalah konsekuensi logis dan kalau pun sukses adalah sebuah keberuntungan, maka keberuntungan hanya akan dekat dengan petarung hidup sejati. Yang ingin kulakukan tidak banyak, tapi setidaknya bisa bermanfaat. Waktu akan terus berlalu, berusaha adalah pilihan. Semoga di suatu hari nanti, aku akan menjadi manusia seutuhnya.
Pagi ini akan menjadi awal dari segalanya. Amin…

11 Mei 2009

Kemana Suara Anda???

Ini bukan tulisan seputar Pemilu 2009, sebuah tulisan apolitik. Tapi ini adalah tuilisan sederhana yang mencoba mempertanyakan bagaimana diri anda saat ini. Kutipan istilah dari seorang penulis buku "kegagalan tidak akan pernah sama dengan keberhasilan". Sebuah ungkapan yang sangat tepat ketika kita ingin menjadi lebih baik.

Bahwasanya kita akan berhasil jika tantangan yang datang setara dengan pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya, tidak akan didapatkan keberhasilan jika tantangan yang dihadapi tidak setara dengan pengetahuan yang dimiliki. Tentunya, Alfa Edison tidak akan mampu menyalakan lampunya jika pengetahuan yang dimilikinya sama ketika lampunya tidak menyala. Begitula seharusnya kita menjawab tantangan yang ada di dunia ini. Perubahan adalah keniscayaan. Status quo tidak akan menyelesaikan tantangan baru. Pada akhirnya, semua akan kembali ke diri kita, mau berubah atau tidak. Karena bagaimanapun hidup adalah pilihan.

Lanjut,menggelitik ketika saya bertanya pada teman. sudahkah kamu menemukan suaramu???
Pertanyaan yang sama, sudahkah anda menemukan suara anda? dimana posisi pikiran anda saat ini? sudahkah anda menemukan siapa diri anda sebenarnya? ataukah anda hanya korban lingkungan, sehingga apa yang terlihat di diri anda sekarang hanyalah representasi dari lingkungan dimana anda bergaul? Saatnya anda harus merenung. Coba Kembali anda memikirkan apakah anda benar-benar telah menjadi diri anda seutuhnya. Anda punya potensi yang besar. Semua orang punya potensi.

Tergantung bagaimana anda memunculkan apa yang menjadi potensi anda. Jangan sampai anda kehilangan Suara anda, jangan sampai lingkungan anda mewarnai anda, tapi andalah yang harus mewarnainya. Temukan jadi diri anda. Maka anda akan berubah menjadi lebih baik lagi....
Selamat Mencoba....

Suka Duka Blogger Amatiran

3 Minggu sudah aku membenahi blog. Blog sudah lama aku buat sebenarnya, tapi dulu aku malas memperbaikinya. Kelabakan, tidak tahu mau diapain supaya bagus kelihatan. tidak ada tempat bertanya. uang terkuras habis hanya untuk mengutak-atik blog. Awalnya sih, bikin blog buat nyantai aja, tapi karena lumayan asyik, yah diseriusin deh. Akibatnya, mau tidak mau aku harus belajar ekstra.

Setelah menjelajah disana sini, akhirnya ada kemajuan berarti yang aku dapatkan beberapa hari terakhir. lumayan cepat untuk seorang amatir hehe. Walaupun belum maksimal sih. Tapi aku akan terus berusaha bagaimana pun caranya supaya blogku ini bisa semenarik mungkin.

Lihat info di Internet sih katanya blog bisa menghasilkan duit. Terinspirasi dari orang-orang yang sudah menghasilkan duit dari internet, aku pun berusaha terus mencari tahu bagaimana caranya. Walaupun belum ada pengetahuan berarti, tapi intinya tetap berusaha hehe. siapa tahu aja nanti juga bisa menghasilkan duit melalui internet. Lumayan kan untuk biaya kuliah. Dasar blog amtiran...:D