Tampilkan postingan dengan label Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog. Tampilkan semua postingan

28 Januari 2024

Perbincangan Sore

Sore itu duduk menunggu giliran di tukang cukur langganan. Pangkas rambut khas Madura yang letaknya tak jauh dari rumah.

Tak lama menunggu, giliran saya tiba. Dia menanyakan rambut dipotong seperti biasa atau ada permintaan khusus. Pangkas seperti biasa, pinta saya.

Seperti biasa, karena sudah cukup akrab dia memulai pembicaraan random seperti langganan lain sambil menjalankan tugasnya. Katanya dia baru saja pulang kampung di Madura bersama anak dan istrinya dengan menghabiskan uang yang ditabungnya selama beberapa bulan terakhir. Alhamdulillah, kata saya, karena tidak banyak perantau yang bisa rutin pulang kampung berkumpul dengan sanak saudara.

Awalnya dia mengutarakan keinginannya untuk membeli ruko kecil untuk dijadikan tempat usaha. Tempat pangkas rambut, tentu saja. Selama ini dia menjalankan usahanya dengan berpindah-pindah lokasi karena ruko yang dikontrak masanya selesai. Menurut pengalamannya, pemilik ruko akan menaikkan harga setelah beberapa tahun. Masalahnya, dia harus memulai lagi dari awal untuk mencari langganan tetap kalau pindah di lokasi yang baru. Kondisi ini seperti siklus yang tak kunjung berakhir selama bertahun-tahun sejak dia mencari peruntungan di rantau.

Dia rutin menabung, tetapi tabungannya tak pernah cukup untuk sekedar membayar uang muka ruko. Selalu habis tiap kali pulang kampung. Begitu kondisinya setiap tahun.

Tibalah saat saya menyampaikan pandangan tentang menabung. Rugi menabung karena nilai uang akan tergerus inflasi dibanding bunga yang ditawarkan oleh bank. Lebih bagus dialihkan ke aset investasi seperti reksadana (dia tidak mengerti tentang reksadana) atau emas batangan yang bisa dibeli di Pegadaian.

Tapi kunci awal adalah jangan ada utang atau cicilan. Saya tidak anti praktik riba, tetapi sedapat mungkin dihindari. Faktor utama kegagalan membangun pondasi keuangan adalah cicilan. Alhamdulillah, saya melunasi cicilan di bank pada akhir 2018 dan tidak berniat lagi berutang. Saat ini saya fokus menguatkan pondasi keuangan dan menumbuhkan passive income dari instrumen investasi seperti reksadana, emas, dan saham.

Jadi kalau tujuannya mau beli ruko maka sebaiknya fokus di investasi emas batangan dan hindari cicilan konsumtif. Jangan taruh di tabungan biasa karena kita gampang tergoda menggunakan uang di luar tujuan awal.

Lalu, ceramah dimulai, haha.

Usut punya usut, dia punya beberapa cicilan konsumtif. Alasannya, sukar memiliki sesuatu tanpa kredit. Tak kuat menunggu dan bersabar, jadi mending nyicil supaya hasilnya kelihatan berupa benda (entah motor, ponsel, atau lainnya). Ceramahnya menyinggung kemana-mana yang intinya ingin membenarkan apa yang telah dilakukannya selama ini. Saya coba mendebat dengan hati-hati. Hasilnya nihil sepertinya.

Saya berhenti mendebat. Dalam hati, ngapain mengeluh ke saya. Hikmahnya adalah banyak kita memiliki pandangan berbeda dan itu wajar. Terkadang kita mengeluh bukan untuk menerima masukan tetapi hanya ingin validasi dan pembenaran dari orang lain.

Tak terasa, dia menuntaskan tugasnya dengan baik. Saya memberikan haknya seperti biasa. Sekian.

16 Mei 2022

Kisah James Read dan Psikologi Uang

Ronald James Read. 25 tahun bekerja memperbaiki mobil di pom bensin dan pembersih lantai selama 17 tahun. Dia tinggal di rumah seharga 12 ribu dolar selama hidupnya. Read meninggal pada tahun 2014 di usia 92 tahun. Setelah meninggal barulah Read terkenal karena menyumbangkan harta sekitar 8 juta dolar atau senilai 112 miliar lebih jika dirupiahkan. Mereka yang mengenal Read kaget bagaimana mungkin memiliki uang sebanyak itu.

Ternyata tidak ada rahasianya. Tidak ada kemenangan lotre, warisan atau harta karun yang diterima Read. Dia hanya menabung atau menginvestasikan uangnya di saham bluechip selama hidupnya hingga puluhan tahun, berkali-kali lipat hingga bernilai lebih dari 8 juta dolar. Itu saja. Dari Petugas kebersihan ke filantrofis.

Penggalan cerita di atas adalah kisah nyata yang diangkat dalam buku The Psychology of Money karya Morgan Housel.

Ada beberapa kisah yang diangkat oleh Housel dalam bukunya, tapi kisah James Read adalah yang paling menyita perhatian saya. Kisah tersebut adalah potret sempurna bagaimana psikologi uang bekerja.

Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kita tentang uang dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku kita. Sayangnya perilaku sukar diajarkan, bahkan kepada orang-orang yang sangat cerdas. Keputusan finansial ternyata dominan dipengaruhi oleh perilaku, bukan dipengaruhi oleh kemampuan teknis tentang investasi atau keuangan. Tidak jarang kita melihat orang berpendidikan mengelola uang justru lebih buruk.

Suka atau tidak, ada dua topik yang berdampak pada semua orang, tak terkecuali kita semua; kesehatan dan uang.

Industri kesehatan berkembang pesat seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Kita bisa sakit kapan saja, tapi berkat kemajuan teknologi, peluang menjadi sehat jauh lebih besar dibanding puluhan tahun lalu. Kita patut bersyukur karenanya. Akan tetapi, industri uang - investasi, keuangan pribadi, perencanaan bisnis - lain ceritanya. Sains semakin berkembang, tapi mengelola uang sepertinya tidak mengalami kemajuan dan akibatnya kesalahan tetap berulang. Rentang waktu puluhan tahun tidak menjadikan semua orang menjadi pengelola uang yang baik.

Belum lama ini kita disuguhi berita mengenaskan. Seorang pegawai bank berpenghasilan 60 juta/bulan melakukan korupsi puluhan miliar. Belakangan diketahui penyebabnya adalah utang. Dia pegawai bank, pengasilan cukup tinggi, dan terlilit utang. Bagaimana mungkin terjadi; ahli keuangan gagal mengelola uang?

Rasanya aneh jika membandingkan pengetahuan keuangan James Read dan pegawai bank di atas. Ajaibnya justru karena hasilnya berbanding terbalik. Apakah ini anomali? Rasanya tidak. Untuk menggambarkannya, saya tertarik dengan pengamatan Voltaire yang dikutip di buku ini, "Sejarah tak pernah mengulang dirinya sendiri; manusia selalu mengulang." Pegawai bank tidak bodoh, dia hanya mengulang kesalahan yang sama dalam mengelola uang.

29 November 2019

I'm Back


Tiga tahun berlalu tanpa postingan di blog. Tidak ada aktivitas, bahkan draft tulisan pun tidak ada. Meski sebelumnya juga tidak rutin setiap bulan, tapi 3 tahun tanpa tulisan rasanya kok kelewatan.Tapi itulah kenyataannya.

Tiga tahun terakhir adalah salah satu periode terbaik dalam hidup saya. Berkeluarga sejak akhir 2016, anak pertama lahir tahun 2017, rutin olahraga di tahun 2018, dan 'kurus' di tahun 2019! Itulah rentetan momen sehingga saya harus kembali menulisnya di sela 'ketidaksibukan' di kantor. I,m back!

Saya percaya setiap orang punya momentum atau titik balik dalam hidupnya. Kita mengenal Kolonel Sanders yang berhasil mewaralabakan KFC pada usia 65 tahun dan banyak cerita heroik lain dalam hidup seseorang yang berhasil mengubah hidupnya. Tentu saya tidak akan membandingkan apalagi mensejajarkan perjalanan hidup saya dengan Kolonel Sanders. Tapi bagi saya, titik balik hidup selalu spesial bagi siapapun, sekecil apapun perubahan itu.

Memutuskan nikah menjelang usia 30 tahun adalah salah satu keputusan terbesar. Ada banyak pertimbangan di sana serta tantangan di awal pernikahan. Syukurnya mental saya cukup siap untuk mengarungi gelanggang pernikahan. Walaupun perjalanan 3 tahun ini belumlah menjadi pembuktian yang cukup, tetapi ada banyak alasan rumah tangga kami akan baik-baik saja hingga seterusnya.

Momentum kedua dari tiga tahun paling berkesan adalah saya berhasil mengubah hidup. Tepatnya, berat badan! Menderita obesitas sejak tahun 2010 awal sungguh tidak mudah. Segala cara sudah ditempuh untuk mengoreksi berat badan. Pernah berhasil, tetapi kebanyakan gagal. Puncaknya, timbangan badan menunjuk angka 84 - 85 kg di tahun 2018. Belum lagi keluhan sakit pinggang, kepala, dan leher. lengkap sudah.

Saya pernah berpikir untuk pasrah bahwa usia 30-an adalah tahap awal memasuki masa tua. Sehingga wajar kalau 'nikmat sehat' akan Tuhan kurangi sedikit demi sedikit sampai kita menjemput ajal.

Lari...
Ya, larilah yang mengubah hidup dan menyelamatkan saya. Entah mengapa tiba-tiba saya rutin berlari. Tepatnya pada Agustus - September 2018 saya memulai rutinitas tersebut. Jika sejak tahun 2014 saya berlari sekali seminggu, dua minggu, bahkan sebulan sekali, kali ini saya mencoba 3 - 4 kali seminggu. Cukup mudah memulainya. Hanya perlu bangun lebih pagi, lari, dan konsisten.

Hasilnya luar biasa dan akan cukup panjang jika diuraikan dengan kata-kata. Intinya jika sebelumnya saya berpikir wajar jika usia 30 tahun mulai sakit-sakitan, sekarang usia 30+ adalah waktunya menikmati hidup berkualitas dan sehat sampai tua.

Di sinilah saya sekarang. Melanjutkan perjalanan dan tulisan...


Gorontalo, 29 November 2019

15 Oktober 2014

Tanpa Judul (2)


Madrasah Tsanawiyah tempat aku menimba ilmu terletak di seberang kampung. Jika ditarik garis lurus, jaraknya sekitar 5 km dari rumahku. Dibatasi sungai tua yang arusnya cukup deras. Untuk tiba di sekolah, aku harus melewati jalan setapak, menembus kebun yang lebih mirip hutan.

Setiap pagi aku dan teman-teman yang lain berangkat sepagi mungkin. Kami berjalan kaki pulang dan pergi sekolah. Waktu tempuh sekitar 25 menit. Siswa yang lebih mapan biasanya memilih naik sepeda motor dengan waktu tempuh yang nyaris sama karena harus  berkelok memutar arah melewati jalan yang bisa dilalui kendaraan. Bedanya: yang naik motor tiba di sekolah dengan senyum sumringah, sedang kami tiba dengan wajah kelaparan. Sarapan tadi pagi tak tersisa, habis dalam perjalanan.


Satu waktu, aku ditunjuk untuk mengikuti perlombaan. Semacam cerdas cermat yang pemenangnya sudah bisa diprediksi. Sekolahku diundang dan aku didaulat untuk ikut meramaikan. Ikut meramaikan, bukan untuk memenangkan kompetisi. Musababnya, guruku saja susah payah menjawab contoh soal lomba, apalagi aku yang notabenenya siswa. Belum lagi buku panduan sangat terbatas. Jadi tak salah kalau niatnya cuma turut meramaikan. 

Persiapan menjelang lomba, aku diwajibkan pulang lebih lama untuk berlatih memecahkan contoh soal. Kadang berdebat sengit dengan guru. Sekali waktu, guruku keliru menjawab soal deret angka. Soal tersebut terbilang muda, akibatnya, kepercayaanku runtuh. Sejak saat itu, aku selalu curiga dengan jawabannya. Dan sejak saat itu pula, perdebatan demi perdebatan terus terjadi dalam kelas.

Pelajaran hari ini usai. Aku masih menatap tajam lembaran soal sampai lupa waktu. Lomba dua hari lagi. Adalah waktu yang singkat untuk memecahkan puluhan soal. Ingin kubuktikan bahwa aku bukan siswa level 'turut meramaikan' dalam perlombaan. Aku bisa lebih baik. Hujan turun tanpa disangka-sangka. Sore mulai layu, senja mengintip, dan aku termenung memamtung putus asa di luar kelas...


Aku menatap dingin pada daun yang mulai samar. Kasihan, daun yang selembar itu menari sendiri dalam sendu. Sendiri ia menghadapi hujan, tak ada teman, tak ada kawan yang membantunya menangkis butiran air atau pun sekedar menghiburnya. Ia seakan tumbuh untuk menghadapi dunia sendirian. Mungkin tak lama lagi ia beranjak tua, menguning, lalu gugur dalam sepi tanpa seorang pun yang peduli atas kekalahannya. Sementara itu, aku duduk terpekur di sudut gedung. Menatap daun yang seolah mewakili kesendirianku. Nelangsa. Gelisah menanti hujan yang tak kunjung reda. 

Satu jam berlalu. Matahari lelah dan menyerah pada malam. Bumi terasa suram, gelap lebih awal dari biasanya. Tanah basah pasrah menerima guyuran hujan. Sesekali bunyi sumbang kodok di seberang rumpun bambu. Bunyi yang mungkin niatnya hendak menghibur tapi terdengar seperti ledekan dan ejekan. Dasar kodok yang tak tahu cara menghibur.

Hujan terus menahanku. Aku menengok langit, sebentar lagi malam menyergap. Dengan berat hati, seragam sekolah dan sepatu aku lepas, lalu menjejalkan benda tersebut ke dalam tas plastik bersama buku pelajaran. Aku harus beranjak. Aku berlari kecil memotong daun talas dekat selokan untuk melindungi kepalaku dalam perjalanan pulang. Yah, kepalaku. Hanya itu yang kubutuhkan agar esok tidak terserang flu atau demam.

Baju dalam yang kupakai nyaris basah seluruhnya. Dalam perjalanan yang bisu, sendiri, dan tak romantis itu, air mataku jatuh. Jatuh bersama hujan. Hutan gelap dan menyeramkan tak aku pedulikan. Pikiranku terlalu sibuk dengan harapan. Tekad bahwa perjuanganku tak akan sia-sia. Ini adalah awal yang mesti dinikmati, tak peduli bagaimana pun sulitnya. Hidupku sempurna meski tak mewah. Tubuhku kuat dan orangtuaku siap mendukung apa yang kulakukan kini: menuntut ilmu.


Sepanjang ingatan, kedua orangtuaku tak berkata banyak. Apalagi bapakku yang tak tahu menahu soal kata-kata bijak atau sekedar memberi motivasi kepada anaknya. Mungkin karena pendidikannya terlalu rendah untuk menggurui. Mungkin juga, karena bakat petani yang lebih banyak bekerja daripada bicara. 

Aku tiba di rumah. Sepatu dan seragam aku keluarkan. Esoknya, aku terserang demam sepanjang minggu dan tidak bisa mengikuti lomba. Sial! (Tuhan, ampuni dosaku karena menuliskan kata itu)

17 Agustus 2014

Merdeka dalam Maya, Sunyi Di Dunia Nyata

Minggu pagi. Jalan poros kota Gorontalo tampak lengang. Tidak seperti hari lain, kali ini tak ada lalu lalang kendaraan. Di Traffic light, 2 orang Polantas mematung, menatap bosan. Tak ada tumpukan kendaraan. Tak ada yang perlu ditertibkan. Di ujung jalan, di perempatan Rumah jabatan Gubernur, Satpol PP sibuk mengatur kendaraan dinas yang hendak parkir. Pagi ini, tepat tanggal 17 Agustus 2014. Hari kemerdekaan Indonesia ke-69. Pegawai Negeri tumpah di lapangan Taruna, mengikuti acara tahunan; Upacara. Kegiatan yang berbuah hukuman kalau tak diikuti. Itu saja, selebihnya hanya basa-basi.

Aku membelokkan motor ke arah Kantor. Jam tangan menunjuk angka 06.55. Upacara kemerdekaan yang dijadwalkan tepat 07.00 sesuai perintah Direktur Utama. Tiba di kantor, aku dimandat sebagai pembaca doa. Meski sudah kutolak dengan alasan intonasi suaraku tak cocok membacakan doa. Tak mengharukan, tak meyakinkan. Lagipula, seumur hidup aku tak punya pengalaman baca doa pada upacara formal seperti ini. Tapi tetap saja, aku didaulat menjalankan tugas itu. Langsung kuminta teks doa, membacanya berulang kali agar bisa kulafalkan dengan baik.

Seperti dugaanku, upacara baru dimulai tepat 07.15. Telat 15 dari jadwal. Tak apa, kita patut bangga, itulah salah satu ciri kita sebagai Bangsa Indonesia. Justru aneh kalau acara dilangsungkan tepat waktu. Upacara dimulai, komandan memberi aba-aba. Aku berdiri di barisan petugas upacara. Mendengarkan secara seksama arahan Direktur Umum yang dibacakan oleh kepala Cabang, ada rasa yang tersentuh. Membayangkan tempatku menapak kaki, Indonesia berumur 69 tahun, aku ditugaskan menjadi bagian dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa. Aku diberi amanah untuk mengabdi, menjadi sekrup kecil dalam gerbong raksasa. Ada semacam tunas, tekad yang tumbuh dari hati bahwa tanggung jawab sedang aku pikul. Tetap berusaha memberi manfaat meski tak seberapa besar. Dan yang aku bicarakan bukan klise semata!

Upacara usai, barisan bubar. Foto bersama dan sedikit basa-basi, lalu pulang. Melanjutkan tidur, mungkin. Kemerdekaan selesai!

Aku pulang. Mengayuh motor butut. Menyusuri jalan berbeda. Musababnya, sebelum beranjak pulang, muncul ide untuk melihat seberapa antusias warga Gorontalo menyambut Dirgahayu Indonesia. Tujuan pertama, Lapangan Taruna, tempat Pemerintah Provinsi Gorontalo beserta jajarannya melangsungkan upacara kemerdekaan. Hendak masuk melihat lebih dekat, sayang tak diijinkan. lalu aku membelokkan motor ke arah jalan lain, berharap bisa menemukan celah. Tetap tidak bisa. Semua kendaraan dialihkan ke jalur lain. Provost tampak kokoh berdiri tengah jalan, tanda tak sembarang orang bisa menembus area yang dijaganya. Kecewa. Upacara meskipun cuma seremoni, tapi tak dirayakan bersama masyarakat. Minimal, warga sekitar. Ekslusif dan elitis seperti tahun-tahun sebelumnya.

08.15. Aku beranjak, melanjutkan perjalan. Bukan pulang! Aku melewati perempatan, belok lalu belok lagi. Jalanan Sunyi. Nyaris tak ada aktivitas warga. Sesekali berpapasan dengan bentor (becak-motor), yang juga kosong melompong tak ada penumpang. Tak ada tanda atau sisa perayaan. Hanya umbul-umbul yang berdiri setengah hati di pinggir jalan utama. Dalam hati, inilah potret sebagian besar kita. Merayakan sekedar basa-basi -atau karena takut kena hukuman dari atasan. Upacara semu yang hanya boleh diikuti -dirayakan- oleh Aparatur negara. Akhirnya, rakyat memilih untuk tidak berbasa-basi; tak merayakan kemerdekaan bangsanya! Lagi pula, merayakan kemerdekaan tak berpengaruh pada kepulan asap dapur sebagian besar warga. Mungkin demikian. Mungkin.

Tak butuh waktu lama untuk mengelilingi jalan utama -dan lorong- Kota Gorontalo. Juga tak semua sudut kota aku kunjungi, tak ada gunanya. Toh, yang kulalui sudah cukup representatif untuk menggambarkan perayaan yang tak dirayakan itu-Kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Aku pulang. Tiba di rumah, melepaskan seragam kantor yang tak sempat dicuci lagi karena harus digunakan esok. Kaget, ada banyak notifikasi di Smartphone. Notifikasi dengan tema yang sama; Perayaan Kemerdekaan Indonesia. Ternyata perayaan sunyi yang baru saja aku lewati, tidak berlaku di dunia maya. Sosial media mengekspresikan Dirgahayu Indonesia begitu riuh dan antusias. Foto, status, dll betebaran. Oh, mungkin nanti, momen penting bangsa ini tak perlu dilangsungkan di lapangan, jalan, atau... di dunia nyata. Cukup dijepret, ditulis, lalu diposting di media sosial. Merdeka dalam maya, sunyi di dunia nyata.

Dirgahayu Indonesia. Merdeka. Merdeka. Merdeka!!!
Gorontalo, 17 Agustus 2014

18 Januari 2013

...suatu ketika

Berjalan di panggung utama di iringi tepukan tangan. Suara penonton seketika riuh lalu meninggi. Pantas saja, pahlawan telah datang rupanya

Lalu, dari merumunan muncul bisikan. "Kenapa bukan kita yang jado pahlawan?" Seorang penonton berbisik kepada teman di sebelahnya. Sang kawan menoleh, berbalik menatap dengan raut muka mengiyakan.

Menjadi penonton adalah pilihan menjadi biasa, seperti kebanyakan, tidak menarik sama sekali. Sebab semua orang bisa mengambil peran sebagai penonton. Toh, semua orang bisa tepuk tangan tanpa harus diajari.

Lantas, ,mestikah kita menjadi pahlawan-sekedar untuk tidak disebut penonton-? Lalu, siapa kelak penontonnya? Siapa yang jadi penonton? Siapa?

Aku. Kembali merenung, berpikir lama. Biarkan dia saja yang jadi pahlawan. Kita cukup bertepuk tangan dengan benar dan baik. That's so...

2 Agustus 2012

Tips Sederhana

Tips menulis yang saya sadur dari 7quotes.webs.com. Sederhana, tapi cukup penting bagi kita yang punya minat menulis.

Baca dan kemudian membaca lagi
Baca! Baca! Baca! Dan kemudian membaca lagi. Bila Anda menemukan sesuatu yang menggetarkan Anda, mengambilnya terpisah paragraf demi paragraf, baris demi baris, kata demi kata, untuk melihat apa membuatnya begitu indah. Kemudian gunakan trik pada saat Anda menulis. 

Tentang mengapa Anda menulis.
 Ini adalah keinginan terdalam dari setiap penulis, yang kami tidak pernah mengakui atau bahkan berani berbicara tentang: untuk menulis sebuah buku kita dapat meninggalkan sebagai warisan. Dan meskipun kadang-kadang mudah lupa, ingin menjadi penulis bukan tentang review atau kemajuan atau berapa banyak kopi yang dicetak atau dijual. Hal ini lebih sederhana dari itu, dan lebih bergairah. Jika Anda melakukannya dengan benar, dan jika mereka menerbitkannya, Anda sebenarnya dapat meninggalkan sesuatu di belakang yang dapat berlangsung selamanya.  

Pengalaman terlalu dilebih-lebihkan.
Menulis adalah mengetahui. Pada keadaan tertentu, anda mesti berusaha menghindari pengalaman. Menulis pengalaman tidak menambah ilmu anda bukan? Itu maksud saya. Cobalah lebih selektif dalam memilih pengalaman yang pantas dan tidak pantas untuk diceritakan. Syndrom menceritakan pengalaman biasanya melanda penulis pemula. So, jeli terhadap pengalaman itu penting! 

Motivasi menulisSeorang penulis harus memiliki semacam dorongan kompulsif untuk melakukan pekerjaannya. Jika Anda tidak memilikinya, Anda lebih baik mencari yang lain jenis pekerjaan, karena itu hanya dorongan yang akan mendorong Anda melalui mimpi buruk psikologis menulis.

Sebuah aturan sederhana.
Sebuah aturan sederhana. Jika anda mengatakan kepada diri sendiri anda akan berada di meja kerja anda besok pagi, sebenarnya anda telah berjanji. Yang mesti anda lakukan adalah membuat janji tersebut penting. Sama halnya ketika anda berniat akan menulis di suatu tempat, katakan: Saya akan berada di sana untuk menulis.
 
Berhenti.
Seringkali kita tidak menemukan bahan cerita yang layak ditulis. Semakin kita berpikir, semakin sulit kita mendapatkan ide. Berhenti menulis! Beri jeda yang cukup sampai anda benar-benar rileks untuk menulis kembali.

14 April 2012

The Magic of Gratitude

Sikap positif untuk selalu bersyukur atau terima kasih itu memiliki keajaiban di luar yang kita perhitungkan. Sungguh tepat, hampir semua kitab suci dan agama yang saya pelajari selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur atas anugerah hidup.
Apa pun kondisinya, selalu saja ada yang pantas sekali kita syukuri. Barangsiapa bersyukur, Allah pasti akan menambah nikmat yang sudah diterimanya. Tetapi,barangsiapa yang selalu mengingkari nikmat- Nya, pasti hidupnya akan menderita (Alquran, 14:7). Sikap bersyukur dan senang mengucapkan terima kasih hanya akan muncul dari orang yang mencintai kehidupan. Nasihat suci itu mudah sekali kita amati dan buktikan dalam pengalaman hidup sehari- hari. 

Dalam ungkapan klasik dan populer,di alam semesta ini berlaku law of attraction. Hukum tarik-menarik antara sesama energi. Kalau seseorang selalu berpikir positif, gembira, dan mensyukuri hidup, energi dan nasib positiflah yang akan datang bergabung pada orang itu. Sebaliknya, orang yang selalu berpikir negatif dan serbamengeluh, dunia akan selalu terlihat gelap dan menyiksa. Mereka yang mempelajari teori kekuatan bawah sadar sangat percaya dengan formula ini.

Apa pun yang dibayangkan, pikirkan, dan bisikkan di hati, sesungguhnya seseorang tengah berjalan menuju apa yang dia dambakan. Lebih kuat lagi daya tarik sukses itu kalau disertai doa memohon kepada Allah untuk ikut campur tangan memudahkan jalannya. Coba amati perilaku diri kita masing-masing.Ketika hati dan pikiran jernih lalu mengalir darinya rasa syukur,menatap terbit matahari pagi pun akan terlihat indah. Pepohonan juga turut bicara.

Kehadiran mereka memberikan kesejukan mata dan berbagi oksigen yang diperlukan manusia. Belum lagi guyuran air di pagi hari yang membuat badan sehat dan segar.Semua itu menjadi hidup dan terasa melimpah hanya ketika seseorang memiliki hati dan pikiran positif untuk selalu mensyukuri anugerah kehidupan. Demikianlah selama 24 jam begitu melimpah anugerah Tuhan yang pantas kita syukuri,tanpa kehilangan sikap kritis dan peduli terhadap keadaan yang kurang nyaman.

Situasi sosialpolitik yang pengap bahkan merupakan salah satu panggilan dan peluang untuk berbuat kebajikan menolong sesama sebagai ungkapan rasa syukur utamanya bagi mereka yang memiliki ilmu, kekayaan, jabatan,serta kesehatan untuk mengisi hidup agar lebih bermakna. Pikiran itu ibarat kacamata. Jika warna kacanya hitam, pemandangan akan menjadi hitam.Tentu saja pikiran lebih dari kacamata karena pikiran akan memengaruhi kinerja organ-organ lain dalam tubuh kita, dari yang kasar sampai yang halus.

Pikiran yang sehat, kreatif, dan konstruktif akan membangun dunia imajinasi yang sehat.Pikiran negatif akan selalu mengutuk lingkungan yang dijumpai, di mana saja, kapan saja,dan siapa saja. Selalu berpikir negatif tak ubahnya mengoleksi memori negatif dalam album atau disket pikiran kita sehingga ketika muncul ke permukaan yang keluar adalah cerita dan narasi negatif.

Para nabi dan avatar telah memberikan contoh. Ibarat pohon teratai yang tumbuh di kolam yang kotor dan berlumpur, selalu saja pohon teratai memberikan bunga yang indah dan bersih. Mereka menghadapi dunia yang semrawut, amburadul, namun pikiran tetap kritis, konstruktif, dan hati jernih untuk membangun dunia baru yang beradab yang menjadi warisan dan kekayaan sejarah. Yang selalu merusak pribadi yang penuh syukur adalah sikap rakus dan sombong. 

Orang yang rakus sulit mensyukuri anugerah yang sudah di tangan.Sebaliknya,dia akan selalu  merasa kurang terus sehingga hatinya selalu merasa miskin dan gelisah.Inilah yang mungkin menjangkiti para politisi dan pejabat negara kita sehingga tidak mampu menahan dorongan korupsi. Berapa pun jumlah gaji dan kekayaan yang didapat akan selalu dirasakan kurang. Suasana batin ini diperparah lagi ketika bertemu dengan sikap sombong.Tidak rela, bahkan sakit hatinya, ketika melihat orang lain berlebih dari dirinya.

Karena itu, rakus, sombong, dan dengki selalu hadir dan bekerja bersamaan. Jika tiga penyakit itu bercokol pada orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan, kekayaan negara dan hak rakyat akan dilibas dan dikeruknya. Berbahagialah mereka yang mampu memelihara hati dan pikiran untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan sesama mengingat nilai kekayaan dan kepintaran itu pada akhirnya bukan pada jumlahnya, melainkan pada fungsi dan manfaatnya untuk membuat kehidupan lebih bermakna.

Hidup lebih nyaman, terbebas dari perasaan salah dan dikejar dosa. Seorang koruptor bisa saja merasa menang dalam proses pengadilan.Tetapi,pengadilan nurani tak bisa dibohongi.Bagi orang yang beriman, kita semua akan menghadap pengadilan Tuhan yang tak mungkin disuap.Yang membela dan meringankan adalah amal kebajikan kita.● PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

 

29 Februari 2012

Iran Stop Minyak, Eropa dan AS Meradang

Uni Eropa menjatuhkan sanksi embargo kepada Iran. Keputusan tersebut muncul setelah Iran meluncurkan program pengayaan uranium hingga 20%. Sanksi ini menyebabkan pasar minyak dunia mengalami pemrmasalahan serius. Mayoritas negara-negara industri terkena dampak yang paling serius, seperti Eropa dan Amerika. PM Italia, Mario Monti, mengatakan sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa akan menimbulkan permasalahan serius bagi negaranya. Bahkan dalam sebuah konferensi pers di Roma beberapa hari yang lalu, dia menegaskan Italia tidak mampu menuruti sanksi tersebut karenanya Italia akan semakin menderita.

Inggris dan Perancis sendiri sudah tidak mendapat pasokan minyak dari Tehran, Iran. Sedangkan, minyak 500 barel yang seharusnya dipasok ke Yunani malah dibatalkan oleh Iran. Kondisi ini menimbulkan efek domino. Di Amerika, harga minyak merangkak naik menjadi 109 dollar/barrel tertinggi sejak Juni tahun lalu, begitu juga di pasar Asia yang sudah mencapai 106 dollar/barrel. Harga tersebut diperkirakan akan terus merangkak naik apabila Iran menyetop secara total pasokan minyaknya ke Eropa. Mengingat selamai ini Eropa mendapat pasokan minyak mentah hingga 18% dari Iran.

Eropa dan Amerika kini berharap pasokan dari Saudi. Meskipun ini tidak menjanjikan dan tidak mampu menstabilkan harga minyak di pasar dunia. Menurut Iran, sanksi yang dikeluarkan Eropa dan Amerika tidak akan berpengaruh terhadap ekonominya karena banyak konsumen yang butuh pasokan minyak dari negaranya. Lanjut, sanksi tersebut malah menjadi senjata makan tuan bagi negara-negara barat. Mereka akan semakin meradang ditambah krisis ekonomi yang melanda akhir-akhir ini.

Menguatnya harga minyak di pasar dunia juga berdampak terhadap Indonesia. Indonesia sebagai salah satu pengimpor minyak mengalami kesulitan akibat kenaikan harga minyak. Subsidi bagi BBM membengkak dan semakin menggerogoti APBN. Pemerintah sendiri sudah merencanakan skema dengan opsi kenaikan harga hingga Rp. 2000,-/liter. Rencananya bulan April kebijakan tersebut akan diberlakukan. Tentu saja pilihan tersebut akan berpengaruh langsung pada kehidupan perekonomian.

25 Februari 2012

Jika

Jika kita senantiasa berdiri dengan kepala tegak ketika semua orang meninggalkan dan menimpakan kesalahan pada kita; Jika kita tetap percaya pada kemampuan diri di saat orang lain ragu dan berusaha mengubah keraguan itu menjadi keyakinan; Jika kita bisa menunggu dan tidak lelah menunggu, atau dibenci tapi tidak memendam kebencian, atau dibohongi tapi tidak membohongi.

Jika kita bermimpi dan tidak menjadi pemimpi; Jika kita mampu berpikir dan tidak berhenti di situ serta tidak menjadikan pikiran sebagai tujuan; Jika kita bisa bersikap sama pada sebuah kemenangan dan bencana; Jika kita bertaruh pada perjuangan untuk menang lantas kemudian kalah tapi tidak menyalahkan siapa pun meski satu hela napas.

Jika kita mampu menceritakan kebenaran yang pahit di depan seorang raja sekalipun; Jika kita tidak berhenti jika tidak diperhitungkan; Jika kita merasakan waktu adalah putaran detik, bukan menit, jam, dan hari. Jika kita  mampu melihat orang lain sebagai bagian dari alam semesta, diri kita yang tidak boleh disakiti; Jika kita menghargai alam sebagai harmoni ciptaan Tuhan yang luar biasa; Jika kita berbuat baik tanpa menunggu orang lain melakukannya.
Maka, kita telah menjadi manusia, kawanku!

21 Januari 2012

Strata Sosial [Baru] Bugis-Makassar

                                                         Sultan Hasanuddin

Sistem kemasyarakatan lama Bugis-Makassar,  terbagi atas tiga tingkatan (kasta). Pertama: ana’ karaeng (Makassar), menempati kasta tertinggi dalam stratifikasi sosial kemasyarakatan. Mereka adalah kerabat raja-raja yang menguasai ekonomi dan pemerintahan. Kedua: tu maradeka (Makassar), kasta kedua dalam sistem kemasyarakatan Bugis-Makassar. Mereka dalah orang-orang yang merdeka (bukan budak atau ata). Masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) mayoritas berstatus kasta kedua ini. Ketiga: ata, sebagai kasta terendah dalam strata sosial. Mereka adalah budak/abdi yang biasanya diperintah oleh kasta pertama dan kedua. Umumnya mereka menjadi budak lantaran tidak mampu membayar utang, melanggar pantangan adat, dll.

Seiring dengan perjalanan waktu ketika sistem kerajaan runtuh dan digantikan oleh pemerintahan kolonial, stratifikasi sosial masyarakat Bugis-makassar berangsur luntur. Hal ini terjadi karena desakan pemerintah kolonial untuk menggunakan strata sosial tersebut. Selain itu, desakan agama (Islam,red) yang melarang kalsifikasi status sosial berdasarkan kasta. Pengaruh ini terlihat jelas menjelang abad 20, dimana kasta terendah, ata, mulai hilang. Bahkan, sampai sekarang kaum ata sudah sulit ditemukan lagi, kecuali di kawasan pedalaman yang masih dipengaruhi sistem kerajaan.

Setelah Indonesia merdeka, 2 kasta tertinggi, yaitu ana’ karaeng dan tu maradeka juga berangsur mulai hilang dalam kehidupan masyarakat. Memang pemakaian gelar ana’ karaeng, semisal Karaenta, Petta, Puang, dan Andi masih dipakai, tetapi maknanya tidak sesakral dulu lagi. Pemakaian gelar kebangsawanan tersebut tidak lagi dipandang sebagai pemilik status sosial tertinggi. Lebih banyak dipakai karena alasan keturunan dan adat istiadat.

Dalam lingkup NKRI pula, 3 kasta dalam masyarakat Bugis-Makassar dianggap menjadi hambatan. Sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia, sedikit banyak menyudutkan stratifikasi sosial ini. Oleh karenanya, sosialisasi untuk tidak mengedepankan strata sosial lama terus digalakkan oleh pemerintah. Makna kasta sengaja dikecilkan dalam lingkup keluarga, bukan untuk dibawa dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Persamaan hak serta kebebasan menjadi alasan utama kenapa stratifikasi ini sengaja dikerdilkan dalam iklim demokrasi.
 
Pergeseran Status Sosial
Perkembangan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar yang cepat ikut menggerus nilai lama yang dianutnya, yaitu pengkastaan seperti yang disubutkan di atas. Hal ini terlihat jelas terutama di wilayah perkotaan. Gelar kasta tidak lagi dianggap  sebagai penentu tinggi rendahnya status sosial seseorang di mata masyarakat. Sedikit berbeda dengan wilayah pelosok yang masih kental dengan unsur feodalis. Dimana 2 kasta tertinggi masih menempati posisi tinggi. Seperti yang terlihat di beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Walaupun, mereka dihormati sesuai dengan banyaknya harta serta kedudukan di birokrasi pemerintahan.

Penulis mengamati beberapa faktor yang mempengaruhi status sosial dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Pertama: posisi di bidang pemerintahan. Kesempatan yang sama diberikan Ana’ karaeng, Tu maradeka, maupun ata untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Siapa pun yang menjabat, pasti akan mendapat penghormatan lebih di mata masyarakat. Sekalipun ata, tapi punya jabatan strategis, pasti dihormat dan mendapatkan status sosial tinggi di masyarakat. Kedua: kekayaan. Sudah menjadi ketentuan umum, mereka yang punya capital melimpah akan dihormati. Begitu juga dalam masyarakat Bugis-Makassar, seseorang yang punya harta lebih banyak akan dihormati. Sebenarnya, hal ini bukanlah cerita baru, melainkan sudah ada sejak turun temurun. Kemudian yang terakhir: tingkat pendidikan. Pengaruh tingkat pendidikan sesorang juga berperan sentral dalam menentukan status sosialnya. Sistem pendidikan sudah berbeda jauh dengan masa lampau, dimana mereka yang bisa mengecap pendidikan adalah kasta tertinggi. Sekarang, semua warga negara diberikan kesempatan sama untuk mengecap pendidikan. Sehingga, tidak ada lagi dominasi pengetahuan yang terbatas pada kalangan atas saja.

Terkait dengan hal di atas, saya pernah menjumpai kasus yang menarik di salah satu kecamatan di Kabupaten Jeneponto, Kecamatan Rumbia. Di daerah tersebut banyak tinggal bija karaeng (keluarga raja/bangsawan) yang tersebar di beberapa desa. Secara turun temurun, kepala pemerintahan dijabat oleh bija karaeng tersebut, baik tingkat desa/kelurahan maupun camat sendiri.Hanya saja dalam 1-2 dekade terakhir, jabatan struktural pemerintahan tidak lagi diduduki oleh mereka dan digantikan oleh orang biasa. Pernah terjadi gejolak, bija karaeng merasa keberatan dengan kondisi tersebut. Akan tetapi, keberatan mereka tidak digubris oleh pemerintah. Setelah ditelusuri, memang syarat untuk menduduki jabatan dipemerintahan tidak mereka penuhi, misalnya pendidikan. Selain itu, kapital tidak lagi didominasi oleh mereka. Kedua hal tersebut diyakini menjadi faktor utama menagapa hal tersebut terjadi. Bahkan, camat yang saat ini menjabat bukan berasal dari kasta tertinggi. Menurut pengakuan Camat yang saat ini menjabat, dia dipanggil karaeng oleh rakyatnya, padahal silsilah keturunannya dari rakyat biasa. Dia dipanggil karaeng lantaran jabatan strukturalnya, bukan keturunannya.

Kasus di atas bisa menjadi gambaran terjadinya pergeseran status sosial di masyarakat Bugis-Makassar. Dimana status sosial tidak lagi didasarkan pada keturunan, kasta, maupun stratifikasi sosial lama. Jabatan struktural di pemerintahan, kekayaan, serta tingkat pendidikan lebih dominan berpengaruh dalam menetukan derajat sosial seseorang. Pergeseran ini semakin kental seiring perkembangan kehidupan.

18 Januari 2012

Reformasi Menurut Cak Nur //Part 2 (selesai)

Menyambung tulisan sebelumnya reformasi menurut Cak Nur, saya hendak menyampaikan beberapa poin mengenai persoalan tersebut. Mengingat tulisan tersebut belum tuntas sepenuhnya. Ada beberapa kecenderungan yang semakin menguatkan pendapat Cak Nur bahwa reformasi adalah turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, tidak lebih tidak kurang. Bahwa reformasi hanyalah rekayasa sosial. Yakni beberapa pihak menginginkan Indonesia berubah menjadi negara "liberal". Ini bukan sekedar preseden atau asumsi murahan, melainkan fakta telah menunjukkan validitasnya.

Mengorek kembali sistem demokrasi yang dipahami zaman orde. Pada saat itu, hanya diakui 3 partai dimana Golkar sebagai ban serep pemerintah sedangkan 2 partai lainnya, PDI dan PPP hanya sebagai "pelengkap". Mengkritik pemerintah bisa berbuntut panjang. Sentralisasi segala bidang yang begitu kental. Hanya orang-orang yang dekat dengan keluarga cendana yang bisa menduduki pos penting dalam roda pemerintahan. Siapa yang tidak patuh, siap-siap saja dihabisi. Orde baru menjadi monster raksasa yang menelan korban, entah jumlahnya berapa. Tidak usah bertanya jika ada orang yang tiba-tiba hilang, karena mungkin dia sudah diciduk "aparat". Jauh ke pelosok desa, informasi sangat terbatas. Mereka buta informasi terhadap kondisi pemerintahan karena memang aksesnya sangat terbatas. Lagi pula mereka juga tidak peduli. Toh, yang penting bisa hidup dengan tenang. Dan itulah yang menjadi jaminan mengapa orde baru bertahan sampai 3 dekade (32 tahun).

Akhirnya seperti kita ketahui, reformasi tumbang pertengahan 1998. Indonesia memasuki babak baru sistem pemerintahan, reformasi. Harapan dan semangat membangun Indonesia terkristalisasi dalam benak rakyat seperti yang dicita-citakan founding fathers. Supremasi hukum, pemberantasan KKN, perbaikan ekonomi, sosial, dan politik, pembukaan kran demokrasi adalah beberapa tujuan reformasi. Cita-cita yang sungguh mulia. Namun, perjalanan reformasi menjadi bias. Tuntutan tahun 1998 menguap begitu saja, entah kemana. Korupsi merajalela membentuk lingkaran setan, hukum tebang pilih, KKN, ekonomi tersandera oleh asing, sosial politik hingga budaya yang semakin kabur dari ciri ketimuran. Demokrasi yang sejatinya sebagai instrumen untuk mensejahterahkan rakyat malah menjadi "industri" besar oknum tertentu. Indonesia menjadi negara besar yang lumpuh, tidak mampu berjalan dengan kaki sendiri. Terbukti dengan trilyunan bantuan asing yang masuk untuk memberi napas bangsa Indonesia.

Liberalisasi berkedok globalisasi. Caranya dengan  mengutus "agen global" untuk diadopsi di Indonesia seperti film, fashion, gaya hidup, teknologi, dan lain-lain. Otak rakyat Indonseia disetting sedemikian rupa agar mengikuti trend global. Film barat berbau seks, pornografi, dan brutal menjadi tontonan kaum muda di bioskop. Belum lagi produk-produk asing yang murah tapi "keren" membanjiri swalayan-swalayan. Hasil karya anak bangsa  kian tersisih. Coba perhatikan kehidupan kita selama 24 jam dari bangun tidur hingga terlelap di malam hari, hampir semua yang kita gunakan adalah produk asing. Bayangkan jika produk Unilever, Danone, Nokia, Blackberry, Telkomsel, Acer, Thosiba, dan Indosat distop sehari saja, niscaya rakyat Indoesia akan kelabakan. Belum lagi DPR dan pemerintah yang semestinya menjadi tameng bagi rakyat yang terlanjur lemah ini, malah menjadi sarang kompromi terhadap asing. Terlihat dengan sejumlah regulasi dan Undang-undang yang mereka keluarkan. Sampai disini, relevansi Cak Nur tentang demokrasi kian terang-benderang.

Bicara ketidakberesan Indonesia tidak akan ada habisnya. Reformasi yang memudahkan modal asing masuk ke Indonesia. Perusahaan lokal diadu langsung dengan perusahaan asing. Jelas, perusahaan lokal kalah telak. PSM diadu dengan Manchester United. Tidak masuk akal kan! Konglomerat asing masuk begitu mudahnya dan menguasai sektor strategis perekonomian kita. Menjadikan ekonomi tersandera oleh asing. Dengan kondisi seperti ini, rakyat tidak akan menuntut apa-apa. Mereka tidak tahu apa-apa kok! Rakyat gamang dengan perubahan yang cepat. Mereka tidak sempat berpikir. Mereka tidak mau tahu, yang penting mereka hidup "baik" hari ini. Arus frontal yang datang seketika tidak mampu dibendung oleh rakyat. Tidak peduli jika dibodohi sekalipun. Siapa yang salah? Reformasi, pemerintah, atau rakyat itu sendiri? Tidak semudah mengacungkan jari telunjuk. Kita mesti berpikir dan melihat masalah secara holistik. Terlebih dahulu kita harus membongkar paradigma dan kesalahan sistemik yang merantai bangsa Indonesia.

Secara tersirat, Cak Nur memang melihat reformasi cenderung mengarah pada liberalisasi. Hal ini bisa diatisipasi jika ada pengawal yang konsisten. Sayangnya tidak?! Aktor reformasi tersisih dan digantikan oleh aktor lama yang korup dan amoral itu. Aktor lama itu seperti macan lepas kandang, menyeruduk, menggonggong, menjilat, dan menerkam di sana-sini. Merekalah yang sibuk berceloteh di depan media. Memperebutkan kekuasaan, membagi jatah proyek, lompat kiri kanan, berganti topeng, seakan merekalah reformis yang sesungguhnya. Di sisi lain rakyat tidak siap dengan format baru yang dibawa reformasi. Berpikir sempit dan pendek. Pendidikan yang mereka peroleh jelas tidak cukup untuk mengawal reformasi. Bagaimana dengan intelektual kampus yang suaranya paling nyaring ketika Soeharto ditumbangkan? Setali tiga uang, mereka terlalu sibuk menikmati masa muda. Sulit saya jelaskan.

Inilah reformasi. Jika Indonesia harus tumbang nantinya, tidak ada yang harus disalahkan kecuali rakyat termasuk pemerintah. Dan saya yakin, jika keadaan ini terus berlangsung maka Indonesia akan menjadi negara gendut, pemalas, bodoh yang dipenuhi penyakit seperti stroke. Tewas tidak bersisa. Maaf kalau saya terlalu sinis melihatnya. Inilah bentuk keresahan yang terus menghantui saya. Sudi atau tidak, kita mesti mengakui bahwa reformasi sekedar angin segar tapi beracun.
wallahu a'lam... 

31 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun, Sebuah Refleksi

Ada dua hal yang sering dilakukan orang menjelang akhir tahun. Refleksi akhir tahun dan resolusi tahun yang akan datang. Refleksi dilakukan sebagai bentuk evaluasi kinerja setahun terakhir. Sejumlah catatan perjalanan sengaja dituliskan guna memaknai kembali peristiwa yang dianggap penting. Prestasi dicatat, termasuk juga kejadian "kelam" guna diambil hikmah di dalamnya. Sedangkan resolusi dimaknai sebagai proyeksi setahun ke depan. Cita-cita dan harapan yang tidak terwujud di tahun sebelumnya dicatat kembali untuk diwujudkan di tahun berikutnya. Refleksi dan resolusi dianggap sebagai ritual wajib setiap akhir tahun. Ritual ini khususnya berlaku bagi masyarakat urban, karena bagi sebagian besar masyarakat udik, pergantian tahun bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Bagi mereka, setiap waktu sama saja. Tidak peduli akhir, awal, atau pertengahan tahun.

Tahun 2011 tinggal menghitung jam. Sebentar lagi akan berakhir. Beranjak meninggalkan kita semua dan tidak akan pernah kembali lagi. Itu pasti. Tahun 2011 akan terkubur, menjadi sejarah bagi setiap orang. Sejarah yang entah mau dimaknai atau tidak. Akan tetapi, alangkah meruginya kita jika tidak bisa memetik pelajaran dari perjalanan hidup kita, setidaknya selama setahun terakhir. Tentu saja bukan untuk membanggakan atau mengutuk perjalanan kita. Tapi sekali lagi, untuk mengambil pelajaran sebagai bahan refleksi untuk menentukan arah kehidupan nantinya.

***
Tidak banyak yang berubah. Status saya masih saja sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang tidak kunjung sarjana. Padahal masa studi saya terbilang tidak "normal" lagi. Jauh dari target awal ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bangku kuliah pada tahun 2006. Orang tua saya, sudah mengulang pertanyaan yang sama ribuan kali, "kapan sarjana nak?". Entahlah, karena faktor pendidikan orang tua yang rendah, selalu saya selalu punya alasan logis atas pertanyaan itu. Dan selalu diterima tanpa embel-embel. Kadang juga saya berpikir, betapa menyedihkannya beliau punya anak seperti saya. Atau mungkin beliau terlalu saya kepada anaknya. Tapi toh, saya punya proyeksi sendiri yang saya jelaskan tiap kali pulang kampung. Orang tua saya mendengarnya dan beliau merasa bangga.

Awal tahun 2011, saya sudah berkomitmen untuk hidup mandiri. Dalam artian, mapan secara finansial. Alasan utamanya, saya bekerja di dua tempat sekaligus. Sampai medio 2011 semuanya masih berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, masalah lain timbul. Kuliah saya jadi berantakan. Orang tua saya komplain. Akhirnya saya harus rela melepaskan salah satu pekerjaan dan kembali ke kehidupan sebelumnya: meminta beasiswa dari kampung setiap bulan. Menyedihkan. Seperti yang saya ungkapkan di atas, sampai akhir tahun 2011 saya masih berstatus mahasiswa. Jadinya, saya masih menerima kiriman uang dari kampung dan belum sarjana. Mungkin ini sebuah kegagalan, tapi saya tidak mau menyebutnya demikian. Itu bukan kegagalan, melainkan keberhasilan yang tertunda (inilah kata-kata yang paling saya benci seumur hidup).

Setali tiga uang dengan kehidupan asmara. Ciee kehidupan asmara ha ha ha. Sempat menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Sayang (bisa ditebak, akhirnya pasti menyedihkan). Hubungan tidak berjalan lama. Saya pernah bertemu orang tuanya dan ditanya kapan sarjana. karena tidak tahu harus jawab apa, dan setelah lama berpikir, dengan enteng saya jawab, "nanti om" Jawaban yang sangat politis dan spekulatif. Dua pekan kemudian, saya putus dengan anaknya tanpa alasan yang jelas.

Ah, dari dari tadi menyedihkan terus. Pelajaran apa yang mau diambil. Sama sekali tidak ada. Terus kenapa saya menulis "refleksi akhir tahun 2011"? Saya juga tidak tahu. Gamang.

***
Cerita menyenangkan. Entahlah, saya tidak tahu harus memulai darimana. Hanya dua kemungkinan, terlalu banyak  sehingga bingung mau mulai darimana atau memang tidak ada sama sekali. Sekali lagi, gamang.

Selain umur yang semakin bertambah, beberapa catatan penting selama tahun 2011 (tentunya tidak menyedihkan). Saya menerima tawaran pekerjaan yang akan dimulai pada awal tahun 2012. Cukup menggembirakan mengingat kondisi keuangan orang tua saya yang semakin tidak memungkinkan saat ini. Semoga terealisasi supaya punya dana cukup untuk melanjutkan pendidikan apoteker pada pertengahan 2012. Orang tua saya juga setuju dengan rencana tersebut.

Memang saya belum bertitel sarjana. Akan tetapi, progres yang sangat baik jelas terlihat. Skripsi sudah ACC, menunggu untuk di"sidang"kan. Tinggal berkas ujian yang perlu disiapkan dan beberapa perlengkapan administrasi. Selebihnya, sudah rampung. Kalau tidak ada aral melintang, awal 2012 saya sudah sarjana. 

Tetapi yang terpenting bagi saya, adalah dialektika pengetahuan yang sangat intens selama tahun 2011. Saya merasakan betul bagaimana pergulatan pemikiran yang mengubah paradigma. Banyak menyerap buku kontemporer yang merasuki alam pemikiran. Banyak pelatihan sempat saya ikuti perlahan mengubah persepsi saya. Memang hasilnya masih abstrak. Akan tetapi pola yang terbangun secara terstruktur semakin mendewasakan saya. Jelas ini menjadi modal penting mengarungi kehidupan selanjutnya. Saya sangat bersyukur.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya punya proyeksi sendiri. Tahun 2011, terlepas dari banyak kekurangan dan target yang tidak tercapai, memberikan pengaruh besar dalam upaya mematangkan proyeksi masa depan. Selebihnya adalah harapan. Bahwa hidup selalu membawa banyak kemungkinan. Ada rahasia dibalik peristiwa. Melihat fenomena, menyingkap noumena. Yakin Usaha Sampai...

16 November 2011

Malam Ketika Itu

Ingin kutelanjangi malam
asaku membara menatap cakrawala
Dalam hati yang bungkam
ingin kucumbui kata

Ingin kugerayangi malam yang tak berujung ini
biarlah layu dalam peluk dan cumbuan
Menggores mimpi
menerabas harapan

Ingin kurangkul sempitnya kata
menggegamnya dalam naungan temaran
Oh, tak semuda berbicara
sedang aku masih di tepian

Kutatap dia dengan sinis
gadis kecil di sudut tugu
Sangat miris
menegurnya saja aku tak mampu

Fatamorgana bersiul
melirikku begitu jauh
Menyekapku dalam simpul
menghempas di jalanan riuh

Makassar, 15 11 2011

10 November 2011

Ribut-ribut Tentang Komodo

Polemik seputar vote Pulau Komodo sebagai salah satu finalis 7 keajaiban dunia terus berlanjut. Ribet dan membingungkan. Banyak pihak menyalahkan satu sama lain. Tidak diketahui siapa yang benar atau salah.

Cerita berawal sebulan yang lalu. Ketika Jusuf Kalla (JK) ditunjuk menjadi duta Pulau Komodo untuk mempromosikan pulau tersebut menjadi 7 keajaiban dunia kategori alam. Untuk menang, Pulau Komodo mesti bersaing dengan 27 finalis lain dari seluruh penjuru dunia. Penentuan pemenang ditentukan berdasarkan jumlah dukungan. Bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu, vote langsung di situs resmi new7wonders.com, melalui telepon, atau SMS.

Tidak berselang lama, dukungan mengalir deras dari berbagai pihak. Terutama Operator Seluler yang rela memangkas tarif layanan premiumnya menjadi Rp.1/SMS. Cukup dengan mengetik KOMODO lalu kirim ke 9818. tidak kurang dari jutaan SMS dukungan masuk setiap harinya.

Di tengah euforia dukungan terhadap Pulau Komodo, muncullah berita yang menghebohkan. Djoko Susilo, Duta Besar RI untuk Swiss, meragukan kredibilitas N7W sebagai penyelenggara pemilihan. Mulai dari kantor fiktif N7W sampai statusnya yang tidak berada di bawah naungan UNESCO. Sontak, hal tersebut menjadi pemberitaan di berbagai media dan menjadi polemik hingga sekarang.

Pemerintah yang diharapkan menyelesaikan masalah tersebut malah lepas tangan dan tidak mau bertanggungjawab. Ada apa? Terlepas dari pandangan sebjektif, beberapa analisis saya bisa jadi pertimbangan:
  1. Djoko Susilo tidak pernah konfirmasi langsung pihak N7W, jadi tudingannya belum sepenuhnya benar dan tidak boleh dipercaya begiru saja. Djoko Susilo hanya memantau kantor N7W tanpa mengecek langsung kemudian langsung menympulkan bahwa N7W fiktif.
  2. SMS voting ke 9818 yang curigai sebagai bentuk penipuan, saya pikir telalu berlebihan. Nilai Rp.1,- adalah biaya untuk operator seluler. Panitia lokal (Ibu Emmy Hafid dkk) sama sekali tidak mengambil keuntungan dari sana. Oh ya, kalau anda pengguna telkomsel silahkan cek di *116#, ternyata 9818 tidak terdaftar sebagai konten premium, jadi tidak usah khawatir pulsa terpotong.
  3. Tahun 2007 Pemerintah, dalam hal ini Kemenbudpar, gagal meloloskan Borobudur menjadi salah satu 7 keajaiban dunia akibat tarif untuk memberi dukungan saat itu sangat mahal, yaitu Rp.1000,-. Kejadian sama berulang di tahun 2010 dan promosi Pulau Komodo oleh pemerintah gagal total. Belakangan isu setoran fee dijadikan alasan.
  4. Anggaplah SMS yang masuk senilai 100 juta rupiah. Uang tersebut tidak sebanding dengan nilai proyek promosi Pulau Komodo oleh pemerintah. Jadi ada alasan untuk mengurangi proyek promosi. Bukankah semakin banyak proyek, korupsi juga semakin tinggi.
  5. Atau jangan-jangan polemik Pulau Komodo merembes ke isu politik. Alurnya begini: Sekiranya Pulau Komodo berhasil menjadi salah satu keajaiban dunia, otomatis nama JK akan melambung dan ditakutkan mempengaruhi konstalasi 2014. Sudahlah, itu hanya pikiran kotor saya saja...
ingat...!
"Puluhan juta tahun Komodo hidup, mereka tidak pernah meributkan dirinya sendiri, jadi ngapain kita mesti ribut-ribut tentang Komodo" 

5 November 2011

November

Adzan subuh berkumandang, membelah rimbunan pohon yang baru saja diguyur hujan lebat. Konon katanya, kala itu pertengahan bulan November 1987, bertepatan dengan hari pertama saya menjejakkan kaki di dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim ibu saya. Jenis kelamin yang tidak dinantikan, karena sebenarnya kedua orangtua saya berharap anak keduanya berkelamin perempuan. Hiks.

Orang tua saya meyakini satu hal: anak keduanya, saya, lahir pada kamis subuh. Itulah mengapa saya katakan "konon katanya", karena berdasarkan kelender Masehi, tanggal 15 November 1987 jatuh pada hari Minggu. Sudah saya cek berkali-kali dan hasilnya tetap sama, bahwa tanggal tersebut bertepatan pada hari Minggu, bukannya hari Kamis. Sampai saat ini, saya juga meyakini hal yang sama, bahwa saya lahir pada kamis subuh, entah tanggal dan tahun berapa. Juga karena tidak ada bukti lain mengenai tanggal kelahiran tersebut kecuali ingatan kedua orang tua. Itu pula yang menjadi alasan mengapa tidak pernah merayakan ulang tahun di sepanjang saya hidup di dunia ini. 15 November bukan tanggal kelahiran saya!

Di kampung kami, dulu, tanggal lahir adalah persoalan remeh-temeh. Tidak diperuntukkan bagi kami yang tinggal jauh di desa. Tanggal lahir adalah urusan orang pintar yang berpendidikan tinggi. Kalau ditanya umur anak-anak mereka, jawabannya pasti panjang. Kurang lebih jawabannya seperti ini, "Si A lahir di bulan syaban, dua tahun lebih muda dari kakaknya, satu tahun lebih tua dari sepupunya, dan seterusnya". Jadi, ketika salah satu anak mereka melanjutkan pendidikan, dimana tanggal lahir mesti dicantumkan, maka mereka akan meminta guru untuk "menentukan" tanggal lahir anak muridnya sendiri. Saya sendiri baru tahu kalau saya lahir di bulan November ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Tahukah kawan, "Bulan November" adalah hasil diskusi antara guru dengan kedua orang tua saya. Ajaib kan!

Sekali waktu saya komplain, mengapa tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak sesuai dengan hari ketika saya lahir. Jawaban kedua orang tua sederhana, katanya, saya lahir kamis subuh, saat frekuensi hujan mulai meninggi di kampung kami, kala petani mulai membajak sawahnya, saat semangat kehidupan warga kampung memuncak setelah lesu akibat musim kemarau. Dan kamu tahu, nak, kata bapak, hal tersebut terjadi di Bulan November saja. Entah benar atau tidak, tapi sejak saat itu saya tak pernah lagi menanyakannya.

Tingkat pendidikan adalah penyebab lain kenapa tanggal tak penting bagi kami, terutama bapak ibu saya. Kedua orang tua saya berpendidikan rendah. Tapi tunnggu, sebenarnya agak risih juga kalau mereka disebut "berpendidikan" - meskipun rendah. Musababnya, mereka berdua tidak punya ijazah sama sekali. Hanya bapak yang paham baca tulis, sedang ibu saya tragis; buta huruf. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai petani, dan saya percaya, tidak butuh ijazah untuk menguasai ilmu membajak sawah.

Saya selalu bingung setiap kali diperhadapkan dengan  blanko, formulir, atau semacamnya yang meminta data pendidikan orang tua. Saya harus mengisinya dengan apa? Sedangkan option "tidak berpendidikan" tidak tersedia. Karena persoalan gengsi, saya isi saja "tamat SLTA". Untungnya, tidak pernah ada yang mengklarifikasi langsung kepada kedua orang tua saya. Urusannya bisa panjang.

Meskipun "tidak berpendidikan", kedua orang tua saya tahu betul bagaimana filosofi pendidikan. Terutama bapak, beliau selalu mengajarkan bagaimana adab menuntut ilmu. Sampai saat ini, meskipun beliau sudah tidak ada (semoga tenang di sisiNya), pesannya selalu saya ingat. dan menjadi energi besar yang siap melecut semangat.

Syukurlah karena orang tua saya memilih Bulan November sebagai bulan dimana saya lahir. Saya suka November. Lovely November...:D

13 Oktober 2011

Wajah Baru daulat kata

Blog tidak hanya hanya menjadi tempat menulis. Bagi sebagian orang, blog dijadikan sebagai wadah mengasah kreativitas. Tidak jarang para blogger menyajikan cita rasa seni tinggi lewat tampilan blognya. Saya sering terkagum-kagum melihat layout suatu blog yang ditata dengan indah oleh pemiliknya.

Saya termasuk orang yang mudah bosan. Makanya, saya sering mengutak-atik tampilan blog. Hasilnya cukup memuaskan. Namun, tidak berapa lama berselang ketika rasa bosan menghantui kembali, tidak tanggung-tanggung saya akan langsung menggantinya lagi. Entah sudah berapa kali kejadian tersebut terjadi. Dalam dua bulan terakhir saja, saya telah mengganti tampilan blog ini sebanyak 3 kali.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali mengutak-atik settingan layout blog ini. Saya selalu memimpikan tampilan blog yang sederhana, dengan tetap menjaga kualitas. Tanpa bantuan siapa-siapa, hanya dengan modal autodidak saya terus berimprovisasi memperbaiki blog ini. Yah, hasilnya cukup baik, setidaknya menarik bagi saya.

Mudah-mudahan saja tampilan blog ini bisa bertahan lama. Semoga pulan, dengan tampilan seperti ini, minat menulis semakin besar sehingga nantinya lahir tulisan-tulisan sebagai refleksi pemikiran pribadi saya. Haraan saya sederhana, bisa terus menulis untuk belajar sambil berbagi ilmu.

Salam blogger...

21 September 2011

Belajar dari Negara Pembelajar

Saya percaya bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dengan sendirinya, tanpa sebab. Selalu ada faktor X yang mengiringi perjalanan mereka. Untuk membuktikannya, kita bisa menoleh torehan sejarah yang mereka bangun. Apa saja yang mereka lakukan sampai meraih capaian menakjubkan yang bisa menginspirasi bagsa lainnya. Saya pikir, tidak ada yang benar-benar ajaib, semuanya adalah konsekuensi logis dari apa yang mereka perbuat.

Sebut saja, Inggris, Amerika, Jepang, bahkan China. Mereka adalah sekian dari negara-negara yang mampu menorehkan serta mencetak peradaban besar. Keberhasilannya berperan sentral dalam mempengaruhi arah peradaban. Boleh dibilang, mereka mendikte sejarah. Bagaimana tidak, Amerika dengan keunggulan militer berhasil menjadi polisi dunia. Begitu pula Jepang dengan kemampuannya mencetak barang berteknologi tinggi, murah, dan berkualitas. Inggris, China, serta negara maju lainnya juga demikian.

Seperti saya katakan sebelumnya, mereka tidak lahir dengan sendirinya. Berdiri sebagai bangsa kemudian tiba-tiba unggul, dan maju di segala bidang. Tidak demikian. 8 abad yang lalu, Eropa tidak ada apa-apanya dibanding peradaban lain, terutama Islam. Jangan sebut Amerika, Jepang, bahkan China, mereka tidak ada apa-apanya. Kebangkitan Eropa lahir setelah renaissance menguasainya, abad kegelapan hancur lebur. Disusul ditemukannya alat dan teknologi canggih yang berhasil mengubah nasib mereka, menguasai dunia.

Juga Amerika setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan Inggris melalui pertempuran heroik George Washington dan koloninya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Amerika yang dulunya tempat pembuangan, kini menjadi kekuatan terbesar dunia. Lain cerita dengan Jepang dan beberapa negara serumpun, perjuangannya lebih heroik lagi. Bom atom yang merata-tanah-kan Hiroshima dan Nagasaki tidak meruntuhkan superioritas negara matahari tersebut. Malah, mereka hanya butuh waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi raja, mengungguli Amerika. Kebangkita Jepang diikuti tetangganya, Korea dan China. Nilai  ajaran Confucius tertanam kuat di benak mereka. Memberi semangat kebangkitan luar biasa.

Kalau mau sedikit jeli, sebenarnya bisa ditarik benang merah yang menghubungkan negara-negara maju tersebut. Selain faktor internal (budaya) masing-masing. Apa rahasia sukses mereka? Menjadi pembelajar yang cepat. Ketika penguasa abad kegelapan Eropa terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban Islam, seketika mereka menjadi pembelajar. Transfer ilmu marak terjadi sampai pengetahuannya melebihi sang guru, Peradaban Islam. Amerika yang tertinggal tidak kalah cepat belajarnya. Banyak ilmuwan lahir yang nantinya berpengaruh besar dalam memajukan Amerika.

Paling ajaib dari semua itu adalah Jepang. Mungkin banyak yang menyangka bahwa itu merupakan keajaiban. Saya tidak percaya! Keajaiban hanya untuk orang tolol yang tidak memahami titik persoalan. Jepang, pasca restorasi Meiji menjadi negara pembelajar tercepat. Saking besarnya minat belajar, mereka mendatangkan guru atau ahli yang gajinya lebih tinggi dari kaisar mereka! Pemimpin tertinggi Jepang. Bayangkan! Usai PD II, otomatis Jepang lumpuh total. Siapa yang menyangka keunggulan teknologi dikuasai oleh Jepang 30 tahun kemudian. Amerika sendiri, jelas-jelas sebagai pemenang PD II, terkaget-kaget. Tapi kenyataan telah berbicara, sejumlah merk dagang asal Jepang merajai duni. Sebut saja Sony, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya. Sekali lagi, ini bukan keajaiban yang tumpah dari langit. Melainkan, atas usaha, kegigihan, kerja keras, niat belajar yang dimiliki rakyat Jepang.

Tambahan pula, saat ini rakyat Jepang adalah pembaca buku terbanyak di dunia. Rata-rata mereka menghabiskan 40 buku dalam setahun. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang hanya menghabiskan sekitar 20 buku . Tidak usah sebut Indonesia, tidak bisa dituliskan, malu! Anda tentu mengerti maksud saya.  

Yah, mereka, yang disebut di atas, adalah negara-negara pembelajar. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar adalah pengetahuan. Tanpanya, kita hanya bisa jadi pengekor, penurut, dan terjajah. Mungkin, penggambarannya terlalu dramatis, tapi demikianlah kenyataannya. Sampai di sini, anda pasti tahu faktor X yang saya maksud.
Jika melihat orang besar, tirulah apa yang dia lakukan. Confucius
Banyaklah belajar, karena dalam pengetahuan selalu ada jalan...

Wallahu a'lam

19 September 2011

Still Enjoying My Life

Saya perhatikan di beberapa postingan terakhir, kok makin ngelantur isi blog ini. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Emang sih akhir-akhir ini saya stres berat. Bagaimana tidak, urusan ini, soal itu, kebanyakan tertimbun dalam satu kata: MASALAH. Benar-benar tidak ada yang beres. Sampai-sampai berat badan saya turun karenanya. Belum lagi masalah blog ini, seperti yang saya ceritakan kemarin. Untungnya tidak ada Baygon cair dekat sini, kalau ada, pasti saya sudah tenggak sedari tadi.

Sehabis puasa kemarin saya ketemu mantan cewek (yah, dia jadi homo sekarang). Bukan, maksud saya mantan pacar. 3 hari setelah lebaran, saya berkunjung ke rumahnya. Mencoba membangun silaturahmi kembali yang pernah terputus. Niatnya sih cuma mau berkunjung sampai saya memikirkan niat yang lain. Kenpa? Ternyata dia tambah manis dan sayang untuk dilewatkan (emangnya dia acara TV). Ampun deh, saya meleleh seketika. Untungnya saya bawa banyak rokok, setidaknya bisa mempertahankan "kelelakian" saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengubah haluan. Minta balikan. Pilihan yang paling saya benci. Tapi apa boleh buat, iman saya terlalu lemah untuk menahan diri.

Setelahnya, kami terus berkomunikasi. Saya pikir ini kesempatan yang sangat baik. Lagi pula, saya punya firasat yang baik dalam urusan yang satu ini. Akhirnya, niat balikan saya utarakan. Oh no, dia minta diberi waktu untuk berpikir. Perasaan saya terluntah jadinya, tidak tahu mau ditaruh dimana. Tapi sudahlah, masalah dia mau jawab apa, terserah dia. Toh, kewajiban sebagai laki-laki (Indonesia) sudah saya utarakan.

Saya masih di sini, dan ingin terus melanjutkan..
Kalau ada yang mengira saya stres karena "digantung" (yah, saya sudah dikubur 2 hari lalu). Tidak! Urusan seperti itu tidak pernah saya pusingkan. Masih ada yang lebih parah. Begini ceritanya, ketika itu saya jalan keluar sama cewek (pacar). Setelah keliling sana-sini sampai uang saya ludes, kami pulang. Tiba di depan rumahnya, dia minta saya turun dari motor. Saya turuti permintaannya dan bertanya "kenapaki? Dia diam saja. Setelah merenung tidak jelas selama beberapa menit, dia bicara juga akhirnya. Entah, setan apa yang merasukinya, dia langsung bilang, "kita putus". Belum sempat saya bertanya alasannya, dia sudah kabur menelinap lewat pagar rumahnya. Saya bengong tidak tahu harus gimana. 

Motor saya melaju kencang setidaknya sampai di Taman Makam Pahlawan(TMP). Tepat di depan SPBU, beberapa meter jaraknya dari TMP, mesin motor saya matol alias mati total. Setelah mengecek, mampus...! Bensinnya habis. Yang benar saja, sudah jam satu pagi bung, tidak ada lagi penjual bensin yang buka. Padahal jarak rumah masih beberapa kilometer lagi.

Penderitaan saya tidak sampai disitu. Bencong yang tiap malam mangkal dekat TMP semakin mendekat. Mungkin mereka pikir saya adalah lelaki hidung belang pelanggan Nusantara (lokalisasi PSK). Karena tidak punya banyak uang, makanya singgah untuk melampiaskan libido di samping batu nisan dengan bencong. Benar saja, salah satu dari mereka  menawarkan diri, "20 ribu aja mas". Padahal ketika itu saya mau berteriak, "hey, kita ini satu spesies, jadi jangan ganggu eikke". Karena takut dikeroyok, apalagi otot mereka luar biasa besar dan sangat kekar, maka saya memutuskan untuk kabur secepatnya.

Sampai di kostan, keringat saya bercucuran ditambah perut keroncongan. Belum lagi napas yang tersengal, tidak teratur. Malam yang menyedihkan. Bayangkan, saya menghabiskan uang jajan selama sepekan hanya dalam satu malam, diputuskan, dikejar bencong pula. Tapi karena kecapean, saya akhirnya tertidur pulas. Esoknya saya puasa sampai seminggu berikutnya.

Saya tidak menyesal karena diputusin, masih banyak kok cewek jomblo yang berkeliaran di sana sini. Saya hanya menyesali betapa tololnya saya karena mau menghabiskan uang demi cewek tidak tahu diri. Sampai disini saya berpikir, kenapa aib ini saya tuliskan di blog.

Sudah saya katakan, saya pantang stres hanya karena urusan cewek. Tidak! Saya stres kalau tidak punya uang. Usus saya sudah protes, unjuk rasa dan sebagainya gara-gara disuapi indomie selama 3 hari. Itu pun cuma 2 kali sehari. Pesan saya: kalau saya meninggal karena kelaparan atau usus buntu karena indomie, tolong sampaikan ke indofood dan masukkan dalam CERITA INDOMIE. 

Se-tragis apapun nasib saya, tetap tidak ada alasan untuk mengakhirinya. Seribu alasan masih ada kenapa saya harus tetap melanjutkan hidup. Saya yakin, banyak orang yang mencintai saya. Sama halnya dengan saya yang juga mencintai banyak hal dalm hidup ini, mulai dari pekerjaan, teman, keluarga, sampai cewek tetangga kostan. Saya masih enjoy. Makan nggak makan yang penting happy, hehe...

Saya hanya mau menjejalkan kata lagi, lagi, dan lagi...:D


17 September 2011

Jangan Sekali-sekali Mengganti Blog Address

Beberapa hari yang lalu saya menggati blog address. Di postingan terakhir saya membahasnya. Kemarin saya berkonsultasi (curhat) dengan seorang teman, mengenai hal tersebut. Dia kaget, kok saya tega menggantinya, padahal itu sangat beresiko. Kepala saya langsung pening. Bagaimana tidak, menurut teman tersebut,  butuh waktu lama untuk memperbaiki serta meningkatkan traffic rank ketika alamatnya diganti.

Karena penasaran, beberapa menit lalu saya menelusuri postingan blog ini lewat search engine, google. Taukah kawan, hasilnya sangat parah, betul-betul parah!  Coba lihat gambar dibawah ini.

Sigmund Freud dan Hasrat Kebinatangan Manusia adalah salah satu tulisan yang pernah saya posting. Hasil pencarian melalui google, ternyata masih dideteksi di blog address lama, kasimbenzema.blogspot.com. Bahkan, setelah saya membuka page selanjutnya, tidak ada tanda-tanda artikel tersebut muncul dengan blog adress yang baru. Saya juga mencoba beberapa postinga lain. Hasilnya sama! Tragis betul nasib blog ini.

Masih ada yang lebih parah: penurunan traffic rank.  Biasanya, setiap hari, blog saya dikunjungi setidaknya 100 kali (tanpa blogwalking). Sekarang, statistik pengunjung terjun bebas tanpa hambatan, 10 viewer bung! Parah banget kan. Lama-lama saya yang terjun bebas lantaran stres berat. Fiuhh...!!!

Bagaimana pun tidak ada yang perlu disesali karena akan lebih menyakitkan lagi. Setidaknya, saya mendapat satu pelajaran penting: JANGAN SEKALI-SEKALI MENGGANTI BLOG ADDRESS. 

Tuhan, ampuni dosa hambamu ini...!!!