Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

31 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun, Sebuah Refleksi

Ada dua hal yang sering dilakukan orang menjelang akhir tahun. Refleksi akhir tahun dan resolusi tahun yang akan datang. Refleksi dilakukan sebagai bentuk evaluasi kinerja setahun terakhir. Sejumlah catatan perjalanan sengaja dituliskan guna memaknai kembali peristiwa yang dianggap penting. Prestasi dicatat, termasuk juga kejadian "kelam" guna diambil hikmah di dalamnya. Sedangkan resolusi dimaknai sebagai proyeksi setahun ke depan. Cita-cita dan harapan yang tidak terwujud di tahun sebelumnya dicatat kembali untuk diwujudkan di tahun berikutnya. Refleksi dan resolusi dianggap sebagai ritual wajib setiap akhir tahun. Ritual ini khususnya berlaku bagi masyarakat urban, karena bagi sebagian besar masyarakat udik, pergantian tahun bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Bagi mereka, setiap waktu sama saja. Tidak peduli akhir, awal, atau pertengahan tahun.

Tahun 2011 tinggal menghitung jam. Sebentar lagi akan berakhir. Beranjak meninggalkan kita semua dan tidak akan pernah kembali lagi. Itu pasti. Tahun 2011 akan terkubur, menjadi sejarah bagi setiap orang. Sejarah yang entah mau dimaknai atau tidak. Akan tetapi, alangkah meruginya kita jika tidak bisa memetik pelajaran dari perjalanan hidup kita, setidaknya selama setahun terakhir. Tentu saja bukan untuk membanggakan atau mengutuk perjalanan kita. Tapi sekali lagi, untuk mengambil pelajaran sebagai bahan refleksi untuk menentukan arah kehidupan nantinya.

***
Tidak banyak yang berubah. Status saya masih saja sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang tidak kunjung sarjana. Padahal masa studi saya terbilang tidak "normal" lagi. Jauh dari target awal ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bangku kuliah pada tahun 2006. Orang tua saya, sudah mengulang pertanyaan yang sama ribuan kali, "kapan sarjana nak?". Entahlah, karena faktor pendidikan orang tua yang rendah, selalu saya selalu punya alasan logis atas pertanyaan itu. Dan selalu diterima tanpa embel-embel. Kadang juga saya berpikir, betapa menyedihkannya beliau punya anak seperti saya. Atau mungkin beliau terlalu saya kepada anaknya. Tapi toh, saya punya proyeksi sendiri yang saya jelaskan tiap kali pulang kampung. Orang tua saya mendengarnya dan beliau merasa bangga.

Awal tahun 2011, saya sudah berkomitmen untuk hidup mandiri. Dalam artian, mapan secara finansial. Alasan utamanya, saya bekerja di dua tempat sekaligus. Sampai medio 2011 semuanya masih berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, masalah lain timbul. Kuliah saya jadi berantakan. Orang tua saya komplain. Akhirnya saya harus rela melepaskan salah satu pekerjaan dan kembali ke kehidupan sebelumnya: meminta beasiswa dari kampung setiap bulan. Menyedihkan. Seperti yang saya ungkapkan di atas, sampai akhir tahun 2011 saya masih berstatus mahasiswa. Jadinya, saya masih menerima kiriman uang dari kampung dan belum sarjana. Mungkin ini sebuah kegagalan, tapi saya tidak mau menyebutnya demikian. Itu bukan kegagalan, melainkan keberhasilan yang tertunda (inilah kata-kata yang paling saya benci seumur hidup).

Setali tiga uang dengan kehidupan asmara. Ciee kehidupan asmara ha ha ha. Sempat menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Sayang (bisa ditebak, akhirnya pasti menyedihkan). Hubungan tidak berjalan lama. Saya pernah bertemu orang tuanya dan ditanya kapan sarjana. karena tidak tahu harus jawab apa, dan setelah lama berpikir, dengan enteng saya jawab, "nanti om" Jawaban yang sangat politis dan spekulatif. Dua pekan kemudian, saya putus dengan anaknya tanpa alasan yang jelas.

Ah, dari dari tadi menyedihkan terus. Pelajaran apa yang mau diambil. Sama sekali tidak ada. Terus kenapa saya menulis "refleksi akhir tahun 2011"? Saya juga tidak tahu. Gamang.

***
Cerita menyenangkan. Entahlah, saya tidak tahu harus memulai darimana. Hanya dua kemungkinan, terlalu banyak  sehingga bingung mau mulai darimana atau memang tidak ada sama sekali. Sekali lagi, gamang.

Selain umur yang semakin bertambah, beberapa catatan penting selama tahun 2011 (tentunya tidak menyedihkan). Saya menerima tawaran pekerjaan yang akan dimulai pada awal tahun 2012. Cukup menggembirakan mengingat kondisi keuangan orang tua saya yang semakin tidak memungkinkan saat ini. Semoga terealisasi supaya punya dana cukup untuk melanjutkan pendidikan apoteker pada pertengahan 2012. Orang tua saya juga setuju dengan rencana tersebut.

Memang saya belum bertitel sarjana. Akan tetapi, progres yang sangat baik jelas terlihat. Skripsi sudah ACC, menunggu untuk di"sidang"kan. Tinggal berkas ujian yang perlu disiapkan dan beberapa perlengkapan administrasi. Selebihnya, sudah rampung. Kalau tidak ada aral melintang, awal 2012 saya sudah sarjana. 

Tetapi yang terpenting bagi saya, adalah dialektika pengetahuan yang sangat intens selama tahun 2011. Saya merasakan betul bagaimana pergulatan pemikiran yang mengubah paradigma. Banyak menyerap buku kontemporer yang merasuki alam pemikiran. Banyak pelatihan sempat saya ikuti perlahan mengubah persepsi saya. Memang hasilnya masih abstrak. Akan tetapi pola yang terbangun secara terstruktur semakin mendewasakan saya. Jelas ini menjadi modal penting mengarungi kehidupan selanjutnya. Saya sangat bersyukur.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya punya proyeksi sendiri. Tahun 2011, terlepas dari banyak kekurangan dan target yang tidak tercapai, memberikan pengaruh besar dalam upaya mematangkan proyeksi masa depan. Selebihnya adalah harapan. Bahwa hidup selalu membawa banyak kemungkinan. Ada rahasia dibalik peristiwa. Melihat fenomena, menyingkap noumena. Yakin Usaha Sampai...

5 November 2011

November

Adzan subuh berkumandang, membelah rimbunan pohon yang baru saja diguyur hujan lebat. Konon katanya, kala itu pertengahan bulan November 1987, bertepatan dengan hari pertama saya menjejakkan kaki di dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim ibu saya. Jenis kelamin yang tidak dinantikan, karena sebenarnya kedua orangtua saya berharap anak keduanya berkelamin perempuan. Hiks.

Orang tua saya meyakini satu hal: anak keduanya, saya, lahir pada kamis subuh. Itulah mengapa saya katakan "konon katanya", karena berdasarkan kelender Masehi, tanggal 15 November 1987 jatuh pada hari Minggu. Sudah saya cek berkali-kali dan hasilnya tetap sama, bahwa tanggal tersebut bertepatan pada hari Minggu, bukannya hari Kamis. Sampai saat ini, saya juga meyakini hal yang sama, bahwa saya lahir pada kamis subuh, entah tanggal dan tahun berapa. Juga karena tidak ada bukti lain mengenai tanggal kelahiran tersebut kecuali ingatan kedua orang tua. Itu pula yang menjadi alasan mengapa tidak pernah merayakan ulang tahun di sepanjang saya hidup di dunia ini. 15 November bukan tanggal kelahiran saya!

Di kampung kami, dulu, tanggal lahir adalah persoalan remeh-temeh. Tidak diperuntukkan bagi kami yang tinggal jauh di desa. Tanggal lahir adalah urusan orang pintar yang berpendidikan tinggi. Kalau ditanya umur anak-anak mereka, jawabannya pasti panjang. Kurang lebih jawabannya seperti ini, "Si A lahir di bulan syaban, dua tahun lebih muda dari kakaknya, satu tahun lebih tua dari sepupunya, dan seterusnya". Jadi, ketika salah satu anak mereka melanjutkan pendidikan, dimana tanggal lahir mesti dicantumkan, maka mereka akan meminta guru untuk "menentukan" tanggal lahir anak muridnya sendiri. Saya sendiri baru tahu kalau saya lahir di bulan November ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Tahukah kawan, "Bulan November" adalah hasil diskusi antara guru dengan kedua orang tua saya. Ajaib kan!

Sekali waktu saya komplain, mengapa tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak sesuai dengan hari ketika saya lahir. Jawaban kedua orang tua sederhana, katanya, saya lahir kamis subuh, saat frekuensi hujan mulai meninggi di kampung kami, kala petani mulai membajak sawahnya, saat semangat kehidupan warga kampung memuncak setelah lesu akibat musim kemarau. Dan kamu tahu, nak, kata bapak, hal tersebut terjadi di Bulan November saja. Entah benar atau tidak, tapi sejak saat itu saya tak pernah lagi menanyakannya.

Tingkat pendidikan adalah penyebab lain kenapa tanggal tak penting bagi kami, terutama bapak ibu saya. Kedua orang tua saya berpendidikan rendah. Tapi tunnggu, sebenarnya agak risih juga kalau mereka disebut "berpendidikan" - meskipun rendah. Musababnya, mereka berdua tidak punya ijazah sama sekali. Hanya bapak yang paham baca tulis, sedang ibu saya tragis; buta huruf. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai petani, dan saya percaya, tidak butuh ijazah untuk menguasai ilmu membajak sawah.

Saya selalu bingung setiap kali diperhadapkan dengan  blanko, formulir, atau semacamnya yang meminta data pendidikan orang tua. Saya harus mengisinya dengan apa? Sedangkan option "tidak berpendidikan" tidak tersedia. Karena persoalan gengsi, saya isi saja "tamat SLTA". Untungnya, tidak pernah ada yang mengklarifikasi langsung kepada kedua orang tua saya. Urusannya bisa panjang.

Meskipun "tidak berpendidikan", kedua orang tua saya tahu betul bagaimana filosofi pendidikan. Terutama bapak, beliau selalu mengajarkan bagaimana adab menuntut ilmu. Sampai saat ini, meskipun beliau sudah tidak ada (semoga tenang di sisiNya), pesannya selalu saya ingat. dan menjadi energi besar yang siap melecut semangat.

Syukurlah karena orang tua saya memilih Bulan November sebagai bulan dimana saya lahir. Saya suka November. Lovely November...:D

3 November 2011

Contoh penyakit Gila

Awalnya saya berpikiran kayak begini:
Jika ada orang yang masuk di Gym atau tempat fitnes, kemungkinannya cuma 3:

  • Homo,
  • Gigolo,
  • Tante girang

Namun, karena saya stres memikirkan perut yang terus saja membuncit ala six month ditambah obesitas yang tidak terkendali, maka saya memutuskan masuk Gym 3 hari yang lalu.
Akhirnya, saya menyesali apapun yang pernah saya pikirkan. Tapi yang pasti, saya masih merasa normal sampai saat ini...

30 Oktober 2011

Oktober

Oktober

Senja mulai menampakkan dirinya. Sayup angin menyambut. Hamparan langit membentang memeluk bumi. Langit biru berganti latar menjadi gelap. Awan mulai menyelimuti dengan gagahnya. Alam menunaikan persembahannya pada jutaan spesies makhluk hidup. Rinai hujan berjatuhan menyapa rimbuan pohon. Air menetes di ujung daun, jatuh ke tanah. Serabut akar berderet riang menyambut kehidupan. 

Oktober. Bulan dimana musim berganti. Dahaga tanah tandus terpuaskan sudah. Butiran air dari langit akan turun membasahinya, sebentar lagi. Nelayan mulai menggerutu akibat fenomena alam yang terkadang mengganggu aktivitasnya. Di belahan bumi yang lain, sekelompok orang menawarkan sesajian pada sang Yang Mahakuasa. Tanda syukur bahwa mereka masih diizinkan melanjutkan hidup. Mereka adalah petani-petani yang memancangkan harapan di atas gemburnya tanah. Hujan adalah berkah tiada tara.

Oktober adalah jalan menikung, asing, penuh misteri, satire. Layaknya butiran air yang tumpah dari langit, tidak mampu menebak dimana dia akan jatuh. Seperti lemparan dadu, tidak mampu dijelaskan ilmu fisika. Sejak kapan saya memikirkan teka-teki bulan Oktober? Saya tidak tahu.

Sebentar lagi Oktober akan berlalu. Menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Menyimpan misteri yang tidak terucap, terkunci rapat di bawah lembaran hari. Saya bukan pelaut yang membenci Okober, bukan pula petani yang selalu rindu dengan Oktober. Saya seperti bujang yang menunggu kepulangan sang perawan yang tidak pasti. Sedang saya benci menunggu. Sungguh menyesakkan. Hanya alunan rindu, harmoni gesekan daun yang bisa sedikit menenangkan. Aku menunggu November.

Kini, segenggam asa masih tersimpan. Harapan akan sesuatu yang lebih baik. Oktober sendiri enggan membantu. Saya mulai lelah, resah dalam penantian. Jika memang tidak, cepatlah berlalu...

20 Oktober 2011

Dear, Mencitku

Dear, mencitku...
Sebulan lamanya kita bersama. Suka duka kita lewati.
Berbagi roti, sepotong berdua. Kini kau jadi bagian hidupku.
Tiap hari kita bertemu. Aku menyapamu, di kandang yang sederhana ini.
Tahukah kau, betapa berartinya dirimu sekarang. Meskipun kau menggigitku, aku tidak mengeluh.
Tidak mengapa,

Bulu disekujur tubuhmu berdiri. Aku mengerti, kau sedang galau.
Aku mengelusmu, dengan lembut, dan penuh perasaan. Sambil berharap, engkau bisa tenang dan nyaman.
Aku sadar, kandang tidak bisa menenangkan perasaanmu.
Tapi, itulah yang paling aman. Aku tidak ingin hewan lain mengganggumu.
Sungguh, aku tidak rela.

Aku tahu, kau benci spoit.
Saya juga meringis membuncah ketika spoit 1 mL merogoh masuk ke mulut sampai lambungmu.
Tapi harus kulakukan.
Aku sudah berusaha melakukannya sebaik mungkin agar tidak menyakitimu.
Maafkan sobatmu ini.

Tahukah kau, mencitku. Lima tahun sudah aku berstatus mahasiswa dan belum sarjana.
Orang tuaku sudah menanyakan pertanyaan yang sama, ribuan kali: Kapan kamu sarjana, nak?
Harus kujawab apa. Kini kau jadi tumpuan harapan terakhirku.
Nyawaku di ujung napasmu, kini.

Mencitku sayang...
Tidak mudah menulis tentangmu. Apalagi puisi tentang mencit. Kenapa?
Tidak seorang pun pernah melakukannya.
Tapi, aku melakukannya, demi kamu.
Aku rela diteriaki bencong, demi kamu.
Apa pun kulakukan, demi kamu. Apalagi kalau bukan untuk menyenangkan kamu.

Wahai mencitku,
Bertahanlah, sepekan tidak akan terasa.
Walaupun, kau dan teman-temanmu akan mati akhirnya.
Percayalah, pengorbanan besarmu akan aku hargai.
Mati karena penelitian. Terdengar sangat indah kawan!
Seperti mati syahid. Kau tahu? Dijamin masuk surga! Maka berbahagialah.

Teruntuk mencitku,
Bertahanlah, kawan.
Doaku menyertaimu, orang tuaku, teman-temanku.
Semoga engkau sehat sampai saatnya tiba.
Ikhlaskan dirimu, jangan nakal, apalagi berbuat mesum. Ingat itu!
Doakan juga, semoga hasil penelitianku bagus...

Peluk dan cium dari sahabatmu yang tampan ini...


@Makassar, 20-10-2011

10 Oktober 2011

Freak...!

Miris rasanya melihat beberapa postingan terakhir di blog ini. Sepertinya sesuatu yang aneh, entah apa itu, terjadi pada diri saya. Padahal saya merasa baik-baik saja. Mungkin saja saya semakin freak. Oh God, kenapa jadi curhat begini. Jadi benci dengan keadaan ini (kok jadi kayak bencong).

Saya sadar, tidak semua orang bisa mendefinisikan keadaan dirinya yang sebenarnya. Tidak bisa melihat realitas pada dirinya, bahwa sesuatu telah terjadi. Tanpa disadari, kemudian berlalu dengan sendirinya.

Iya, saya mengalami disorientasi diri yang parah. Tidak mampu merasakan perasaan sendiri (apa lagi ini). Aneh, betul-betul aneh. Masalah akademik tidak ada, kantong (duit) juga lumayan bagus. Padahal yang kerap bermasalah adalah dua hal tersebut. Singkatnya, saya freak kuadrat tak terhingga.

Yang lebih parah adalah, saya ini laki tulen tapi kenapa curhat di blog. Mungkin karena blog tidak pernah menyela, tanda tidak setuju. Juga tidak mengangguk sebagai bukti persetujuan. Tapi tetap saja, ini jadi kayak bencong. Jadi ceritanya, ada seorang laki-laki curhat lewat blog, kemudian menumpahkan semua isi hatinya yang galau dan itulah saya.

Saya punya banyak teman di kampus, semua orang tahu itu. Tiap hari kami ketemu, tertawa, bercanda, saling mengejek dengan nama panggilan konyol. Sepanjang hari kami berkumpul, bahkan sampai sore, bercerita tentang pengalaman dan kejadian-kejadian bodoh yang pernah dialami. Satu topik yang tidak pernah basi untuk diceritakan, wanita dan sex. Mungkin karena kami remaja labil yang memandang wanita sebagai objek sex. Saya pikir hal tersebut normal bagi pria kebanyakan.

Ketika kami dipisahkan dengan kesibukan masing-masing, saya mulai galau. Kalau sudah begini, satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah membuka laptop kemudian menumpahkan semua isi hati (bencong banget yah, fffiiuuh...). Hasilnya adalah deretan notepad yang tidak terhitung jumlahnya. Sebagian besar berisi keluhan, rasa kalut, keresahan dan ujung-ujungnya saya mau mati.

Masalah lain adalah, saya tidak punya alternatif bahan tulisan. Intensitas membaca buku saya menurun drastis. Jadinya, saya tidak punya tema lain untuk ditulis kecuali perasaan dan hidup saya yang tragis. Sampai saya mulai berpikir, apa gunanya orang lain membaca tulisan saya? Padahal, kegembiraan seorang penulis ketika karyanya dibaca dan diapresiasi orang lain.

Sepertinya, saya harus punya kesibukan lain kecuali merenungi nasib. Saya takut nantinya isi blog ini cuma curhatan seorang mahasiswa buntu. Yang paling saya takutkan adalah saya jadi bencong gara-gara sering curhat di blog. Udah freak, bencong pula. Naudzubillahi min zalik, tuhan kasihanilah saya....

Cara lain yang mungkin harus saya tempuh adalah lebih mendekatkan diri lagi pada Tuhan. Tidak lagi main petak umpet dengan Tuhan. Dimana, hanya dekat pada-Nya kalau ada maunya. Beberapa hari yang lalu sebelum ujian seminar, saya tiba-tiba saja rajin shalat tahajjud. Meminta petunjuk padanya. Akan tetapi setelah ujian, shalat lima watu pun tidak pernah full dalam sehari. Selalu saja diskon, satu sampai dua kali. Bukankah ini jahat, berani macam-macam sama Tuhan. Baiklah Tuhan, saya akan rajin shalat [lagi].

Terakhir, saya ingin berdoa. tuhan, tolong dengarkan baik-baik. Ya tuhan ampuni dosa hamba-Mu yang galau dan tidak terurus ini. Tapi tuhan, jika engkau tidak sudi mengampuni dosaku, berikan saja saya wanita cantik yang anggun menawan. bolehkah tuhan? Hahahaha... semakin tidak beres saja. Sekian!

30 September 2011

Mencintai Pekerjaan ala Confucius

Confucius, seorang filsuf kenamaan China pernah berkata, "Cintailah pekerjaanmu, maka kau akan hidup seolah tidak bekerja". Sungguh nasihat yang teramat bijak. Seolah pekerjaan dijadikan sebagai sarana menikmati hidup. Kiranya kita bisa mengambil makna bahwa pekerjaan yang berat sekali pun akan terasa ringan jika kita enjoy menjalaninya. Sepertinya nasihat inilah yang menginspirasi bangsa-bangsa besar seperti Jepang, China, dan Korea sehingga mereka bisa sesukses sekarang ini.

Tidak bisa dipungkiri, terkadang kita kita mengeluh dengan beban pekerjaan yang kian berat. Kalau dipikir, memang wajar kiranya kita mengeluh karena tumpukan pekerjaan. Hanya saja kita perlu merenungkan kembali apakah dengan mengeluh pekerjaan kita akan selesai saat itu juga. Sayangnya tidak! Malah sebaliknya, beban pekerjaan akan semakin bertambah dan semakin menyesakkan beban psikis kita. Nah, persoalannya kemudian, bagaimana kalau pekerjaan kita memang berat? Salahkah kalau kita mengeluh? Sebenarnya bisa saja, namun harus dalam proporsi yang tepat karena terlalu banyak mengeluh malah akan menurunkan produktivitas kita dalam bekerja.

Tidak jarang saya temui temui orang yang mengeluhkan pekerjaannya. Alasannya macam-macam. Bisa karena persoalan gaji, jam kerja terlalu banyak, sampai masalah pimpinan perusahaan tempat ia bekerja. Saya paling sedih ketika seorang teman mengeluhkan pekerjaannya karena alasan tidak menikmati hidupnya. Waktu yang tersita selama bekerja terlalu banyak sehingga dia merasa hampa menjalani hidup. Yah, dia merasa hidupnya telah ditukar dengan pekerjaan. Waktu yang tersisa tinggal sedikit, sehingga tidak sempat menikmati waktu luang. Bahasa kasarnya, tidak menikmati hidup karena pekerjaan.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengundurkan diri dari tempat kerja. Alasannya kurang lebih sama dengan di masalah di atas, tiidak menikmati hidup karena terlalu banyak waktu yang tersita. Saya tidak memungkiri bahwa saya butuh uang, terutama untuk melanjutkan kuliah. Namun, pilihan mundur akhirnya saya pilih. Tapi sebenarnya alasan utama saya mundur adalah tidak menikmati pekerjaan. Berat rasanya setiap kali saya berangkat ke tempat kerja. Saya merasa "tidak" hidup di sana.

Di tempat lain, saya juga bekerja. Sudah 2 tahun lamanya, sampai sekarang. Awalnya memang saya masuk di tempat itu dengan satu tujuan: Uang! Realistis saja, saya butuh uang. Persoalan saya suka atau tidak, itu urusan belakang. Malah saya cuek saja pada pimpinan lembaga tersebut ketika dia mengatakan, "mengajar adalah pengabdian, bukan karena uang" (kebetulan lembaga tersebut adalah bimbingan belajar). Dalam perjalanannya, uang (gaji) yang saya dapatkan sedikit, tapi entah kenapa saya tidak berpikir untuk meninggalkannya. Akhirnya saya sadar bahwa bekerja tidak hanya sekedar uang, tetapi persoalan kenyamanan jauh lebih penting. Percuma kan kita bekerja sedangkan yang kita rasakan adalah neraka.

Mungkin karena saya jatuh cinta, terlanjur nyaman dengan pekerjaan saya, makanya saya tetap enjoy dengan profesi saya sebagai pengajar. Setiap kali beban kuliah menumpuk di kepala, semuanya terasa lepas dan jauh lebih ringan ketika mendengar candaaan, kekonyolan, dan keluguan para siswa yang saya ajar. Selalu saja ada hal unik yang mereka lakukan. Intinya, saya mencintai apa yang saya lakukan dan itulah yang membuat saya tetap nyaman.

29 September 2011

Hidup Terlalu Ironis untuk Dijalani dengan Pesimis

Setiap orang pasti mempunyai cara pandang tersendiri dalam memaknai kehidupan. Cara pandang saya sangat mungkin berbeda dengan orang lain, begitu juga sebaliknya. Tidak menjadi masalah kalau berbeda dan memang begitulah seharusnya. Jadi masalah ketika kita tidak mampu menangkap makna kehidupan kita sendiri. Boleh jadi perbedaan itu muncul karena rentangan waktu kita diisi pengalaman yang berbeda. Jadi, perbedaan muncul karena kita menangkap makna kehidupan dari sisi yang berbeda dengan orang lain.

Kalau saya ditanya, bagaimana anda memaknai hidup? Sederhana saja, hidup adalah serangkaian proses, pencapaian, dan cita-cita. Meskipun, hidup bukan persoalan sederhana untuk dijalani. Perjalanan hidup seperti gerbong kereta api yang menyusuri rel, langkah demi langkah, sampai jauh dan sampailah kita pada stasiun, kematian.Gambarannya memang tidak sesederhana itu, tetpi menurut saya gambaran tersebut cukup sempurna sebagai analogi kehidupan.

Coba kita ingat kembali ketika menginjak usia sekolah. Kita berjuang sampai menamatkan sekolah dasar. Satu rel terlewati. Kemudian kita memasuki dunia remaja sampai dewasa. Coba perhatikan, dalam setiap fase  kehidupan, kita selalu merencanakan langkah selanjutnya. Setelah rencana tercapai, kita merencanakan lagi target selanjutnya. Begitu seterusnya sampai usia dewasa, paruh baya, usia senja hingga menemui ajal.

Lantas jika demikian adanya, kapan kita benar-benar "menikmati" hidup? Jika hidup diisi dengan target, cita-cita, harapan, artinya kita hidup hanya untuk mengejar setiap apa yang kita rencanakan. Intinya, kita tidak menikmati kehidupan. Sekali lagi, hidup kita hanya diisi dengan rutinitas tiada henti. Kemudian kita mati dengan bungkusan kain kafan, hanya itu! 

Hidup terlalu ironis untuk dijalani dengan pesimis. Menyalahkannya pun adalah perbuatan yang sia-sia, tidak perlu! Nikmatilah setiap alur dan proses kehidupan. Waktu tidak akan kembali, sekali pun ditangisi. life must go on! Saya pikir, tidak ada cara lain kecuali menikmati setiap proses kehidupan. Setiap target adalah keharusan, karena memang hidup adalah pencapaian. Namun, yang tertpenting adalah menikmati setiap perjalanan meraih target atau capaian.

Intinya adalah nikmati setiap proses kehidupan. Optimis melihat setiap jejak langkah. Begitu sia-sianya ketika hidup diisi dengan keluhan, tidak ada gunanya! Nikmatilah setiap hembusan napas anda. Kejar apa yang menjadi harapan anda  dan jangan lupa, nikmati setiap prosesnya.

Entahlah jika anda punya pandangan yang berbeda. Apa pun pendapat anda, maka itulah yang benar, setidaknya menurut anda pribadi. Toh, mustahil saya bisa menangkap setiap makna kehidupan. Saya hanya memegang sedikit serpihan gelas kehidupan, boleh jadi andalah yang memegang pecahannya yang lain.. Wallahu a'lam bishawab

19 September 2011

Still Enjoying My Life

Saya perhatikan di beberapa postingan terakhir, kok makin ngelantur isi blog ini. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Emang sih akhir-akhir ini saya stres berat. Bagaimana tidak, urusan ini, soal itu, kebanyakan tertimbun dalam satu kata: MASALAH. Benar-benar tidak ada yang beres. Sampai-sampai berat badan saya turun karenanya. Belum lagi masalah blog ini, seperti yang saya ceritakan kemarin. Untungnya tidak ada Baygon cair dekat sini, kalau ada, pasti saya sudah tenggak sedari tadi.

Sehabis puasa kemarin saya ketemu mantan cewek (yah, dia jadi homo sekarang). Bukan, maksud saya mantan pacar. 3 hari setelah lebaran, saya berkunjung ke rumahnya. Mencoba membangun silaturahmi kembali yang pernah terputus. Niatnya sih cuma mau berkunjung sampai saya memikirkan niat yang lain. Kenpa? Ternyata dia tambah manis dan sayang untuk dilewatkan (emangnya dia acara TV). Ampun deh, saya meleleh seketika. Untungnya saya bawa banyak rokok, setidaknya bisa mempertahankan "kelelakian" saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengubah haluan. Minta balikan. Pilihan yang paling saya benci. Tapi apa boleh buat, iman saya terlalu lemah untuk menahan diri.

Setelahnya, kami terus berkomunikasi. Saya pikir ini kesempatan yang sangat baik. Lagi pula, saya punya firasat yang baik dalam urusan yang satu ini. Akhirnya, niat balikan saya utarakan. Oh no, dia minta diberi waktu untuk berpikir. Perasaan saya terluntah jadinya, tidak tahu mau ditaruh dimana. Tapi sudahlah, masalah dia mau jawab apa, terserah dia. Toh, kewajiban sebagai laki-laki (Indonesia) sudah saya utarakan.

Saya masih di sini, dan ingin terus melanjutkan..
Kalau ada yang mengira saya stres karena "digantung" (yah, saya sudah dikubur 2 hari lalu). Tidak! Urusan seperti itu tidak pernah saya pusingkan. Masih ada yang lebih parah. Begini ceritanya, ketika itu saya jalan keluar sama cewek (pacar). Setelah keliling sana-sini sampai uang saya ludes, kami pulang. Tiba di depan rumahnya, dia minta saya turun dari motor. Saya turuti permintaannya dan bertanya "kenapaki? Dia diam saja. Setelah merenung tidak jelas selama beberapa menit, dia bicara juga akhirnya. Entah, setan apa yang merasukinya, dia langsung bilang, "kita putus". Belum sempat saya bertanya alasannya, dia sudah kabur menelinap lewat pagar rumahnya. Saya bengong tidak tahu harus gimana. 

Motor saya melaju kencang setidaknya sampai di Taman Makam Pahlawan(TMP). Tepat di depan SPBU, beberapa meter jaraknya dari TMP, mesin motor saya matol alias mati total. Setelah mengecek, mampus...! Bensinnya habis. Yang benar saja, sudah jam satu pagi bung, tidak ada lagi penjual bensin yang buka. Padahal jarak rumah masih beberapa kilometer lagi.

Penderitaan saya tidak sampai disitu. Bencong yang tiap malam mangkal dekat TMP semakin mendekat. Mungkin mereka pikir saya adalah lelaki hidung belang pelanggan Nusantara (lokalisasi PSK). Karena tidak punya banyak uang, makanya singgah untuk melampiaskan libido di samping batu nisan dengan bencong. Benar saja, salah satu dari mereka  menawarkan diri, "20 ribu aja mas". Padahal ketika itu saya mau berteriak, "hey, kita ini satu spesies, jadi jangan ganggu eikke". Karena takut dikeroyok, apalagi otot mereka luar biasa besar dan sangat kekar, maka saya memutuskan untuk kabur secepatnya.

Sampai di kostan, keringat saya bercucuran ditambah perut keroncongan. Belum lagi napas yang tersengal, tidak teratur. Malam yang menyedihkan. Bayangkan, saya menghabiskan uang jajan selama sepekan hanya dalam satu malam, diputuskan, dikejar bencong pula. Tapi karena kecapean, saya akhirnya tertidur pulas. Esoknya saya puasa sampai seminggu berikutnya.

Saya tidak menyesal karena diputusin, masih banyak kok cewek jomblo yang berkeliaran di sana sini. Saya hanya menyesali betapa tololnya saya karena mau menghabiskan uang demi cewek tidak tahu diri. Sampai disini saya berpikir, kenapa aib ini saya tuliskan di blog.

Sudah saya katakan, saya pantang stres hanya karena urusan cewek. Tidak! Saya stres kalau tidak punya uang. Usus saya sudah protes, unjuk rasa dan sebagainya gara-gara disuapi indomie selama 3 hari. Itu pun cuma 2 kali sehari. Pesan saya: kalau saya meninggal karena kelaparan atau usus buntu karena indomie, tolong sampaikan ke indofood dan masukkan dalam CERITA INDOMIE. 

Se-tragis apapun nasib saya, tetap tidak ada alasan untuk mengakhirinya. Seribu alasan masih ada kenapa saya harus tetap melanjutkan hidup. Saya yakin, banyak orang yang mencintai saya. Sama halnya dengan saya yang juga mencintai banyak hal dalm hidup ini, mulai dari pekerjaan, teman, keluarga, sampai cewek tetangga kostan. Saya masih enjoy. Makan nggak makan yang penting happy, hehe...

Saya hanya mau menjejalkan kata lagi, lagi, dan lagi...:D


17 September 2011

Jangan Sekali-sekali Mengganti Blog Address

Beberapa hari yang lalu saya menggati blog address. Di postingan terakhir saya membahasnya. Kemarin saya berkonsultasi (curhat) dengan seorang teman, mengenai hal tersebut. Dia kaget, kok saya tega menggantinya, padahal itu sangat beresiko. Kepala saya langsung pening. Bagaimana tidak, menurut teman tersebut,  butuh waktu lama untuk memperbaiki serta meningkatkan traffic rank ketika alamatnya diganti.

Karena penasaran, beberapa menit lalu saya menelusuri postingan blog ini lewat search engine, google. Taukah kawan, hasilnya sangat parah, betul-betul parah!  Coba lihat gambar dibawah ini.

Sigmund Freud dan Hasrat Kebinatangan Manusia adalah salah satu tulisan yang pernah saya posting. Hasil pencarian melalui google, ternyata masih dideteksi di blog address lama, kasimbenzema.blogspot.com. Bahkan, setelah saya membuka page selanjutnya, tidak ada tanda-tanda artikel tersebut muncul dengan blog adress yang baru. Saya juga mencoba beberapa postinga lain. Hasilnya sama! Tragis betul nasib blog ini.

Masih ada yang lebih parah: penurunan traffic rank.  Biasanya, setiap hari, blog saya dikunjungi setidaknya 100 kali (tanpa blogwalking). Sekarang, statistik pengunjung terjun bebas tanpa hambatan, 10 viewer bung! Parah banget kan. Lama-lama saya yang terjun bebas lantaran stres berat. Fiuhh...!!!

Bagaimana pun tidak ada yang perlu disesali karena akan lebih menyakitkan lagi. Setidaknya, saya mendapat satu pelajaran penting: JANGAN SEKALI-SEKALI MENGGANTI BLOG ADDRESS. 

Tuhan, ampuni dosa hambamu ini...!!!

15 September 2011

Hanya Sekali, Cukup Sekali!

Lama juga saya tidak memposting langsung di blogger. Beberapa bulan terakhir, tulisan (catatan pendek) yang saya publikasikan bersal dari notepad yang ada di notebook. Bahkan, saya sampi bingung bagaimana cara menulis di blogger dengan tampilannya barunya (katro yah).

Beberapa pekan terakkhir, saya menjumpai banyak sketsa kehidupan. Semakin membuat saya sadar bahwa hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Lebih jauh, banyak makna, noumena tesirat yang patut kita renungi. Awalnya memang terlihat biasa saja, akan tetapi setelah diselami, ternyata luar biasa. Entah bagaimana mengungkapkannya lewat deretan kata. Sampai disini saya biasa bingung sendiri (hehe...).

5 Tahun lalu, saya menginjakkan kaki di Fakultas Farmasi UNHAS. Sampai sekarang masih berstatus mahasiswa. Semester 11 sedang berjalan. Yah, saya bangga dengan semester 11! Setiap kali bertemu teman lama, pertanyaannya selalu sama: kapan sarjana? Walaupun jengkel, saya menjawab seadanya, "bentar lagi, nih lagi nyusun skripsi". Jawaban paling sederhana dan tidak membutuhkan pertanyaan lanjutan. kalaupun ditanya lagi, paling cengar-cengir lalu melengos pergi.

Selain jawaban di atas, saya masih punya ribuan jawaban lain. Budaya pergaulan bangsa kita, telat sarjana adalah sebuah kelainan, tidak biasa, aneh. Makanya, saya harus punya banyak alasan bagus supaya semuanya bisa logis. Tuntutan hidup supaya saya masih dianggap "normal".  Sengaja saya pelajari baik-baik bagaimana menemukan jawaban yang tepat. Hasilnya, perbedaharaan jawaban atas pertanyaan tersebut meningkat pesat beberapa bulan terakhir.

Setelah merenung selama beberapa tahun (wah, lama juga yah), saya menemukan kesimpulan berdasarkan observasi langsung, bahwa kita harus mencintai bidang ilmu yang digeluti untuk meraih titel sarjana. Sayangnya, saya tidak gampang jatuh cinta. Bukan, bukan saya mencari-cari alasan, tapi inilah kenyataannya. IPK saya lumayan bagus, tentunya alasan "bodoh" tidak bisa digunakan dalam hal ini. Walaupun ada beberaa variabel lain yang berpengaruh, tetapi saya pikir alasan diatas yang paling menonjol.

Mengerjakan sesuatu yang tidak anda sukai jauh lebih berat, walaupun sebenarnya perkerjaan tersebut ringan. Bukan karena kita tidak bisa, tetapi dorongan semangat sangat penting untuk membangkitkan energi. Nah, semangat inilah yang muncul dari rasa suka maupun senang terhadap sesuatu.Sama halnya ketika saya menjalani rutinitas akademik, saya merasa ada sesuatu yang hilang, ada yang tidak sesuai idealitas. Saya tidak tahu bentuknya, yang jelas ada. "Saya mau mencari sesuau yang lain", kata-kata tersebut sepertinya lebih tepat. lagi-lagi ini bukan alasan yang dibuat-buat, tapi inilah kenyataannya.

Sampailah saya di tahun ke-5 dan saya masih belum mencintai farmasi. Akan tetapi saya sadar pada sebuah kenyataan, "saya berada di farmasi dan tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik dari ini". Tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik belajar mencintai farmasi ketimbang menyalahkannya. Saya bukan pasrah, tidak. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada banyak kemungkinan, rahasia, serta makna yang bisa saja di kemudian hari baru kita sadari.

Lagi pula tidak mungkin saya memutar waktu. Pekerjaan yang bahkan tuhan tidak mampu melakukannya. Saya pikir, membuat lebih banyak kemungkinan adalah jalan terbaik saat ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, saya butuh sesuatu: SARJANA.

Saya percaya bahwa jejak kehidupan hanya berlalu sekali. Hari ini tetap saja berbeda dengan kemarin, besok, tahun lalu. Tidak ada yang sama. Fase hidup sekarang ini, akan saya jalani sekali saja. 10 tahun ke depan (mudah-mudahan saya masih hidup), saya akan bercerita kisah lain. Tidak ada niat lain kecuali mengabadikan apa yang saya rasakan dan alami sekarang. Hanya itu.

*Farmasi Unhas, 15 Sepetember 2011, 11.41am

9 Mei 2011

Dedicated untuk Ibu Terbaik Di Dunia, Ibuku

Beberapa hari terakhir bertebaran artikel, dan puisi tentang hari ibu. Blogger ramai ramai memposting sebagai ungkapan rasa terima kasih terhadap sosok ibu. Setiap orang punya cara tersendiri dalam memaknai kesakralan hari ibu. Kalau mau jujur, saya tidak benar-benar tahu kapan sebenarnya hari ibu. Banyaknya artikel tentang hari ibu di bulan ini, khususnya pekan ke-2 Mei, cukup menggoda saya untuk ikut nimbrung.

Saya tahu betul bahwa artikel, puisi sebaik apapun itu tidak akan menjadi balasan/ungkapan yang cukup untuk mengenang kembali jasa-jasa ibu. Mereka adalah wanita hebat yang melahirkan kita. Pengorbanan dan kasih sayangnya tak terbayangkan besarnya pada kita semua. Bahkan ketika saya menuliskan artikel ini, toh tidak lepas dari peran ibu saya.

Menilik kembali perjalanan saya, 23 tahun yang lalu saya dilahirkan di sebuah desa kecil di Ujung Sulawesi Selatan. Beranjak remaja di tempat yang sama hingga lulus MTs, saya melanjutkan pendidikan SMA di kota Bulukumba. Orang tua, khususnya ayah, mempunyai tekad kuat untuk menyekolahkan sampai jenjang terkahir pendidikan formal karena prestasi yang saya tunjukkan cukup menjaanjikan. Sayangnya, beliau tidak dapat lagi melihat hasil Ujian kenaikan kelas saya di tahun ketiga SMA karena Allah Swt. lebih dahulu memanggilnya. Otomatis tumpuan hilang, terutama biaya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas.

Saya cukup terpukul. Untungnya ibu saya mengambil peran ayah. Profesi sebagai ibu rumah tangga dialihkan menjadi petani menggantikan posisi ayah saya. Sampai saya menginjakkan kaki di Universitas, beliau adalah pembakar semangat yang tidak pernah padam. Himpitan ekonomi bertumpu di pundaknya yang mulai renta termakan usia.

Ibu saya bukanlah ibu modern seperti kebanyakan teman sekampus. Beliau tidak pernah menginjakkan kainya di pendidikan formal. terang saja, beliau tidak mampu menyebutkan apalagi membaca satu huruf pun. Sedikitpun beliau tidak mengerti tetek bengek pendidikan. Beliau hanya punya semangat dan sedikit tenaga untuk dipaksa bekerja demi kelanjutan pendidikan saya.

Terdengar begitu cengeng untuk meneteskan air mata ketika menuntaskan artikel (curhat,red) ini. Akh peduli amat, toh, menangis adalah bukti bahwa manusia punya hati. Ini bukan apa-apa karena tidak akan ada balasan yang diterima ibu saya ketika tulisan ini selesai. Setidaknya ini mengingatkan kembali betapa luar biasanya seorang ibu.

Dedicated untuk ibu terbaik di dunia, ibuku...