Tampilkan postingan dengan label kronik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kronik. Tampilkan semua postingan

14 Juni 2012

Pancasila, Persepsi, dan Kekerasan


Ketika firman Tuhan diturunkan melalui seseorang yang dipilih-Nya, kemudian diikuti sekelompok orang dalam kehidupan masyarakat, firman itu melembaga menjadi agama. Ia kemudian berkembang menjadi institusi sosial yang hidupnya bertumpu pada kekuatan solidaritas sosial para pemeluknya.

Pada saat telah menjadi institusi sosial, agama dengan sendirinya melibatkan diri dalam dinamika pluralitas, konflik, dan perubahan yang terus-menerus. Akibatnya, agama sebagai institusi sosial terlibat dalam konflik kepentingan politik dan kekuasa a n yang sering kali mengambil bentuk kekerasan, baik secara internal dalam kehidupan agamanya sendiri maupun secara eksternal dalam kehidupan berbagai agama yang ada dalam masyarakat.

Karena itu, dalam kehidupan masyarakat yang diwarnai kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan yang tajam, radikalisme keagamaan sebenarnya muncul sebagai wujud solidaritas sosial melawan kesenjangan ekonomi dan politik yang ada. Di sinilah kemutlakan agama dijadikan landasan melakukan perlawanan sosial terhadap kesenjangan ekonomi dan politik yang memicu kekerasan sosial.

Teologi dan kekerasan
Tuhan fundamental dalam kehidupan agama. Agama tanpa Tuhan bukan agama lagi, tapi Tuhan bukan agama itu sendiri karena Tuhan tak pernah beragama yang mana pun. Tuhan menjadi sumber agama yang mana pun juga.

Dalam konteks kebertuhanan, peran persepsi sangat besar karena setiap orang yang beragama akan selalu memersepsikan Tuhannya yang jadi sandaran agama yang dianut. Jikalau persepsi orang itu berbeda-beda tentang Tuhan, apakah bisa diartikan bahwa Tuhan itu berbeda-beda dan, dengan demikian, dapatkah dikatakan bahwa apakah Tuhan itu banyak?

Meski suatu keniscayaan, persepsi sebenarnya relatif karena sangat subyektif: tergantung dari mana melihatnya dan kapan. Persepsi seseorang terhadap realitas bukanlah realitas itu sendiri. Hanya realitas artifisial yang dikonstruksikan. Maka, ada dua realitas: realitas itu sendiri yang otonom dan realitas yang dibangun dalam persepsi seseorang terhadap realitas.

Dalam realitas kehidupan sosial keagamaan, persepsi tentang Tuhan itu telah menjadi realitas fenomenal yang meluas. Setiap orang beragama dan komunitas agama memersepsikan Tuhannya sendiri-sendiri. Akibatnya, persepsi tentang Tuhannya berbeda- beda. Nama Tuhannya bisa sama, tetapi isi kesadaran yang dibentuk oleh persepsinya tentang Tuhan sebenarnya berbeda satu sama lain.

Adanya persepsi tentang Tuhan boleh dan sangat wajar. Namun, menganggap bahwa persepsinya tentang Tuhan itu patut dipertanyakan kebenarannya. Tuhan sesungguhnya berbeda dengan Tuhan yang dipersepsikannya. Persepsi tentang Tuhan bukan Tuhan karena sesungguhnya Tuhan itu tak terbatas, sedangkan persepsi bersifat terbatas. Keterbatasan persepsi seseorang membuat keterbatasan mengonstruksi ketidakterbatasan menjadi terbatas.

Hal yang kemudian jadi masalah: ketika persepsi seseorang tentang Tuhan itu dianggap Tuhan dan dimutlakkan kebenarannya. Sesungguhnya Tuhan tak bisa dimonopoli oleh siapa pun: kiai, pendeta, pastor, atau siapa pun. Dalam kenyataan sejarah, perang dan kekerasan dalam kehidupan internal agama ataupun dalam kehidupan eksternal agama terjadi karena masing-masing memperebutkan Tuhan persepsi yang ia mutlakkan. Mereka sesungguhnya berperang bukan untuk Tuhan, melainkan untuk persepsi mereka saja.

Dalam Pancasila
Ketuhanan Yang Maha Esa sebenarnya berada di atas Tuhan Persepsi karena Tuhan Yang Maha Esa telah melintasi batas-batas Tuhan dalam suatu agama. Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan yang ada dalam semua agama dan diakui oleh semua agama. Bukan lagi Tuhan persepsi, tetapi sudah menjadi pengalaman kebertuhanan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Akan tetapi, Ketuhanan Yang Maha Esa itu kehilangan makna dan kekuatannya ketika terjatuh dalam Tuhan Persepsi. Itulah yang lalu memengaruhi dan membentuk perilaku keagamaan seseorang dalam hidup berbangsa dan bernegara: orang lain yang berbeda persepsi tentang Tuhan dianggap salah dan sesat.

Radikalisme keagamaan yang memicu dan memacu konflik kekerasan melawan kesenjangan ekonomi politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesungguhnya bermula dari Tuhan persepsi ini. Harus ada ketegasan negara meletakkan sila pertama Pancasila bukan sebagai Tuhan persepsi, melainkan sebagai Tuhan empirik yang menjadi praktik hidup nyata dalam berkemanusiaan yang adil dan beradab, mewujudkan persatuan Indonesia, dan melaksanakan permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, serta dalam perilaku berkeadilan sosial.

Jika tak mampu tegas, negara akan terseret dalam konflik Tuhan persepsi yang berdarah-darah dan kian sulit menjadikan sila-sila berikutnya dalam praktik hidup berbangsa dan bernegara secara aktual dan konkret.

MUSA ASY’ARIE Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

18 Januari 2012

Reformasi Menurut Cak Nur //Part 2 (selesai)

Menyambung tulisan sebelumnya reformasi menurut Cak Nur, saya hendak menyampaikan beberapa poin mengenai persoalan tersebut. Mengingat tulisan tersebut belum tuntas sepenuhnya. Ada beberapa kecenderungan yang semakin menguatkan pendapat Cak Nur bahwa reformasi adalah turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, tidak lebih tidak kurang. Bahwa reformasi hanyalah rekayasa sosial. Yakni beberapa pihak menginginkan Indonesia berubah menjadi negara "liberal". Ini bukan sekedar preseden atau asumsi murahan, melainkan fakta telah menunjukkan validitasnya.

Mengorek kembali sistem demokrasi yang dipahami zaman orde. Pada saat itu, hanya diakui 3 partai dimana Golkar sebagai ban serep pemerintah sedangkan 2 partai lainnya, PDI dan PPP hanya sebagai "pelengkap". Mengkritik pemerintah bisa berbuntut panjang. Sentralisasi segala bidang yang begitu kental. Hanya orang-orang yang dekat dengan keluarga cendana yang bisa menduduki pos penting dalam roda pemerintahan. Siapa yang tidak patuh, siap-siap saja dihabisi. Orde baru menjadi monster raksasa yang menelan korban, entah jumlahnya berapa. Tidak usah bertanya jika ada orang yang tiba-tiba hilang, karena mungkin dia sudah diciduk "aparat". Jauh ke pelosok desa, informasi sangat terbatas. Mereka buta informasi terhadap kondisi pemerintahan karena memang aksesnya sangat terbatas. Lagi pula mereka juga tidak peduli. Toh, yang penting bisa hidup dengan tenang. Dan itulah yang menjadi jaminan mengapa orde baru bertahan sampai 3 dekade (32 tahun).

Akhirnya seperti kita ketahui, reformasi tumbang pertengahan 1998. Indonesia memasuki babak baru sistem pemerintahan, reformasi. Harapan dan semangat membangun Indonesia terkristalisasi dalam benak rakyat seperti yang dicita-citakan founding fathers. Supremasi hukum, pemberantasan KKN, perbaikan ekonomi, sosial, dan politik, pembukaan kran demokrasi adalah beberapa tujuan reformasi. Cita-cita yang sungguh mulia. Namun, perjalanan reformasi menjadi bias. Tuntutan tahun 1998 menguap begitu saja, entah kemana. Korupsi merajalela membentuk lingkaran setan, hukum tebang pilih, KKN, ekonomi tersandera oleh asing, sosial politik hingga budaya yang semakin kabur dari ciri ketimuran. Demokrasi yang sejatinya sebagai instrumen untuk mensejahterahkan rakyat malah menjadi "industri" besar oknum tertentu. Indonesia menjadi negara besar yang lumpuh, tidak mampu berjalan dengan kaki sendiri. Terbukti dengan trilyunan bantuan asing yang masuk untuk memberi napas bangsa Indonesia.

Liberalisasi berkedok globalisasi. Caranya dengan  mengutus "agen global" untuk diadopsi di Indonesia seperti film, fashion, gaya hidup, teknologi, dan lain-lain. Otak rakyat Indonseia disetting sedemikian rupa agar mengikuti trend global. Film barat berbau seks, pornografi, dan brutal menjadi tontonan kaum muda di bioskop. Belum lagi produk-produk asing yang murah tapi "keren" membanjiri swalayan-swalayan. Hasil karya anak bangsa  kian tersisih. Coba perhatikan kehidupan kita selama 24 jam dari bangun tidur hingga terlelap di malam hari, hampir semua yang kita gunakan adalah produk asing. Bayangkan jika produk Unilever, Danone, Nokia, Blackberry, Telkomsel, Acer, Thosiba, dan Indosat distop sehari saja, niscaya rakyat Indoesia akan kelabakan. Belum lagi DPR dan pemerintah yang semestinya menjadi tameng bagi rakyat yang terlanjur lemah ini, malah menjadi sarang kompromi terhadap asing. Terlihat dengan sejumlah regulasi dan Undang-undang yang mereka keluarkan. Sampai disini, relevansi Cak Nur tentang demokrasi kian terang-benderang.

Bicara ketidakberesan Indonesia tidak akan ada habisnya. Reformasi yang memudahkan modal asing masuk ke Indonesia. Perusahaan lokal diadu langsung dengan perusahaan asing. Jelas, perusahaan lokal kalah telak. PSM diadu dengan Manchester United. Tidak masuk akal kan! Konglomerat asing masuk begitu mudahnya dan menguasai sektor strategis perekonomian kita. Menjadikan ekonomi tersandera oleh asing. Dengan kondisi seperti ini, rakyat tidak akan menuntut apa-apa. Mereka tidak tahu apa-apa kok! Rakyat gamang dengan perubahan yang cepat. Mereka tidak sempat berpikir. Mereka tidak mau tahu, yang penting mereka hidup "baik" hari ini. Arus frontal yang datang seketika tidak mampu dibendung oleh rakyat. Tidak peduli jika dibodohi sekalipun. Siapa yang salah? Reformasi, pemerintah, atau rakyat itu sendiri? Tidak semudah mengacungkan jari telunjuk. Kita mesti berpikir dan melihat masalah secara holistik. Terlebih dahulu kita harus membongkar paradigma dan kesalahan sistemik yang merantai bangsa Indonesia.

Secara tersirat, Cak Nur memang melihat reformasi cenderung mengarah pada liberalisasi. Hal ini bisa diatisipasi jika ada pengawal yang konsisten. Sayangnya tidak?! Aktor reformasi tersisih dan digantikan oleh aktor lama yang korup dan amoral itu. Aktor lama itu seperti macan lepas kandang, menyeruduk, menggonggong, menjilat, dan menerkam di sana-sini. Merekalah yang sibuk berceloteh di depan media. Memperebutkan kekuasaan, membagi jatah proyek, lompat kiri kanan, berganti topeng, seakan merekalah reformis yang sesungguhnya. Di sisi lain rakyat tidak siap dengan format baru yang dibawa reformasi. Berpikir sempit dan pendek. Pendidikan yang mereka peroleh jelas tidak cukup untuk mengawal reformasi. Bagaimana dengan intelektual kampus yang suaranya paling nyaring ketika Soeharto ditumbangkan? Setali tiga uang, mereka terlalu sibuk menikmati masa muda. Sulit saya jelaskan.

Inilah reformasi. Jika Indonesia harus tumbang nantinya, tidak ada yang harus disalahkan kecuali rakyat termasuk pemerintah. Dan saya yakin, jika keadaan ini terus berlangsung maka Indonesia akan menjadi negara gendut, pemalas, bodoh yang dipenuhi penyakit seperti stroke. Tewas tidak bersisa. Maaf kalau saya terlalu sinis melihatnya. Inilah bentuk keresahan yang terus menghantui saya. Sudi atau tidak, kita mesti mengakui bahwa reformasi sekedar angin segar tapi beracun.
wallahu a'lam... 

17 Januari 2012

Simpati Jadi Antipati

Matahari meninggi tepat di atas ubun-ubun. Bayangan benda yang disinari tepat jatuh di bawahnya, vertikal. Tidak seperti biasanya mengingat bulan ini adalah puncak musim penghujan. Di daerah tropis seperti Indonesia, Januari tidak pernah lepas dari guyuran hujan. Hampir setiap hari.  Di hari yang berbeda ini, arus lalu lintas sangat padat. Kehidupan masyarakat lebih cepat. Kendaraan melintas, lalu-lalang memanfaatkan kesempatan "mumpun tidak hujan".

Hari itu, pemandangan lain di sebuah perempatan jalan. Sekelompok orang memampang spaduk protes. Di antara mereka ada yang membawa bendera organisasi berukuran mini. Tidak peduli dengan bau aspal menusuk hidung dan terik matahari yang membakar kulit. Katanya mereka adalah mahasiswa. Mahasiswa yang resah dengan kebijakan pemerintah. Pilihan turun ke jalan dipilih sebagai bentuk protes. Berharap pemerintah menganulir atau setidaknya mengubah kebijakannya. Pemandangan seperti ini kerap terjadi, hampir setiap hari. Tentunya di sudut jalan yang lain. Dibantu dengan megaphone, mereka berteriak tidak peduli. Teriakan yang diselingi dengan sumpah serapah.

Aksi mahasiswa tersebut berhasil memacetkan jalan. Kendaraan yang sangat padat berderet rapih hingga ratusan meter. Bagaimana tidak, di tengah jalan berdiri pagar hidup yang bernama mahasiswa. Hampir seluruh badan jalan tertutupi hingga tidak ada yang tersisa bagi kendaraan untuk lewat. Sekali lagi, pemandangan seperti ini sudah lumrah, sering terjadi acap kali aksi mahasiswa dilakukan. Ketika aksi, mahasiswa menjadi penguasa jalan.

Di atas kendaraan yang berderet itu, di balik kaca bening mobil pete-pete, beberapa orang juga mengumpat. Namun, berbeda dengan mahasiswa yang mengumpat kebobrokan pemerintah. Mereka -orang-orang itu- malah berbalik menggerutu melihat sikap pongah para mahasiswa. Letak dilematisnya berada pada titik ini, dimana mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat malah dibenci oleh orang-orang yang diperjuangkannya sendiri. Paradoks dan kontradiktif.

Lantas apa yang mesti dilakukan oleh mahasiswa dalam memperjuangkan rakyat? Haruskah mereka terus turun ke jalan setiap kali menyampaikan aspirasi rakyat? Saya takut, aksi yang berharap simpati malah berbuah antipati dari masyarakat sendiri. Jika demikian -dan memang demikian-, aksi mahasiswa menjadi sia-sia. "Jauh panggang dari api" alias nihil.

Akhir-akhir ini saya mulai berpikir, ada sistem dalam pergerakan mahasiswa yang salah. Gerakan cenderung monoton, elitis, dan tidak "berperikerayatan". Slogan "mahasiswa dan rakyat bersatulah!" yang sering diteriakkan itu tidak lagi relevan pada tataran implementasi. Mesti dilakukan refleksi guna mengevaluasi kembali gerakan mahasiswa hari ini agar perjuangan mahasiswa tidak berbenturan dengan kepentingan rakyat. Kurikulum gerakan mahasiswa mesti di reform guna mengubah paradigma lama menjadi paradigma yang lebih progresif, fleksibel, dan "ngonteks" dengan zaman. 

Salam Perjuangan...!

31 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun, Sebuah Refleksi

Ada dua hal yang sering dilakukan orang menjelang akhir tahun. Refleksi akhir tahun dan resolusi tahun yang akan datang. Refleksi dilakukan sebagai bentuk evaluasi kinerja setahun terakhir. Sejumlah catatan perjalanan sengaja dituliskan guna memaknai kembali peristiwa yang dianggap penting. Prestasi dicatat, termasuk juga kejadian "kelam" guna diambil hikmah di dalamnya. Sedangkan resolusi dimaknai sebagai proyeksi setahun ke depan. Cita-cita dan harapan yang tidak terwujud di tahun sebelumnya dicatat kembali untuk diwujudkan di tahun berikutnya. Refleksi dan resolusi dianggap sebagai ritual wajib setiap akhir tahun. Ritual ini khususnya berlaku bagi masyarakat urban, karena bagi sebagian besar masyarakat udik, pergantian tahun bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Bagi mereka, setiap waktu sama saja. Tidak peduli akhir, awal, atau pertengahan tahun.

Tahun 2011 tinggal menghitung jam. Sebentar lagi akan berakhir. Beranjak meninggalkan kita semua dan tidak akan pernah kembali lagi. Itu pasti. Tahun 2011 akan terkubur, menjadi sejarah bagi setiap orang. Sejarah yang entah mau dimaknai atau tidak. Akan tetapi, alangkah meruginya kita jika tidak bisa memetik pelajaran dari perjalanan hidup kita, setidaknya selama setahun terakhir. Tentu saja bukan untuk membanggakan atau mengutuk perjalanan kita. Tapi sekali lagi, untuk mengambil pelajaran sebagai bahan refleksi untuk menentukan arah kehidupan nantinya.

***
Tidak banyak yang berubah. Status saya masih saja sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang tidak kunjung sarjana. Padahal masa studi saya terbilang tidak "normal" lagi. Jauh dari target awal ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bangku kuliah pada tahun 2006. Orang tua saya, sudah mengulang pertanyaan yang sama ribuan kali, "kapan sarjana nak?". Entahlah, karena faktor pendidikan orang tua yang rendah, selalu saya selalu punya alasan logis atas pertanyaan itu. Dan selalu diterima tanpa embel-embel. Kadang juga saya berpikir, betapa menyedihkannya beliau punya anak seperti saya. Atau mungkin beliau terlalu saya kepada anaknya. Tapi toh, saya punya proyeksi sendiri yang saya jelaskan tiap kali pulang kampung. Orang tua saya mendengarnya dan beliau merasa bangga.

Awal tahun 2011, saya sudah berkomitmen untuk hidup mandiri. Dalam artian, mapan secara finansial. Alasan utamanya, saya bekerja di dua tempat sekaligus. Sampai medio 2011 semuanya masih berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, masalah lain timbul. Kuliah saya jadi berantakan. Orang tua saya komplain. Akhirnya saya harus rela melepaskan salah satu pekerjaan dan kembali ke kehidupan sebelumnya: meminta beasiswa dari kampung setiap bulan. Menyedihkan. Seperti yang saya ungkapkan di atas, sampai akhir tahun 2011 saya masih berstatus mahasiswa. Jadinya, saya masih menerima kiriman uang dari kampung dan belum sarjana. Mungkin ini sebuah kegagalan, tapi saya tidak mau menyebutnya demikian. Itu bukan kegagalan, melainkan keberhasilan yang tertunda (inilah kata-kata yang paling saya benci seumur hidup).

Setali tiga uang dengan kehidupan asmara. Ciee kehidupan asmara ha ha ha. Sempat menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Sayang (bisa ditebak, akhirnya pasti menyedihkan). Hubungan tidak berjalan lama. Saya pernah bertemu orang tuanya dan ditanya kapan sarjana. karena tidak tahu harus jawab apa, dan setelah lama berpikir, dengan enteng saya jawab, "nanti om" Jawaban yang sangat politis dan spekulatif. Dua pekan kemudian, saya putus dengan anaknya tanpa alasan yang jelas.

Ah, dari dari tadi menyedihkan terus. Pelajaran apa yang mau diambil. Sama sekali tidak ada. Terus kenapa saya menulis "refleksi akhir tahun 2011"? Saya juga tidak tahu. Gamang.

***
Cerita menyenangkan. Entahlah, saya tidak tahu harus memulai darimana. Hanya dua kemungkinan, terlalu banyak  sehingga bingung mau mulai darimana atau memang tidak ada sama sekali. Sekali lagi, gamang.

Selain umur yang semakin bertambah, beberapa catatan penting selama tahun 2011 (tentunya tidak menyedihkan). Saya menerima tawaran pekerjaan yang akan dimulai pada awal tahun 2012. Cukup menggembirakan mengingat kondisi keuangan orang tua saya yang semakin tidak memungkinkan saat ini. Semoga terealisasi supaya punya dana cukup untuk melanjutkan pendidikan apoteker pada pertengahan 2012. Orang tua saya juga setuju dengan rencana tersebut.

Memang saya belum bertitel sarjana. Akan tetapi, progres yang sangat baik jelas terlihat. Skripsi sudah ACC, menunggu untuk di"sidang"kan. Tinggal berkas ujian yang perlu disiapkan dan beberapa perlengkapan administrasi. Selebihnya, sudah rampung. Kalau tidak ada aral melintang, awal 2012 saya sudah sarjana. 

Tetapi yang terpenting bagi saya, adalah dialektika pengetahuan yang sangat intens selama tahun 2011. Saya merasakan betul bagaimana pergulatan pemikiran yang mengubah paradigma. Banyak menyerap buku kontemporer yang merasuki alam pemikiran. Banyak pelatihan sempat saya ikuti perlahan mengubah persepsi saya. Memang hasilnya masih abstrak. Akan tetapi pola yang terbangun secara terstruktur semakin mendewasakan saya. Jelas ini menjadi modal penting mengarungi kehidupan selanjutnya. Saya sangat bersyukur.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya punya proyeksi sendiri. Tahun 2011, terlepas dari banyak kekurangan dan target yang tidak tercapai, memberikan pengaruh besar dalam upaya mematangkan proyeksi masa depan. Selebihnya adalah harapan. Bahwa hidup selalu membawa banyak kemungkinan. Ada rahasia dibalik peristiwa. Melihat fenomena, menyingkap noumena. Yakin Usaha Sampai...

29 Desember 2011

Negeri Autopilot

"Gagal berencana, artinya merencanakan kegagalan". Pepatah lama yang sarat makna. Seringkali diungkapkan untuk mengingatkan kita, betapa menyusun rencana itu sangat penting. Dalam dunia manajemen, menyusun rencana adalah syarat utama jika ingin berhasil. Tidak ada seorang pun yang menggeluti dunia manajemen, mengabaikan hal ini. Ingin berhasil, susunlah rencana. Karena kalu tidak, artinya kita telah merencanakan sebuah kegagalan. Sederhanya mungkin seperti itu.

Menyusun rencana tidak hanya ada dalam dunia manajemen. Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita mesti menyusun rencana. Semakin bagus dan detail rencana yang kita buat, maka kemungkinannya juga akan semakin baik. Bagi mereka yang telah mempunyai rencana hidup, maka hari esok bukan lagi misteri. Esok adalah sebuah rentetan kejadian yang telah kita tuangkan dalam kertas rencana. Bukan kotak pandora yang tertutup rapat. Meski, kita tidak bisa memastikannya, tapi setidaknya dengan sebuah rencana, target dan tujuan kita bisa lebih terarah.

Lantas, apa jadinya jika sebuah siklus kehidupan yang lebih besar tidak punya rencana. Anggaplah negara. Bisa dibayangkan jika sebuah negara tidak punya rencana dalam jangka waktu 1 bulan, 1 tahun, 5 tahun, atau 25 tahun ke depan. Jika demikian, bagaimana dengan nasib rakyat dalam negara tersebut. Hari esok mereka samar, tidak jelas, penuh misteri, dan sebagainya. Adakah negara seperti yang saya sebutkan di atas. Terdengar ini sangat musykil. Bagaimana mungkin sebuah negara tidak punya rencana.

Tahukah anda apa rencana bangsa Indonesia 1, 5, atau 10 tahun ke depan? Kalau ada yang tahu, nanti saya kasi hadiah, he he. Jangan heran atau bingung, inilah salah satu keajaiban Indonesia saat ini yaitu tidak punya rencana. Coba tanya SBY, apa yang akan dilakukan negara 1 tahun ke depan. Atau begini supaya lebih mudah, tanya beliau mengenai rencana Indonesia 1 bulan ke depan. Sim salabin abra cadabra, beliau akan jawab: TIDAK TAHU. Aneh bukan, tapi inilah Indonesia. Seburuk-buruknya [jika memang demikian] pemerintahan era Soeharto, namun kala itu perencanaannya jelas dan terencana. Di masa itu, dibuat rencana pembangunan jangka pendek dan jangka panjang. Ingat mungkin, istilah Repelita (rencana pembangunan lima tahun) yang diberlakukan rezim orde baru. Hasilnya, sangat efektif. Terbukti dengan gelar Soeharto sebagai bapak pembangunan berkat jasa-jasanya.

Saya tidak bermaksud membandingkan era orde baru dan reformasi saat ini. Terutama tentang mana yang lebih baik. Saya ingin menyinggung peran penting dalam menyusun rencana. Bagaimana nasib bangsa ini jika terus menerus hidup dalam ketidakpastian. Kita mau di bawa kemana? Itu pertanyaan yang saya pikir sangat mendasar. Pemerintah harus menyusun rencana negara, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Ini harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Akhirnya, semua kembali pada niat pemerintah dan elit politik negeri. Dibutuhkan good will dan political will. Tapi semestinya, mereka yang diberi amanah untuk menjadi masinis negara sadar akan tujuan yang hendak dicapai. Jangan sampai menjadi pesawat tanpa awak, Autopilot. Tidak tahu mau kemana atau malah "dikemanakan" oleh "remote" jarah jauh. Bisa repot kalau demikian adanya. Naudzubillah...

Wallahu a'lam...

14 November 2011

Bung Karno dan Jusuf Kalla Bicara Sejarah

JAS MERAH. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Idiom yang dipopulerkan Soekarno. Presiden pertama RI. Mengingatkan rakyatnya ketika itu. Iya, jangan melupakan sejarah. Apa yang kita nikmati adalah hasil rangkaian peristiwa masa lalu. Kemerdekaan yang kita capai adalah berkah sejarah. Makanya, jangan sekali-kali melupakannya. Maksud Bung Karno mungkin demikian.

Bung Karno percaya, sejarah adalah bagian vital bangsa. Beliau juga meyakini, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa pada sejarahnya. Dan bangsa yang tidak lupa pada sejarahnya adalah bangsa yang pandai berterima kasih. Berterima kasih pada pahlawannya. Berterima kasih pada pelajaran dan pengalaman pendahulunya. Berterima kasih atas pelajaran yang diberikan orang dahulu. Berterima kasih atas warisan budaya pelaku sejarah di masa lalu.

Memaknai sejarah sebagai kereta waktu yang terus melaju. Yang mengiri napak tilas perjalanan bangsa. Saya pikir kita perlu menempatkannya dalam posisi yang benar. Maksud saya, mengingat sejarah tidaklah cukup. Kita mesti memaknainya dengan benar. Memaknainya sebagai pelajaran, refleksi, dan evaluasi atas peristiwa di masa lampau. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Saya teringat dengan ucapan Jusuf Kalla (JK), ketika menyampaikan sambutannya di UNHAS beberapa waktu yang lalu. "Bukti kemunduran bangsa, ketika rakyatnya sibuk membanggakan sejarahnya". Pesan yang beliau hendak sampaikan, membanggakan sejarah tidak akan membuat kita lebih baik. Malah menjadi bukti nyata bahwa kita berada pada kemunduran nyata.

Sejarah adalah fase dimana pelajaran bisa dipetik untuk hidup yang lebih baik di masa depan. Pesan dua tokoh lintas generasi mungkin agak berbeda dalam memandang sejarah. Namun maksud keduanya jelas. Jangan lupakan sejarah, tetapi jangan pula membanggakannya.

5 November 2011

November

Adzan subuh berkumandang, membelah rimbunan pohon yang baru saja diguyur hujan lebat. Konon katanya, kala itu pertengahan bulan November 1987, bertepatan dengan hari pertama saya menjejakkan kaki di dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim ibu saya. Jenis kelamin yang tidak dinantikan, karena sebenarnya kedua orangtua saya berharap anak keduanya berkelamin perempuan. Hiks.

Orang tua saya meyakini satu hal: anak keduanya, saya, lahir pada kamis subuh. Itulah mengapa saya katakan "konon katanya", karena berdasarkan kelender Masehi, tanggal 15 November 1987 jatuh pada hari Minggu. Sudah saya cek berkali-kali dan hasilnya tetap sama, bahwa tanggal tersebut bertepatan pada hari Minggu, bukannya hari Kamis. Sampai saat ini, saya juga meyakini hal yang sama, bahwa saya lahir pada kamis subuh, entah tanggal dan tahun berapa. Juga karena tidak ada bukti lain mengenai tanggal kelahiran tersebut kecuali ingatan kedua orang tua. Itu pula yang menjadi alasan mengapa tidak pernah merayakan ulang tahun di sepanjang saya hidup di dunia ini. 15 November bukan tanggal kelahiran saya!

Di kampung kami, dulu, tanggal lahir adalah persoalan remeh-temeh. Tidak diperuntukkan bagi kami yang tinggal jauh di desa. Tanggal lahir adalah urusan orang pintar yang berpendidikan tinggi. Kalau ditanya umur anak-anak mereka, jawabannya pasti panjang. Kurang lebih jawabannya seperti ini, "Si A lahir di bulan syaban, dua tahun lebih muda dari kakaknya, satu tahun lebih tua dari sepupunya, dan seterusnya". Jadi, ketika salah satu anak mereka melanjutkan pendidikan, dimana tanggal lahir mesti dicantumkan, maka mereka akan meminta guru untuk "menentukan" tanggal lahir anak muridnya sendiri. Saya sendiri baru tahu kalau saya lahir di bulan November ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Tahukah kawan, "Bulan November" adalah hasil diskusi antara guru dengan kedua orang tua saya. Ajaib kan!

Sekali waktu saya komplain, mengapa tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak sesuai dengan hari ketika saya lahir. Jawaban kedua orang tua sederhana, katanya, saya lahir kamis subuh, saat frekuensi hujan mulai meninggi di kampung kami, kala petani mulai membajak sawahnya, saat semangat kehidupan warga kampung memuncak setelah lesu akibat musim kemarau. Dan kamu tahu, nak, kata bapak, hal tersebut terjadi di Bulan November saja. Entah benar atau tidak, tapi sejak saat itu saya tak pernah lagi menanyakannya.

Tingkat pendidikan adalah penyebab lain kenapa tanggal tak penting bagi kami, terutama bapak ibu saya. Kedua orang tua saya berpendidikan rendah. Tapi tunnggu, sebenarnya agak risih juga kalau mereka disebut "berpendidikan" - meskipun rendah. Musababnya, mereka berdua tidak punya ijazah sama sekali. Hanya bapak yang paham baca tulis, sedang ibu saya tragis; buta huruf. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai petani, dan saya percaya, tidak butuh ijazah untuk menguasai ilmu membajak sawah.

Saya selalu bingung setiap kali diperhadapkan dengan  blanko, formulir, atau semacamnya yang meminta data pendidikan orang tua. Saya harus mengisinya dengan apa? Sedangkan option "tidak berpendidikan" tidak tersedia. Karena persoalan gengsi, saya isi saja "tamat SLTA". Untungnya, tidak pernah ada yang mengklarifikasi langsung kepada kedua orang tua saya. Urusannya bisa panjang.

Meskipun "tidak berpendidikan", kedua orang tua saya tahu betul bagaimana filosofi pendidikan. Terutama bapak, beliau selalu mengajarkan bagaimana adab menuntut ilmu. Sampai saat ini, meskipun beliau sudah tidak ada (semoga tenang di sisiNya), pesannya selalu saya ingat. dan menjadi energi besar yang siap melecut semangat.

Syukurlah karena orang tua saya memilih Bulan November sebagai bulan dimana saya lahir. Saya suka November. Lovely November...:D

4 November 2011

Setelah Sumpah Pemuda, Apa lagi?

83 tahun berlalu sejak dikumandangkan sumpah pemuda untuk kali pertama. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, sekumpulan pemuda mengukuhkan komitmennya sebagai wujud kesejatian anak bangsa yang kemudian diperingati setiap tahunnya hingga sekarang. Dan sekarang ini kita tengah berada dalam suasana memperingati semangat sumpah pemuda. Sebagai anak kandung bangsa kita telah bersumpah setia untuk satu nusa, satu bangsa, dan berbahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Juga, momentum sumpah pemuda mesti kita maknai sebagai bongkahan komitmen akan negeri kita tercinta, bukannya sebagai ritual tahunan. Semarak sumpah pemuda wajib harus kita jadikan sebagai pelecut semangat dalam membangun Indonesia di tengah keragaman suku, budaya, dan agama.

Tidak bisa dipungkiri, pemuda telah ikut berperan dalam rentetan sejarah bangsa indonesia. Berdiri di barisan terdepan melawan penjajah, saat deklarasi kemerdekaan, ketika pembangunan bangsa, sampai era reformasi. Di setiap catatan historis tersebut, selalu muncul pemuda sebagai motor penggerak. Founding fathers kita juga meyakini bahwa pemuda adalah aktor utama yang dapat diandalkan dalam mewujudkan cita-cita pencerahan bangsa sebagaimana termaktub dalam UUD 1945. Tentu saja, energi besar pemuda memungkinkan untuk diberi peran serta tanggun jawab besar seperti yang diamanahkan founding fathers kita.

Bagaimana pun, Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas utamanya adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan supra struktur negara maupun di lingkup infrastruktur masyarakat, terbuka luas untuk kaum muda Indonesia masa kini.

Tidak sulit memprediksi masa depan suatu bangsa. Lihat saja bagaimana kondisi pemuda mereka. Jika baik, maka baiklah bangsa itu nantinya. Akan tetapi, jika buruk maka bisa dipastikan nasib bangsa tersebut tidak akan lebih, bahkan kemungkinannya hancur dimasa yang akan datang. Bagaimana dengan pemuda Indonesia? Di tengah kepungan masalah yang datang silih berganti tanpa henti, budaya asing yang merangsek masuk. Sampai kita tidak bisa menunjukkan diri sebagai bangsa yang punya identitas serta nilai luhur budaya nenek moyang. Belum lagi kalau sikap pesimis, acuh tak acuh, serta malas kian mendarah daging di kalangan pemuda. Sekiranya memang demikian, maka sumpah pemuda sebagai ikrar serta komitmen kita sebagai pemuda hanya menjadi ritual tahunan, tanpa makna dan aksi untuk membangun bangsa yang lebih baik.

Sedikit banyak, apa yang menjadi keresahan kita semakin menampakkan dirinya. Gejala penyakit sosial kronis mulai menimpa kamu muda bangsa Indonesia. Dimana kaum muda sibuk dengan dirinya sendiri dengan tidak mempedulikan realitas sosial masyarakat sekitar. Apatis, individualistik, mempertuhankan materi, serta akrab dengan budaya hedonisme. Ditempat lain, sekelompok pemuda meneriakkan keadilan, perlawanan terhadap penindasan, memperjuangkan wong cilik, serta slogan-slogan “aktivis” lainnya. Tapi apa, mereka tidak lebih baik. Teriakan di jalan menguap ketika mereka pulang ke rumah masing-masing. Bau aspal jalanan mereka lupakan ketika berbenturan dengan realitas. Hanya mampu berteriak, tanpa aksi nyata. Mereka yang semestinya menjadi ruh perubahan terhadap kehidupan yang lebih baik kini tenggelam dalam refleksi kata. Kondisi demikian oleh Prof. Jimly Asshiddiqie disebut verbalisme. Suatu keadaan dimana kemampuan reflection saja yang berkembang, sedangkan agenda action mandek. Padahal, dalam tataran ideal, keduanya mesti seimbang sebagai syarat utama menatap perbaikan bangsa di era selanjutnya.

Membentuk Karakter Pemuda
Menurut Quraish Shihab, serumit apa pun persoalan yang menimpa bangsa kita, maka selalu ada jalan yang membawa secercah harapan. Harapan yang dimaksud adalah kaum muda. Seharusnya memang demikian. Namun, kita mesti siap menelan pil pahit melihat kondisi pemuda sekarang ini. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Jawaban terakhir yang bisa dilontarkan adalah membentuk karakter pemuda yang berintegritas, satu kata dalam perbuatan.

Dalam membentuk karakter, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak praktis. Ini penting mengingat perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh setiap anak bangsa, terutama anak-anak muda masa kini.

Di samping kemampuan reflektif, kaum muda Indonesia juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Sebagaimana slogan learning by doing, dimana kebiasaan bertindak akan menjadi pengalaman yang selanjutnya membentuk kepribadian. Menggantungkan kemajuan pada tataran wacana tidak berarti banyak jika tidak ada agenda aksi yang nyata. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata. Karenanya, membentuk karakter kaum muda diperlukan kemampuan memaknai (rerleftion) serta bertindak (action). Hanya dengna begitu, harapan kaum muda membawa angin segar perubahan bangsa akan tercapai.

Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua anak muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, keterampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.

Zaman akan terus berlari dan menjauhi mereka yang tidak mau belajar dan berusaha. Terbukti, hanya orang-orang yang mau belajar dan berusaha yang mampu memimpin dan berada di garis terdepan peradaban. Sejarah telah berbicara banyak, bagaimana keberhasilan para pendahulu kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Kita semua berharap aroma perbaikan bangsa berasal dari para pemuda. Tentunya kita bisa optimis akan hal itu, sekiranya kaum muda punya karakter seperti yang disebutkan di atas.

Momentum sumpah pemuda baru saja berlalu dan kita tidak berharap peringatannya sekedar ritual tahunan belaka. Terserah bagaimana cara kita memperingatinya, karena yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai semangat yang dibawanya dalam konteks pembangunan bangsa yang lebih baik. Sekali lagi, sumpah pemuda mengajarkan kita bagaimana membentuk komitmen sebagai wujud kecintaan kita pada bumi pertiwi. Semangat ini tidak boleh berlalu begitu saja, mesti dijadikan bahan evaluasi serta refleksi terahadap sumbangan atau perjuangan kita pada bangsa.

wallahu a’lam bishawab

21 September 2011

Belajar dari Negara Pembelajar

Saya percaya bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dengan sendirinya, tanpa sebab. Selalu ada faktor X yang mengiringi perjalanan mereka. Untuk membuktikannya, kita bisa menoleh torehan sejarah yang mereka bangun. Apa saja yang mereka lakukan sampai meraih capaian menakjubkan yang bisa menginspirasi bagsa lainnya. Saya pikir, tidak ada yang benar-benar ajaib, semuanya adalah konsekuensi logis dari apa yang mereka perbuat.

Sebut saja, Inggris, Amerika, Jepang, bahkan China. Mereka adalah sekian dari negara-negara yang mampu menorehkan serta mencetak peradaban besar. Keberhasilannya berperan sentral dalam mempengaruhi arah peradaban. Boleh dibilang, mereka mendikte sejarah. Bagaimana tidak, Amerika dengan keunggulan militer berhasil menjadi polisi dunia. Begitu pula Jepang dengan kemampuannya mencetak barang berteknologi tinggi, murah, dan berkualitas. Inggris, China, serta negara maju lainnya juga demikian.

Seperti saya katakan sebelumnya, mereka tidak lahir dengan sendirinya. Berdiri sebagai bangsa kemudian tiba-tiba unggul, dan maju di segala bidang. Tidak demikian. 8 abad yang lalu, Eropa tidak ada apa-apanya dibanding peradaban lain, terutama Islam. Jangan sebut Amerika, Jepang, bahkan China, mereka tidak ada apa-apanya. Kebangkitan Eropa lahir setelah renaissance menguasainya, abad kegelapan hancur lebur. Disusul ditemukannya alat dan teknologi canggih yang berhasil mengubah nasib mereka, menguasai dunia.

Juga Amerika setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan Inggris melalui pertempuran heroik George Washington dan koloninya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Amerika yang dulunya tempat pembuangan, kini menjadi kekuatan terbesar dunia. Lain cerita dengan Jepang dan beberapa negara serumpun, perjuangannya lebih heroik lagi. Bom atom yang merata-tanah-kan Hiroshima dan Nagasaki tidak meruntuhkan superioritas negara matahari tersebut. Malah, mereka hanya butuh waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi raja, mengungguli Amerika. Kebangkita Jepang diikuti tetangganya, Korea dan China. Nilai  ajaran Confucius tertanam kuat di benak mereka. Memberi semangat kebangkitan luar biasa.

Kalau mau sedikit jeli, sebenarnya bisa ditarik benang merah yang menghubungkan negara-negara maju tersebut. Selain faktor internal (budaya) masing-masing. Apa rahasia sukses mereka? Menjadi pembelajar yang cepat. Ketika penguasa abad kegelapan Eropa terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban Islam, seketika mereka menjadi pembelajar. Transfer ilmu marak terjadi sampai pengetahuannya melebihi sang guru, Peradaban Islam. Amerika yang tertinggal tidak kalah cepat belajarnya. Banyak ilmuwan lahir yang nantinya berpengaruh besar dalam memajukan Amerika.

Paling ajaib dari semua itu adalah Jepang. Mungkin banyak yang menyangka bahwa itu merupakan keajaiban. Saya tidak percaya! Keajaiban hanya untuk orang tolol yang tidak memahami titik persoalan. Jepang, pasca restorasi Meiji menjadi negara pembelajar tercepat. Saking besarnya minat belajar, mereka mendatangkan guru atau ahli yang gajinya lebih tinggi dari kaisar mereka! Pemimpin tertinggi Jepang. Bayangkan! Usai PD II, otomatis Jepang lumpuh total. Siapa yang menyangka keunggulan teknologi dikuasai oleh Jepang 30 tahun kemudian. Amerika sendiri, jelas-jelas sebagai pemenang PD II, terkaget-kaget. Tapi kenyataan telah berbicara, sejumlah merk dagang asal Jepang merajai duni. Sebut saja Sony, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya. Sekali lagi, ini bukan keajaiban yang tumpah dari langit. Melainkan, atas usaha, kegigihan, kerja keras, niat belajar yang dimiliki rakyat Jepang.

Tambahan pula, saat ini rakyat Jepang adalah pembaca buku terbanyak di dunia. Rata-rata mereka menghabiskan 40 buku dalam setahun. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang hanya menghabiskan sekitar 20 buku . Tidak usah sebut Indonesia, tidak bisa dituliskan, malu! Anda tentu mengerti maksud saya.  

Yah, mereka, yang disebut di atas, adalah negara-negara pembelajar. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar adalah pengetahuan. Tanpanya, kita hanya bisa jadi pengekor, penurut, dan terjajah. Mungkin, penggambarannya terlalu dramatis, tapi demikianlah kenyataannya. Sampai di sini, anda pasti tahu faktor X yang saya maksud.
Jika melihat orang besar, tirulah apa yang dia lakukan. Confucius
Banyaklah belajar, karena dalam pengetahuan selalu ada jalan...

Wallahu a'lam

19 September 2011

Still Enjoying My Life

Saya perhatikan di beberapa postingan terakhir, kok makin ngelantur isi blog ini. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Emang sih akhir-akhir ini saya stres berat. Bagaimana tidak, urusan ini, soal itu, kebanyakan tertimbun dalam satu kata: MASALAH. Benar-benar tidak ada yang beres. Sampai-sampai berat badan saya turun karenanya. Belum lagi masalah blog ini, seperti yang saya ceritakan kemarin. Untungnya tidak ada Baygon cair dekat sini, kalau ada, pasti saya sudah tenggak sedari tadi.

Sehabis puasa kemarin saya ketemu mantan cewek (yah, dia jadi homo sekarang). Bukan, maksud saya mantan pacar. 3 hari setelah lebaran, saya berkunjung ke rumahnya. Mencoba membangun silaturahmi kembali yang pernah terputus. Niatnya sih cuma mau berkunjung sampai saya memikirkan niat yang lain. Kenpa? Ternyata dia tambah manis dan sayang untuk dilewatkan (emangnya dia acara TV). Ampun deh, saya meleleh seketika. Untungnya saya bawa banyak rokok, setidaknya bisa mempertahankan "kelelakian" saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengubah haluan. Minta balikan. Pilihan yang paling saya benci. Tapi apa boleh buat, iman saya terlalu lemah untuk menahan diri.

Setelahnya, kami terus berkomunikasi. Saya pikir ini kesempatan yang sangat baik. Lagi pula, saya punya firasat yang baik dalam urusan yang satu ini. Akhirnya, niat balikan saya utarakan. Oh no, dia minta diberi waktu untuk berpikir. Perasaan saya terluntah jadinya, tidak tahu mau ditaruh dimana. Tapi sudahlah, masalah dia mau jawab apa, terserah dia. Toh, kewajiban sebagai laki-laki (Indonesia) sudah saya utarakan.

Saya masih di sini, dan ingin terus melanjutkan..
Kalau ada yang mengira saya stres karena "digantung" (yah, saya sudah dikubur 2 hari lalu). Tidak! Urusan seperti itu tidak pernah saya pusingkan. Masih ada yang lebih parah. Begini ceritanya, ketika itu saya jalan keluar sama cewek (pacar). Setelah keliling sana-sini sampai uang saya ludes, kami pulang. Tiba di depan rumahnya, dia minta saya turun dari motor. Saya turuti permintaannya dan bertanya "kenapaki? Dia diam saja. Setelah merenung tidak jelas selama beberapa menit, dia bicara juga akhirnya. Entah, setan apa yang merasukinya, dia langsung bilang, "kita putus". Belum sempat saya bertanya alasannya, dia sudah kabur menelinap lewat pagar rumahnya. Saya bengong tidak tahu harus gimana. 

Motor saya melaju kencang setidaknya sampai di Taman Makam Pahlawan(TMP). Tepat di depan SPBU, beberapa meter jaraknya dari TMP, mesin motor saya matol alias mati total. Setelah mengecek, mampus...! Bensinnya habis. Yang benar saja, sudah jam satu pagi bung, tidak ada lagi penjual bensin yang buka. Padahal jarak rumah masih beberapa kilometer lagi.

Penderitaan saya tidak sampai disitu. Bencong yang tiap malam mangkal dekat TMP semakin mendekat. Mungkin mereka pikir saya adalah lelaki hidung belang pelanggan Nusantara (lokalisasi PSK). Karena tidak punya banyak uang, makanya singgah untuk melampiaskan libido di samping batu nisan dengan bencong. Benar saja, salah satu dari mereka  menawarkan diri, "20 ribu aja mas". Padahal ketika itu saya mau berteriak, "hey, kita ini satu spesies, jadi jangan ganggu eikke". Karena takut dikeroyok, apalagi otot mereka luar biasa besar dan sangat kekar, maka saya memutuskan untuk kabur secepatnya.

Sampai di kostan, keringat saya bercucuran ditambah perut keroncongan. Belum lagi napas yang tersengal, tidak teratur. Malam yang menyedihkan. Bayangkan, saya menghabiskan uang jajan selama sepekan hanya dalam satu malam, diputuskan, dikejar bencong pula. Tapi karena kecapean, saya akhirnya tertidur pulas. Esoknya saya puasa sampai seminggu berikutnya.

Saya tidak menyesal karena diputusin, masih banyak kok cewek jomblo yang berkeliaran di sana sini. Saya hanya menyesali betapa tololnya saya karena mau menghabiskan uang demi cewek tidak tahu diri. Sampai disini saya berpikir, kenapa aib ini saya tuliskan di blog.

Sudah saya katakan, saya pantang stres hanya karena urusan cewek. Tidak! Saya stres kalau tidak punya uang. Usus saya sudah protes, unjuk rasa dan sebagainya gara-gara disuapi indomie selama 3 hari. Itu pun cuma 2 kali sehari. Pesan saya: kalau saya meninggal karena kelaparan atau usus buntu karena indomie, tolong sampaikan ke indofood dan masukkan dalam CERITA INDOMIE. 

Se-tragis apapun nasib saya, tetap tidak ada alasan untuk mengakhirinya. Seribu alasan masih ada kenapa saya harus tetap melanjutkan hidup. Saya yakin, banyak orang yang mencintai saya. Sama halnya dengan saya yang juga mencintai banyak hal dalm hidup ini, mulai dari pekerjaan, teman, keluarga, sampai cewek tetangga kostan. Saya masih enjoy. Makan nggak makan yang penting happy, hehe...

Saya hanya mau menjejalkan kata lagi, lagi, dan lagi...:D


13 Juni 2011

Plato Menggugat Demokrasi

Filsuf besar Yunani Kuno, Plato (428-348 SM) pernah berkata: "bisa saja demokrasi menjadi mimpi buruk dalam sistem pemerintahan". pertama: demokrasi bisa mengarah pada gerombolan 'mafia' pemuas hasrat sesaat. Kedua: demokrasi yang dikuasai pandir yang hanya pintar beretorika. Ketiga: demokrasi mengarah pada intrik pertikaian. Menghindari hal tersebut, Plato mengajukan filosof-raja sebagai kepala negara. Filosof tidak diragukan lagi sebagai pencinta kebenaran mestilah mengambil keputusan sesuai prinsip kebenaran dan keadilan. Pesan Plato cukup jelas, pemimpin harus cinta kebenaran dan mampu menegakkan keadilan.

Gugatan Plato sangat mungkin benar. Tidak perlu kembali ke Zaman Plato untuk membuktikannya, lihat saja negara kita sekarang. Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai negara penganut demokrasi semakin tidak becus saja. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, kapitalisme berwajah neoliberal, dan sekelumit masalah lain. Pemerintah yang seharusnya menjaga dan membangun negara tercinta, malah sibuk bersafari keluar negeri, menjajakan kekayaan alam pada investor asing, beretorika, dan pekerjaan konyol lainnya. Belum lagi budaya korupsi yang mengakar dari RT sampai pejabat teras. Akhirnya, kekuasaan diidentikkan dengan ladang korupsi. Akibatnya, pedagang, petani, akademisi, pengusaha sampai bencong ikut meramaikan Pemilihan Umum. Walaupun mungkin beberapa di antara mereka memang natin tulus, tapi yakinlah sebagian besar dari mereka bertujuan  untuk menduduki kursi empuk di gedung-gedung pemerintahan.

Belum lagi, ongkos demokrasi yang tidak kalah menterengnya. Tidak sedikit kandidat (bupati sampai Presiden) rela menggelontorkan milyaran rupiah demi kekuasaan. Seorang teman berseloroh, "ah, kekuasaan itu seperti barang dagangan dan pencari kekuasaan adalah pengusaha (pedangang,red)". Memang terlihat skeptis, tapi pernyataan teman saya ada benarnya. Korupsi disinyalir sebagai upaya 'mengembalikan modal'. Masih untuk kalau hanya mengembalikan modal. Toh, tidak ada pedagang mau rugi.

Artikel ini tidak akan selesai untuk menguraikan masalah yang mendera Bangsa Indonesia. Baiklah, kita kembali ke pokok pembicaraan. Pertanyaan yang paling mungkin kita lontarkan: sebagai sistem, benarkah kemusykilan terjadi karena sistem kita, demokrasi? Sistem multi-partai yang dianut pascarformasi yang dianggap kemajuan pesat bagi demokrasi malah semakin menenggelamkan Indonesia. Sekarang korupsi sudah dilakukan berjamaah. Istilah politisi, "yah, kita sama-sama tahulah...hehe". Apakah demokrasi yang patut dipersalahkan?

Anas Urbaningrum dalam acara Kuliah Tamu beberapa waktu lalu di Universitas Hasanuddin, menegaskan "perubahan mendadak pascareformasi membuat rakyat, termasuk politisi dan pemimpin kita, kaget. Reformasi dipahami secara sempit. Setiap pemilihan umum dianggap sebagai gelanggang kekuasaan, siapa saja boleh terlibat dan bertarung dalam politik. Inilah yang saya sebut demokrasi artifisial. Tapi, kita harus optimisi untuk mengubah demokrasi yang dipahami salah (artifisial,red) menuju demokrasi substansial, yaitu demokrasi yang beretika, menjunjung tinggi moral, dan mensejahterahkan bangsa sebagaimana cita-cita founding fathers kita". Perlu dipahami bahwa demokrasi semata alat dan hasilnya sangat bergantung bagaimana kita menggunakan alat tersebut.

Kita tidak pernah berharap gugatan Plato menjadi kenyataan, bahwa demokrasilah yang jadi biang keladinya. Hemat penulis, tidak perlu mengkambing-hitamkan demokrasi. Seperti kata pepatah, "daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin". Memperbaiki dan mencari pemimpin berintegritas yang memahami demokrasi sebagai alat untuk mensejahterahkan bangsa jauh bermanfaat.

Salam demokrasi...!

1 Mei 2011

Tidak Ada Revolusi di May Day

Setiap Tahunnya 1 Mei dirayakan sebagai Hari Buruh Internasional. Lahir ketika Kongres Sosialis pada tahun 1889 di Perancis yang menetapkan 1 Mei sebagai hari Buruh Internasional dan mengeluarkan resolusi:
Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.
Resolusi ini mendapat sambutan luar biasa dari para buruh. Mereka mengistilahkannya dengan sebutan May Day sebagai simbol pelawanan terhadap segala bentuk penindasan terhadap kaum buruh. di beberapa negara, termasuk Indonesia, May Day ditetapkan sebagai hari libur Nasional.

Di Indonesia sendiri, peringatan May Day dapat dilaksanakan secara terang-terangan pasca tumbangnya Orde Baru. May Day sering diasosiasikan dengan komunis sehingga mustahil merayakannya pada masa Orde Baru. Barulah beberapa tahun terakhir, hari raya kaum buruh ini dapat dilaksanakan secara terang-terangan di Indonesia.

Hari buruh sering di identikkan dengan aksi/unjuk rasa massal, mulai dari buruh, petani, maupun mahasiswa. Jenis aksinya pun macam-macam, mulai dari aksi damai sampai aksi anarkis dan brutal. Jadi jangan heran kalau di Bulan April, aparat gencar-gencarnya menyusun strategi mengamankan hari buruh.

Banyak kalangan yang menganggap bahwa peringatan hari buruh merupakan bentuk perlawanan yang tersisa oleh kaum sosialis. hari buruh ini masih cenderung dilegalkan oleh pemerintah yang kapitalis sekalipun. Padahal semangat hari buruh berangkat dari upaya menghidupkan kembali komunisme yang menjamin perlawanan kaum proletar terhadap kaum borjuis. Hal ini bisa di analisa dengan teori kooptasi dan fakta (sekarang ini) bahwa hari buruh tidak akan meruntuhkan bangunan kokoh kapitalisme. 

Tuntutan utama kaum buruh adalah perbaikan nasib. Pengurangan jam kerja, kenaikan upah, jaminan sosial tenaga kerja, jaminan kesehatan, dll. Inilah sekelumit masalah yang kerap dihadapi kaum buruh dan mereka sering memperjuangkannya dengan unjuk rasa, pemogokan, dan segala bentuk penentangan terhadap pimpinan perusahaan.

Untuk menenangkan kaum buruh, banyak perusahaan yang membentuk serikat buruh sebagai mediator perjuangan kaum buruh. Seakan-akan kaum buruh punya 'saudara' yang akan membantu perjuangan mereka. Padahal ini hanya akal-akalan persahaan saja supaya kaum buruh tidak mogok ataupun unjuk rasa. Selain itu, perjuangan kaum buruh dianggap selesai ketika tuntutannya kabulkan pihak perusahaan, misalnya dengan kenaikan gaji (perbaikan taraf hidup), pengurangan jam kerja, dll. Akibatnya mereka akan tetap jadi buruh dan pemilik perusahaan masih akan terus mengendalikan perusahaan.
Kenyataan ini sangat berbeda dengan harapan Karl Marx, dimana unjuk rasa/perlawanan kaum buruh seharusnya ditujukan untuk merebut perusahaan/pabrik dari kaum borjuis (pemilik perusahaan) sehingga nantinya perusahaan akan dikendalikan langsung oleh kaum buruh. Inilah syarat terjadinya revolusi buruh.

Jika May Day tetap dimaknai sebagai hari memperjuangkan kenaikan gaji, maka buruh akan tetap jadi buruh dan pemilik perusahaan tetap langgeng dengan kekayaannya. Kapitalisme pun semakin kokoh. Kesimpulannya, tidak ada revolusi di May Day

Badan Memar Plus Utang 40 ribu Rupiah

Jumat, 29 april 2011 adalah Hari yang tidak akan saya lupakan. Kejadian mengejutkan tiba-tiba saja menimpa yang mengharuskan tubuhku tergolek di ruang UGD RS. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Mulai dari kedua kaki, pinggang, kedua tangan sampai kepala sebelah kanan, semua tidak luput dari merahnya betadine. Entahlah mungkin saja menemui hari yang sial, walaupun saya sedikit bersyukur karena ‘partner’ kecelakaan yang dirawat di bilik sebelah terancam amputasi kedua kakinya sedangkan saya hanya luka lecet dan memar akibat benturan dengan aspal keras.

Ketika itu, pukul 11.40 saya mengajak teman Jumatan di mesjid kampus UNHAS. Karena jaraknya agak jauh dari Fakultasku, Farmasi, kami memutuskan untuk naik motor. 11.45 kami tiba di Mesjid untuk menunaikan kewajiban yaitu shalat jumat. Tepat jam 1 siang shalat jumat usai dan kami keluar dari mesjid. Rencananya, saya hanya akan mengantar teman sampai di depan gedung rektorat. Kebetulan, fakultas kami tidak begitu jauh dari gedung rektorat. saya mau pulang ke kostan ganti baju sekalian makan siang.

Banyaknya kendaraan, terutama motor, yang keluar dari mesjid kampus dan memenuhi ruas jalan di kampus, saya memutuskan  untuk berjalan pelan. Sesampai di depan gedung rektorat, teman turun dari motor dan saya melanjutkan perjalanan pulang.

Musibah akhirnya datang juga. Belum 100 meter dari gedung rektorat, Honda Beat berpenumpang 2 orang melaju dari belakang dan berniat menyalip motor saya dari kanan.Sialnya, stir motornya tersangkut di tali gas motor saya. Saya terpental dan tergeletak di aspal dengan motor yang terseret di pinggir jalan. Sedangkan Honda Beat tersebut terus melaju walaupun keseimbangan jelas-jelas sudah hilang. Bruuuk...! Cowok si joki Beat terhempas di trotoar, tulang kakinya patah, dan tak sadarkan diri sedangkan si cewek (yang dibonceng) sedikit beruntung karena dia terlempar masuk ke taman melewati trotoar. Hanya lutut yang lecet, walaupun dia terlihat sangat shock.

Untungnya, ada teman yang kebetulan lewat. Dialah yang mengantar saya ke Rumah sakit. Saya baru benar-benar sadar setelah setengah jam berlalu di Rumah Sakit. Ternyata sekujur tubuh sudah dipenuhi luka. Alhamdulillah, tidak ada luka yang serius. Di ruangan lain ‘partner’ kecelakaan saya juga sudah sadarkan diri. Seisi UGD, hanya teriakannya yang terdengar ketika lukanya dibersihkan dengan ringer laktat. Yah, saya jauh lebih beruntung.

Satu jam kemudian setelah dokter memberi resep, saya diijinkan meninggalkan rumah sakit. Tanpa sempat berkenalan dengan ‘partner’ kecelakaan saya meninggalkan Ruang UGD. Karena uang di dompet hanya 10 ribu rupiah, biaya administrasi sebanyak 40 ribu rupiah dilunasi oleh teman.

Akhirnya, saya meninggalkan Rumah sakit dengan luka memar sepanjang tubuh plus utang 40 ribu rupiah. Akh...

20 April 2011

Sigmund Freud dan Hasrat Kebinatangan Manusia

Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam psikologi. Ia lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia, yang sekarang dikenal sebagai bagian dari Republik Ceko. Sumbangannya pada teori psikologi sehingga dijuluki sebagai bapak psikoanalisa. Pandangannya tentang motif atas perilaku manusia tetap hidup sampai sekarang namun  banyak mengundang kontroversi. Menurutnya, manusia itu layaknya “binatang yang haus darah” yang selalu menebar ancaman bagi sesamanya. Itulah mengapa Teori Freud tidak bisa dilepaskan dari peradaban manusia. Freud mampu membedah peradaban dengan teori represinya dan sampai pada kesimpulan bahwa peradaban adalah bentuk penindasan terhadap diri manusia karena mengharuskan mengikuti ribuan aturan yang mengekang “sifat asli” manusia yang bersumber dari id. Menurutnya, inilah penyebab “ketidakbahagiaan” manusia sehingga satu-satunya cara emansipasi adalah dengan menolak peradaban (budaya) manusia. “Kita harus cabut dari system” tegas Freud.Bukankah itu sangat naïf?


Freud berargumen bahwa pikiran manusia terbagi atas tiga hal yaitu id, ego, dan super ego. Id merupakan dorongan dan impulse ingsingtif yang dikendalikan oleh prinsip kenikmatan. Ia tidak punya pemahaman akan realitas dan tidak punya batasan diri. Id merupakan kumpulan hasrat liar yang brutal dan selalu ada dalam diri manusia. Sedangkan ego merupakan “perayu” bagi id supaya bisa realistis dengan tuntutannya agar bisa menunda pemuasan id. Ego inilah yang bertugas menjaga luapan id supaya bisa tetap bersabar menunggu dan tentunya tidak macam-macam. Sayangnya manusia tidaklah begitu rasional. Kadangkala egoid. Disinilah peran super ego, jenis ketiga dari pikiran manusia. Super ego bertindak sebagai sekutu ego untuk menyensor hasrat-hasrat liar id dengan menggunakan perasaan malu dan salah, sehingga id bias tetap “adem ayem” dalam diri kita. tak bias berbuat apa-apa dalam menghadapi


Dari tiga bagian pikiran di atas, id dan super ego lah yang sangat bertentangan. Ide pokok teori Freud bahwa dengan berkembangnya super ego, konflik instingtif tidak akan pernah tuntas. Hasrat yang paling primitive itu tidaklah lenyap, melainkan di represi. Setiap saat, hasrat “kebinatangan” bisa saja keluar dan meluap ketika super ego lemah. Namun, dalam kehidupan bermasyarakat, id ini selalu saja ditekan dan seperti panci uap. Uapnya tidak pergi, cuma menumpuk (ketika kita frustasi dalam kehidupan bermasyarakat). Hanya ada katup kecil tempat keluar uap yang bisa mensublimasi sedikit hasrat instingtif. Jika panas panci bisa tertahankan, maka tutupnya tidak akan terlepas, tapi jika panasnya tak tertahankan maka pancinya akan meledak. Neurosis (ganggua psikis) muncul karena usaha manusia untuk menjaga agar tidak meledak dan menggunakan cara eksentrik untuk mensublimasi hasrat-hasratnya. Sebagaimana kata Freud, “seorang menjadi neurotik karena ia tidak sanggup lagi jumlah frutasi yang dibebankan masyarakat padanya demi idealnya kebudayaan.


Memang diakui bahwa banyak orang mengalami neurotik. Namun, seandainya demikian maka semua anggota masyarakat akan menderita neurotik. Freud mengajukan pertanyaan radikal dalam bukunya Civilisation Abd Its Discontents, “seandainya peradaban didirikan atas dasar penindasan insting,” mungkinkah perkembangan peradaban akan membuat orang semakin neurotik. Sehingga ketika Freud ditanya tentang menghilangkan rasa frustasi dan ketidakbahagiaan, dia menjawab, “manusia harus membebaskan hasrat id-nya, dengan begitu manusia akan menjadi dirinya sendiri.” Teori Freud inilah yang kemudian banyak diadopsi oleh kaum “eksentrik” seperti punk. Anda bias melihat sendiri sejauh mana kebenaran teori ini dengan melihat komunitas punk dan aktivis budaya tanding lainnya…

27 Januari 2011

Crop Circle Asal-asalan

crop circle di Kab. Sleman, Yogyakarta
Fenomena crop circle akhir-akhir ini menjadi pemberitaan di sejumlah media. Bagaimana tidak, crop circle yang mencul berurutan, di Bantul dan Sleman. Klaim ini kontan memicu warga untuk berbondong-bondong melihat secara langsung fenomena unik tersebut. Perdebatan pun muncul di berbagai kalangan, terutama ilmuawan. beberapa ilmuawan bahkan menuduh crop circle merupakan pemalsuan canggih. Tapi hingga kini tak ada yang mengaku sebagai pembuat crop circle yang terbentuk dalam semalam ini.  Disinyalir, crop circle ada kaitannya dengan kaum pagan.
Crop circle Chilbolton, Inggris, hanya salah satu bentuk crop circle unik yang sulit dinalar manusia. Di Canada, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, fenomena crop circle ini juga terjadi. Citra mahkluk hidup seperti kalajengking, bunga matahari, lingkaran-lingkaran dan berbagai rangkaian gambar yang unik menunjukkan kecerdasan pembuatnya. Sayangnya muncul keraguan tentang keaslian crop circle ini, pasalnya kemunculan crop circle umumnya mucul di daerah yang mudah dibentuk, misalnya daerah pertanian.
Memang tidak semua crop circle berbentuk rumit dengan pesan rahasia seperti di Chilbolton. Crop circle yang ditemukan di Sleman dan Bantul, Yogyakarta tergolong crop circle sederhana. Besar kemungkinan hanya hasil karya iseng beberapa orang seperti kesimpulan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Menurut Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Sri Kaloka, ada sejumlah ciri jejak crop circle itu buatan manusia. Ciri itu adalah:
  1. Rebahan batang padi karena akibat ditekan hingga tercabut sampai ke akar-akarnya
  2. Pola rebahan banyak yang tidak simetris antara satu dengan lainnya
  3. Ditemukan lobang bekas ditancapkannya tongkat atau pipa di tengah lingkaran dan di sisi-sisi lainnya
  4. Di bagian tengah juga ditemukan ada jalan dan jejak manusia
  5. Di sekitar pola lingkaran dan pola tengah ditemukan beberapa batang padi yang tidak tertekan sampai roboh 
  6. Tidak ditemukan adanya bekas-bekas kebakaran di sekitar lingkaran termasuk sisa pembakaran mesin
"Ini murni buatan manusia," kata Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Sri Kaloka.

sumber: http://www.tempointeraktif.com

8 Juni 2009

Flu Babi, Flu Burung, Globalisasi; Rencana Sistemik

Melihat berbagai fenomena dunia, ada hal menarik dan menggelitik jika kita melihatnya secara komprehensif. Akan kita dapatkan benang merah jika semuanya dihubungkan. Betapa sebuah rencana sistemik yang direncanakan oleh sekelompok orang, dimana rencana ini mampu menembus semua sisi kehidupan manusia. Semua perubahan ini bukan kebetulan, tapi sebuah rencana rapih yang telah direncanakan secara matang dan berkesinambungan yang mengarahkan manusia pada satu muara kehidupan. Namun, kebanyakan dari kita tidak menyadarinya sama sekali.

Isu globalisasi, mode, terorisme adalah bagian dari rencana tersebut. Dalam hal ini media massa menjadi tombak ampuh. Sebagai contoh, dalam setiap pidato kepresidenan AS, tidak kurang dari 20 kali sang presiden mengulang kata terorisme. PD II, perang Vietnam, Tragedi 11 September, Perang Irak, Agresi Israel, Flu Babi, Flu Burung, sampai pada Flu singapura tidak muncul begitu saja, ada tujuan dari semua itu. Kampanye stop global warming yang marak di TV ternyata hanya kedok. Faktanya, pembabatan hutan tetap terjadi dan yang melakukannya ternyata si pembuat kampanye itu sendiri. Aneh bukan…

AS yang dikenal sebagai pembela HAM, bangsa pencinta kedamaian ternyata hanya topeng bermuka manis yang terus berusaha meninabobokan. Supaya kita menutup mata terhadap kebejatannya. Faktanya, pembantaian semasa PD II, Perang Vietnam, dan Perang Irak adalah hasil kerja AS. Sangat Kontradiksi jika menyimak pidato pertama barrack Obama setelah dilantik menjadi presiden. Mulut manis mereka bicara perdamaian, di lain pihak mereka membantai jutaan orang tak bersalah di Irak. Sungguh ironis…

Globalisasi ternyata hanya sebuah symbol untuk mengarahkan manusia pada satu kehidupan. Kebebasan yang menjadi semu. Kecantikan di standarisasi, mode di standarisasi, kehidupan social ekonomi distandarisasi, pendidikan distandarisasi, sampai agama pun distandarisasi dengan cara menentukan sejauh mana agama bisa berperan dalam kehidupan. Karena malu dibilang norak, akhirnya sebagian besar dari kita tercengkram olehnya. Walaupun, cuma ikut-ikutan seperti kambing congek…

Bagaimana pendapat anda? Mohon komentarnya…