Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

28 Januari 2024

Perbincangan Sore

Sore itu duduk menunggu giliran di tukang cukur langganan. Pangkas rambut khas Madura yang letaknya tak jauh dari rumah.

Tak lama menunggu, giliran saya tiba. Dia menanyakan rambut dipotong seperti biasa atau ada permintaan khusus. Pangkas seperti biasa, pinta saya.

Seperti biasa, karena sudah cukup akrab dia memulai pembicaraan random seperti langganan lain sambil menjalankan tugasnya. Katanya dia baru saja pulang kampung di Madura bersama anak dan istrinya dengan menghabiskan uang yang ditabungnya selama beberapa bulan terakhir. Alhamdulillah, kata saya, karena tidak banyak perantau yang bisa rutin pulang kampung berkumpul dengan sanak saudara.

Awalnya dia mengutarakan keinginannya untuk membeli ruko kecil untuk dijadikan tempat usaha. Tempat pangkas rambut, tentu saja. Selama ini dia menjalankan usahanya dengan berpindah-pindah lokasi karena ruko yang dikontrak masanya selesai. Menurut pengalamannya, pemilik ruko akan menaikkan harga setelah beberapa tahun. Masalahnya, dia harus memulai lagi dari awal untuk mencari langganan tetap kalau pindah di lokasi yang baru. Kondisi ini seperti siklus yang tak kunjung berakhir selama bertahun-tahun sejak dia mencari peruntungan di rantau.

Dia rutin menabung, tetapi tabungannya tak pernah cukup untuk sekedar membayar uang muka ruko. Selalu habis tiap kali pulang kampung. Begitu kondisinya setiap tahun.

Tibalah saat saya menyampaikan pandangan tentang menabung. Rugi menabung karena nilai uang akan tergerus inflasi dibanding bunga yang ditawarkan oleh bank. Lebih bagus dialihkan ke aset investasi seperti reksadana (dia tidak mengerti tentang reksadana) atau emas batangan yang bisa dibeli di Pegadaian.

Tapi kunci awal adalah jangan ada utang atau cicilan. Saya tidak anti praktik riba, tetapi sedapat mungkin dihindari. Faktor utama kegagalan membangun pondasi keuangan adalah cicilan. Alhamdulillah, saya melunasi cicilan di bank pada akhir 2018 dan tidak berniat lagi berutang. Saat ini saya fokus menguatkan pondasi keuangan dan menumbuhkan passive income dari instrumen investasi seperti reksadana, emas, dan saham.

Jadi kalau tujuannya mau beli ruko maka sebaiknya fokus di investasi emas batangan dan hindari cicilan konsumtif. Jangan taruh di tabungan biasa karena kita gampang tergoda menggunakan uang di luar tujuan awal.

Lalu, ceramah dimulai, haha.

Usut punya usut, dia punya beberapa cicilan konsumtif. Alasannya, sukar memiliki sesuatu tanpa kredit. Tak kuat menunggu dan bersabar, jadi mending nyicil supaya hasilnya kelihatan berupa benda (entah motor, ponsel, atau lainnya). Ceramahnya menyinggung kemana-mana yang intinya ingin membenarkan apa yang telah dilakukannya selama ini. Saya coba mendebat dengan hati-hati. Hasilnya nihil sepertinya.

Saya berhenti mendebat. Dalam hati, ngapain mengeluh ke saya. Hikmahnya adalah banyak kita memiliki pandangan berbeda dan itu wajar. Terkadang kita mengeluh bukan untuk menerima masukan tetapi hanya ingin validasi dan pembenaran dari orang lain.

Tak terasa, dia menuntaskan tugasnya dengan baik. Saya memberikan haknya seperti biasa. Sekian.

9 November 2023

Pulang Kampung

Tradisi pulang kampung selalu spesial bagi sebagian besar orang, termasuk saya pribadi. 19 tahun berlalu sejak saya untuk pertama kalinya meninggalkan kampung untuk menempuh pendidikan, pulang kampung selalu istimewa dan memberikan kesan tersendiri. Meskipun perjalanan merantau kala itu tidaklah begitu jauh, tetap saja momen pulang setiap 1 atau 2 minggu sekali adalah peristiwa yang dirindukan dan selalu dinanti. Bahkan ketika perjalanan pulang tidak sederhana dan mudah lagi (berbayar pula!), melewati perjalanan darat hingga berjam-jam lamanya disambung dengan pesawat udara, rutinitas pulang kampung tetap saya lakukan.

Nasib siapa yang tahu. Saya membangun keluarga dan rumah di perantauan yang memastikan saya akan menjalani proses pulang kampung seumur hidup. Tetapi kembali lagi, nasib siapa yang tahu, entah besok lusa saya akan menetap hidup di kampung lagi.

Mungkin sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, saya anak kedua dari dua orang saudara. Tidak mungkin bertambah lagi. Alasan pertama, ibu sudah menopause dan kedua, ayah saya sudah meninggal. Kakak menetap di kampung dengan profesi petani, saya di perantauan sebagai profesional di bidang asuransi kesehatan sosial. Kakak berprofesi sebagaimana ayah kami, petani tentu saja, sedangkan saya bekerja di bidang yang sangat berbeda. Pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tidak berlaku bagi saya. Rasanya saya jatuhnya kejauhan.

Karena pekerjaan kami berbeda, perjuangannya juga beda. Kakak memegang gagang cangkul, berpindah dari kebun yang satu ke kebun lain berharap cengkeh atau mericanya bertahan hidup dengan panen melimpah setiap tahun. Saya sendiri bekerja dengan memutar otak, menjadi budak korporasi yang cekatan, rapat sana-sini dalam gedung ber AC nan sejuk.

Kembali ke pulang kampung. Tepat seminggu lalu ketika perjalanan bersama kakak dari kota kembali ke kampung, kami banyak bercerita seperti biasa. Dia meminta saran untuk anaknya yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin. Bukan tanpa alasan sebenarnya, pertama saya juga alumnus kampus tersebut dan kedua, pekerjaan saya terbilang mapan bermodalkan ijazah dari kampus tersebut.

Saya tidak menjelaskan secara teknis. Tetapi intinya kira-kira begini. Pertama, selesaikan yang telah dimulai, yaitu memperoleh ijazah sebagai modal administrasi. Ibaratnya, ijazah adalah kesan pertama. Di Indonesia, ijazah memperbesar peluang untuk sukses, karena kita akan diberi kesempatan. Kalau tidak punya ijazah, peluang dan kesempatan menjadi jauh lebih sempit. Ada orang sukses kaya raya tanpa ijazah, tapi hanya sedikit.

Kedua, keistimewaan keluarga kita (kami berdua khususnya) unik, dalam kacamata pribadi saya. Saya katakan, perjuangan kita berbeda, pun dengan tingkat kesulitannya masing-masing. Bertani dan berkantor cara berjuangnya berbeda, tapi tidak derajatnya. Sama belaka, sama-sama mulia. Untuk bertahan dan maju, masing-masing kita wajib memiliki etos kerja prima, adaptasi di segala situasi, dan kuat menahan lelahnya berjuang. Istilah kerennya, resiliensi. Sifat yang harus kita wariskan ke anak-anak kita.

Kakak saya memandang jauh keluar jendela mobil yang melaju pelan. Memandangi hamparan sawah kering kerontang akibat kemarau panjang. Mengiyakan tanpa berkata-kata. Dia mengisap rokok Surya penuh hikmat. Di balik kemudi mobil, saya mengintip lewat spion, menelan liur yang nyaris meleleh.



29 November 2019

I'm Back


Tiga tahun berlalu tanpa postingan di blog. Tidak ada aktivitas, bahkan draft tulisan pun tidak ada. Meski sebelumnya juga tidak rutin setiap bulan, tapi 3 tahun tanpa tulisan rasanya kok kelewatan.Tapi itulah kenyataannya.

Tiga tahun terakhir adalah salah satu periode terbaik dalam hidup saya. Berkeluarga sejak akhir 2016, anak pertama lahir tahun 2017, rutin olahraga di tahun 2018, dan 'kurus' di tahun 2019! Itulah rentetan momen sehingga saya harus kembali menulisnya di sela 'ketidaksibukan' di kantor. I,m back!

Saya percaya setiap orang punya momentum atau titik balik dalam hidupnya. Kita mengenal Kolonel Sanders yang berhasil mewaralabakan KFC pada usia 65 tahun dan banyak cerita heroik lain dalam hidup seseorang yang berhasil mengubah hidupnya. Tentu saya tidak akan membandingkan apalagi mensejajarkan perjalanan hidup saya dengan Kolonel Sanders. Tapi bagi saya, titik balik hidup selalu spesial bagi siapapun, sekecil apapun perubahan itu.

Memutuskan nikah menjelang usia 30 tahun adalah salah satu keputusan terbesar. Ada banyak pertimbangan di sana serta tantangan di awal pernikahan. Syukurnya mental saya cukup siap untuk mengarungi gelanggang pernikahan. Walaupun perjalanan 3 tahun ini belumlah menjadi pembuktian yang cukup, tetapi ada banyak alasan rumah tangga kami akan baik-baik saja hingga seterusnya.

Momentum kedua dari tiga tahun paling berkesan adalah saya berhasil mengubah hidup. Tepatnya, berat badan! Menderita obesitas sejak tahun 2010 awal sungguh tidak mudah. Segala cara sudah ditempuh untuk mengoreksi berat badan. Pernah berhasil, tetapi kebanyakan gagal. Puncaknya, timbangan badan menunjuk angka 84 - 85 kg di tahun 2018. Belum lagi keluhan sakit pinggang, kepala, dan leher. lengkap sudah.

Saya pernah berpikir untuk pasrah bahwa usia 30-an adalah tahap awal memasuki masa tua. Sehingga wajar kalau 'nikmat sehat' akan Tuhan kurangi sedikit demi sedikit sampai kita menjemput ajal.

Lari...
Ya, larilah yang mengubah hidup dan menyelamatkan saya. Entah mengapa tiba-tiba saya rutin berlari. Tepatnya pada Agustus - September 2018 saya memulai rutinitas tersebut. Jika sejak tahun 2014 saya berlari sekali seminggu, dua minggu, bahkan sebulan sekali, kali ini saya mencoba 3 - 4 kali seminggu. Cukup mudah memulainya. Hanya perlu bangun lebih pagi, lari, dan konsisten.

Hasilnya luar biasa dan akan cukup panjang jika diuraikan dengan kata-kata. Intinya jika sebelumnya saya berpikir wajar jika usia 30 tahun mulai sakit-sakitan, sekarang usia 30+ adalah waktunya menikmati hidup berkualitas dan sehat sampai tua.

Di sinilah saya sekarang. Melanjutkan perjalanan dan tulisan...


Gorontalo, 29 November 2019

13 April 2012

Antara Cinta dan Egoisme

Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa mendefinisikan ego sebagai hasil pertarungan antara id dan superego. Id sebagai hasrat hewani sedangkan superego mewakili sifat-sifat "Malaikat". Ego merupakan jembatan penghubung keduanya dan tampak dalam keseharian seorang manusia. Ketika ego cenderung berkompromi dengan id, maka yang muncul adalah hasrat kebinatangan. Begitu pula sebaliknya, jika ego didominasi superego, maka seseorang akan menjadi layaknya "malaikat". Dalam bahasa agama, muncul istilah yang lebih sederhana yaitu Ahsani Tawiim dan asfala saafiliin. Apa yang coba diungkapkan Freud mempunyai keterkaitan dengan bahasa agama tentang sifat manusia, meskipun keduanya tidaklah sepadan. Freud memandang manusia cenderung melekatkan manusia pada sifat kebinatangan, sedangkan agama mengarahkan manusia pada derajat ahsani taqwiim.

Ego dalam istilah awam tidak sama dengan yang dimaksudkan Freud. Sepertinya terjadi pergeseran makna, entahlah. Freud dan awam mungkin akan berbeda penafsiran jika kita mengatakan, "orang itu egonya sangat tinggi". Apa pun saya tidak hendak berdebat di wilayah ini. Ego atau egois dalam istilah awam yang saya pahami merupakan bentuk penegasan "keakuan" individu. Bahwa dirinya berbeda dengan individu lain, merasa lebih penting, lebih baik, dan lebih berharga. Kita sering mendengar ucapan, "dia egois", maksudnya orang itu lebih mementingkan dirinya sendiri. Ego adalah tembok yang dimiliki oleh seseorang, yang menjadi dinding pemisah. Tingginya tembok itu tergantung bagaimana seseorang memandang dirinya dan orang lain. Semakin berbeda dirinya dengan orang lain, maka semakin tinggi pula tembok itu.

Lain ego, lain pula cinta. Cinta adalah bahasa universal yang menjadi lambang penyatuan. Cinta bermakna kedekatan, tulus, tanpa pamrih. Cinta melampaui materi, sebabnya ia tidak berjarak. Cinta tidak pula bergantung pada hukum alam karena hukum tersebut hanya berlaku pada wilayah materi saja. Karenanya cinta pada materi adalah gradasi terendah dari makna cinta itu sendiri. Dan saya percaya, bahwa nasehat "cintailah Tuhanmu" adalah ungkapan kedekatan kita pada Tuhan yang meniscayakan kecintaan kita pada segala ciptaan-Nya. Cinta adalah maaf.

Bagaimana pula keterkaitan antara ego dan cinta? Ego adalah wujud perbedaan sedangkan cinta adalah bentuk penyatuan. Bahwa ego atau "keakuan" yang menjadi sebab seseorang mengabaikan perintah Tuhan-Nya. Ego terkadang menjadi "tuhan" yang lain, yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Besarnya ego menyebabkan seseorang rela meninggalkan kekasih yang dicintainya. Tidak jarang seseorang mengabaikan hati dan perasaannya atas nama ego. Seseorang tidak memaafkan kekasihnya hanya karena ego. bahkan, seseorang rela menyakiti sahabatnya demi ego. Ego adalah bentuk penegasian cinta.

Tembok ego adalah halangan atas cinta. Ini yang seringkali tidak disadari. Tidak jarang kita melihat, dua sejoli yang saling mencinta, karena sesuatu dan lain lain, tiba-tiba keduanya bermusuhan dan saling benci. Musababnya, disaat mereka berucap cinta, mereka juga masih menyimpan ego yang akhirnya berwujud kebencian. Pun, jika keduanya saling memaafkan, maka mereka adalah orang yang mampu mengalahkan ego demi cinta. Sayangnya, tidak banyak orang yang bisa melakukan hal tersebut. Burete....fffiuh

25 Februari 2012

Jika

Jika kita senantiasa berdiri dengan kepala tegak ketika semua orang meninggalkan dan menimpakan kesalahan pada kita; Jika kita tetap percaya pada kemampuan diri di saat orang lain ragu dan berusaha mengubah keraguan itu menjadi keyakinan; Jika kita bisa menunggu dan tidak lelah menunggu, atau dibenci tapi tidak memendam kebencian, atau dibohongi tapi tidak membohongi.

Jika kita bermimpi dan tidak menjadi pemimpi; Jika kita mampu berpikir dan tidak berhenti di situ serta tidak menjadikan pikiran sebagai tujuan; Jika kita bisa bersikap sama pada sebuah kemenangan dan bencana; Jika kita bertaruh pada perjuangan untuk menang lantas kemudian kalah tapi tidak menyalahkan siapa pun meski satu hela napas.

Jika kita mampu menceritakan kebenaran yang pahit di depan seorang raja sekalipun; Jika kita tidak berhenti jika tidak diperhitungkan; Jika kita merasakan waktu adalah putaran detik, bukan menit, jam, dan hari. Jika kita  mampu melihat orang lain sebagai bagian dari alam semesta, diri kita yang tidak boleh disakiti; Jika kita menghargai alam sebagai harmoni ciptaan Tuhan yang luar biasa; Jika kita berbuat baik tanpa menunggu orang lain melakukannya.
Maka, kita telah menjadi manusia, kawanku!

8 Desember 2011

Kisah Sang Burung dan Petani

Konon seorang petani hendak menebang pohon di depan rumahnya. Di atas pohon
bernaung sepasang burung beserta anak-anaknya. Si anak mengadu pada ibunya,
"Bu, petani akan menebang pohon ini besok"
"Kata siapa?" Tanya sang ibu santai.
"Saya dengar sendiri bu, petani akan memanggil tetangganya untuk menebang pohon ini"
Si anak setengah berteriak.
Esoknya, pohon masih kokoh. Tidak jadi ditebang. Tampak petani masih duduk santai di beranda
rumahnya. Masih tergopoh ketika si anak burung mendatangi sang ibu yang bertengger di ujung ranting.
"Bu, petani akan menebang pohon ini besok. Serius"
"Ah, masa?" Sang ibu, lagi-lagi menjawab santai.
"Petani sedang menunggu keluarganya dari kampung seberang untu menebang pohon kita ini"
"Tenang saja, besok kita masih aman disini"
Hari berlalu. Pohon masih utuh. Tidak terlihat sedikit pun tanda, bahwa pohon akan ditebang.
Petani juga tidak terlihat sedari tadi. Si anak burung terbang ringan mengelilingi rumah petani.
Mengintip dari celah atap. Terlihat petani sedang mengasah pisaunya.
"Benar kata ibu, pohon ini tidak akan ditebang" Si anak terlihat sumringah.
"Kok kamu bilang gitu?" Tanya sang ibu.
"Bener bu, hari ini petani tidak meminta bantuan lagi kepada tetangga atau kerabatnya"
"Terus..."
"Buktinya, dia hanya mengasah pisau di dalam rumahnya"
Sang ibu tiba-tiba kaget. Bergegas cepat. Mengumpulkan semua anak-anaknya.
Si anak kaget melihat tingkah aneh ibunya.
"Ada apa bu? Si anak dengan muka terheran-heran.
"Cepat bergegas, kita pindah sekarang juga"
"Tapi bu..."
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya bereskan semua dan kita pindah. Pohon ini akan segera ditebang"
Sang ibu berbicara tegas dan lantang pada anak-anaknya.
Keesokan hari. Batang pohon sudah menganga akibat hantaman pisau. Sebentar lagi pohon rindang itu akan runtuh, tersungkur di bumi. Beruntung si burung sekeluarga. Pagi-pagi buta mereka sudah minggat jauh. Mencari tempat berteduh yang aman. Ternyata benar firasat sang ibu burung, pohon akan ditebang.

MENILIK cerita di atas. Pelajaran penting penting yang bisa ditarik adalah, sekali-sekali jangan menunda pekerjaan dengan berharap bantuan dari orang lain, padahal pekerjaan tersebut bisa kita lakukan sendiri. Menunggu orang lain menyelesaikan pekerjaan kita hanya akan menyita waktu yang lebih lama. Intinya, jika kita bisa, maka kita sendirilah yang mesti menyelesaikannya.

#1postondecember

14 November 2011

Bung Karno dan Jusuf Kalla Bicara Sejarah

JAS MERAH. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Idiom yang dipopulerkan Soekarno. Presiden pertama RI. Mengingatkan rakyatnya ketika itu. Iya, jangan melupakan sejarah. Apa yang kita nikmati adalah hasil rangkaian peristiwa masa lalu. Kemerdekaan yang kita capai adalah berkah sejarah. Makanya, jangan sekali-kali melupakannya. Maksud Bung Karno mungkin demikian.

Bung Karno percaya, sejarah adalah bagian vital bangsa. Beliau juga meyakini, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa pada sejarahnya. Dan bangsa yang tidak lupa pada sejarahnya adalah bangsa yang pandai berterima kasih. Berterima kasih pada pahlawannya. Berterima kasih pada pelajaran dan pengalaman pendahulunya. Berterima kasih atas pelajaran yang diberikan orang dahulu. Berterima kasih atas warisan budaya pelaku sejarah di masa lalu.

Memaknai sejarah sebagai kereta waktu yang terus melaju. Yang mengiri napak tilas perjalanan bangsa. Saya pikir kita perlu menempatkannya dalam posisi yang benar. Maksud saya, mengingat sejarah tidaklah cukup. Kita mesti memaknainya dengan benar. Memaknainya sebagai pelajaran, refleksi, dan evaluasi atas peristiwa di masa lampau. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Saya teringat dengan ucapan Jusuf Kalla (JK), ketika menyampaikan sambutannya di UNHAS beberapa waktu yang lalu. "Bukti kemunduran bangsa, ketika rakyatnya sibuk membanggakan sejarahnya". Pesan yang beliau hendak sampaikan, membanggakan sejarah tidak akan membuat kita lebih baik. Malah menjadi bukti nyata bahwa kita berada pada kemunduran nyata.

Sejarah adalah fase dimana pelajaran bisa dipetik untuk hidup yang lebih baik di masa depan. Pesan dua tokoh lintas generasi mungkin agak berbeda dalam memandang sejarah. Namun maksud keduanya jelas. Jangan lupakan sejarah, tetapi jangan pula membanggakannya.

10 November 2011

Ribut-ribut Tentang Komodo

Polemik seputar vote Pulau Komodo sebagai salah satu finalis 7 keajaiban dunia terus berlanjut. Ribet dan membingungkan. Banyak pihak menyalahkan satu sama lain. Tidak diketahui siapa yang benar atau salah.

Cerita berawal sebulan yang lalu. Ketika Jusuf Kalla (JK) ditunjuk menjadi duta Pulau Komodo untuk mempromosikan pulau tersebut menjadi 7 keajaiban dunia kategori alam. Untuk menang, Pulau Komodo mesti bersaing dengan 27 finalis lain dari seluruh penjuru dunia. Penentuan pemenang ditentukan berdasarkan jumlah dukungan. Bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu, vote langsung di situs resmi new7wonders.com, melalui telepon, atau SMS.

Tidak berselang lama, dukungan mengalir deras dari berbagai pihak. Terutama Operator Seluler yang rela memangkas tarif layanan premiumnya menjadi Rp.1/SMS. Cukup dengan mengetik KOMODO lalu kirim ke 9818. tidak kurang dari jutaan SMS dukungan masuk setiap harinya.

Di tengah euforia dukungan terhadap Pulau Komodo, muncullah berita yang menghebohkan. Djoko Susilo, Duta Besar RI untuk Swiss, meragukan kredibilitas N7W sebagai penyelenggara pemilihan. Mulai dari kantor fiktif N7W sampai statusnya yang tidak berada di bawah naungan UNESCO. Sontak, hal tersebut menjadi pemberitaan di berbagai media dan menjadi polemik hingga sekarang.

Pemerintah yang diharapkan menyelesaikan masalah tersebut malah lepas tangan dan tidak mau bertanggungjawab. Ada apa? Terlepas dari pandangan sebjektif, beberapa analisis saya bisa jadi pertimbangan:
  1. Djoko Susilo tidak pernah konfirmasi langsung pihak N7W, jadi tudingannya belum sepenuhnya benar dan tidak boleh dipercaya begiru saja. Djoko Susilo hanya memantau kantor N7W tanpa mengecek langsung kemudian langsung menympulkan bahwa N7W fiktif.
  2. SMS voting ke 9818 yang curigai sebagai bentuk penipuan, saya pikir telalu berlebihan. Nilai Rp.1,- adalah biaya untuk operator seluler. Panitia lokal (Ibu Emmy Hafid dkk) sama sekali tidak mengambil keuntungan dari sana. Oh ya, kalau anda pengguna telkomsel silahkan cek di *116#, ternyata 9818 tidak terdaftar sebagai konten premium, jadi tidak usah khawatir pulsa terpotong.
  3. Tahun 2007 Pemerintah, dalam hal ini Kemenbudpar, gagal meloloskan Borobudur menjadi salah satu 7 keajaiban dunia akibat tarif untuk memberi dukungan saat itu sangat mahal, yaitu Rp.1000,-. Kejadian sama berulang di tahun 2010 dan promosi Pulau Komodo oleh pemerintah gagal total. Belakangan isu setoran fee dijadikan alasan.
  4. Anggaplah SMS yang masuk senilai 100 juta rupiah. Uang tersebut tidak sebanding dengan nilai proyek promosi Pulau Komodo oleh pemerintah. Jadi ada alasan untuk mengurangi proyek promosi. Bukankah semakin banyak proyek, korupsi juga semakin tinggi.
  5. Atau jangan-jangan polemik Pulau Komodo merembes ke isu politik. Alurnya begini: Sekiranya Pulau Komodo berhasil menjadi salah satu keajaiban dunia, otomatis nama JK akan melambung dan ditakutkan mempengaruhi konstalasi 2014. Sudahlah, itu hanya pikiran kotor saya saja...
ingat...!
"Puluhan juta tahun Komodo hidup, mereka tidak pernah meributkan dirinya sendiri, jadi ngapain kita mesti ribut-ribut tentang Komodo" 

5 November 2011

November

Adzan subuh berkumandang, membelah rimbunan pohon yang baru saja diguyur hujan lebat. Konon katanya, kala itu pertengahan bulan November 1987, bertepatan dengan hari pertama saya menjejakkan kaki di dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim ibu saya. Jenis kelamin yang tidak dinantikan, karena sebenarnya kedua orangtua saya berharap anak keduanya berkelamin perempuan. Hiks.

Orang tua saya meyakini satu hal: anak keduanya, saya, lahir pada kamis subuh. Itulah mengapa saya katakan "konon katanya", karena berdasarkan kelender Masehi, tanggal 15 November 1987 jatuh pada hari Minggu. Sudah saya cek berkali-kali dan hasilnya tetap sama, bahwa tanggal tersebut bertepatan pada hari Minggu, bukannya hari Kamis. Sampai saat ini, saya juga meyakini hal yang sama, bahwa saya lahir pada kamis subuh, entah tanggal dan tahun berapa. Juga karena tidak ada bukti lain mengenai tanggal kelahiran tersebut kecuali ingatan kedua orang tua. Itu pula yang menjadi alasan mengapa tidak pernah merayakan ulang tahun di sepanjang saya hidup di dunia ini. 15 November bukan tanggal kelahiran saya!

Di kampung kami, dulu, tanggal lahir adalah persoalan remeh-temeh. Tidak diperuntukkan bagi kami yang tinggal jauh di desa. Tanggal lahir adalah urusan orang pintar yang berpendidikan tinggi. Kalau ditanya umur anak-anak mereka, jawabannya pasti panjang. Kurang lebih jawabannya seperti ini, "Si A lahir di bulan syaban, dua tahun lebih muda dari kakaknya, satu tahun lebih tua dari sepupunya, dan seterusnya". Jadi, ketika salah satu anak mereka melanjutkan pendidikan, dimana tanggal lahir mesti dicantumkan, maka mereka akan meminta guru untuk "menentukan" tanggal lahir anak muridnya sendiri. Saya sendiri baru tahu kalau saya lahir di bulan November ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Tahukah kawan, "Bulan November" adalah hasil diskusi antara guru dengan kedua orang tua saya. Ajaib kan!

Sekali waktu saya komplain, mengapa tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak sesuai dengan hari ketika saya lahir. Jawaban kedua orang tua sederhana, katanya, saya lahir kamis subuh, saat frekuensi hujan mulai meninggi di kampung kami, kala petani mulai membajak sawahnya, saat semangat kehidupan warga kampung memuncak setelah lesu akibat musim kemarau. Dan kamu tahu, nak, kata bapak, hal tersebut terjadi di Bulan November saja. Entah benar atau tidak, tapi sejak saat itu saya tak pernah lagi menanyakannya.

Tingkat pendidikan adalah penyebab lain kenapa tanggal tak penting bagi kami, terutama bapak ibu saya. Kedua orang tua saya berpendidikan rendah. Tapi tunnggu, sebenarnya agak risih juga kalau mereka disebut "berpendidikan" - meskipun rendah. Musababnya, mereka berdua tidak punya ijazah sama sekali. Hanya bapak yang paham baca tulis, sedang ibu saya tragis; buta huruf. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai petani, dan saya percaya, tidak butuh ijazah untuk menguasai ilmu membajak sawah.

Saya selalu bingung setiap kali diperhadapkan dengan  blanko, formulir, atau semacamnya yang meminta data pendidikan orang tua. Saya harus mengisinya dengan apa? Sedangkan option "tidak berpendidikan" tidak tersedia. Karena persoalan gengsi, saya isi saja "tamat SLTA". Untungnya, tidak pernah ada yang mengklarifikasi langsung kepada kedua orang tua saya. Urusannya bisa panjang.

Meskipun "tidak berpendidikan", kedua orang tua saya tahu betul bagaimana filosofi pendidikan. Terutama bapak, beliau selalu mengajarkan bagaimana adab menuntut ilmu. Sampai saat ini, meskipun beliau sudah tidak ada (semoga tenang di sisiNya), pesannya selalu saya ingat. dan menjadi energi besar yang siap melecut semangat.

Syukurlah karena orang tua saya memilih Bulan November sebagai bulan dimana saya lahir. Saya suka November. Lovely November...:D

20 Oktober 2011

Dear, Mencitku

Dear, mencitku...
Sebulan lamanya kita bersama. Suka duka kita lewati.
Berbagi roti, sepotong berdua. Kini kau jadi bagian hidupku.
Tiap hari kita bertemu. Aku menyapamu, di kandang yang sederhana ini.
Tahukah kau, betapa berartinya dirimu sekarang. Meskipun kau menggigitku, aku tidak mengeluh.
Tidak mengapa,

Bulu disekujur tubuhmu berdiri. Aku mengerti, kau sedang galau.
Aku mengelusmu, dengan lembut, dan penuh perasaan. Sambil berharap, engkau bisa tenang dan nyaman.
Aku sadar, kandang tidak bisa menenangkan perasaanmu.
Tapi, itulah yang paling aman. Aku tidak ingin hewan lain mengganggumu.
Sungguh, aku tidak rela.

Aku tahu, kau benci spoit.
Saya juga meringis membuncah ketika spoit 1 mL merogoh masuk ke mulut sampai lambungmu.
Tapi harus kulakukan.
Aku sudah berusaha melakukannya sebaik mungkin agar tidak menyakitimu.
Maafkan sobatmu ini.

Tahukah kau, mencitku. Lima tahun sudah aku berstatus mahasiswa dan belum sarjana.
Orang tuaku sudah menanyakan pertanyaan yang sama, ribuan kali: Kapan kamu sarjana, nak?
Harus kujawab apa. Kini kau jadi tumpuan harapan terakhirku.
Nyawaku di ujung napasmu, kini.

Mencitku sayang...
Tidak mudah menulis tentangmu. Apalagi puisi tentang mencit. Kenapa?
Tidak seorang pun pernah melakukannya.
Tapi, aku melakukannya, demi kamu.
Aku rela diteriaki bencong, demi kamu.
Apa pun kulakukan, demi kamu. Apalagi kalau bukan untuk menyenangkan kamu.

Wahai mencitku,
Bertahanlah, sepekan tidak akan terasa.
Walaupun, kau dan teman-temanmu akan mati akhirnya.
Percayalah, pengorbanan besarmu akan aku hargai.
Mati karena penelitian. Terdengar sangat indah kawan!
Seperti mati syahid. Kau tahu? Dijamin masuk surga! Maka berbahagialah.

Teruntuk mencitku,
Bertahanlah, kawan.
Doaku menyertaimu, orang tuaku, teman-temanku.
Semoga engkau sehat sampai saatnya tiba.
Ikhlaskan dirimu, jangan nakal, apalagi berbuat mesum. Ingat itu!
Doakan juga, semoga hasil penelitianku bagus...

Peluk dan cium dari sahabatmu yang tampan ini...


@Makassar, 20-10-2011

30 September 2011

Mencintai Pekerjaan ala Confucius

Confucius, seorang filsuf kenamaan China pernah berkata, "Cintailah pekerjaanmu, maka kau akan hidup seolah tidak bekerja". Sungguh nasihat yang teramat bijak. Seolah pekerjaan dijadikan sebagai sarana menikmati hidup. Kiranya kita bisa mengambil makna bahwa pekerjaan yang berat sekali pun akan terasa ringan jika kita enjoy menjalaninya. Sepertinya nasihat inilah yang menginspirasi bangsa-bangsa besar seperti Jepang, China, dan Korea sehingga mereka bisa sesukses sekarang ini.

Tidak bisa dipungkiri, terkadang kita kita mengeluh dengan beban pekerjaan yang kian berat. Kalau dipikir, memang wajar kiranya kita mengeluh karena tumpukan pekerjaan. Hanya saja kita perlu merenungkan kembali apakah dengan mengeluh pekerjaan kita akan selesai saat itu juga. Sayangnya tidak! Malah sebaliknya, beban pekerjaan akan semakin bertambah dan semakin menyesakkan beban psikis kita. Nah, persoalannya kemudian, bagaimana kalau pekerjaan kita memang berat? Salahkah kalau kita mengeluh? Sebenarnya bisa saja, namun harus dalam proporsi yang tepat karena terlalu banyak mengeluh malah akan menurunkan produktivitas kita dalam bekerja.

Tidak jarang saya temui temui orang yang mengeluhkan pekerjaannya. Alasannya macam-macam. Bisa karena persoalan gaji, jam kerja terlalu banyak, sampai masalah pimpinan perusahaan tempat ia bekerja. Saya paling sedih ketika seorang teman mengeluhkan pekerjaannya karena alasan tidak menikmati hidupnya. Waktu yang tersita selama bekerja terlalu banyak sehingga dia merasa hampa menjalani hidup. Yah, dia merasa hidupnya telah ditukar dengan pekerjaan. Waktu yang tersisa tinggal sedikit, sehingga tidak sempat menikmati waktu luang. Bahasa kasarnya, tidak menikmati hidup karena pekerjaan.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengundurkan diri dari tempat kerja. Alasannya kurang lebih sama dengan di masalah di atas, tiidak menikmati hidup karena terlalu banyak waktu yang tersita. Saya tidak memungkiri bahwa saya butuh uang, terutama untuk melanjutkan kuliah. Namun, pilihan mundur akhirnya saya pilih. Tapi sebenarnya alasan utama saya mundur adalah tidak menikmati pekerjaan. Berat rasanya setiap kali saya berangkat ke tempat kerja. Saya merasa "tidak" hidup di sana.

Di tempat lain, saya juga bekerja. Sudah 2 tahun lamanya, sampai sekarang. Awalnya memang saya masuk di tempat itu dengan satu tujuan: Uang! Realistis saja, saya butuh uang. Persoalan saya suka atau tidak, itu urusan belakang. Malah saya cuek saja pada pimpinan lembaga tersebut ketika dia mengatakan, "mengajar adalah pengabdian, bukan karena uang" (kebetulan lembaga tersebut adalah bimbingan belajar). Dalam perjalanannya, uang (gaji) yang saya dapatkan sedikit, tapi entah kenapa saya tidak berpikir untuk meninggalkannya. Akhirnya saya sadar bahwa bekerja tidak hanya sekedar uang, tetapi persoalan kenyamanan jauh lebih penting. Percuma kan kita bekerja sedangkan yang kita rasakan adalah neraka.

Mungkin karena saya jatuh cinta, terlanjur nyaman dengan pekerjaan saya, makanya saya tetap enjoy dengan profesi saya sebagai pengajar. Setiap kali beban kuliah menumpuk di kepala, semuanya terasa lepas dan jauh lebih ringan ketika mendengar candaaan, kekonyolan, dan keluguan para siswa yang saya ajar. Selalu saja ada hal unik yang mereka lakukan. Intinya, saya mencintai apa yang saya lakukan dan itulah yang membuat saya tetap nyaman.

29 September 2011

Hidup Terlalu Ironis untuk Dijalani dengan Pesimis

Setiap orang pasti mempunyai cara pandang tersendiri dalam memaknai kehidupan. Cara pandang saya sangat mungkin berbeda dengan orang lain, begitu juga sebaliknya. Tidak menjadi masalah kalau berbeda dan memang begitulah seharusnya. Jadi masalah ketika kita tidak mampu menangkap makna kehidupan kita sendiri. Boleh jadi perbedaan itu muncul karena rentangan waktu kita diisi pengalaman yang berbeda. Jadi, perbedaan muncul karena kita menangkap makna kehidupan dari sisi yang berbeda dengan orang lain.

Kalau saya ditanya, bagaimana anda memaknai hidup? Sederhana saja, hidup adalah serangkaian proses, pencapaian, dan cita-cita. Meskipun, hidup bukan persoalan sederhana untuk dijalani. Perjalanan hidup seperti gerbong kereta api yang menyusuri rel, langkah demi langkah, sampai jauh dan sampailah kita pada stasiun, kematian.Gambarannya memang tidak sesederhana itu, tetpi menurut saya gambaran tersebut cukup sempurna sebagai analogi kehidupan.

Coba kita ingat kembali ketika menginjak usia sekolah. Kita berjuang sampai menamatkan sekolah dasar. Satu rel terlewati. Kemudian kita memasuki dunia remaja sampai dewasa. Coba perhatikan, dalam setiap fase  kehidupan, kita selalu merencanakan langkah selanjutnya. Setelah rencana tercapai, kita merencanakan lagi target selanjutnya. Begitu seterusnya sampai usia dewasa, paruh baya, usia senja hingga menemui ajal.

Lantas jika demikian adanya, kapan kita benar-benar "menikmati" hidup? Jika hidup diisi dengan target, cita-cita, harapan, artinya kita hidup hanya untuk mengejar setiap apa yang kita rencanakan. Intinya, kita tidak menikmati kehidupan. Sekali lagi, hidup kita hanya diisi dengan rutinitas tiada henti. Kemudian kita mati dengan bungkusan kain kafan, hanya itu! 

Hidup terlalu ironis untuk dijalani dengan pesimis. Menyalahkannya pun adalah perbuatan yang sia-sia, tidak perlu! Nikmatilah setiap alur dan proses kehidupan. Waktu tidak akan kembali, sekali pun ditangisi. life must go on! Saya pikir, tidak ada cara lain kecuali menikmati setiap proses kehidupan. Setiap target adalah keharusan, karena memang hidup adalah pencapaian. Namun, yang tertpenting adalah menikmati setiap perjalanan meraih target atau capaian.

Intinya adalah nikmati setiap proses kehidupan. Optimis melihat setiap jejak langkah. Begitu sia-sianya ketika hidup diisi dengan keluhan, tidak ada gunanya! Nikmatilah setiap hembusan napas anda. Kejar apa yang menjadi harapan anda  dan jangan lupa, nikmati setiap prosesnya.

Entahlah jika anda punya pandangan yang berbeda. Apa pun pendapat anda, maka itulah yang benar, setidaknya menurut anda pribadi. Toh, mustahil saya bisa menangkap setiap makna kehidupan. Saya hanya memegang sedikit serpihan gelas kehidupan, boleh jadi andalah yang memegang pecahannya yang lain.. Wallahu a'lam bishawab

23 September 2011

Makassar, Kota Daeng yang Tetap Memikat

Saya tidak ingat kapan terakhir kali berkeliling menyusuri jalan di kota Makassar. Berekeliling menikmati jalanan yang sesak di malam hari. Melihat kendaraan yang berjejer menguasai setiap sudut jalan. Sebenarnya saya tinggal di Makassar. Namun, aktivitas banyak saya habiskan di kampus sehingga tidak punya banyak kesempatan menikmati hiruk pikuk kota, terutama di malam hari.

Coto Makasar (source:casavina.com)
Alhamdulillah, malam ini saya punya kesempatan untuk jalan menyusuri sudut kota. Bermodalkan motor butut yang saya punya. Berkeliling sendirian sambil menyempatkan diri menikmati makanan khas Makassar, coto. Saya memutuskan melewati jalan Veteran kemudian belok di perempatan jalan menuju jalan Ratulangi. Di simpang jalan ratulangi, saya mengarahkan kendaraan ke jalan Kakatua. Setiba di ujung jalan, aroma tajam khas coto Gagak memenuhi indra penciuman. Saya memarkir motor kemudian memesan satu porsi coto. Akh, rasanya begitu nikmat. Sepadan dengan harga yang harus saya bayarkan.

Keluar dengan perut kenyang, saya melanjutkan perjalanan menyusuri jalan Penghibur. Sengaja saya pelankan kendaraan sambil mengamati bibir pantai Losari. Cukup mengagumkan mengamati Losari di malam hari. Temaran lampu menghiasi trotoar jalan. Berjejer menambah semarak jalan yang padat. Saya tetap melanjutkan perjalanan. di ujung jalan, saya berputar menuju jalan Ahmad Yani. Berjalan lurus melewati Makassar Trade Center (MTC) yang super sibuk, saya sampai di Jalan Bulusaraung.

Waktu menunjukkan 10.00pm, saya singgah di salah satu warkop di sudut jalan Urip Sumoharjo. Lelah dengan perjalanan yang cukup panjang lepas sudah setelah menyeruput kopi susu. Nikmat sekali. Perjalanan ini ingin saya tutup dengan sebuah catatan kecil. Catatan yang bisa menggambarkan sedikit suasana yang saya rasakan. Makassar memang sudah jauh berubah. Namun, perubahan itu masihlah menyisakan keindahan dan ciri khas kota Daeng ini.

Akhirnya, saya harus melanjutkan perjalanan menuju peristirahatan di Tamalanrea. Tempat saya menikmati banyak keajaiban hidup. Kawasan pendidikan yang tetap hidup dipenuhi hiruk pikuk mahasiswa. Saya tahu, perjalanan malam ini tidaklah begitu spesial bagi orang lain, mungkin. Tapi saya cukup terhibur. Setidaknya, kepenatan selama sepekan terbayar sudah.

Makassar, kota Daeng yang tetap saja memikat mata, menghibur hati. Terima kasih...!

21 September 2011

Belajar dari Negara Pembelajar

Saya percaya bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dengan sendirinya, tanpa sebab. Selalu ada faktor X yang mengiringi perjalanan mereka. Untuk membuktikannya, kita bisa menoleh torehan sejarah yang mereka bangun. Apa saja yang mereka lakukan sampai meraih capaian menakjubkan yang bisa menginspirasi bagsa lainnya. Saya pikir, tidak ada yang benar-benar ajaib, semuanya adalah konsekuensi logis dari apa yang mereka perbuat.

Sebut saja, Inggris, Amerika, Jepang, bahkan China. Mereka adalah sekian dari negara-negara yang mampu menorehkan serta mencetak peradaban besar. Keberhasilannya berperan sentral dalam mempengaruhi arah peradaban. Boleh dibilang, mereka mendikte sejarah. Bagaimana tidak, Amerika dengan keunggulan militer berhasil menjadi polisi dunia. Begitu pula Jepang dengan kemampuannya mencetak barang berteknologi tinggi, murah, dan berkualitas. Inggris, China, serta negara maju lainnya juga demikian.

Seperti saya katakan sebelumnya, mereka tidak lahir dengan sendirinya. Berdiri sebagai bangsa kemudian tiba-tiba unggul, dan maju di segala bidang. Tidak demikian. 8 abad yang lalu, Eropa tidak ada apa-apanya dibanding peradaban lain, terutama Islam. Jangan sebut Amerika, Jepang, bahkan China, mereka tidak ada apa-apanya. Kebangkitan Eropa lahir setelah renaissance menguasainya, abad kegelapan hancur lebur. Disusul ditemukannya alat dan teknologi canggih yang berhasil mengubah nasib mereka, menguasai dunia.

Juga Amerika setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan Inggris melalui pertempuran heroik George Washington dan koloninya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Amerika yang dulunya tempat pembuangan, kini menjadi kekuatan terbesar dunia. Lain cerita dengan Jepang dan beberapa negara serumpun, perjuangannya lebih heroik lagi. Bom atom yang merata-tanah-kan Hiroshima dan Nagasaki tidak meruntuhkan superioritas negara matahari tersebut. Malah, mereka hanya butuh waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi raja, mengungguli Amerika. Kebangkita Jepang diikuti tetangganya, Korea dan China. Nilai  ajaran Confucius tertanam kuat di benak mereka. Memberi semangat kebangkitan luar biasa.

Kalau mau sedikit jeli, sebenarnya bisa ditarik benang merah yang menghubungkan negara-negara maju tersebut. Selain faktor internal (budaya) masing-masing. Apa rahasia sukses mereka? Menjadi pembelajar yang cepat. Ketika penguasa abad kegelapan Eropa terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban Islam, seketika mereka menjadi pembelajar. Transfer ilmu marak terjadi sampai pengetahuannya melebihi sang guru, Peradaban Islam. Amerika yang tertinggal tidak kalah cepat belajarnya. Banyak ilmuwan lahir yang nantinya berpengaruh besar dalam memajukan Amerika.

Paling ajaib dari semua itu adalah Jepang. Mungkin banyak yang menyangka bahwa itu merupakan keajaiban. Saya tidak percaya! Keajaiban hanya untuk orang tolol yang tidak memahami titik persoalan. Jepang, pasca restorasi Meiji menjadi negara pembelajar tercepat. Saking besarnya minat belajar, mereka mendatangkan guru atau ahli yang gajinya lebih tinggi dari kaisar mereka! Pemimpin tertinggi Jepang. Bayangkan! Usai PD II, otomatis Jepang lumpuh total. Siapa yang menyangka keunggulan teknologi dikuasai oleh Jepang 30 tahun kemudian. Amerika sendiri, jelas-jelas sebagai pemenang PD II, terkaget-kaget. Tapi kenyataan telah berbicara, sejumlah merk dagang asal Jepang merajai duni. Sebut saja Sony, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya. Sekali lagi, ini bukan keajaiban yang tumpah dari langit. Melainkan, atas usaha, kegigihan, kerja keras, niat belajar yang dimiliki rakyat Jepang.

Tambahan pula, saat ini rakyat Jepang adalah pembaca buku terbanyak di dunia. Rata-rata mereka menghabiskan 40 buku dalam setahun. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang hanya menghabiskan sekitar 20 buku . Tidak usah sebut Indonesia, tidak bisa dituliskan, malu! Anda tentu mengerti maksud saya.  

Yah, mereka, yang disebut di atas, adalah negara-negara pembelajar. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar adalah pengetahuan. Tanpanya, kita hanya bisa jadi pengekor, penurut, dan terjajah. Mungkin, penggambarannya terlalu dramatis, tapi demikianlah kenyataannya. Sampai di sini, anda pasti tahu faktor X yang saya maksud.
Jika melihat orang besar, tirulah apa yang dia lakukan. Confucius
Banyaklah belajar, karena dalam pengetahuan selalu ada jalan...

Wallahu a'lam

19 September 2011

Still Enjoying My Life

Saya perhatikan di beberapa postingan terakhir, kok makin ngelantur isi blog ini. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Emang sih akhir-akhir ini saya stres berat. Bagaimana tidak, urusan ini, soal itu, kebanyakan tertimbun dalam satu kata: MASALAH. Benar-benar tidak ada yang beres. Sampai-sampai berat badan saya turun karenanya. Belum lagi masalah blog ini, seperti yang saya ceritakan kemarin. Untungnya tidak ada Baygon cair dekat sini, kalau ada, pasti saya sudah tenggak sedari tadi.

Sehabis puasa kemarin saya ketemu mantan cewek (yah, dia jadi homo sekarang). Bukan, maksud saya mantan pacar. 3 hari setelah lebaran, saya berkunjung ke rumahnya. Mencoba membangun silaturahmi kembali yang pernah terputus. Niatnya sih cuma mau berkunjung sampai saya memikirkan niat yang lain. Kenpa? Ternyata dia tambah manis dan sayang untuk dilewatkan (emangnya dia acara TV). Ampun deh, saya meleleh seketika. Untungnya saya bawa banyak rokok, setidaknya bisa mempertahankan "kelelakian" saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengubah haluan. Minta balikan. Pilihan yang paling saya benci. Tapi apa boleh buat, iman saya terlalu lemah untuk menahan diri.

Setelahnya, kami terus berkomunikasi. Saya pikir ini kesempatan yang sangat baik. Lagi pula, saya punya firasat yang baik dalam urusan yang satu ini. Akhirnya, niat balikan saya utarakan. Oh no, dia minta diberi waktu untuk berpikir. Perasaan saya terluntah jadinya, tidak tahu mau ditaruh dimana. Tapi sudahlah, masalah dia mau jawab apa, terserah dia. Toh, kewajiban sebagai laki-laki (Indonesia) sudah saya utarakan.

Saya masih di sini, dan ingin terus melanjutkan..
Kalau ada yang mengira saya stres karena "digantung" (yah, saya sudah dikubur 2 hari lalu). Tidak! Urusan seperti itu tidak pernah saya pusingkan. Masih ada yang lebih parah. Begini ceritanya, ketika itu saya jalan keluar sama cewek (pacar). Setelah keliling sana-sini sampai uang saya ludes, kami pulang. Tiba di depan rumahnya, dia minta saya turun dari motor. Saya turuti permintaannya dan bertanya "kenapaki? Dia diam saja. Setelah merenung tidak jelas selama beberapa menit, dia bicara juga akhirnya. Entah, setan apa yang merasukinya, dia langsung bilang, "kita putus". Belum sempat saya bertanya alasannya, dia sudah kabur menelinap lewat pagar rumahnya. Saya bengong tidak tahu harus gimana. 

Motor saya melaju kencang setidaknya sampai di Taman Makam Pahlawan(TMP). Tepat di depan SPBU, beberapa meter jaraknya dari TMP, mesin motor saya matol alias mati total. Setelah mengecek, mampus...! Bensinnya habis. Yang benar saja, sudah jam satu pagi bung, tidak ada lagi penjual bensin yang buka. Padahal jarak rumah masih beberapa kilometer lagi.

Penderitaan saya tidak sampai disitu. Bencong yang tiap malam mangkal dekat TMP semakin mendekat. Mungkin mereka pikir saya adalah lelaki hidung belang pelanggan Nusantara (lokalisasi PSK). Karena tidak punya banyak uang, makanya singgah untuk melampiaskan libido di samping batu nisan dengan bencong. Benar saja, salah satu dari mereka  menawarkan diri, "20 ribu aja mas". Padahal ketika itu saya mau berteriak, "hey, kita ini satu spesies, jadi jangan ganggu eikke". Karena takut dikeroyok, apalagi otot mereka luar biasa besar dan sangat kekar, maka saya memutuskan untuk kabur secepatnya.

Sampai di kostan, keringat saya bercucuran ditambah perut keroncongan. Belum lagi napas yang tersengal, tidak teratur. Malam yang menyedihkan. Bayangkan, saya menghabiskan uang jajan selama sepekan hanya dalam satu malam, diputuskan, dikejar bencong pula. Tapi karena kecapean, saya akhirnya tertidur pulas. Esoknya saya puasa sampai seminggu berikutnya.

Saya tidak menyesal karena diputusin, masih banyak kok cewek jomblo yang berkeliaran di sana sini. Saya hanya menyesali betapa tololnya saya karena mau menghabiskan uang demi cewek tidak tahu diri. Sampai disini saya berpikir, kenapa aib ini saya tuliskan di blog.

Sudah saya katakan, saya pantang stres hanya karena urusan cewek. Tidak! Saya stres kalau tidak punya uang. Usus saya sudah protes, unjuk rasa dan sebagainya gara-gara disuapi indomie selama 3 hari. Itu pun cuma 2 kali sehari. Pesan saya: kalau saya meninggal karena kelaparan atau usus buntu karena indomie, tolong sampaikan ke indofood dan masukkan dalam CERITA INDOMIE. 

Se-tragis apapun nasib saya, tetap tidak ada alasan untuk mengakhirinya. Seribu alasan masih ada kenapa saya harus tetap melanjutkan hidup. Saya yakin, banyak orang yang mencintai saya. Sama halnya dengan saya yang juga mencintai banyak hal dalm hidup ini, mulai dari pekerjaan, teman, keluarga, sampai cewek tetangga kostan. Saya masih enjoy. Makan nggak makan yang penting happy, hehe...

Saya hanya mau menjejalkan kata lagi, lagi, dan lagi...:D


17 September 2011

Jangan Sekali-sekali Mengganti Blog Address

Beberapa hari yang lalu saya menggati blog address. Di postingan terakhir saya membahasnya. Kemarin saya berkonsultasi (curhat) dengan seorang teman, mengenai hal tersebut. Dia kaget, kok saya tega menggantinya, padahal itu sangat beresiko. Kepala saya langsung pening. Bagaimana tidak, menurut teman tersebut,  butuh waktu lama untuk memperbaiki serta meningkatkan traffic rank ketika alamatnya diganti.

Karena penasaran, beberapa menit lalu saya menelusuri postingan blog ini lewat search engine, google. Taukah kawan, hasilnya sangat parah, betul-betul parah!  Coba lihat gambar dibawah ini.

Sigmund Freud dan Hasrat Kebinatangan Manusia adalah salah satu tulisan yang pernah saya posting. Hasil pencarian melalui google, ternyata masih dideteksi di blog address lama, kasimbenzema.blogspot.com. Bahkan, setelah saya membuka page selanjutnya, tidak ada tanda-tanda artikel tersebut muncul dengan blog adress yang baru. Saya juga mencoba beberapa postinga lain. Hasilnya sama! Tragis betul nasib blog ini.

Masih ada yang lebih parah: penurunan traffic rank.  Biasanya, setiap hari, blog saya dikunjungi setidaknya 100 kali (tanpa blogwalking). Sekarang, statistik pengunjung terjun bebas tanpa hambatan, 10 viewer bung! Parah banget kan. Lama-lama saya yang terjun bebas lantaran stres berat. Fiuhh...!!!

Bagaimana pun tidak ada yang perlu disesali karena akan lebih menyakitkan lagi. Setidaknya, saya mendapat satu pelajaran penting: JANGAN SEKALI-SEKALI MENGGANTI BLOG ADDRESS. 

Tuhan, ampuni dosa hambamu ini...!!!

15 September 2011

Hanya Sekali, Cukup Sekali!

Lama juga saya tidak memposting langsung di blogger. Beberapa bulan terakhir, tulisan (catatan pendek) yang saya publikasikan bersal dari notepad yang ada di notebook. Bahkan, saya sampi bingung bagaimana cara menulis di blogger dengan tampilannya barunya (katro yah).

Beberapa pekan terakkhir, saya menjumpai banyak sketsa kehidupan. Semakin membuat saya sadar bahwa hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Lebih jauh, banyak makna, noumena tesirat yang patut kita renungi. Awalnya memang terlihat biasa saja, akan tetapi setelah diselami, ternyata luar biasa. Entah bagaimana mengungkapkannya lewat deretan kata. Sampai disini saya biasa bingung sendiri (hehe...).

5 Tahun lalu, saya menginjakkan kaki di Fakultas Farmasi UNHAS. Sampai sekarang masih berstatus mahasiswa. Semester 11 sedang berjalan. Yah, saya bangga dengan semester 11! Setiap kali bertemu teman lama, pertanyaannya selalu sama: kapan sarjana? Walaupun jengkel, saya menjawab seadanya, "bentar lagi, nih lagi nyusun skripsi". Jawaban paling sederhana dan tidak membutuhkan pertanyaan lanjutan. kalaupun ditanya lagi, paling cengar-cengir lalu melengos pergi.

Selain jawaban di atas, saya masih punya ribuan jawaban lain. Budaya pergaulan bangsa kita, telat sarjana adalah sebuah kelainan, tidak biasa, aneh. Makanya, saya harus punya banyak alasan bagus supaya semuanya bisa logis. Tuntutan hidup supaya saya masih dianggap "normal".  Sengaja saya pelajari baik-baik bagaimana menemukan jawaban yang tepat. Hasilnya, perbedaharaan jawaban atas pertanyaan tersebut meningkat pesat beberapa bulan terakhir.

Setelah merenung selama beberapa tahun (wah, lama juga yah), saya menemukan kesimpulan berdasarkan observasi langsung, bahwa kita harus mencintai bidang ilmu yang digeluti untuk meraih titel sarjana. Sayangnya, saya tidak gampang jatuh cinta. Bukan, bukan saya mencari-cari alasan, tapi inilah kenyataannya. IPK saya lumayan bagus, tentunya alasan "bodoh" tidak bisa digunakan dalam hal ini. Walaupun ada beberaa variabel lain yang berpengaruh, tetapi saya pikir alasan diatas yang paling menonjol.

Mengerjakan sesuatu yang tidak anda sukai jauh lebih berat, walaupun sebenarnya perkerjaan tersebut ringan. Bukan karena kita tidak bisa, tetapi dorongan semangat sangat penting untuk membangkitkan energi. Nah, semangat inilah yang muncul dari rasa suka maupun senang terhadap sesuatu.Sama halnya ketika saya menjalani rutinitas akademik, saya merasa ada sesuatu yang hilang, ada yang tidak sesuai idealitas. Saya tidak tahu bentuknya, yang jelas ada. "Saya mau mencari sesuau yang lain", kata-kata tersebut sepertinya lebih tepat. lagi-lagi ini bukan alasan yang dibuat-buat, tapi inilah kenyataannya.

Sampailah saya di tahun ke-5 dan saya masih belum mencintai farmasi. Akan tetapi saya sadar pada sebuah kenyataan, "saya berada di farmasi dan tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik dari ini". Tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik belajar mencintai farmasi ketimbang menyalahkannya. Saya bukan pasrah, tidak. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada banyak kemungkinan, rahasia, serta makna yang bisa saja di kemudian hari baru kita sadari.

Lagi pula tidak mungkin saya memutar waktu. Pekerjaan yang bahkan tuhan tidak mampu melakukannya. Saya pikir, membuat lebih banyak kemungkinan adalah jalan terbaik saat ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, saya butuh sesuatu: SARJANA.

Saya percaya bahwa jejak kehidupan hanya berlalu sekali. Hari ini tetap saja berbeda dengan kemarin, besok, tahun lalu. Tidak ada yang sama. Fase hidup sekarang ini, akan saya jalani sekali saja. 10 tahun ke depan (mudah-mudahan saya masih hidup), saya akan bercerita kisah lain. Tidak ada niat lain kecuali mengabadikan apa yang saya rasakan dan alami sekarang. Hanya itu.

*Farmasi Unhas, 15 Sepetember 2011, 11.41am

1 Mei 2011

Surat Pengunduran Diri Untuk Si Bos


Pukul 15.45, biasanya saya sudah nongol di kantor menyiapkan segala pesanan si bos. Aktivitas ini saya jalani setiap hari dengan semangatnya. Saking asyiknya, saya sering lupa waktu dan pulang larut malam. Kadang teman sekantor negur, “kasim, jangan lewatkan masa mudamu didepan monitor komputer, sekali-sekali cepat pulang dan nikmati hidupmu”. Teguran semacam ini sering terdengar sepanjang pekan ketika jarum jam bertengger di angka 10 dan teman sekantor sudah bersiap pulang.

Masih teringat jelas ucapan bos saya, “kasim, kami sepakat untuk menerimamu bergabung di sini dengan gaji Rp.xxxxxxx,-. Ingat, kita santai saja yah, nda usah protokoler yang penting target terpenuhi. Selamat..!!!”. Ucapan tersebut cukup menggairahkan dan dengan segera kujabat tangan bos erat-erat.

Beberapa bulan berlalu, pekerjaan menumpuk. Setiap hari si bos menugaskan tugas baru untuk diselesaikan. Karena karyawan sedikit, saya pun merangkap seksi sibuk. Marketing kantor, administrasi kantor, sampai konsumsi karyawan saya yang bertanggungjawab. Tidak masalah, yang penting ABS (Asal Bos Senang).

Suatu hari, saya mengalami kecelakaan motor di kampus UNHAS, Makassar. Walaupun tidak begitu parah, teman dilarikan saya ke rumah sakit. Di rumah sakit saya malah pusing, kenapa? Bukan karena kecelakaan, hari ini jumat (hari kerja), sebentar lagi jam 5 sore. Seharusnya saya sudah setor muka di kantor. Dengan Handphone pinjaman, saya menelpon bos. Berikut isi pembicaraan saya dengan bos,
Saya: “Assalamualaikum...”
Bos: ”yah, halo..”
Saya: “kasim ini pak,..”
Dengan suara enteng si bos bertanya “oh kamu sim, kenapa?”
Saya: ini pak, saya nda bisa masuk kerja hari ini karena sakit. Saya di rumah sakit sekarang, tadi kecelakaan motor”
Bos: “oh begitu yah, tapi file-file kantor sudah kamu kasi ke Evi kan?” (evi: teman sekantor, red)
Saya: “iya pak, saya sudah kasi evi kemarin”
Bos: “oh ya sim, yang saya suruhkan kemarin jadi kan? Soalnya kita butuh untuk marketing nanti.”
Saya: “iya pak, saya sudah bereskan semua”
Bos: “kalau masuk kantor, tolong cetak modul yang sudah jadi itu. Nanti saya kasi uang untuk cetak, ok!”
Saya: “iya pak. Maaf ya pak, saya minta izin hari ini. Terima kasih pak”
Bos: “iya nda apa-apa..”
Saya: “Assalamualaikum...”
Bos: “eh sim, bagaimana keadaanmu sekarang?”
Saya: “Alhamdulilah, semakin membaik pak. Mungkin beberapa hari baru bisa masuk kantor pak..”
Bos: “oh ya sudah kalau begitu, cepat masuk kantor yah”
Saya: “iya pak”
Tuuuuuuutttt...(telepon dimatikan oleh bos)
Saya merenung sekitar 15 menit. Ternyata bagi si bos urusan kantor jauh lebih penting daripada nyawa saya. Saya berjanji dalam hati untuk segera membuat surat pengunduran diri. Materi (duit,red) penting, tapi mengabdi kepada orang bermateri tapi tidak punya hati adalah kesalahan besar.
“Aduh, kok mundur kasim?” Pertanyaan bos yang tidak terjawab ketika saya masuk ke ruangannya dan membawa selembar surat berisi pengunduran diri. Tanpa sepatah kata saya meninggalkan kantor. Di seberang jalan, saya membalikkan badan “Maaf pak, saya masih punya hati, makanya saya meninggalkan pekerjaan ini...”

Badan Memar Plus Utang 40 ribu Rupiah

Jumat, 29 april 2011 adalah Hari yang tidak akan saya lupakan. Kejadian mengejutkan tiba-tiba saja menimpa yang mengharuskan tubuhku tergolek di ruang UGD RS. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Mulai dari kedua kaki, pinggang, kedua tangan sampai kepala sebelah kanan, semua tidak luput dari merahnya betadine. Entahlah mungkin saja menemui hari yang sial, walaupun saya sedikit bersyukur karena ‘partner’ kecelakaan yang dirawat di bilik sebelah terancam amputasi kedua kakinya sedangkan saya hanya luka lecet dan memar akibat benturan dengan aspal keras.

Ketika itu, pukul 11.40 saya mengajak teman Jumatan di mesjid kampus UNHAS. Karena jaraknya agak jauh dari Fakultasku, Farmasi, kami memutuskan untuk naik motor. 11.45 kami tiba di Mesjid untuk menunaikan kewajiban yaitu shalat jumat. Tepat jam 1 siang shalat jumat usai dan kami keluar dari mesjid. Rencananya, saya hanya akan mengantar teman sampai di depan gedung rektorat. Kebetulan, fakultas kami tidak begitu jauh dari gedung rektorat. saya mau pulang ke kostan ganti baju sekalian makan siang.

Banyaknya kendaraan, terutama motor, yang keluar dari mesjid kampus dan memenuhi ruas jalan di kampus, saya memutuskan  untuk berjalan pelan. Sesampai di depan gedung rektorat, teman turun dari motor dan saya melanjutkan perjalanan pulang.

Musibah akhirnya datang juga. Belum 100 meter dari gedung rektorat, Honda Beat berpenumpang 2 orang melaju dari belakang dan berniat menyalip motor saya dari kanan.Sialnya, stir motornya tersangkut di tali gas motor saya. Saya terpental dan tergeletak di aspal dengan motor yang terseret di pinggir jalan. Sedangkan Honda Beat tersebut terus melaju walaupun keseimbangan jelas-jelas sudah hilang. Bruuuk...! Cowok si joki Beat terhempas di trotoar, tulang kakinya patah, dan tak sadarkan diri sedangkan si cewek (yang dibonceng) sedikit beruntung karena dia terlempar masuk ke taman melewati trotoar. Hanya lutut yang lecet, walaupun dia terlihat sangat shock.

Untungnya, ada teman yang kebetulan lewat. Dialah yang mengantar saya ke Rumah sakit. Saya baru benar-benar sadar setelah setengah jam berlalu di Rumah Sakit. Ternyata sekujur tubuh sudah dipenuhi luka. Alhamdulillah, tidak ada luka yang serius. Di ruangan lain ‘partner’ kecelakaan saya juga sudah sadarkan diri. Seisi UGD, hanya teriakannya yang terdengar ketika lukanya dibersihkan dengan ringer laktat. Yah, saya jauh lebih beruntung.

Satu jam kemudian setelah dokter memberi resep, saya diijinkan meninggalkan rumah sakit. Tanpa sempat berkenalan dengan ‘partner’ kecelakaan saya meninggalkan Ruang UGD. Karena uang di dompet hanya 10 ribu rupiah, biaya administrasi sebanyak 40 ribu rupiah dilunasi oleh teman.

Akhirnya, saya meninggalkan Rumah sakit dengan luka memar sepanjang tubuh plus utang 40 ribu rupiah. Akh...

13 April 2011

Hujan dan Istana Dg. Sampara

Langit tampak sangat gelap. Taburan bintang yang biasanya terhampar luas kini dipaksa bersembunyi di balik awan. Cuaca sedang tak bersahabat. Tanpa malu angin malam menusuk hingga ke tulang. Hujan baru saja reda setelah seharian langit menumpahkan isinya. Ruas jalan mulai dari trotoar bahkan badan jalan tak luput dari genangan air. Malam ini, jalan-jalan di makassar seakan menjadi "danau" dadakan yang terbentang panjang dan akan segera lenyap beberapa hari kemudian. Di balik jendela kamar saya hanya mengerutkan dahi sambil memantapkan diri untuk beranjak dari rumah. "Malam ini saya harus berangkat dan menuntaskan janji", kalimat yang kuucapkan beberapa kali sekedar untuk meyakinkan diri. Walaupun firasat akan hujan terus saja menghantui, sama sekali tak mengurungkan niat saya untuk bertarung dengan dinginnya malam. Mantel hujan serta Sweater sudah siap, saatnya berangkat menembus malam.

Benar saja, belum sampai di tempat tujuan, hujan deras tiba-tiba saja tumpah dari gelapnya langit. Seperti tamu yang nyelonong masuk rumah tanpa permisi. Si Cloudy kuarahkan ke bahu jalan tanpa menyalakan weser. Akh, ini jam 10 malam, jalan sudah sepi dan tidak akan ada yang bakalan nyerempet dari belakang. Secepat kilat saya turun dari Cloudy, mencari tempat berteduh. Jalan sudah tertutup butiran hujan, tentunya terlalu beresiko untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya, saya memutuskan untuk berteduh sambil menghangatkan diri dengan melingkarkan tangan di tubuh.

"Masukki..." terdengar suara samar karena hujan dari balik kios.
Saya menoleh untuk memastikan bahwa suara itu ditujukan kepada saya.
"iye" jawabku singkat.
Karena tak tahan kedinginan di luar. Saya melangkahkan kaki memenuhi ajakan si pemilik kios. Sesaat saya ingin menanggalkan sepatu,
"nda usahmi dibuka. kita pakemi sepatuta!"
"oh, iye..."

Di sinilah awal mula perkenalanku dengan Dg. Sampara, lelaki paruh baya berumur sekitar 40-an tahun. Lelaki yang berprofesi sebagai pengayuh becak sekaligus penjual ikan. Pagi hari hingga menjelang senja beliau mengayuh becak dan di malam harinya menjajakan ikan di kios miliknya. Profesi ini beliau geluti selama 15 tahun terakhir. Ijazah SD tidak akan memberinya kesempatan hidup seperti "manusia" di kota metropolitan seperti Makassar.

Di dalam "istana" (kios, red) Dg. Sampara, saya duduk di meja berukuran 2x3 meter yang terbuat dari anyaman bambu. Belum lima menit, secangkir kopi hangat muncul dari balik tirai bersama dengan istri Dg. Sampara. Jamuan yang berlebihan mengingat saya hanya orang yang kebetulan singgah untuk berteduh. Apalagi, inilah perkenalan pertama saya dengan Dg. Sampara. Tidaka ada sedikit pun kecurigaan Dg. Sampara terhadap saya. Ketika saya bertanya seandainya saya berniat jahat, beliau hanya tersenyum simpul. "Untuk apa orang berbuat jahat, tidak ada yang bisa dirampok disini" tukas Dg. Sampara

"Kapitalisme meniscayakan kemiskinan" celoteh seorang teman. Ah, sudahlah! Itu cerita lama...