Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

11 Februari 2012

Takdir

Takdir dipahami sebagai kejadian yang telah dialami manusia. Keberlangsungannya niscaya, kita tidak punya wewenang untuk mengubahnya. Seperti kejadian yang baru saja berlalu, kita tidak bisa mengubahnya. Itulah takdir. Sejalan dengan ungkapan, "takdir tidak bisa diubah". Pertanyaannya kemudian, apakah kita tidak punya wilayah pada takdir itu sendiri?

Yang saya ketahui, bahwa takdir memang tidak bisa diubah karena jelas itu bukan wilayah manusia. Akan tetapi, pada kondisi tertentu takdir bisa diset sesuai dengan keinginan kita. Orang tua, jenis kelamin, gravitas bumi, dan golongan darah adalah contoh takdir dimana kita tidak punya pilihan untuk mengubahnya. Sedangkan, pakaian, sepatu, pendidikan, dan makanan adalah wilayah takdir dimana kita punya wewenang untuk menentukannya sendiri. Dalam bahasa agama, hal ini juga dijelaskan secara sederhana oleh Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, seorang mendatangi Ali dan bertanya tentang konsep takdir. Ketika itu beliau meminta orang tersebut berdiri dengan satu kaki dan berselang beberapa waktu diminta lagi untuk mengangkat kakinya yang satu lagi. Sontak, orang tersebut terjatuh. Pesan yang beliau hendak sampaikan, bahwa ada wilayah dimana kita punya kesempatan untuk berikhtiar dan ada pula kondisi dimana kita tidak punya wewenang untuk berusaha.

Dalam kehidupan sehari-hari, takdir sering diasosiakan dengan hal yang sifatnya negatif, misalnya, miskin, kecelakaan, banjir, musibah, dan sederet kejadian yang tidak menyenangkan. Padahal kaya, bahagia, cantik, dan gagah juga bagian dari takdir. Dalam hal ini, kita harus bijak memaknai sesuatu. Tentu Tuhan punya maksud kenapa kita terlahir dari orang tua miskin misalnya. Pasti ada hikmah yang hendak Tuhan sampaikan, baik tersurat maupun tersirat. Jangan sampai kita menyesali sampai mengumpa takdir tersebut. Seperti kata pepatah "terjatuh, tertimpa tangga pula". Kasian di kitanya dan sama sekali tidak gunanya.

Lebih parah jika kita menyesali takdir, dimana kita punya wilayah untuk berikhtiar, misalnya ketika nilai ujian jelek. Lantas menyalahkan takdir. Ini sungguh pekerjaan yang sia-sia. Toh, yang paling pantas disalahkan jika memang demikian adalah diri kita sendiri.

lantas bagaimana cara mengubah takdir? Tidak ada cara lain kecuali membuat diri kita pantas. Jika mau lulus ujian, maka kita harus belajar sampai kita pantas untuk lulus. Mau kaya, maka kita mesti menjadi pribadi yang pantas kaya dengan cara berusaha dan bekerja keras. Maksud saya, takdir harus dipahami sebagai sebuah efek atau kesimpulan. Jika kita melakukan hal yang baik, maka efeknya akan baik pula dan itulah takdir. Sedangkan jika kita berbuat jahat, maka efeknya akan negatif dan itu juga takdir. Intinya kembali ke diri kita masing-masing, bahwa takdir juga sangat bergantung dengan apa yang kita lakukan.
Wallau a'lam bishawab

21 September 2011

Belajar dari Negara Pembelajar

Saya percaya bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dengan sendirinya, tanpa sebab. Selalu ada faktor X yang mengiringi perjalanan mereka. Untuk membuktikannya, kita bisa menoleh torehan sejarah yang mereka bangun. Apa saja yang mereka lakukan sampai meraih capaian menakjubkan yang bisa menginspirasi bagsa lainnya. Saya pikir, tidak ada yang benar-benar ajaib, semuanya adalah konsekuensi logis dari apa yang mereka perbuat.

Sebut saja, Inggris, Amerika, Jepang, bahkan China. Mereka adalah sekian dari negara-negara yang mampu menorehkan serta mencetak peradaban besar. Keberhasilannya berperan sentral dalam mempengaruhi arah peradaban. Boleh dibilang, mereka mendikte sejarah. Bagaimana tidak, Amerika dengan keunggulan militer berhasil menjadi polisi dunia. Begitu pula Jepang dengan kemampuannya mencetak barang berteknologi tinggi, murah, dan berkualitas. Inggris, China, serta negara maju lainnya juga demikian.

Seperti saya katakan sebelumnya, mereka tidak lahir dengan sendirinya. Berdiri sebagai bangsa kemudian tiba-tiba unggul, dan maju di segala bidang. Tidak demikian. 8 abad yang lalu, Eropa tidak ada apa-apanya dibanding peradaban lain, terutama Islam. Jangan sebut Amerika, Jepang, bahkan China, mereka tidak ada apa-apanya. Kebangkitan Eropa lahir setelah renaissance menguasainya, abad kegelapan hancur lebur. Disusul ditemukannya alat dan teknologi canggih yang berhasil mengubah nasib mereka, menguasai dunia.

Juga Amerika setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan Inggris melalui pertempuran heroik George Washington dan koloninya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Amerika yang dulunya tempat pembuangan, kini menjadi kekuatan terbesar dunia. Lain cerita dengan Jepang dan beberapa negara serumpun, perjuangannya lebih heroik lagi. Bom atom yang merata-tanah-kan Hiroshima dan Nagasaki tidak meruntuhkan superioritas negara matahari tersebut. Malah, mereka hanya butuh waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi raja, mengungguli Amerika. Kebangkita Jepang diikuti tetangganya, Korea dan China. Nilai  ajaran Confucius tertanam kuat di benak mereka. Memberi semangat kebangkitan luar biasa.

Kalau mau sedikit jeli, sebenarnya bisa ditarik benang merah yang menghubungkan negara-negara maju tersebut. Selain faktor internal (budaya) masing-masing. Apa rahasia sukses mereka? Menjadi pembelajar yang cepat. Ketika penguasa abad kegelapan Eropa terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban Islam, seketika mereka menjadi pembelajar. Transfer ilmu marak terjadi sampai pengetahuannya melebihi sang guru, Peradaban Islam. Amerika yang tertinggal tidak kalah cepat belajarnya. Banyak ilmuwan lahir yang nantinya berpengaruh besar dalam memajukan Amerika.

Paling ajaib dari semua itu adalah Jepang. Mungkin banyak yang menyangka bahwa itu merupakan keajaiban. Saya tidak percaya! Keajaiban hanya untuk orang tolol yang tidak memahami titik persoalan. Jepang, pasca restorasi Meiji menjadi negara pembelajar tercepat. Saking besarnya minat belajar, mereka mendatangkan guru atau ahli yang gajinya lebih tinggi dari kaisar mereka! Pemimpin tertinggi Jepang. Bayangkan! Usai PD II, otomatis Jepang lumpuh total. Siapa yang menyangka keunggulan teknologi dikuasai oleh Jepang 30 tahun kemudian. Amerika sendiri, jelas-jelas sebagai pemenang PD II, terkaget-kaget. Tapi kenyataan telah berbicara, sejumlah merk dagang asal Jepang merajai duni. Sebut saja Sony, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya. Sekali lagi, ini bukan keajaiban yang tumpah dari langit. Melainkan, atas usaha, kegigihan, kerja keras, niat belajar yang dimiliki rakyat Jepang.

Tambahan pula, saat ini rakyat Jepang adalah pembaca buku terbanyak di dunia. Rata-rata mereka menghabiskan 40 buku dalam setahun. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang hanya menghabiskan sekitar 20 buku . Tidak usah sebut Indonesia, tidak bisa dituliskan, malu! Anda tentu mengerti maksud saya.  

Yah, mereka, yang disebut di atas, adalah negara-negara pembelajar. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar adalah pengetahuan. Tanpanya, kita hanya bisa jadi pengekor, penurut, dan terjajah. Mungkin, penggambarannya terlalu dramatis, tapi demikianlah kenyataannya. Sampai di sini, anda pasti tahu faktor X yang saya maksud.
Jika melihat orang besar, tirulah apa yang dia lakukan. Confucius
Banyaklah belajar, karena dalam pengetahuan selalu ada jalan...

Wallahu a'lam

5 Mei 2011

Kelahiran layaknya Sebuah Kematian

Dalam ilmu biologi, fertilisasi (pembuahan) terjadi ketika sel ovum bertemu dengan sel sperma.Ovum yang telah dibuahi ini akan berkembang menjadi zigot. Perkembangan selanjutnya terus terjadi sampai terbentuk janin yang sempurna. Secara sederhana seperti itulah proses yang dilalui oleh setiap orang dalam kandungan ibunya sebelum dilahirkan ke dunia.

Kehidupan manusia di dunia menyerupai kehidupan janin dalam bayi. Dimana, perpindahan dari alam lain menyerupai kelahiran bayi dari rahim ibunya. Analogi ini memang tidaklah sempurna, namun sudah cukup sempurna untuk menggambarkan perjalanan hidup manusia di dunia.Perbedaan yang cukup mendasar adalah, kematian merupakan perpindahan dari alam fisik ke alam ghaib. Sedangkan kelahiran bukanlah perpindahan alam seperti pada kematian karena rahim dan dunia adalah alam fisik.

Namun yang cukup menakjubkan, selama janin menempel dalam rahim, tidak sekalipun ia menggunakan organ tubuhnya seperti paru-paru, jantung, mata, hidung dan organ lainnya. Jika saja alat pernapasan sudah berfungsi, niscaya janin akan mati dalam kandungan. Keadaan seperti ini akan terus berlangsung sampai proses kelahiran bayi. Tapi, begitu janin keluar dari perut ibunya, pernapasannya langsung berfungsi. Sekiranya untuk sesaat saluran pernapasan itu tidak berfungsi, nscaya sang bayi akan segera menemui ajalnya.

Bagitulah kehidupan bayi sebelum dan pasca kelahiran. Analogi ini bisa ditarik ke dalam kehidupan manusia, dimana kematian merupakan proses kelahiran menuju alam yang sama sekali berbeda. sebelum lahir, janin menlalani kehidupan dengan sistem yang sama sekali berbeda setelah ia dilahirkan; manusia menjalani hidup dengan sistem yang juga sangat berbeda setelah ia mengalami kematian.

Apa hikmah yang bisa ditarik?
janin sebelum dilahirkan sudah memiliki organ yang sempurna dan siap untuk digunakan. namun, dalam rahim organ tersebu tidak digunakan dan sama sekali tidak dirancang untuk digunakan dalam rahim. ia dirancang untuk kehidupan yang akan datang yaitu kehidupan di dunia ini. Pernapasan, penglihatan, pendengaran, dan organ lainnya dibuat dan disempurnakan dalam rahim untuk dipergunakan dalam kehidupan di periode selanjutnya. Kehidupan yang berlangsung di dalam rahim erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Segenap perbuatan manusia di dunia merupakan usaha untuk mempersiapkan diri, baik psikis maupun spiritual, menuju kehidupan akhirat. Proses kehidupan manusia adalah seharusnya menjadi bentuk penyempurnaan diri dari manusia, sehingga ia siap menghadapi kehidupan selanjutnya.
Allah swt berfirman;
Apakah kalian mengira kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan bahwa kalian tidak dikembaliakn kepada kami? (Q.S Al-Mukmin;115)
Bahwa tuhan tidak menciptakan manusia dalam kesia-siaan. Semua sistem yang diciptakan oleh Tuhan adalah untuk menempa dan menyempurnakan manusia, sekalipun itu baru digunakan ketika manusia berpulang ke Rahmatullah. Jika saja penciptaan ini sia-sia, maka pengandaian itu sama dengan kehidupan janin. Untuk apa organ disempurnakan, toh tidak digunakan juga. jadi, tidak mungkin segenap kehidupan manusia merupakan sebuah kesia-siaan.

Apa yang bisa disimpulkan?
Kemaatian adalah akhir periode dari kehidupan manusia sekaligus menjadi awal kehidupan yang baru. Dalam kaitannya dengan akhirat, kematian adalah sebuah kelahiran. Mirip dengan kelahiran bayi di dunia adalah sebuah kelahiran, kaitannya dengan kehidupan rahim, kelahiran adalah kematian

*) beberapa bagian dikutip dari keadilan ilahi karya murtadha muthahhari

3 Mei 2011

Keridhaan Sejati Adalah Keridhaan-Nya

Tentang kebahagiaan di balik bencana. Hegel, seorang filsuf Jerman berkata;
Konflik dan kejahatan bukanlah dua hal negatif yang muncul di dalam benak, melainkan dua hal faktual yang membentuk tangga mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Konflik adalah hukum kemajuan... Tidak meungkin seseorang mencapai kesempurnaan tanpa melalui tanggungjawab, kesengsaraan dan penderitaan. Penderitaan adalah sesuatu yang bisa dipahami, tanda kehidupan dan dorongan untuk kebaikan... Kehidupan bukanlah diciptakan untuk kebahagiaan (atau kesenangan dan kenyamanan yang dilahirkannya), melainkan untuk transformasi dan kesempurnaan...
Tentang dampak edukatif di balik cobaan dan kesulitan. Malwali, seorang penyair, bercerita tentang penjara Nabi Yusuf;
...Seorang sahabat (sahabat Nabi Yusuf) bertanya pada Nabi Yusuf: "Bukankah engkau pernah dilemparkan ke dalam sumur dan dijebloskan ke dalam penjara?"Yusuf menjawab: "Itulah cobaan bulan yang menyusut. Kalaupun pada saat itu bulan terbelah dua. Bulan purnama tampak sesudahnya di angkasa"
Kalau biji-bijian penyembuh mata tidak kita tumbuk sampai habis, niscaya ia tak akan bisa mempertajam cahaya dan mengobati sakit mata... Setelah benih gandum dibenamkan ke dalam tanah, barulah ia bisa tumbuh dan bercabang banyak... Setelah mereka menumbuknya dengan gilingan batu, jadilah harganya melambung selangit... Sebagai roti yang memelihara hidup manusia, ketika roti itu dicabik-cabik oleh gigi, jadilah ia akal, ruh, dan kecerdasan bagi manusia... Ketika ruh itu ditaburkan ke dalam cinta, jadilah ia tumbuhan yang menakjubkan para penaburnya
Tentang ridha dan ketentuan ilahi. Sa'di pernah mengatakan;
Orang yang berpandangan sempit selalu mencari ketenangan, sedangkan orang arif menemukan kesenangan dalam cobaan... Tinggalkan apa yang ada di sisimu dan yang tiada di sisimu, inilah lima hari  dari kehidupan yang diikuti kematian... Setiap orang yang terbunuh dengan pedang cinta, Katakan adanya!, "jangan bersedih, sebab tebusan darahmu adalah kerajaan abadi. Segala sesuatu yang datang dari sang kekasih pasti terasa manis... Wahai Sa'di! "Jangan kau cari keridhaan dirimu, sebab keridhaan sejati adalah keridhaan-Nya.
 Malwali melanjutkan; 
Bila kita memandang dengan jernih, niscaya cobaan itu akan terasa manis... Obat yang pahit pasti manis karena menyembuhkan... Manusia sungguh menyaksikan kemenangan di puncak kekalahannya, kemudian dia berkata, "bunuhlah aku, hai orang-orang yang terpercaya."
Sa'di juga mengatakan;
Permata-permata mahl itu dikeluarkan dari mulut ikan paus, sementara orang yang mencintai hidupnya pasti tak akan mengarungi lautan.

Note:
(Saya kutip dari buku Keadilan Ilahi karya Murtadha Muthahhari)

9 April 2011

Si Gila Nietzsche yang Pesimis

Friedrich Wilhelm Nietzsche
Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir pada tanggal 15 Oktober 1944 di Saxony (saat itu bagian dari kerajaan Prussia). Merupakan salah satu tokoh pertama filsafat eksistensialisme (filsafat yang meyakini bahwa manusia adalah pusat/sumber kebenaran dan bebas memberikan persepsi terhadap suatu objek mengingat kebenaran, menurut mereka, adalah relative). Ayahnya seorang Lutheran yang sangat mengagumi Friedrich Wilhelm IV. Beberapa tahun setelah kelahiran Nietzsche ayahnya meninggal, yaitu pada tahun 1849. Patut dicatat, kakek, ayah, dan Nietzsche sendiri meninggal dalam keadaan gila.

Diyakini bahwa kematian ayah Nietzsche karena pelemahan otak, hasil diagnose menunjukkan seperempat otaknya telah rusak akibat pelemahan. Menurut dokter, penyakit ini tidak menurun, tapi terbukti Nietzsche meninggal karena pelemahan otak, persis yang dialami ayah dan kakeknya.

Sejak itu Nietzsche diasuh oleh para perempuan suci (ibu, kakak perempuan, dan bibinya yang perawan tua) dan dididik untuk menjadi pendeta sampai pada usia 19 tahun. Namun kenyataan berkata lain, Nietzsche membangkang, dia menjadi sangat tak terkendali. Berkelahi, mabuk, dan bercinta dengan pelacur (yang terakhir menurut Nietzsche, hanya kebetulan). Malangnya, Nietzsche mengidap syphilis, suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan saat itu.

Setelah pindah di Leipzig, The World as A Will and Representation karya Schopenhauer mengubah hidup Nietzsche dan menjadi pengagum Schopenhauer yang fanatik. Ajarannya tentang pesimisme dan keterasingan merasuk dalam jiwa Nietzsche muda. Sejak saat itu, Nietzsche menjadi seorang atheis. Salah satu slogannya yang sangat terkenal:
Tuhan telah mati
Hiduplah menantang dalam bahaya
Apakah obat terbaik? Kemenangan (The Dawn, 571)
Setelah mendeklarasikan kematian Tuhan (Tuhan yang diyakini penganut Kristiani), dia terus menggonggong dengan filsafatnya. Menurut Nietzsche, manusia hidup untuk berkuasa (will to power). Selain itu, sikap anti-semitnya menjadi sangat kontroversial dan dikemudian hari menjadi alasan Nazi melakukan holocaust.

Nietzsche adalah penyendiri dengan tubuh yang lemah dan penyakit yang terus menggerogotinya. Akhirnya, pada tahun 1889, Nietzsche mengalami gangguan mental yang tak bias disembuhkan lagi dan pada tahun 1990 dia meninggal di Weimar setelah lebih dari satu dekade mengalami kegilaan. Bukti kemurungan Nietzsche terlihat pada beberapa tulisannya:
Kita harus membuang jauh-jauh sikap lembut dan kehalusan hati. Sebab kelembutan adalah kelemahannya. Kepatuhan dan kerendahan hati adalah hina dan cela. Kelembutan, lapang dada, pemaaf, dan tenggang rasa adalah kemunduran dan hilangnya kemauan keras… Kita harus melepaskan diri kita dari orang lemah dan tak berdaya, serta mengusir mereka sejau-jauhnya dari tengah kita…(Will to Power)
Nietzsche membuat penjara bagi dirinya sendiri di tempat ia hidup. Di akhir hayatnya, ketika manusia memetik buah pemikiran yang pernah disemainya, Nietzsche malah menjadi gila dan menulis sepucuk surat pada saudara perempuannya. Dalam surat itu, dengan penuh keputusasaan, dia menulis,
Setiap waktu berlalu, kehidupan terasa semakin mahal… sejak beberapa tahun belakangan ini aku begitu menderita dengan penyakit yang telah membuatku sesak, kedinginan, dan begitu menyakitkan. Tapi aku belum pernah mengalami kecemasan dan keputusasaan seperti yang kualami saat ini. Apakah gerangan terjadi? Telah terjadi sesuatu yang semestinya abadi. Perselisihanku dengan semua orang telah menyebabkan mereka tidak lagi percaya kepadaku. Kita semua salah. Duhai, hari ini aku telah begitu menderita oleh kesendirian ysang drastic, yang membuatku tidak lagi dapat tertawa walaupun dengan seorang raja, atau minum secangkir the dengan seseorang. Tidak ada seorang pun yang mau membangun persahabatan yang dapat menyegarkan jiwa
Yah, Nietzsche memang terkenal dengan filsafatnya yang gaungnya membuat orang tetap terjaga sampai saat ini. Filsafatnya tentang manusia super (superman), kehidupan abadi (eternal recurrence), atau tentang satu-satunya tujuan peradaban yaitu menghasilkan manusia hebat seperti Goethe, Napoleon, dan dirinya sendiri. Di tangannya, filsafat menjadi sangat berbahaya, tajam, dan persuasif. Namun di balik gaungnya yang mendunia, kegilaan, pesimisme, kemurungan, keputusasaan, dan keterasingan menjerat sampai akhir hayatnya. Itulah si gila Nietzsche yang pesimis


25 Februari 2011

Immanuel Kant dan Etika Kewajiban

Immanuel Kant, filosof besar yang lahir pada 1724 di sebuah kota Prusia Timur bernama Konigsberg, putra seorang pembuat pelana kuda. Dia tinggal disana hampir di sepanjang hidupnya selama 80 tahun. Beliau adalah Kristiani yang taat. Kita tidak akan membicarakan ide atau pendapatnya tentang Kristiani. Baik, Kant adalah seorang Professor yang mampu menjelaskan gagasan-gagasan filosof terdahulu-Descartes, Hume, Locke-,tapi beliau juga adalah filosof yang menyusun sendiri filsafatnya. Kant sangat akrab dengan tradisi filsafat masa lalu. Dia akrab dengan Rasionalismenya Descartes dan Spinoza serta Empirismenya Locke, Barkeley, dan Hume.
Kant menerima rasionalis, begitu juga empirisme. Menurutnya, 'indra' dan 'akal' sama-sama memainkan peranan dalam konsepsi kita mengenai dunia. Ada kondisi tertentu dalam pikiran manusia yang menentukan konsepsi kita terhadap dunia. Namun, ia sepakat dengan Hume serta kaum empiris lainnya bahwa pengetahuan tentang dunia didapatkan melalui indra. 
Sumbangan terbesar Kant dalam filsafat adalah garis pembatas yang ditariknya antara benda-benda itu sendiri-das Ding an sich- dan benda-benda tampak sebagaimana yang tampak di mata kita. kita hanya melihat 'benda menurut kita' tapi kita tidak mempunyai pengetahuan sebenarnya tentang 'benda itu sendiri'. Benda yang tampak di tangkap oleh indra, diolah pikiran kemudian menjadi persepsi. Tapi, benda yang sebenarnya bukanlah yang 'tampak bagi kita'.
Saya tidak ingin berlama-lama dengan gagasan Kant. Saya teringat dengan bantahan Kant terhadap gagasan Hume, bukan akal dan bukan pula pengalaman yang menentukan perbedaan antara benar dan salah, melainkan perasaan. Menurut Kant, ini dasar yang terlalu lemah. Kant setuju dengan kaum rasionalis bahwa salah dan benar adalah masalah akal, bukan karena kita telah mempelajarinya melainkan karena itu terlahir dalam pikiran. Setiap orang mempunya 'akal praktis' yaitu, kecerdasan yang memberi kita kemampuan untuk memahami apa yang benar dan salah dalam setiap soal, menurut Kant.
Menurut saya, gagasan Kant yang lain dan tak kalah pentingnya adalah etika kewajiban. Dimana ia menjelaskan tentang hukum moral untuk sampai pada etika kewajiban. Menurutnya, kita-manusia- mempunyai hukum moral yang universal yang sama. Hukum moral ini mutlak berlaku pada situasi kapanpun, ini adalah 'perintah', Kant menegaskan. Dia mengatakan: Bertindaklah sesuai dengan ketentuan hukum universal". Maksudnya, bertindaklah dengan cara sedemikian rupa sehingga kamu menghormati orang lain, maupun diri sendiri, bukan hanya sekali, tapi selamanya.
Lanjut Kant, hukum moral tidak bisa dibuat-buat dengan akal, tak seorang pun dapat menyangkalnya. Kita mungkin bertindak tidak sesuai dengan hukum moral (tindakan untuk menjadi populer atau ingin dipuji, misalnya), tapi jika kita ingin bertindak sesuai dengan hukum moral, kita harus mengalahkan diri sendiri. Hanya jika kita melakukan perbuatan dengan niat murni yang dapat dikatakan hukum moral. Inilah yang disebut sebagai etika kewajiban.
Kita patut mengapresiasi pendapat Kant, pandangannya mengenai etika kewajiban begitu luar biasa. Semoga tulisan singkat ini sedikit memberikan pencerahan, khususnya tentang filsafat. Tulisan ini adalah saduran dari berbagai sumber, terutama dari buku Dunia Shopie karya Jostein Gaardner.