Tampilkan postingan dengan label rausyanfikr. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rausyanfikr. Tampilkan semua postingan

30 Juli 2012

#Quote of The Month

Mungkin anda termasuk orang yang menyukai ungkapan bijak yang memotivasi dan sarat dengan makna filosofis. Saya juga demikian. Tidak jarang saya buat note pendek setiap kali mendengar atau membaca kutipan kata-kata bijak, dimana pun itu.

Anda kenal Al Ghazali? Ulama yang terkenal seantero jagad. Tulisan beliau menjadi rujukan ulama-ulama kontemporer. Saya juga termasuk pengagum beliau. Dan berikut ungkapan bijaknya yang saya temui di timeline Twitter. Luar biasa dan sangat menyentuh.
Jika engkau belajar selama 100 tahun, & telah kau kumpulkan sebanyak 1000 kitab, maka engkau belum siap menerima rahmat Allah kecuali dengan amal ~ Al Ghazali
Ungkapan yang mengingatkan kita bahwa pengetahuan saja tidaklah cukup, melainkan amal-lah yang menjadikan kita siap menerima rahmat-Nya.

11 Februari 2012

Takdir

Takdir dipahami sebagai kejadian yang telah dialami manusia. Keberlangsungannya niscaya, kita tidak punya wewenang untuk mengubahnya. Seperti kejadian yang baru saja berlalu, kita tidak bisa mengubahnya. Itulah takdir. Sejalan dengan ungkapan, "takdir tidak bisa diubah". Pertanyaannya kemudian, apakah kita tidak punya wilayah pada takdir itu sendiri?

Yang saya ketahui, bahwa takdir memang tidak bisa diubah karena jelas itu bukan wilayah manusia. Akan tetapi, pada kondisi tertentu takdir bisa diset sesuai dengan keinginan kita. Orang tua, jenis kelamin, gravitas bumi, dan golongan darah adalah contoh takdir dimana kita tidak punya pilihan untuk mengubahnya. Sedangkan, pakaian, sepatu, pendidikan, dan makanan adalah wilayah takdir dimana kita punya wewenang untuk menentukannya sendiri. Dalam bahasa agama, hal ini juga dijelaskan secara sederhana oleh Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, seorang mendatangi Ali dan bertanya tentang konsep takdir. Ketika itu beliau meminta orang tersebut berdiri dengan satu kaki dan berselang beberapa waktu diminta lagi untuk mengangkat kakinya yang satu lagi. Sontak, orang tersebut terjatuh. Pesan yang beliau hendak sampaikan, bahwa ada wilayah dimana kita punya kesempatan untuk berikhtiar dan ada pula kondisi dimana kita tidak punya wewenang untuk berusaha.

Dalam kehidupan sehari-hari, takdir sering diasosiakan dengan hal yang sifatnya negatif, misalnya, miskin, kecelakaan, banjir, musibah, dan sederet kejadian yang tidak menyenangkan. Padahal kaya, bahagia, cantik, dan gagah juga bagian dari takdir. Dalam hal ini, kita harus bijak memaknai sesuatu. Tentu Tuhan punya maksud kenapa kita terlahir dari orang tua miskin misalnya. Pasti ada hikmah yang hendak Tuhan sampaikan, baik tersurat maupun tersirat. Jangan sampai kita menyesali sampai mengumpa takdir tersebut. Seperti kata pepatah "terjatuh, tertimpa tangga pula". Kasian di kitanya dan sama sekali tidak gunanya.

Lebih parah jika kita menyesali takdir, dimana kita punya wilayah untuk berikhtiar, misalnya ketika nilai ujian jelek. Lantas menyalahkan takdir. Ini sungguh pekerjaan yang sia-sia. Toh, yang paling pantas disalahkan jika memang demikian adalah diri kita sendiri.

lantas bagaimana cara mengubah takdir? Tidak ada cara lain kecuali membuat diri kita pantas. Jika mau lulus ujian, maka kita harus belajar sampai kita pantas untuk lulus. Mau kaya, maka kita mesti menjadi pribadi yang pantas kaya dengan cara berusaha dan bekerja keras. Maksud saya, takdir harus dipahami sebagai sebuah efek atau kesimpulan. Jika kita melakukan hal yang baik, maka efeknya akan baik pula dan itulah takdir. Sedangkan jika kita berbuat jahat, maka efeknya akan negatif dan itu juga takdir. Intinya kembali ke diri kita masing-masing, bahwa takdir juga sangat bergantung dengan apa yang kita lakukan.
Wallau a'lam bishawab

18 Januari 2012

Reformasi Menurut Cak Nur //Part 2 (selesai)

Menyambung tulisan sebelumnya reformasi menurut Cak Nur, saya hendak menyampaikan beberapa poin mengenai persoalan tersebut. Mengingat tulisan tersebut belum tuntas sepenuhnya. Ada beberapa kecenderungan yang semakin menguatkan pendapat Cak Nur bahwa reformasi adalah turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, tidak lebih tidak kurang. Bahwa reformasi hanyalah rekayasa sosial. Yakni beberapa pihak menginginkan Indonesia berubah menjadi negara "liberal". Ini bukan sekedar preseden atau asumsi murahan, melainkan fakta telah menunjukkan validitasnya.

Mengorek kembali sistem demokrasi yang dipahami zaman orde. Pada saat itu, hanya diakui 3 partai dimana Golkar sebagai ban serep pemerintah sedangkan 2 partai lainnya, PDI dan PPP hanya sebagai "pelengkap". Mengkritik pemerintah bisa berbuntut panjang. Sentralisasi segala bidang yang begitu kental. Hanya orang-orang yang dekat dengan keluarga cendana yang bisa menduduki pos penting dalam roda pemerintahan. Siapa yang tidak patuh, siap-siap saja dihabisi. Orde baru menjadi monster raksasa yang menelan korban, entah jumlahnya berapa. Tidak usah bertanya jika ada orang yang tiba-tiba hilang, karena mungkin dia sudah diciduk "aparat". Jauh ke pelosok desa, informasi sangat terbatas. Mereka buta informasi terhadap kondisi pemerintahan karena memang aksesnya sangat terbatas. Lagi pula mereka juga tidak peduli. Toh, yang penting bisa hidup dengan tenang. Dan itulah yang menjadi jaminan mengapa orde baru bertahan sampai 3 dekade (32 tahun).

Akhirnya seperti kita ketahui, reformasi tumbang pertengahan 1998. Indonesia memasuki babak baru sistem pemerintahan, reformasi. Harapan dan semangat membangun Indonesia terkristalisasi dalam benak rakyat seperti yang dicita-citakan founding fathers. Supremasi hukum, pemberantasan KKN, perbaikan ekonomi, sosial, dan politik, pembukaan kran demokrasi adalah beberapa tujuan reformasi. Cita-cita yang sungguh mulia. Namun, perjalanan reformasi menjadi bias. Tuntutan tahun 1998 menguap begitu saja, entah kemana. Korupsi merajalela membentuk lingkaran setan, hukum tebang pilih, KKN, ekonomi tersandera oleh asing, sosial politik hingga budaya yang semakin kabur dari ciri ketimuran. Demokrasi yang sejatinya sebagai instrumen untuk mensejahterahkan rakyat malah menjadi "industri" besar oknum tertentu. Indonesia menjadi negara besar yang lumpuh, tidak mampu berjalan dengan kaki sendiri. Terbukti dengan trilyunan bantuan asing yang masuk untuk memberi napas bangsa Indonesia.

Liberalisasi berkedok globalisasi. Caranya dengan  mengutus "agen global" untuk diadopsi di Indonesia seperti film, fashion, gaya hidup, teknologi, dan lain-lain. Otak rakyat Indonseia disetting sedemikian rupa agar mengikuti trend global. Film barat berbau seks, pornografi, dan brutal menjadi tontonan kaum muda di bioskop. Belum lagi produk-produk asing yang murah tapi "keren" membanjiri swalayan-swalayan. Hasil karya anak bangsa  kian tersisih. Coba perhatikan kehidupan kita selama 24 jam dari bangun tidur hingga terlelap di malam hari, hampir semua yang kita gunakan adalah produk asing. Bayangkan jika produk Unilever, Danone, Nokia, Blackberry, Telkomsel, Acer, Thosiba, dan Indosat distop sehari saja, niscaya rakyat Indoesia akan kelabakan. Belum lagi DPR dan pemerintah yang semestinya menjadi tameng bagi rakyat yang terlanjur lemah ini, malah menjadi sarang kompromi terhadap asing. Terlihat dengan sejumlah regulasi dan Undang-undang yang mereka keluarkan. Sampai disini, relevansi Cak Nur tentang demokrasi kian terang-benderang.

Bicara ketidakberesan Indonesia tidak akan ada habisnya. Reformasi yang memudahkan modal asing masuk ke Indonesia. Perusahaan lokal diadu langsung dengan perusahaan asing. Jelas, perusahaan lokal kalah telak. PSM diadu dengan Manchester United. Tidak masuk akal kan! Konglomerat asing masuk begitu mudahnya dan menguasai sektor strategis perekonomian kita. Menjadikan ekonomi tersandera oleh asing. Dengan kondisi seperti ini, rakyat tidak akan menuntut apa-apa. Mereka tidak tahu apa-apa kok! Rakyat gamang dengan perubahan yang cepat. Mereka tidak sempat berpikir. Mereka tidak mau tahu, yang penting mereka hidup "baik" hari ini. Arus frontal yang datang seketika tidak mampu dibendung oleh rakyat. Tidak peduli jika dibodohi sekalipun. Siapa yang salah? Reformasi, pemerintah, atau rakyat itu sendiri? Tidak semudah mengacungkan jari telunjuk. Kita mesti berpikir dan melihat masalah secara holistik. Terlebih dahulu kita harus membongkar paradigma dan kesalahan sistemik yang merantai bangsa Indonesia.

Secara tersirat, Cak Nur memang melihat reformasi cenderung mengarah pada liberalisasi. Hal ini bisa diatisipasi jika ada pengawal yang konsisten. Sayangnya tidak?! Aktor reformasi tersisih dan digantikan oleh aktor lama yang korup dan amoral itu. Aktor lama itu seperti macan lepas kandang, menyeruduk, menggonggong, menjilat, dan menerkam di sana-sini. Merekalah yang sibuk berceloteh di depan media. Memperebutkan kekuasaan, membagi jatah proyek, lompat kiri kanan, berganti topeng, seakan merekalah reformis yang sesungguhnya. Di sisi lain rakyat tidak siap dengan format baru yang dibawa reformasi. Berpikir sempit dan pendek. Pendidikan yang mereka peroleh jelas tidak cukup untuk mengawal reformasi. Bagaimana dengan intelektual kampus yang suaranya paling nyaring ketika Soeharto ditumbangkan? Setali tiga uang, mereka terlalu sibuk menikmati masa muda. Sulit saya jelaskan.

Inilah reformasi. Jika Indonesia harus tumbang nantinya, tidak ada yang harus disalahkan kecuali rakyat termasuk pemerintah. Dan saya yakin, jika keadaan ini terus berlangsung maka Indonesia akan menjadi negara gendut, pemalas, bodoh yang dipenuhi penyakit seperti stroke. Tewas tidak bersisa. Maaf kalau saya terlalu sinis melihatnya. Inilah bentuk keresahan yang terus menghantui saya. Sudi atau tidak, kita mesti mengakui bahwa reformasi sekedar angin segar tapi beracun.
wallahu a'lam... 

17 Januari 2012

Simpati Jadi Antipati

Matahari meninggi tepat di atas ubun-ubun. Bayangan benda yang disinari tepat jatuh di bawahnya, vertikal. Tidak seperti biasanya mengingat bulan ini adalah puncak musim penghujan. Di daerah tropis seperti Indonesia, Januari tidak pernah lepas dari guyuran hujan. Hampir setiap hari.  Di hari yang berbeda ini, arus lalu lintas sangat padat. Kehidupan masyarakat lebih cepat. Kendaraan melintas, lalu-lalang memanfaatkan kesempatan "mumpun tidak hujan".

Hari itu, pemandangan lain di sebuah perempatan jalan. Sekelompok orang memampang spaduk protes. Di antara mereka ada yang membawa bendera organisasi berukuran mini. Tidak peduli dengan bau aspal menusuk hidung dan terik matahari yang membakar kulit. Katanya mereka adalah mahasiswa. Mahasiswa yang resah dengan kebijakan pemerintah. Pilihan turun ke jalan dipilih sebagai bentuk protes. Berharap pemerintah menganulir atau setidaknya mengubah kebijakannya. Pemandangan seperti ini kerap terjadi, hampir setiap hari. Tentunya di sudut jalan yang lain. Dibantu dengan megaphone, mereka berteriak tidak peduli. Teriakan yang diselingi dengan sumpah serapah.

Aksi mahasiswa tersebut berhasil memacetkan jalan. Kendaraan yang sangat padat berderet rapih hingga ratusan meter. Bagaimana tidak, di tengah jalan berdiri pagar hidup yang bernama mahasiswa. Hampir seluruh badan jalan tertutupi hingga tidak ada yang tersisa bagi kendaraan untuk lewat. Sekali lagi, pemandangan seperti ini sudah lumrah, sering terjadi acap kali aksi mahasiswa dilakukan. Ketika aksi, mahasiswa menjadi penguasa jalan.

Di atas kendaraan yang berderet itu, di balik kaca bening mobil pete-pete, beberapa orang juga mengumpat. Namun, berbeda dengan mahasiswa yang mengumpat kebobrokan pemerintah. Mereka -orang-orang itu- malah berbalik menggerutu melihat sikap pongah para mahasiswa. Letak dilematisnya berada pada titik ini, dimana mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat malah dibenci oleh orang-orang yang diperjuangkannya sendiri. Paradoks dan kontradiktif.

Lantas apa yang mesti dilakukan oleh mahasiswa dalam memperjuangkan rakyat? Haruskah mereka terus turun ke jalan setiap kali menyampaikan aspirasi rakyat? Saya takut, aksi yang berharap simpati malah berbuah antipati dari masyarakat sendiri. Jika demikian -dan memang demikian-, aksi mahasiswa menjadi sia-sia. "Jauh panggang dari api" alias nihil.

Akhir-akhir ini saya mulai berpikir, ada sistem dalam pergerakan mahasiswa yang salah. Gerakan cenderung monoton, elitis, dan tidak "berperikerayatan". Slogan "mahasiswa dan rakyat bersatulah!" yang sering diteriakkan itu tidak lagi relevan pada tataran implementasi. Mesti dilakukan refleksi guna mengevaluasi kembali gerakan mahasiswa hari ini agar perjuangan mahasiswa tidak berbenturan dengan kepentingan rakyat. Kurikulum gerakan mahasiswa mesti di reform guna mengubah paradigma lama menjadi paradigma yang lebih progresif, fleksibel, dan "ngonteks" dengan zaman. 

Salam Perjuangan...!

18 Oktober 2011

Jangan Sebut Saudara Kita Non-muslim...!

Teringat dengan diskusi dengan beberapa orang teman 2 minggu yang lalu. Diskusi kecil-kecilan yang menyorot tema budaya. Setelah pemaparan dari pemateri, berlangsunglah sesi diskusi panjang. Cukup hangat dan menarik. Saya sendiri terlibat aktif di dalamnya dengan mengajukan berbagai permasalahan yang mengganjal di kepala. Begitu juga dengan teman-teman yang lain, mereka cukup aktif menyimak selama sesi pemaparan maupun diskusi.

Dalam perjalanannya, kami mengerucut pada persoalan budaya khas Sulawesi Selatan. Saya semakin tergugah ketika pembahasan melebar ke masalah pergaulan antar-pemeluk agama. Saya pikir ini sangat penting mengingat di Sulawesi Selatan, keragaman umat beragama adalah keniscayaan. Karenanya perlu dibangun sikap positif guna sebagai pengejewantahan sikap toleran, hormat-menghormati, dan persamaan derajat. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil dan sederhana.

Saya beragama Islam. Agama yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia. Selain Islam, masih ada beberapa agama lain yang diakui negara misalnya, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Meski saya tidak pernah sepakat dengan aturan tersebut. Agama adalah persoalan pribadi dan tidak boleh diintervensi, termasuk oleh pemerintah. Tapi sudahlah, saya tidak mau berspekulasi sampai kesana.

Seperti disebutkan di atas, Islam adalah agama mayoritas di Indonesia, sedangkan pemeluk agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu adalah pemeluk minoritas. Tidak jarang, kita yang muslim, menyebut saudara kita yang berkeyakinan lain dengan sebutan non-muslim. Awalnya saya sepakat saja dengan sebutan demikian. Namun, akhirnya saya sadar penyebutan non- sangat tidak etis. Seandainya, Islam adalah agama minoritas di indonesia, maukah kita disebut non-Kristen, non-Hindu, dan non- yang lain. Saya pikir tidak!

Penggunaan kata non- menunjukkan disparitas dan diskriminasi antar-pemeluk agama. Seolah saudara kita yang berbeda keyakinan memeluk agama yang "berbeda", atau "lain". Padahal agama diturunkan untuk manusia.Agama lahir bukan untuk mengkotak-kotakkan manusia. Jadi, apa sulitnya menyebut agama saudara kita. Tidaklah susah rasanya jika kita mengatakan, si A beragama Kristen, si B beragama Hindu, dan seterusnya.

Sekali lagi, keragaman umat beragama adalah keniscayaan. Derajat kita sama, apa pun keyakinannya...

21 September 2011

Belajar dari Negara Pembelajar

Saya percaya bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dengan sendirinya, tanpa sebab. Selalu ada faktor X yang mengiringi perjalanan mereka. Untuk membuktikannya, kita bisa menoleh torehan sejarah yang mereka bangun. Apa saja yang mereka lakukan sampai meraih capaian menakjubkan yang bisa menginspirasi bagsa lainnya. Saya pikir, tidak ada yang benar-benar ajaib, semuanya adalah konsekuensi logis dari apa yang mereka perbuat.

Sebut saja, Inggris, Amerika, Jepang, bahkan China. Mereka adalah sekian dari negara-negara yang mampu menorehkan serta mencetak peradaban besar. Keberhasilannya berperan sentral dalam mempengaruhi arah peradaban. Boleh dibilang, mereka mendikte sejarah. Bagaimana tidak, Amerika dengan keunggulan militer berhasil menjadi polisi dunia. Begitu pula Jepang dengan kemampuannya mencetak barang berteknologi tinggi, murah, dan berkualitas. Inggris, China, serta negara maju lainnya juga demikian.

Seperti saya katakan sebelumnya, mereka tidak lahir dengan sendirinya. Berdiri sebagai bangsa kemudian tiba-tiba unggul, dan maju di segala bidang. Tidak demikian. 8 abad yang lalu, Eropa tidak ada apa-apanya dibanding peradaban lain, terutama Islam. Jangan sebut Amerika, Jepang, bahkan China, mereka tidak ada apa-apanya. Kebangkitan Eropa lahir setelah renaissance menguasainya, abad kegelapan hancur lebur. Disusul ditemukannya alat dan teknologi canggih yang berhasil mengubah nasib mereka, menguasai dunia.

Juga Amerika setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan Inggris melalui pertempuran heroik George Washington dan koloninya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Amerika yang dulunya tempat pembuangan, kini menjadi kekuatan terbesar dunia. Lain cerita dengan Jepang dan beberapa negara serumpun, perjuangannya lebih heroik lagi. Bom atom yang merata-tanah-kan Hiroshima dan Nagasaki tidak meruntuhkan superioritas negara matahari tersebut. Malah, mereka hanya butuh waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi raja, mengungguli Amerika. Kebangkita Jepang diikuti tetangganya, Korea dan China. Nilai  ajaran Confucius tertanam kuat di benak mereka. Memberi semangat kebangkitan luar biasa.

Kalau mau sedikit jeli, sebenarnya bisa ditarik benang merah yang menghubungkan negara-negara maju tersebut. Selain faktor internal (budaya) masing-masing. Apa rahasia sukses mereka? Menjadi pembelajar yang cepat. Ketika penguasa abad kegelapan Eropa terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban Islam, seketika mereka menjadi pembelajar. Transfer ilmu marak terjadi sampai pengetahuannya melebihi sang guru, Peradaban Islam. Amerika yang tertinggal tidak kalah cepat belajarnya. Banyak ilmuwan lahir yang nantinya berpengaruh besar dalam memajukan Amerika.

Paling ajaib dari semua itu adalah Jepang. Mungkin banyak yang menyangka bahwa itu merupakan keajaiban. Saya tidak percaya! Keajaiban hanya untuk orang tolol yang tidak memahami titik persoalan. Jepang, pasca restorasi Meiji menjadi negara pembelajar tercepat. Saking besarnya minat belajar, mereka mendatangkan guru atau ahli yang gajinya lebih tinggi dari kaisar mereka! Pemimpin tertinggi Jepang. Bayangkan! Usai PD II, otomatis Jepang lumpuh total. Siapa yang menyangka keunggulan teknologi dikuasai oleh Jepang 30 tahun kemudian. Amerika sendiri, jelas-jelas sebagai pemenang PD II, terkaget-kaget. Tapi kenyataan telah berbicara, sejumlah merk dagang asal Jepang merajai duni. Sebut saja Sony, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya. Sekali lagi, ini bukan keajaiban yang tumpah dari langit. Melainkan, atas usaha, kegigihan, kerja keras, niat belajar yang dimiliki rakyat Jepang.

Tambahan pula, saat ini rakyat Jepang adalah pembaca buku terbanyak di dunia. Rata-rata mereka menghabiskan 40 buku dalam setahun. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang hanya menghabiskan sekitar 20 buku . Tidak usah sebut Indonesia, tidak bisa dituliskan, malu! Anda tentu mengerti maksud saya.  

Yah, mereka, yang disebut di atas, adalah negara-negara pembelajar. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar adalah pengetahuan. Tanpanya, kita hanya bisa jadi pengekor, penurut, dan terjajah. Mungkin, penggambarannya terlalu dramatis, tapi demikianlah kenyataannya. Sampai di sini, anda pasti tahu faktor X yang saya maksud.
Jika melihat orang besar, tirulah apa yang dia lakukan. Confucius
Banyaklah belajar, karena dalam pengetahuan selalu ada jalan...

Wallahu a'lam

17 September 2011

Membangun Dakwah yang Mencerahkan

Kemarin saya pergi shalat jumat. Rutinitas yang saya  dan umat muslim lainnya lakukan. Saya shalat di mesjid dekat kampus. Awalnya saya mau shalat di mesjid dalam area kampus saja. Berhubung kampus, juga kota Makassar, lagi krisis air, maka saya memutuskan untuk keluar kampus dan mencari mesjid untuk shalat jumat. Jangan tanya, ngapain menulis tentang shalat jumat? Toh, menulis atau tidak saya tetap shalat jumat. Tapi kawan, saya tidak akan menulis bagaimana saya menjalankan shalat jumat. Apa pentingnya juga. Tidak ada!

Ada hal menarik ketika khatib menyampaikan ceramahnya. Saya mengamati hal ini sudah sekian lama. Sepertinya bukan hanya khutbah, tapi juga ceramah keagamaan lainnya. Boleh dibilang, ini sudah menjadi budaya ceramah di Indonesia. Entahlah bagaimana metode ceramah di negara lain. Soalnya, sekali pun saya belum pernah menginjakkan kaki di negara selain Indonesia.

Hal menarik yang saya maksud adalah ceramah berisi ancaman dan ancaman. Mungkin anda sebagai orang Indonesia sudah maklum karena memang begitulah adanya. Saya tidak bermaksud mengkritik apalagi menyalahkan ulama Indonesia. Hanya saja, menurut hemat penulis, metode ini harus kita tinjau ulang demi mengukuhkan Islam sebagai agama damai, bukannya agama ancaman. Saya khawatir jika ini terus berlangsung malah akan berakibta fatal, bahwa kita beragama karena rasa takut semata. Oh iya, ancaman yang saya maksud berupa pengkafiran, ancaman siksaan api neraka, serta berbagai ancaman lainnya.

Saya pikir, para ulama kita perlu mencoba pendekatan baru dalam dakwah, yaitu dakwah yang santun, mengajarkan etika agama yang aplikatif, serta nilai positif kehidupan. Ancaman perlu dalam proporsi yang tepat. Tidak bisa dipungkiri, salah sau yang melanggengkan agama adalah karena adanya rasa takut.

Hal yang saya perhatikan adalah sikap pesimistis banyak mubaligh. Saya tidak pernah sepakat, dunia hanya sekedar tempat menghabiskan waktu. Saya menilainya tidak sesederhana itu. Setiap detak kehidupan menyimpan ribuan makna. Ada banyak hal yang mesti kita lakukan di "tempat persinggahan" ini. Pesimis melihat kehidupan dunia akan menjerumuskan kita pada kemalasan. Diduga keras, salah satu kemunduran umat muslim akibat pesimis menjalani hidup. Mereka terlalu banyak terpaku pada kehidupan akhirat dan hanya menyimpan sedikit kepedulian pada kehidupan duniawi.

Bagaimana pun, metode dakwah yang tepat, sedikit banyak akan mempengaruhi mental umat. Makanya, perlu dilakukan metode tepat supaya dakwah, selain tidak monoton juga membangkitkan semangat serta mental umat. Saya juga percaya, tidak ada pemisahan antara kehidupan akhirat dan kehidupan duniawi. Keduanya jika dilakukan dengan mengharap ridha Allah, niscaya akan dicatat sebagai pahala. Jadi kenapa tidak, opsi ceramah yang berisi nilai-nilai tentang kehidupan diterapkan.

Sekali lagi, tidak ada sedikit pun maksud memojokkan para ulama kita. Tentunya harapan kita semua sama, yaitu memancangkan panji-panji Islam ditengah-tengah masyarakat. Kita juga berharap, ceramah agama lebih mencerahkan lagi ke depannya.

Wallahu a'lam bishawab

8 September 2011

Karena Tuhan Bukan Pesulap

Seperti sering dilontarkan, takwa adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Para ulama sepakat dengan pengertian ini. Hanya saja pengertian ini tidak dijabarkan secara mendalam. Memahami takwa sebatas pengertian itu tidak akan membuat kita lebih baik, malah berpotensi menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan makna. 

Allah telah menjanjikan kesejahteraan bagi hamba yang menjalankan perintah-Nya. Jika kita menelusurinya lebih jauh, secara logis kaum muslim adalah orang-orang yang paling berhak meraih hal tersebut. Kesejahteraan yang dimaksud tidak hanya di kehidupan setelah ini, tetapi juga sejahtera dalam kehidupan dunia. 

Bagimana dengan realitas kekinian? Nyatanya, seperti yang kita saksikan umat muslim berada titik kronis. Secara politik, ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan umat muslim bedara di bawah tekanan barat (non-muslim, red). Bukankah ini bertentangan dengan janji Tuhan. Padahal dalam kacamata orang awam, umat muslim-lah yang paling bertakwa dibandingkan umat lain. Sampai disini kita perlu menafsirkan kembali makna takwa. Hemat penulis, memahami takwa secara mendalam sangat urgen perannya dalam membawa umat Muslim ke kancah terdepan peradaban dunia. 

Perintah Tuhan khususnya untuk manusia kalau kita menengok Al-Quran dibagi atas dua. Ada perintah yang berkaitan dengan syariat (agama) dan ada pula perintah yang berkaitan dengan hukum kemasyarakatan (sunnatullah).

Allah mahaadil. Menjalankan perintah-Nya, pasti ada ganjarannya pula. Tuhan tidak memilih, tapi memilah. Setiap yang kita kerjakan pasti ada balasan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Perintah agama seperti, shalat, zakat, haji, puasa, dan lain-lain akan dibalas di akhirat nanti. Sekali pun Tuhan membalasnya di dunia, itu bukan balasan sesungguhnya.

Berbeda dengan perintah berkaitan sunnatullah dimana sanksi dan ganjarannya dapat dirasakan d dunia ini. Hukum alam, konsekuensi logis, dan hukum kemasyarakatan termasuk jenis hukum ini. Siapa yang rajin belajar, bekerja keras, memeras keringat, maka akan diberi ganjaran berupa kesuksesan, kaya, dan berilmu. Begitu juga mereka yang malas bekerja, hidup kotor, maka akan diberi balasan berupak kemiskinan dan penyakit.

Menurut Muthahhari, keadilan Tuhan adalah soal kepantasan. Seperti yang saya utarakan di atas, Tuhan tidak memilih. Siapa saja yang berusaha maksimal di dunia ini, akan diberi balasan berupa keunggulan. Yakin saja Tuhan tidak akan menyulap kita menjadi unggul di segala bidang tanpa disertai usaha maksimal, termasuk doa tentunya. Jadi, ketika umat lain sukses dan lebih maju daripada umat muslim, jangan menyalahkan Tuhan karena mereka memang pantas mendapatkannya. 

Pula, jika ada yang bertanya: kenapa rezeki tak kunjung datang, padahal siang malam kita beribadah pada Tuhan? Ini keliru karena salah menempatkan ganjaran Tuhan. Ganjaran perintah agama didapatkan di akhirat nanti. Jangan pula keberatan, mengapa Tuhan tidak menyiksa umat yang ingkar. Karena tempatnya bukan di dunia, tapi di akhirat kelak.

Akhirnya kita harus sadar bahwa menjalankan perintah Tuhan sebagai implementasi takwa tidak sekedar syariat saja, namun termasuk juga sunnatullah yang berlaku di dunia ini. Sepakat atau tidak, sepertinya umat muslim saat ini baru menjalankan sebagian takwa, sedangkan sebagian dijalankan oleh umat yang lain. Saya pikir, ini adalah jawaban sempurna mengapa umat muslim jauh tertinggal.

Wallahu a’lam bishawab

15 Agustus 2011

Menerapkan atau Sekedar Meneriakkan Ekonomi Islam

Secara pribadi, ada kesan tersendiri melihat kegigihan teman-teman yang memperjuangkan Islam. Melihat bahwa agama samawi termuda ini merupakan solusi komplit dalam semua aspek kehidupan. Jalan yang ditawarkan Islam,menurut mereka, merupakan kesatuan utuh. Menghilangkan sebagian, artinya merusak seluruhnya. Beragama tidak cukup dengan mengucapkan kalimah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji, lebih jauh, merupakan jalan hidup, ideologi. Termasuk di dalamnya yang banyak mendapat perhatian khusus adalah bidang ekonomi. Terang saja, isu ekonomi yang mereka sebut "Islami" meluap-luap, menyuarakan idealitas, turun langsung dari Tuhan, dan dipraktekkan oleh Rasulullah sendiri dan pemerintahan pascanabi. Once again, saya bangga terhadap mereka.

Saya sendiri sebelum menulis artikel ini, terlebih dahulu menelaah pembahasan mengenai sistem ekonomi yang dimaksud "Islami" menurut teman-teman saya. Tidak lupa, usaha untuk membandingkannya dengan sistem ekonomi yang ditawarkan sosialisme, maupun kapitalisme. Semata dilakukan agar informasi yang didapat berimbang. Tentunya isi tulisan ini tidak akan terhindar dari penilaian subjektif saya. Akan tetapi, maksud saya jelas, ingin melihat perspektif secara "adil" dan meminggirkan sentimen pribadi di dalamnya.

Saya tergelitik dengan postulat Adam Smith, salah satu pakar ekonomi kapitalis, "otak bekerja karena perut". Itulah "tujuan" kapitalisme. Memutar otak, tenaga, dan segala usaha untuk memenuhi lolongan perut yang minta diisi. Argumen ini kemudian dipelintir, "setelah perut kenyang, apa lagi?". Pada titik ini kapitalisme dianggap mandek, tidak punya arah lagi. Malas, perut buncit, dan akhirnya runtuh. Cukup sederhana. Lain lagi dengan sosialisme, paham yang populer lewat Karl Marx ini membatasi kemampuan individu untuk berusaha. "Yang penting rakyat hari ini kenyang semua", slogan sederhana untuk menggambarkan kehidupan sosialisme. Lantas apa yang ditawarkan ekonomi Islam?

Jujur, saya tidak pernah menemukan pembahasan detail, yang ditawarkan mengenai ekonomi Islam. Yang terlihat, sering diulang-ulang, sistem ekonomi yang ditawarkan Islam adalah jalan tengah, antara kapitalis dan sosialis. Mengedepankan pemerataan ekonomi (mirip sosialis) sekaligus mengajurkan individu untuk mendapat banyak materi (kapitalis). Keunggulan yang disinggung banyak dikaitkan dengan kejayaan Islam masa lalu, sebelum paham materialisme menguasai dunia.

Saya sayangkan sangat ketika titik pembahasan telalu banyak diarahkan pada kelemahan kapitalisme. Kritikan bertubi-tubi memperlihatkan kelemahan yang dianut oleh kapitalisme. Langkah tersebut, menurut saya, tidak akan meruntuhkan kapitalisme, kalau pun tidak sia-sia. Mengapa? Kapitalisme merupakan paham dinamis. Kritik terhadapnya adalah saran bagi kapitalisme,  alih-alih meruntuhkan, malah semakin menguatkannya. Kritik kita akan dimaknai sebagai sempalan, sebagaimana paham alternatif yang banyak muncul di Eropa,yang hanya perlu diakomodasi untuk menyempurnakan sistem kapitalisme. Bukankah ini sia-sia kawan?

Belum lagi, praktek ekonomi Islami tidak diusahakan untuk diterapkan. Tidak perlu menunggu berdirinya khalifah islamiyah. Keberhasilan menerapkan ekonomi Islam, walaupun dalam skala kecil, akan menjadi bukti konkret untuk diikuti. Saya pikir, ini sangat efektif menggugah daya tarik masyarakat. Selama ini ekonomi Islam, hanya menang dalam teriakan, tanpa implementasi. Sangat disayangkan!

Penulis sadar betul, menerapkan sistem ekonomi Islam di bawah bayang-bayang ekonomi liberal kapitalis adalah hal sulit. Benturan pasti akan terjadi, silang pendapat, bahkan pertentangan antara keduanya. Jikalau status quo adalah ekonomi kapitalis, maka kita mencoba ekonomi Islam, mengapa tidak? Saya pikir tidak ada gunanya meneriakkan kejayaan Islam di masa lalu. Sejarah tidak akan mengubah apa-apa kawan, kecuali angan kedaulatan masa lalu. Tidak ada gunanya!

Wallahu a'lam bishawab...

30 Juni 2011

Murtadha Muthahhari; Ulama yang intelektual

Allamah Syahid Murtadha Muthahhari (1919-1979) Ulama Islam kontemporer terkemuka lahir di Khurasan dari keluarga Saleh. Ayahnya, Muhammad Husein Muthahhari, seorang alim yang sangat disegani. Pada Usia 12 tahun, Muthahhari kecil berangkat ke Qum, Iran, untuk belajar di bawah bimbingan langsung Ayatullah Boroujerdi dan Khomeini. Kuatnya ikatan batin Ayatullah Khomeini dengan sang murid, karenanya ketika Muthahhari wafat beliau berpidato dengan wajah sembab dipenuhi air mata "...Saya kehilangan seorang putra yang sangat tercinta dan berduka cita atas perginya seseorang salah satu tokoh hasil dari buah hidup saya". Selain kedua ayatullah di atas, Muthahhari juga belajar filsafat dari Allamah Thabathabai. Guru yang secara mendalam kenal dengan filsafat barat, dari aristoteles hingga Sartre.  Tulisan Sigmund Freud, Bertrand russel, Erich Fromm, Albert Einsten, dan sejumlah pemikir barat lainnya ditelaah secara mendalam oleh Muthahhari. Berbeda dengan kebanyakan pemikir Islam yang mengecap pemikiran barat kemudian bersuara lantang atas nama Islam padahal isinya barat dan menjadikan Islam sekedar lips belaka, Muthahhari mampu mengurai Islam menyentuh substansi.

Ciri yang sangat khas Muthahhari adalah pembahasannya yang padat dan berisi. Senantiasa menjadi pemantik yang siap berkobar, menghangatkan peradaban. Menjelaskan, bukan menghukumi. Beliau tahu betul bagaimana "mengkanter" dominasi pemikiran barat atas dunia, termasuk dunia Islam. Penjelasannya mengalir, mencerahkan, membangun, mengkonstruksi, dan mampu menyisihkan pemikiran barat menjadi catatan kaki tulisannya. Jarang dan sangat langka ada ulama yang fasih dalam Islam sekaligus piawai dngan barat. Tulisannya bagaikan mozaik yang terhampar indah berisi keutamaan Islam atas peradaban.

Ulama pada umumnya identik dengan mushalla, mesjid, khutbah, dll yang menggaransikan ketenangan hidup. Tetapi, beliau memilih badai daripada damai, meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat. Muthahhari aktif berdakwah dan menulis. Tiran Dinasti Shah tidak membuatnya tenang untuk tetap berdiam diri di mesjid. Beliau turun langsung, di radio suaranya terdengar, di depan pemuda beliau menyuarakan perlawanan terhadap bentuk penindasan. Bersama Ali syariati, beliau mengarsiteki Revolusi Iran. Sebuah revolusi yang membuat cemburu kaum Marxisme. Jika saja Karl Marx masih hidup, mungkin dia akan meminta petuah pada beliau dan segera meralat pernyataan "agama adalah candu". Pantas dikatakan,  jika Syariati adalah intelektual yang ulama, maka Murtadha Muthahhari adalah ulama yang intelektual.

Yah, Muthahhari memang tidak pernah akrab dengan tiran Dinasti Shah. Berulang kali diasingkan, masuk penjara. Tetapi pria bercambang ini tidak pernah menyerah. Malah, suaranya makin nyaring terdengar di depan ribuan pemuda Iran. Hingga revolusi meletus, beliau memimpin langsung ulama dan menjadi anggota Dewan Revolusi. Akibatnya, beliau dipandang oleh barat sebagai fundamentalis fanatik. Hal ini bisa dimaklumi, Revolusi Iran jelas-jelas mengakhiri kemesraan barat dengan Iran selama ini. Mereka tidak ingin melihat negara dunia ketiga yang kaya minyak tersebut mandiri apalagi melawan. Tapi kebencian rakyat Iran meluap, membakar puing-puing kemesraaan dan barat sampai tidak tersisa sedikit pun. Tidak peduli dengan embargo di sana-sini. Toh, Iran tetap kokoh sampai sekarang dan menjadi negara dunia ketiga yang tidak mempunyai utang, satu-satunya! Tapi di negara kita, sepertinya itu hanya mimpi. Seandainya saja...

Latar belakang Negara Iran yang Syiah, kelompok Islam minoritas yang berjumlah kurang dari seperempat pemeluk Islam di dunia, tetap menimbulkan kecurigaan. Banyak ulama mengendus-endus kejelekan Syiah, kalau tidak menganggapnya aliran sesat. Begitu juga dengan Muthahhari, tidak jarang label fanatik, fundamental, sesat, reaksioner, dialamatkan pada beliau. Malah ada sebuah blog yang khusus memperingatkan bahaya membaca buku-buku beliau, blog berbahasa Indonesia. Saya yakin, admin blog tersebut tidak pernah membaca sedikit pun karya beliau. Inilah yang disebut Muthahhari, "...Agama suci ini dicederai oleh orang-orang yang mengaku pendukungnya. Di satu pihak, serbuan penjajahan barat dengan kekuatan-kekuatannya yang tampak dan tidak tampak dan di lain pihak kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan kebanyakan orang yang mengaku pendukung Islam dalam abad kita ini, yang menyebabkan pemikiran-pemikiran Islam diserang dari segala pihak, dari prinsip-prinsip sampai pada praktik-praktiknya...". Islam mendapat pukulan telak dari pendukungnya sendiri yang bertindak dibawah panji agama. Itulah yang marak terjadi, termasuk di Indonesia. Muthahhari melanjutkan dengan bahasanya yang khas, "...Itulah sebabnya saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan isu-isu ini sejelas mungkin".

Awal Mei 1979 Ulama besar itu, Allamah Syahid Murtadha Muthahhari, wafat dengan hujanan peluru yang bersarang di tubuh tuanya. Belum sempat beliau menikmati hasil jerih payahnya. Pantaslah jika Jalaluddin rakhmat menggambarkan kehidupan beliau dalam tiga babakan, "Sejarah hidup Murtadha Muthahhari dapat disingkatkan tiga kalimat saja: Ia lahir. ia berjihad. Ia syahid".
  

12 Juni 2011

Misi Kenabian dan Peradaban Ideal

Istilah nabi berasal dari Bahasa Arab nabiy berarti utusan (messenger) atau pembawa berita (prophet). Para nabi diutus (rasul) oleh Tuhan kepada manusia untuk menyampaikan pesan Tuhan, mengarahkan dan mengorganisasikan umat. Mereka datang untuk melepaskan belenggu yang mengikat manusia pada nafsu hewani, tuhan-tuhan palsu, dan berhala (idol). Nabi diberikan sifat khusus yang berbeda dengan masyarakat awam, disebut mukjizat, sekaligus untuk meneguhkan kekuasaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

Dalam sejarah kenabian, mereka diturunkan di tengah-tengah masyarakat untuk membimbing menuju jalan kebenaran. Sebagai utusan, Nabi bertugas memimpin manusia, mengelola dan menggerakkan manusia ke arah kehendak Tuhan dan demi kebaikan umat manusia. Walaupun Seorang Nabi diberi keistimewaan, kesempurnaan pribadi, dan ketidakcacatan, dia tidak lepas dari sifat kemanusiaan seperti makan, minum, berkeluarga, bahkan mati. Perbedaan mendasar Nabi dan manusia biasa terletak pada wahyu beserta tuntutannya. Wahyu sama sekali tidak membebaskan Nabi dari kehidupan masyarakat, tetapi menjadikan mereka teladan manusia sempurna bagi orang lain. Karena itu, Nabi diasosiasikan sebagai perintis dan pemimpin.

Misi seorang dapat dibagi menjadi 2 kategori, pertama: menyampaikan tahuhid, keesaan Tuhan (monoteisme individual). Bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah. Kedua: membangun peradaban dengan menancapkan pilar-pilar utamanya, yaitu keadilan dan kesederajatan manusia (monoteisme sosial). Kedua misi tersebut tidak terpisahkan dalam misi kenabian. Oleh karena itu, nabi yang tidak mampu membangun unsur monoteime serta peradaban ideal dalam msyarakat, dipastikan nabi tersebut palsu.

Karl Marx yang menuding agama (yang dibawa nabi) sebagai penghalang cita-cita ideal peradaban, komunisme. Menurutnya, agama, kapitalis, dan penguasa adalah biang kemelaratan kaum proletar. Bahkan Nabi digolongkan sebagai kelas penguasa oleh Marx. Untuk mencapai masyarakat ideal, kaum proletar harus melawan penindasan dan ketidakadilan dengan cara menumpas penghalang di atas. Dengan begitu lahirlah masyarakat tanpa kelas, tanpa penindasan, apalagi ketidakadilan. Jelas Marx tidak melihat kehidupan Nabi Muhammad selama menjalankan misi kenabian. Pandangan Marx yang materialistik tidak mampu melihat sisi lain dalam peradaban, yaitu spiritualisme.

Madinah (awalnya bernama yatsrib), tempat Nabi Muhammad membangun peradaban disulap menjadi 'surga duniawi' bagi masyarakat, termasuk non-Muslim. Tidak ada alasan untuk membantah fakta ini. Sepanjang sejarah manusia, ketauhidan dan peradaban ideal diramu menjadi satu. Jauh melampaui cita-cita Marx.

Menengok era globalisasi, nilai-nilai luhur peradaban selama masa kenabian mutlak untuk dicontoh. Sangat jelas dalam Al-Quran, bahwa nilai-nilai peradaban yang termaktub dalam agama menjadi lawan terhadap ketidakadilan dan segala bentuk penindasan. Mengapa harus nilai? Kondisi di masa Nabi jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Cara dan pendekatan yang digunakan harus sesuai dengan konteks dan bentuk masyarakat kekinian. Jadi, satu-satunya yang bisa diterapkan adalah nilai-nilai luhurnya. Nilai bersifat universal dan tidak temporer sehingga masa berlakunya adalah sepanjang sejarah manusia, termasuk sekarang dan di masa depan.

Wallahu a'lam bishawab

8 Juni 2011

Rumi, Jiwa, dan Pengetahuan

Hanya dengan "pengetahuan" saja, jiwa tidak dapat diuji;
Pengetahuan berlimpah, jiwa yang lebih agung pun abadi
Jiwa kita melampaui milik si bukan-insani;
Sebab, kian pengetahuan, ia makin dipahami.
Meski malaikat meyandang jiwa yang lebih mulia;
Sebab mereka serba kamil nan tak memendam rasa.
Penguasa sanubari tetap punya jiwa;
Lampaui milik para malaikat! Tinggalkan amalan hina!

Itulah mengapa Adam pantas beroleh hormat malaikat;
Jiwanya, telah Tuhan tinggikan, ungguli jiwa mereka.
Sebab, bagaimana mungkin Tuhan yang Arif berfirman palsu:
Yang lebih tinggi hormati yang rendah?
Tidakkah Keadilan dan Kasih Tuhan menentang.
Seutas onak tanpa harkat dipuja sekuntum mawar?

Apakah jiwa itu? Kesadaran akan baik buruk,
tak suka kerusakan, gandrung kebaikan.
Dan, sebab hakikat jiwa damba kesadaran,
Yang lebih sadar, lebih agung jiwanya.
Sepotong jiwa agung menembusi segala batas,
Semua jiwa lain memuja dan menaatinya-
Jiwa manusia dan malaikat, burung dan ikan;
Sebab jiwanya mengangkas sedang jiwa lain merana.

Dan karena kesadaran-ia damba,
Dan ini tidak mencipta kesan kecuali pada wilayahnya.
Jiwa yang lebih sadar, lebih kemilau;
Dan lebih karib mereka akan Tuhan, ilahi.
Sebab jiwa itu suatu keseluruhan yang bisa dikenali;
Mereka yang tanpa wawasan tanpa jiwa.

*) Jalaluddin Rumi dikutip dari buku Manusia dan Agama; Membumikan Kitab Suci karya Murtadha Muthahhari

21 Mei 2011

Makna Syukur yang Sesungguhnya

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang menganjurkan agar manusia bersyukur. Anjuran ini tidak hanya secara eksplisit dijelaskan dalam Al-Quran, namun juga secara implisit. Begitu juga melalui sabda Rasul, beliau selalu memerintahkan agar hamba Allah senantiasa bersyukur atas nikmat yang mereka peroleh. Dalam perjalanannya, banyak yang memahami makna syukur sebagai ucapan terima kasih kita kepada Tuhan. Sehingga sangat lumrah dijumpai ketika seseorang memperoleh nikmat, langsung mengucapkan Alhamdulillah sebagai ungkapan terima kasih kepada yang Mahamemberi. Sejumlah pertanyaan muncul, di antaranya: Apakah ucapan Alhamdulillah cukup untuk mengungkapkan rasa syukur kita atau ada makna lain dari syukur yang belum banyak diketahui?

Di sela-sela pembahasan Epistemologi Islam, Murtadha Muthahhari dalam Buku Pengantar Epistemologi Islam menyisipkan pembahasan tentang makna syukur. Dalam kaitannya dengan epistemologi beliau mengutip salah satu ayat dalam surah An-Nahl;
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S An-Nahl:78)
Potongan ayat Agar kamu bersyukur dalam hal ini sangat penting: Selayaknya kalian bersyukur dan berterima kasih atas nikmat yang dilimpahkan oleh Allah Swt. Apa maksudnya? Apakah dengan mengucapkan: "Alhamdulillah, aku bersyukur atas nikmat telinga, mata, dan hati yang Engkau berikan". Tidak demikian. Menurut Muthahhari, penting untuk mengetahui arti kata Syukur. Dalam Bahasa Arab, kata syukr memiliki arti taqdir (penghargaan). Bersyukur artinya menghargai. Oleh karena itu maka Allah disebut Syakur (Mahamenghargai). Apakah Allah menyatakan kepada hamba-Nya:"Aku bersukur kepada kalian?" Tentu tidak. Allah bersyukur dan menghargai, maka Dia,
Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (Q.S At-Taubah:120)
Allah menghargai setiap perbuatan baik dan sama sekali tidak menyamakannya dengan kejahatan. Perbuatan baik akan dinilai dan dihargai oleh Allah. Oleh karena itu Allah disebut dengan Syakur.

Lantas apa yang dimaksud dengan seorang hamba yang bersyukur? Yaitu hamba yang memperoleh kenikmatan dan menghargai kenikmatan itu. Menggunakan kenikmatan sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya adalah makna dari menghargai kenikmatan. Mensyukuri tangan buka hanya dengan mengatakan: "Ya Allah, aku bersyukur atas tangan yang Engkau berikan padaku". ini hanya ungkapan rasa syukur, bukan berarti telah bersyukur

Muthahhari melanjutkan dan memberikan penjelasan yang sangat menarik. Beliau menegaskan, bersyukur adalah bergerak, beramal dan mempergunakan kenikmatan sesuai dengan tujuan diciptakannya kenikmatan itu. Untuk apa Allah menciptakan tangan? Menciptakan mata? Menciptakan otak? Bersyukur adalah menggunakan semua kenikmatan tesebut pada jalurnya masing-masing.

Itulah makna syukur yang seharusnya kita pahami dan jalankan dalam kehidupan karena sebaik-baik hamba adalah memperoleh kenikmatan kemudian mensyukurinya. semoga bermanfaat [...]

16 Mei 2011

Amal saleh Tanpa Iman

Pembahasan ini merupakan lanjutan dari pembahasan tentang perbuatan baik non muslim bagian pertama. Anda yang ingin mengikuti pembahasan ini sangat diharapkan untuk membaca terlebih dahulu artikel tersebut agar pemahaman anda bisa runut, selain untuk menghindari kesimpangsiuran pemahaman. Jika sebelumnya kita mengajukan beberapa permasalahan tentang bagaimana nasib perbuatan baik seseorang lantas dia tidak mengikuti tuntunan agama yang benar, kali ini kita akan melihat bagaimana posisi amal saleh seseorang yang tidak beriman serta beberapa pendapat golongan mengenai persoalan ini.

Sekiranya ada seseorang yang berbuat baik tanpa memeluk agama yang benar, lantas perbuatan tersebut dianggap benar menurut agama yang sahih (benar)? Misalnya, menolong orang lain dianggap sebagai perbuatan baik menurut agama yang sahih. Begitu juga dengan bantuan sosial, membela kaum tertindas, dll yang dianggap sebagai perbuatan baik. Seandainya non-muslim melakukan hal-hal tersebut apakah pahalanya diterima atau tidak? Sebelum membahas persoalan ini, kiranya perlu kita ketahui pandangan beberapa golongan mengenai persoalan ini.

Sebenarnya ada dua kelompok yang berseberangan mengenai persoalan di atas, kelompok pertama yang sering mengklaim diri sebagai kaum tercerahkan berpendapat bahwa semua perbuatan baik akan diterima Allah swt, baik muslim maupun non-muslim. Menurut mereka, Allah Mahaadil sehingga Dia tidak akan mengistimewakan hamba-Nya. Allah swt. tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baik hamba-Nya, siapa pun itu. Untuk memperkuat gagasan mereka, kaum tercerahkan mengajukan dua dalil, dalil rasional dan dalil naqli (Al-Quran dan sunnah). Dalil rasional berpijak pada pandangan bahwa hubungan Allah dengan segala wujudnya adalah setara. Karena hubungan Allah sama dengan semua makhluknya, maka setiap perbuatan baik dari makhluk-Nya akan diterima. Seperti diketahui, Allah mahaadil dan keadilan tersebut mengharuskan semua perbuatan baik diterima oleh-Nya. Premis kedua adalah perbuatan baik dan buruk itu bersifat esensi, realitas yang faktual (nyata). Allah melarang jika perbuatan tersebut memang buruk dan memerintahkan setiap perbuatan baik jika toh perbuatan tersebut memang baik adanya. Jadi, perintah Allah itu pada dasarnya mengikuti pola baik-buruknya perbuatan. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah Allah mahaadil dan akan memberi pahala kepada setiap perbuatan baik. Dengan alasan yang sama, tidak ada perbedaan antara semua pelaku dosa, karena semuanya akan disiksa. Dalil naqli yang diajukan oleh kaum tercerahkan diantaranya, (Q.S. Al-baqarah:80-81), (Q.S. Ali Imran:24-25), (Q.S. Al-baqarah:111-112), (Q.S. Al-nisa:123-124), (Q.S. Al-zalzalah:7-8).

Selanjutnya, golongan kedua yang dikenal dengan kelompok ekstrim berpandangan bahwa siapa pun yang tidak beriman kepada Allah dan tidak mengikuti agama yang benar akan mendapat siksa dan amalnya tidak akan diterima Allah swt. Pandangan ini sangat kontras dengan kelompok pertama yang begitu longgar dalam melihat perbuatan baik semua orang. Menurut golongan ini, perbuatan baik non-muslim niscaya ditolak. seperti kaum tercerahkan, mereka juga mengajukan dua dalil, rasional dan naqli. Dalil rasional mereka yaitu, sekiranya perbuatan baik muslim dan non-muslim diterima, lantas apa pengaruh diturunkannya agama Islam dalam hal ini. Tidak mungkin Tuhan menurunkan Islam, sedangkan memeluk dan ingkar terhadapnya sama saja. Sedang dalil naqli yang mereka ajukan adalah (Q.S. Ibrahim:18) dan (Q.S. Al-nur:39-40).

Jika demikian adanya, lantas kelompok mana yang akan kita ikuti. Apakah kelompok pertama atau yang kedua. Mungkinkah ada alternatif ketiga? Untuk memulai diskusi ini kita akan melihat seperti apa nilai iman dan bagaimana kaitannya dengan perbuatan baik serta ganjaran atas iman itu sendiri. Apakah tidak adanya keimanan dalam diri seseorang terhadap prinsip-prinsip agama akan mendapat siksa Tuhan? Ataukah mereka akan dimaafkan dan tidak disiksa? Apakah syarat diterimanya perbuatan baik adalah iman? Apakah kekafiran akan menghapus semua perbuatan baik seseorang dan perbuatan baiknya tidak akan dihitung dalam perhitungan Tuhan?

Pembahasan ini akan kita tinjau dengan melihat beberapa pembahasan awal. Saya tidak ingin melangkahi beberapa pembahasan penting sehingga semuanya bisa menjadi jelas. Oleh karena itu, untuk pembahasan awal yang saya maksudkan akan kita bahas di artikel selanjutnya. Adapun yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya adalah pertanggungjawaban atas kekafiran, tingkat ketundukan, dan Islam faktual dan Islam geografis. Insyaallah kita akan menemukan satu kesimpulan penting setelah membahas tiga poin tersebut.

Wallahu a'lam bishawab...


*) sebagian besar isi artikel ini saya kutip dari buku Keadilan ilahi karya Murtadha Mutahhari.
 

11 Mei 2011

Pengantar; Perbuatan Baik Non-muslim

Saya sangat tertarik dengan pembahasan Murtadha muthahhari tentang perbuatan baik non-muslim pada bagian akhir karyanya, Keadilan Ilahi. Beliau memaparkan berbagai aspek keberatan yang sering muncul terkait dengan topik tersebut di atas. Tentunya topik ini berkaitan erat dengan tema keadilan ilahi, dimana muncul pertanyaan yang mendasar, apakah perbauatan baik non-muslim diterima Allah Swt. atau tidak?

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengulas topik di atas secara singkat. Sebisa mungkin pembahasannya menjadi lebih ringan sehingga mudah dimengerti oleh orang awam, termasuk saya sendiri. Karena ulasan beliau (Murtadha Muthahhari,red) sangat panjang dan luas, maka tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa rangkaian menjadi topik-topik yang lebih sempit supaya mudah dicerna. Kemungkinan ulasan saya akan didapati banyak kekurangan. Jadi, anda yang ingin pembahasan yang lebih jelas dan lengkap, disarankan untuk memiliki buku Keadilan Ilahi karya Murtadha Muthahhari (banyak tersedia di toko buku rausyanfikr).

Untuk memulai diskusi, ada pertanyaan menarik yang pernah dilontarkan seorang pemuda: apakah para penemu dan pencipta besar-non muslim- akan masuk neraka? jika iya, Rene Descartes,Thomas Alva Edison, Louis Pasteur, Isaac Newton, Albert Einsten, dan sederet penemu/pencipta lainnya akan terpanggang di api neraka walaupun jasa mereka tidak diragukan lagi bagi kemajuan peradaban manusia.

Pertanyaan lain yang menarik dan mengundang banyak perebatan, Bunda Theresa yang merawat penderita lepra (kusta) di India-tanpa melihat dari niatnya- dengan penuh kasih sayang. Dimana saat itu sangat sulit untuk mencari orang yang mau merawat penderita kusta, tapi Bunda Theresa datang memikul tanggungjawab untuk merawat orang-orang yang diasinkan, bahkan oleh ayah dan ibunya sendiri.

Perlu saya tekankan, pertama: kita tidak akan memastikan apakah seseorang masuk surga atau tidak karena yang Mahatahu tempat kembalinya seseorang adalah Allah swt. Kedua: kita tidak bisa mengetahui secara pasti beberapa hal: hakikat pemikiran dan keyakinan mereka (non muslim,red)? Nat-niat sejatinya? Watak spiritual mereka? Bagaimana kehidupan mereka yang sebenarnya? Selain pengabdian dan jasa-jasa mereka, kita tidak tahu banyak tentang dirinya.

Pernah suatu hari, seorang alim- sahabat baik Rasulullah- meninggal dunia. Istri si alim tiba-tiba berkata,"Selamat, engkau telah mendapatkan surga!"  Rasulullah terperanjat dan menegur wanita tersebut, "dari mana engkau tahu? Mengapa engkau menetapkan sesuatu tanpa ilmu? Apakah engkau telah diberi wahyu? Apakah engkau tahu secara pasti perhitungan Allah?" Wanita tersebut menjawab,"Wahai rasul, bukankah dia adalah sahabat tuan, selalu bersama tuan, dan berperang bersama tuan?" Rasulullah menjawab dengan dengan kalimat yang menakjubkan dan patut kita renungkan, "sesungguhnya aku rasulullah, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." Ungkapan tersebut juga berkaitan dengan ayat:
Katakanlah: "aku bukan Rasul yang pertama di antara Rasul, dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku..."(Q.S. Al-Ahqaf: 9)

Dari uraian di atas, hikmah yang bisa ditarik adalah: hanya Allah Swt. yang tahu tempat kembalinya seseorang, bahkan non muslim sekalipun. Sungguh mengherankan jika ada orang muslim yang menyebut non muslim pasti ditempatkan di neraka kelak. Menentukan kedudukan sesorang bukanlah urusan kita, dan semuanya harus dikembalikan kepada Allah Swt. sebab, pengetahuan sebenarnya semata-mata hanya milik Allah.

Selanjutnya kita akan memastikan bahwa agama yang diterima hanya satu. Jelas bahwa setiap zaman hanya akan diterima satu agama dan seluruh manusia harus mengikuti agama tersebut. Dalam konteks Islam sebagai agama terakhir, maka agama yang diterima hanyalah Islam saja. Persoalan ini tidak akan kita diskusikan lagi, namun diskusi kita akan berkutat pada persoalan seseorang yang berperilaku sesuai dengan tuntunan agama yang benar sedangkan dia tidak mengikuti agama tersebut (Islam,red)

Sebagai pengantar diskusi kita, saya cukupkan sampai di sini. Di pembahasan selanjutnya saya akan mengulas tentang Apakah diterima suatu amal saleh tanpa iman. Teman-teman yang ingin berbagi ilmu, silahkan berkomentar.

*) Artikel ini saya kutip dengan beberapa perbaikan dari Buku Keadilan Ilahi karya Murtadha Muthahhari.