Tampilkan postingan dengan label sosial budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial budaya. Tampilkan semua postingan

17 Agustus 2014

Merdeka dalam Maya, Sunyi Di Dunia Nyata

Minggu pagi. Jalan poros kota Gorontalo tampak lengang. Tidak seperti hari lain, kali ini tak ada lalu lalang kendaraan. Di Traffic light, 2 orang Polantas mematung, menatap bosan. Tak ada tumpukan kendaraan. Tak ada yang perlu ditertibkan. Di ujung jalan, di perempatan Rumah jabatan Gubernur, Satpol PP sibuk mengatur kendaraan dinas yang hendak parkir. Pagi ini, tepat tanggal 17 Agustus 2014. Hari kemerdekaan Indonesia ke-69. Pegawai Negeri tumpah di lapangan Taruna, mengikuti acara tahunan; Upacara. Kegiatan yang berbuah hukuman kalau tak diikuti. Itu saja, selebihnya hanya basa-basi.

Aku membelokkan motor ke arah Kantor. Jam tangan menunjuk angka 06.55. Upacara kemerdekaan yang dijadwalkan tepat 07.00 sesuai perintah Direktur Utama. Tiba di kantor, aku dimandat sebagai pembaca doa. Meski sudah kutolak dengan alasan intonasi suaraku tak cocok membacakan doa. Tak mengharukan, tak meyakinkan. Lagipula, seumur hidup aku tak punya pengalaman baca doa pada upacara formal seperti ini. Tapi tetap saja, aku didaulat menjalankan tugas itu. Langsung kuminta teks doa, membacanya berulang kali agar bisa kulafalkan dengan baik.

Seperti dugaanku, upacara baru dimulai tepat 07.15. Telat 15 dari jadwal. Tak apa, kita patut bangga, itulah salah satu ciri kita sebagai Bangsa Indonesia. Justru aneh kalau acara dilangsungkan tepat waktu. Upacara dimulai, komandan memberi aba-aba. Aku berdiri di barisan petugas upacara. Mendengarkan secara seksama arahan Direktur Umum yang dibacakan oleh kepala Cabang, ada rasa yang tersentuh. Membayangkan tempatku menapak kaki, Indonesia berumur 69 tahun, aku ditugaskan menjadi bagian dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa. Aku diberi amanah untuk mengabdi, menjadi sekrup kecil dalam gerbong raksasa. Ada semacam tunas, tekad yang tumbuh dari hati bahwa tanggung jawab sedang aku pikul. Tetap berusaha memberi manfaat meski tak seberapa besar. Dan yang aku bicarakan bukan klise semata!

Upacara usai, barisan bubar. Foto bersama dan sedikit basa-basi, lalu pulang. Melanjutkan tidur, mungkin. Kemerdekaan selesai!

Aku pulang. Mengayuh motor butut. Menyusuri jalan berbeda. Musababnya, sebelum beranjak pulang, muncul ide untuk melihat seberapa antusias warga Gorontalo menyambut Dirgahayu Indonesia. Tujuan pertama, Lapangan Taruna, tempat Pemerintah Provinsi Gorontalo beserta jajarannya melangsungkan upacara kemerdekaan. Hendak masuk melihat lebih dekat, sayang tak diijinkan. lalu aku membelokkan motor ke arah jalan lain, berharap bisa menemukan celah. Tetap tidak bisa. Semua kendaraan dialihkan ke jalur lain. Provost tampak kokoh berdiri tengah jalan, tanda tak sembarang orang bisa menembus area yang dijaganya. Kecewa. Upacara meskipun cuma seremoni, tapi tak dirayakan bersama masyarakat. Minimal, warga sekitar. Ekslusif dan elitis seperti tahun-tahun sebelumnya.

08.15. Aku beranjak, melanjutkan perjalan. Bukan pulang! Aku melewati perempatan, belok lalu belok lagi. Jalanan Sunyi. Nyaris tak ada aktivitas warga. Sesekali berpapasan dengan bentor (becak-motor), yang juga kosong melompong tak ada penumpang. Tak ada tanda atau sisa perayaan. Hanya umbul-umbul yang berdiri setengah hati di pinggir jalan utama. Dalam hati, inilah potret sebagian besar kita. Merayakan sekedar basa-basi -atau karena takut kena hukuman dari atasan. Upacara semu yang hanya boleh diikuti -dirayakan- oleh Aparatur negara. Akhirnya, rakyat memilih untuk tidak berbasa-basi; tak merayakan kemerdekaan bangsanya! Lagi pula, merayakan kemerdekaan tak berpengaruh pada kepulan asap dapur sebagian besar warga. Mungkin demikian. Mungkin.

Tak butuh waktu lama untuk mengelilingi jalan utama -dan lorong- Kota Gorontalo. Juga tak semua sudut kota aku kunjungi, tak ada gunanya. Toh, yang kulalui sudah cukup representatif untuk menggambarkan perayaan yang tak dirayakan itu-Kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Aku pulang. Tiba di rumah, melepaskan seragam kantor yang tak sempat dicuci lagi karena harus digunakan esok. Kaget, ada banyak notifikasi di Smartphone. Notifikasi dengan tema yang sama; Perayaan Kemerdekaan Indonesia. Ternyata perayaan sunyi yang baru saja aku lewati, tidak berlaku di dunia maya. Sosial media mengekspresikan Dirgahayu Indonesia begitu riuh dan antusias. Foto, status, dll betebaran. Oh, mungkin nanti, momen penting bangsa ini tak perlu dilangsungkan di lapangan, jalan, atau... di dunia nyata. Cukup dijepret, ditulis, lalu diposting di media sosial. Merdeka dalam maya, sunyi di dunia nyata.

Dirgahayu Indonesia. Merdeka. Merdeka. Merdeka!!!
Gorontalo, 17 Agustus 2014

14 Juni 2012

Pancasila, Persepsi, dan Kekerasan


Ketika firman Tuhan diturunkan melalui seseorang yang dipilih-Nya, kemudian diikuti sekelompok orang dalam kehidupan masyarakat, firman itu melembaga menjadi agama. Ia kemudian berkembang menjadi institusi sosial yang hidupnya bertumpu pada kekuatan solidaritas sosial para pemeluknya.

Pada saat telah menjadi institusi sosial, agama dengan sendirinya melibatkan diri dalam dinamika pluralitas, konflik, dan perubahan yang terus-menerus. Akibatnya, agama sebagai institusi sosial terlibat dalam konflik kepentingan politik dan kekuasa a n yang sering kali mengambil bentuk kekerasan, baik secara internal dalam kehidupan agamanya sendiri maupun secara eksternal dalam kehidupan berbagai agama yang ada dalam masyarakat.

Karena itu, dalam kehidupan masyarakat yang diwarnai kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan yang tajam, radikalisme keagamaan sebenarnya muncul sebagai wujud solidaritas sosial melawan kesenjangan ekonomi dan politik yang ada. Di sinilah kemutlakan agama dijadikan landasan melakukan perlawanan sosial terhadap kesenjangan ekonomi dan politik yang memicu kekerasan sosial.

Teologi dan kekerasan
Tuhan fundamental dalam kehidupan agama. Agama tanpa Tuhan bukan agama lagi, tapi Tuhan bukan agama itu sendiri karena Tuhan tak pernah beragama yang mana pun. Tuhan menjadi sumber agama yang mana pun juga.

Dalam konteks kebertuhanan, peran persepsi sangat besar karena setiap orang yang beragama akan selalu memersepsikan Tuhannya yang jadi sandaran agama yang dianut. Jikalau persepsi orang itu berbeda-beda tentang Tuhan, apakah bisa diartikan bahwa Tuhan itu berbeda-beda dan, dengan demikian, dapatkah dikatakan bahwa apakah Tuhan itu banyak?

Meski suatu keniscayaan, persepsi sebenarnya relatif karena sangat subyektif: tergantung dari mana melihatnya dan kapan. Persepsi seseorang terhadap realitas bukanlah realitas itu sendiri. Hanya realitas artifisial yang dikonstruksikan. Maka, ada dua realitas: realitas itu sendiri yang otonom dan realitas yang dibangun dalam persepsi seseorang terhadap realitas.

Dalam realitas kehidupan sosial keagamaan, persepsi tentang Tuhan itu telah menjadi realitas fenomenal yang meluas. Setiap orang beragama dan komunitas agama memersepsikan Tuhannya sendiri-sendiri. Akibatnya, persepsi tentang Tuhannya berbeda- beda. Nama Tuhannya bisa sama, tetapi isi kesadaran yang dibentuk oleh persepsinya tentang Tuhan sebenarnya berbeda satu sama lain.

Adanya persepsi tentang Tuhan boleh dan sangat wajar. Namun, menganggap bahwa persepsinya tentang Tuhan itu patut dipertanyakan kebenarannya. Tuhan sesungguhnya berbeda dengan Tuhan yang dipersepsikannya. Persepsi tentang Tuhan bukan Tuhan karena sesungguhnya Tuhan itu tak terbatas, sedangkan persepsi bersifat terbatas. Keterbatasan persepsi seseorang membuat keterbatasan mengonstruksi ketidakterbatasan menjadi terbatas.

Hal yang kemudian jadi masalah: ketika persepsi seseorang tentang Tuhan itu dianggap Tuhan dan dimutlakkan kebenarannya. Sesungguhnya Tuhan tak bisa dimonopoli oleh siapa pun: kiai, pendeta, pastor, atau siapa pun. Dalam kenyataan sejarah, perang dan kekerasan dalam kehidupan internal agama ataupun dalam kehidupan eksternal agama terjadi karena masing-masing memperebutkan Tuhan persepsi yang ia mutlakkan. Mereka sesungguhnya berperang bukan untuk Tuhan, melainkan untuk persepsi mereka saja.

Dalam Pancasila
Ketuhanan Yang Maha Esa sebenarnya berada di atas Tuhan Persepsi karena Tuhan Yang Maha Esa telah melintasi batas-batas Tuhan dalam suatu agama. Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan yang ada dalam semua agama dan diakui oleh semua agama. Bukan lagi Tuhan persepsi, tetapi sudah menjadi pengalaman kebertuhanan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Akan tetapi, Ketuhanan Yang Maha Esa itu kehilangan makna dan kekuatannya ketika terjatuh dalam Tuhan Persepsi. Itulah yang lalu memengaruhi dan membentuk perilaku keagamaan seseorang dalam hidup berbangsa dan bernegara: orang lain yang berbeda persepsi tentang Tuhan dianggap salah dan sesat.

Radikalisme keagamaan yang memicu dan memacu konflik kekerasan melawan kesenjangan ekonomi politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesungguhnya bermula dari Tuhan persepsi ini. Harus ada ketegasan negara meletakkan sila pertama Pancasila bukan sebagai Tuhan persepsi, melainkan sebagai Tuhan empirik yang menjadi praktik hidup nyata dalam berkemanusiaan yang adil dan beradab, mewujudkan persatuan Indonesia, dan melaksanakan permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, serta dalam perilaku berkeadilan sosial.

Jika tak mampu tegas, negara akan terseret dalam konflik Tuhan persepsi yang berdarah-darah dan kian sulit menjadikan sila-sila berikutnya dalam praktik hidup berbangsa dan bernegara secara aktual dan konkret.

MUSA ASY’ARIE Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

14 April 2012

The Magic of Gratitude

Sikap positif untuk selalu bersyukur atau terima kasih itu memiliki keajaiban di luar yang kita perhitungkan. Sungguh tepat, hampir semua kitab suci dan agama yang saya pelajari selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur atas anugerah hidup.
Apa pun kondisinya, selalu saja ada yang pantas sekali kita syukuri. Barangsiapa bersyukur, Allah pasti akan menambah nikmat yang sudah diterimanya. Tetapi,barangsiapa yang selalu mengingkari nikmat- Nya, pasti hidupnya akan menderita (Alquran, 14:7). Sikap bersyukur dan senang mengucapkan terima kasih hanya akan muncul dari orang yang mencintai kehidupan. Nasihat suci itu mudah sekali kita amati dan buktikan dalam pengalaman hidup sehari- hari. 

Dalam ungkapan klasik dan populer,di alam semesta ini berlaku law of attraction. Hukum tarik-menarik antara sesama energi. Kalau seseorang selalu berpikir positif, gembira, dan mensyukuri hidup, energi dan nasib positiflah yang akan datang bergabung pada orang itu. Sebaliknya, orang yang selalu berpikir negatif dan serbamengeluh, dunia akan selalu terlihat gelap dan menyiksa. Mereka yang mempelajari teori kekuatan bawah sadar sangat percaya dengan formula ini.

Apa pun yang dibayangkan, pikirkan, dan bisikkan di hati, sesungguhnya seseorang tengah berjalan menuju apa yang dia dambakan. Lebih kuat lagi daya tarik sukses itu kalau disertai doa memohon kepada Allah untuk ikut campur tangan memudahkan jalannya. Coba amati perilaku diri kita masing-masing.Ketika hati dan pikiran jernih lalu mengalir darinya rasa syukur,menatap terbit matahari pagi pun akan terlihat indah. Pepohonan juga turut bicara.

Kehadiran mereka memberikan kesejukan mata dan berbagi oksigen yang diperlukan manusia. Belum lagi guyuran air di pagi hari yang membuat badan sehat dan segar.Semua itu menjadi hidup dan terasa melimpah hanya ketika seseorang memiliki hati dan pikiran positif untuk selalu mensyukuri anugerah kehidupan. Demikianlah selama 24 jam begitu melimpah anugerah Tuhan yang pantas kita syukuri,tanpa kehilangan sikap kritis dan peduli terhadap keadaan yang kurang nyaman.

Situasi sosialpolitik yang pengap bahkan merupakan salah satu panggilan dan peluang untuk berbuat kebajikan menolong sesama sebagai ungkapan rasa syukur utamanya bagi mereka yang memiliki ilmu, kekayaan, jabatan,serta kesehatan untuk mengisi hidup agar lebih bermakna. Pikiran itu ibarat kacamata. Jika warna kacanya hitam, pemandangan akan menjadi hitam.Tentu saja pikiran lebih dari kacamata karena pikiran akan memengaruhi kinerja organ-organ lain dalam tubuh kita, dari yang kasar sampai yang halus.

Pikiran yang sehat, kreatif, dan konstruktif akan membangun dunia imajinasi yang sehat.Pikiran negatif akan selalu mengutuk lingkungan yang dijumpai, di mana saja, kapan saja,dan siapa saja. Selalu berpikir negatif tak ubahnya mengoleksi memori negatif dalam album atau disket pikiran kita sehingga ketika muncul ke permukaan yang keluar adalah cerita dan narasi negatif.

Para nabi dan avatar telah memberikan contoh. Ibarat pohon teratai yang tumbuh di kolam yang kotor dan berlumpur, selalu saja pohon teratai memberikan bunga yang indah dan bersih. Mereka menghadapi dunia yang semrawut, amburadul, namun pikiran tetap kritis, konstruktif, dan hati jernih untuk membangun dunia baru yang beradab yang menjadi warisan dan kekayaan sejarah. Yang selalu merusak pribadi yang penuh syukur adalah sikap rakus dan sombong. 

Orang yang rakus sulit mensyukuri anugerah yang sudah di tangan.Sebaliknya,dia akan selalu  merasa kurang terus sehingga hatinya selalu merasa miskin dan gelisah.Inilah yang mungkin menjangkiti para politisi dan pejabat negara kita sehingga tidak mampu menahan dorongan korupsi. Berapa pun jumlah gaji dan kekayaan yang didapat akan selalu dirasakan kurang. Suasana batin ini diperparah lagi ketika bertemu dengan sikap sombong.Tidak rela, bahkan sakit hatinya, ketika melihat orang lain berlebih dari dirinya.

Karena itu, rakus, sombong, dan dengki selalu hadir dan bekerja bersamaan. Jika tiga penyakit itu bercokol pada orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan, kekayaan negara dan hak rakyat akan dilibas dan dikeruknya. Berbahagialah mereka yang mampu memelihara hati dan pikiran untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan sesama mengingat nilai kekayaan dan kepintaran itu pada akhirnya bukan pada jumlahnya, melainkan pada fungsi dan manfaatnya untuk membuat kehidupan lebih bermakna.

Hidup lebih nyaman, terbebas dari perasaan salah dan dikejar dosa. Seorang koruptor bisa saja merasa menang dalam proses pengadilan.Tetapi,pengadilan nurani tak bisa dibohongi.Bagi orang yang beriman, kita semua akan menghadap pengadilan Tuhan yang tak mungkin disuap.Yang membela dan meringankan adalah amal kebajikan kita.● PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

 

26 Februari 2012

Mencari Pemimpin Yang Bercita Rasa Indonesia

Masih lama memang, tapi ini Indonesia bung! Politik adalah perbincangan yang tidak ada habisnya. Media, lokal maupun taraf nasional, hampir setiap hari bicara tentang politik. Termasuk saya yang akhirnya ikut-ikutan bicara politik. Namanya saja Indonesia, tidak keren kalau tidak latah.

Akhir-akhir ini, lembaga survey rame-rame mempublikasikan hasil surveynya. Sejumlah nama digadang-gadang bakal menggantikan SBY. Kebanyakan politisi senior (orang tua maksud saya), di antaranya Jusf kalla, Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie, Hatta Radjasa, dan sejumlah tokoh lainnya. Mereka ini yang dianggap punya popularitas serta elektabilitas tinggi di mata rakyat. Entah itu valid atau tidak.

Kalau tidak ambruk, di tahun 2014, Indonesia kembali menyelenggrakan pesta terbesar, pesta demokrasi. Termasuk di dalamnya, pemilihan presiden untuk periode 2014-2019. Rakyat kembali “dipaksa” memilih nahkoda bangsa. Di antara sekian banyak nama yang berpotensi menjadi kandidat, kiranya siapa yang paling pantas? Saya tidak berniat untuk menunjuk satu atau beberapa pilihan nama, nanti dikirain kampanye. Lagi pula, pilihan saya pasti “subjektif”.

Melihat situasi sekarang ini, sangat bijak sepertinya kalau pembicaraan kita batasi pada wilayah kriteria saja. Agar nantinya kita tidak terjebak pada pandangan sempit dan tidak rasional. Mengapa? Pembahasan kriteria akan berimplikasi pada pembentukan paradigma atau persepsi. Penulis berharap kemudian, paradigma akan mengarahkan kita pada pilihan rasional. Tentu saja paradigma yang dimaksud adalah paradigma yang benar.

Kita -yang waras- pasti sepakat untuk memlih pemimpin yang bersih, jujur, tegas, lugas, cerdas, dekat dengan rakyat, dan lain-lain. Pembahasan ini sudah lama dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Saya hendak menambahkan satu kriteria lagi yaitu memilih pemimpin yang bercita rasa Indonesia.Sepintas lalu, kriteria tersebut ganjil. Mari kita telusuri agar syarat yang saya ajukan tidak ganjil.

Tepat 1 Mei 1963 Papua, sebuah pulau yang terletak di bagian timur Indonesia di rebut dari tangan Belanda. Nusa Tenggara yang terletak di bagian timur Pulau Bali. Kepulauan Maluku yang terletak di antara Papua dan Pulau Sulawesi. Sebagian Pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Utara Pulau Sumatera. Daerah-daerah tersebut adalah mewakili sebagian besar Indonesia. Faktanya, hingga kini mereka masih jauh terbelakang dibanding daerah lain di Indonesia, seperti Jawa, Sebagian Sulawesi dan Sumatera. Padahal, kita merdeka sejak 17 Agustus 1945. Jangan heran kalau OPM ingin memerdekakan Papua, RMS ingin membebaskan Maluku, GAM ingin memisahkan Aceh dari NKRI. Cukup Timor timur yang melepaskan diri dari Indonesia.

Indonesia seperti yang kita ketahui bersama, terdiri dari banyak suku. Merekalah yang bersepakat mendirikan Republik Indonesia. Makanya lahirlah Bhineka Tunggal Ika, berbeda tapi satu jua. Meskipun saya tidak sepakat pada penggunaan Istilah ini karena hanya mewakili bahasa dari suku tertentu. But, watheverlah! Yang Jelas Indonesia itu adalah suku ambon. Indonesia itu suku Asmat. indonesia itu suku Bugi-Makassar. Indonesia itu suku Jawa. Indonesia itu suku Minangkabau. Indonesia Itu suku dayak, dan lain-lain. Artinya apa? Mereka harus diperlakukan sama. Mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya. Niscaya haram membeda-bedakannya jika kita masih sepakat bahwa bangsa Indonesia itu ada.

Pemimpin yang bercita rasa Indonesia adalah pemimpin yang punya komitmen terhadap bangsa Indonesia. Pemimpin yang mau membangun Papua, Jawa, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Pemimpin yang tidak menjual aset bangsanya untuk asing. Pemimpin yang mampu merasakan penderitaan serta keterbelakangan banyak suku di Indonesia. Pemimpin yang mencintai kebudayaan Indonesia, tidak hanya batik tapi juga tenun songket, tenun sutra, koteka, dan lain-lain. Pemimpin yang bercita rasa Ambon, Papua, Bugis, Jawa, dan lain-lain. Yah, kita mencari pemimpin yang bercita rasa Indonesia. Untuk Indonesia lebih baik

25 Februari 2012

Jika

Jika kita senantiasa berdiri dengan kepala tegak ketika semua orang meninggalkan dan menimpakan kesalahan pada kita; Jika kita tetap percaya pada kemampuan diri di saat orang lain ragu dan berusaha mengubah keraguan itu menjadi keyakinan; Jika kita bisa menunggu dan tidak lelah menunggu, atau dibenci tapi tidak memendam kebencian, atau dibohongi tapi tidak membohongi.

Jika kita bermimpi dan tidak menjadi pemimpi; Jika kita mampu berpikir dan tidak berhenti di situ serta tidak menjadikan pikiran sebagai tujuan; Jika kita bisa bersikap sama pada sebuah kemenangan dan bencana; Jika kita bertaruh pada perjuangan untuk menang lantas kemudian kalah tapi tidak menyalahkan siapa pun meski satu hela napas.

Jika kita mampu menceritakan kebenaran yang pahit di depan seorang raja sekalipun; Jika kita tidak berhenti jika tidak diperhitungkan; Jika kita merasakan waktu adalah putaran detik, bukan menit, jam, dan hari. Jika kita  mampu melihat orang lain sebagai bagian dari alam semesta, diri kita yang tidak boleh disakiti; Jika kita menghargai alam sebagai harmoni ciptaan Tuhan yang luar biasa; Jika kita berbuat baik tanpa menunggu orang lain melakukannya.
Maka, kita telah menjadi manusia, kawanku!

11 Februari 2012

Takdir

Takdir dipahami sebagai kejadian yang telah dialami manusia. Keberlangsungannya niscaya, kita tidak punya wewenang untuk mengubahnya. Seperti kejadian yang baru saja berlalu, kita tidak bisa mengubahnya. Itulah takdir. Sejalan dengan ungkapan, "takdir tidak bisa diubah". Pertanyaannya kemudian, apakah kita tidak punya wilayah pada takdir itu sendiri?

Yang saya ketahui, bahwa takdir memang tidak bisa diubah karena jelas itu bukan wilayah manusia. Akan tetapi, pada kondisi tertentu takdir bisa diset sesuai dengan keinginan kita. Orang tua, jenis kelamin, gravitas bumi, dan golongan darah adalah contoh takdir dimana kita tidak punya pilihan untuk mengubahnya. Sedangkan, pakaian, sepatu, pendidikan, dan makanan adalah wilayah takdir dimana kita punya wewenang untuk menentukannya sendiri. Dalam bahasa agama, hal ini juga dijelaskan secara sederhana oleh Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, seorang mendatangi Ali dan bertanya tentang konsep takdir. Ketika itu beliau meminta orang tersebut berdiri dengan satu kaki dan berselang beberapa waktu diminta lagi untuk mengangkat kakinya yang satu lagi. Sontak, orang tersebut terjatuh. Pesan yang beliau hendak sampaikan, bahwa ada wilayah dimana kita punya kesempatan untuk berikhtiar dan ada pula kondisi dimana kita tidak punya wewenang untuk berusaha.

Dalam kehidupan sehari-hari, takdir sering diasosiakan dengan hal yang sifatnya negatif, misalnya, miskin, kecelakaan, banjir, musibah, dan sederet kejadian yang tidak menyenangkan. Padahal kaya, bahagia, cantik, dan gagah juga bagian dari takdir. Dalam hal ini, kita harus bijak memaknai sesuatu. Tentu Tuhan punya maksud kenapa kita terlahir dari orang tua miskin misalnya. Pasti ada hikmah yang hendak Tuhan sampaikan, baik tersurat maupun tersirat. Jangan sampai kita menyesali sampai mengumpa takdir tersebut. Seperti kata pepatah "terjatuh, tertimpa tangga pula". Kasian di kitanya dan sama sekali tidak gunanya.

Lebih parah jika kita menyesali takdir, dimana kita punya wilayah untuk berikhtiar, misalnya ketika nilai ujian jelek. Lantas menyalahkan takdir. Ini sungguh pekerjaan yang sia-sia. Toh, yang paling pantas disalahkan jika memang demikian adalah diri kita sendiri.

lantas bagaimana cara mengubah takdir? Tidak ada cara lain kecuali membuat diri kita pantas. Jika mau lulus ujian, maka kita harus belajar sampai kita pantas untuk lulus. Mau kaya, maka kita mesti menjadi pribadi yang pantas kaya dengan cara berusaha dan bekerja keras. Maksud saya, takdir harus dipahami sebagai sebuah efek atau kesimpulan. Jika kita melakukan hal yang baik, maka efeknya akan baik pula dan itulah takdir. Sedangkan jika kita berbuat jahat, maka efeknya akan negatif dan itu juga takdir. Intinya kembali ke diri kita masing-masing, bahwa takdir juga sangat bergantung dengan apa yang kita lakukan.
Wallau a'lam bishawab

21 Januari 2012

Strata Sosial [Baru] Bugis-Makassar

                                                         Sultan Hasanuddin

Sistem kemasyarakatan lama Bugis-Makassar,  terbagi atas tiga tingkatan (kasta). Pertama: ana’ karaeng (Makassar), menempati kasta tertinggi dalam stratifikasi sosial kemasyarakatan. Mereka adalah kerabat raja-raja yang menguasai ekonomi dan pemerintahan. Kedua: tu maradeka (Makassar), kasta kedua dalam sistem kemasyarakatan Bugis-Makassar. Mereka dalah orang-orang yang merdeka (bukan budak atau ata). Masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) mayoritas berstatus kasta kedua ini. Ketiga: ata, sebagai kasta terendah dalam strata sosial. Mereka adalah budak/abdi yang biasanya diperintah oleh kasta pertama dan kedua. Umumnya mereka menjadi budak lantaran tidak mampu membayar utang, melanggar pantangan adat, dll.

Seiring dengan perjalanan waktu ketika sistem kerajaan runtuh dan digantikan oleh pemerintahan kolonial, stratifikasi sosial masyarakat Bugis-makassar berangsur luntur. Hal ini terjadi karena desakan pemerintah kolonial untuk menggunakan strata sosial tersebut. Selain itu, desakan agama (Islam,red) yang melarang kalsifikasi status sosial berdasarkan kasta. Pengaruh ini terlihat jelas menjelang abad 20, dimana kasta terendah, ata, mulai hilang. Bahkan, sampai sekarang kaum ata sudah sulit ditemukan lagi, kecuali di kawasan pedalaman yang masih dipengaruhi sistem kerajaan.

Setelah Indonesia merdeka, 2 kasta tertinggi, yaitu ana’ karaeng dan tu maradeka juga berangsur mulai hilang dalam kehidupan masyarakat. Memang pemakaian gelar ana’ karaeng, semisal Karaenta, Petta, Puang, dan Andi masih dipakai, tetapi maknanya tidak sesakral dulu lagi. Pemakaian gelar kebangsawanan tersebut tidak lagi dipandang sebagai pemilik status sosial tertinggi. Lebih banyak dipakai karena alasan keturunan dan adat istiadat.

Dalam lingkup NKRI pula, 3 kasta dalam masyarakat Bugis-Makassar dianggap menjadi hambatan. Sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia, sedikit banyak menyudutkan stratifikasi sosial ini. Oleh karenanya, sosialisasi untuk tidak mengedepankan strata sosial lama terus digalakkan oleh pemerintah. Makna kasta sengaja dikecilkan dalam lingkup keluarga, bukan untuk dibawa dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Persamaan hak serta kebebasan menjadi alasan utama kenapa stratifikasi ini sengaja dikerdilkan dalam iklim demokrasi.
 
Pergeseran Status Sosial
Perkembangan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar yang cepat ikut menggerus nilai lama yang dianutnya, yaitu pengkastaan seperti yang disubutkan di atas. Hal ini terlihat jelas terutama di wilayah perkotaan. Gelar kasta tidak lagi dianggap  sebagai penentu tinggi rendahnya status sosial seseorang di mata masyarakat. Sedikit berbeda dengan wilayah pelosok yang masih kental dengan unsur feodalis. Dimana 2 kasta tertinggi masih menempati posisi tinggi. Seperti yang terlihat di beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Walaupun, mereka dihormati sesuai dengan banyaknya harta serta kedudukan di birokrasi pemerintahan.

Penulis mengamati beberapa faktor yang mempengaruhi status sosial dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Pertama: posisi di bidang pemerintahan. Kesempatan yang sama diberikan Ana’ karaeng, Tu maradeka, maupun ata untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Siapa pun yang menjabat, pasti akan mendapat penghormatan lebih di mata masyarakat. Sekalipun ata, tapi punya jabatan strategis, pasti dihormat dan mendapatkan status sosial tinggi di masyarakat. Kedua: kekayaan. Sudah menjadi ketentuan umum, mereka yang punya capital melimpah akan dihormati. Begitu juga dalam masyarakat Bugis-Makassar, seseorang yang punya harta lebih banyak akan dihormati. Sebenarnya, hal ini bukanlah cerita baru, melainkan sudah ada sejak turun temurun. Kemudian yang terakhir: tingkat pendidikan. Pengaruh tingkat pendidikan sesorang juga berperan sentral dalam menentukan status sosialnya. Sistem pendidikan sudah berbeda jauh dengan masa lampau, dimana mereka yang bisa mengecap pendidikan adalah kasta tertinggi. Sekarang, semua warga negara diberikan kesempatan sama untuk mengecap pendidikan. Sehingga, tidak ada lagi dominasi pengetahuan yang terbatas pada kalangan atas saja.

Terkait dengan hal di atas, saya pernah menjumpai kasus yang menarik di salah satu kecamatan di Kabupaten Jeneponto, Kecamatan Rumbia. Di daerah tersebut banyak tinggal bija karaeng (keluarga raja/bangsawan) yang tersebar di beberapa desa. Secara turun temurun, kepala pemerintahan dijabat oleh bija karaeng tersebut, baik tingkat desa/kelurahan maupun camat sendiri.Hanya saja dalam 1-2 dekade terakhir, jabatan struktural pemerintahan tidak lagi diduduki oleh mereka dan digantikan oleh orang biasa. Pernah terjadi gejolak, bija karaeng merasa keberatan dengan kondisi tersebut. Akan tetapi, keberatan mereka tidak digubris oleh pemerintah. Setelah ditelusuri, memang syarat untuk menduduki jabatan dipemerintahan tidak mereka penuhi, misalnya pendidikan. Selain itu, kapital tidak lagi didominasi oleh mereka. Kedua hal tersebut diyakini menjadi faktor utama menagapa hal tersebut terjadi. Bahkan, camat yang saat ini menjabat bukan berasal dari kasta tertinggi. Menurut pengakuan Camat yang saat ini menjabat, dia dipanggil karaeng oleh rakyatnya, padahal silsilah keturunannya dari rakyat biasa. Dia dipanggil karaeng lantaran jabatan strukturalnya, bukan keturunannya.

Kasus di atas bisa menjadi gambaran terjadinya pergeseran status sosial di masyarakat Bugis-Makassar. Dimana status sosial tidak lagi didasarkan pada keturunan, kasta, maupun stratifikasi sosial lama. Jabatan struktural di pemerintahan, kekayaan, serta tingkat pendidikan lebih dominan berpengaruh dalam menetukan derajat sosial seseorang. Pergeseran ini semakin kental seiring perkembangan kehidupan.

17 Januari 2012

Simpati Jadi Antipati

Matahari meninggi tepat di atas ubun-ubun. Bayangan benda yang disinari tepat jatuh di bawahnya, vertikal. Tidak seperti biasanya mengingat bulan ini adalah puncak musim penghujan. Di daerah tropis seperti Indonesia, Januari tidak pernah lepas dari guyuran hujan. Hampir setiap hari.  Di hari yang berbeda ini, arus lalu lintas sangat padat. Kehidupan masyarakat lebih cepat. Kendaraan melintas, lalu-lalang memanfaatkan kesempatan "mumpun tidak hujan".

Hari itu, pemandangan lain di sebuah perempatan jalan. Sekelompok orang memampang spaduk protes. Di antara mereka ada yang membawa bendera organisasi berukuran mini. Tidak peduli dengan bau aspal menusuk hidung dan terik matahari yang membakar kulit. Katanya mereka adalah mahasiswa. Mahasiswa yang resah dengan kebijakan pemerintah. Pilihan turun ke jalan dipilih sebagai bentuk protes. Berharap pemerintah menganulir atau setidaknya mengubah kebijakannya. Pemandangan seperti ini kerap terjadi, hampir setiap hari. Tentunya di sudut jalan yang lain. Dibantu dengan megaphone, mereka berteriak tidak peduli. Teriakan yang diselingi dengan sumpah serapah.

Aksi mahasiswa tersebut berhasil memacetkan jalan. Kendaraan yang sangat padat berderet rapih hingga ratusan meter. Bagaimana tidak, di tengah jalan berdiri pagar hidup yang bernama mahasiswa. Hampir seluruh badan jalan tertutupi hingga tidak ada yang tersisa bagi kendaraan untuk lewat. Sekali lagi, pemandangan seperti ini sudah lumrah, sering terjadi acap kali aksi mahasiswa dilakukan. Ketika aksi, mahasiswa menjadi penguasa jalan.

Di atas kendaraan yang berderet itu, di balik kaca bening mobil pete-pete, beberapa orang juga mengumpat. Namun, berbeda dengan mahasiswa yang mengumpat kebobrokan pemerintah. Mereka -orang-orang itu- malah berbalik menggerutu melihat sikap pongah para mahasiswa. Letak dilematisnya berada pada titik ini, dimana mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat malah dibenci oleh orang-orang yang diperjuangkannya sendiri. Paradoks dan kontradiktif.

Lantas apa yang mesti dilakukan oleh mahasiswa dalam memperjuangkan rakyat? Haruskah mereka terus turun ke jalan setiap kali menyampaikan aspirasi rakyat? Saya takut, aksi yang berharap simpati malah berbuah antipati dari masyarakat sendiri. Jika demikian -dan memang demikian-, aksi mahasiswa menjadi sia-sia. "Jauh panggang dari api" alias nihil.

Akhir-akhir ini saya mulai berpikir, ada sistem dalam pergerakan mahasiswa yang salah. Gerakan cenderung monoton, elitis, dan tidak "berperikerayatan". Slogan "mahasiswa dan rakyat bersatulah!" yang sering diteriakkan itu tidak lagi relevan pada tataran implementasi. Mesti dilakukan refleksi guna mengevaluasi kembali gerakan mahasiswa hari ini agar perjuangan mahasiswa tidak berbenturan dengan kepentingan rakyat. Kurikulum gerakan mahasiswa mesti di reform guna mengubah paradigma lama menjadi paradigma yang lebih progresif, fleksibel, dan "ngonteks" dengan zaman. 

Salam Perjuangan...!

31 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun, Sebuah Refleksi

Ada dua hal yang sering dilakukan orang menjelang akhir tahun. Refleksi akhir tahun dan resolusi tahun yang akan datang. Refleksi dilakukan sebagai bentuk evaluasi kinerja setahun terakhir. Sejumlah catatan perjalanan sengaja dituliskan guna memaknai kembali peristiwa yang dianggap penting. Prestasi dicatat, termasuk juga kejadian "kelam" guna diambil hikmah di dalamnya. Sedangkan resolusi dimaknai sebagai proyeksi setahun ke depan. Cita-cita dan harapan yang tidak terwujud di tahun sebelumnya dicatat kembali untuk diwujudkan di tahun berikutnya. Refleksi dan resolusi dianggap sebagai ritual wajib setiap akhir tahun. Ritual ini khususnya berlaku bagi masyarakat urban, karena bagi sebagian besar masyarakat udik, pergantian tahun bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Bagi mereka, setiap waktu sama saja. Tidak peduli akhir, awal, atau pertengahan tahun.

Tahun 2011 tinggal menghitung jam. Sebentar lagi akan berakhir. Beranjak meninggalkan kita semua dan tidak akan pernah kembali lagi. Itu pasti. Tahun 2011 akan terkubur, menjadi sejarah bagi setiap orang. Sejarah yang entah mau dimaknai atau tidak. Akan tetapi, alangkah meruginya kita jika tidak bisa memetik pelajaran dari perjalanan hidup kita, setidaknya selama setahun terakhir. Tentu saja bukan untuk membanggakan atau mengutuk perjalanan kita. Tapi sekali lagi, untuk mengambil pelajaran sebagai bahan refleksi untuk menentukan arah kehidupan nantinya.

***
Tidak banyak yang berubah. Status saya masih saja sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang tidak kunjung sarjana. Padahal masa studi saya terbilang tidak "normal" lagi. Jauh dari target awal ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bangku kuliah pada tahun 2006. Orang tua saya, sudah mengulang pertanyaan yang sama ribuan kali, "kapan sarjana nak?". Entahlah, karena faktor pendidikan orang tua yang rendah, selalu saya selalu punya alasan logis atas pertanyaan itu. Dan selalu diterima tanpa embel-embel. Kadang juga saya berpikir, betapa menyedihkannya beliau punya anak seperti saya. Atau mungkin beliau terlalu saya kepada anaknya. Tapi toh, saya punya proyeksi sendiri yang saya jelaskan tiap kali pulang kampung. Orang tua saya mendengarnya dan beliau merasa bangga.

Awal tahun 2011, saya sudah berkomitmen untuk hidup mandiri. Dalam artian, mapan secara finansial. Alasan utamanya, saya bekerja di dua tempat sekaligus. Sampai medio 2011 semuanya masih berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, masalah lain timbul. Kuliah saya jadi berantakan. Orang tua saya komplain. Akhirnya saya harus rela melepaskan salah satu pekerjaan dan kembali ke kehidupan sebelumnya: meminta beasiswa dari kampung setiap bulan. Menyedihkan. Seperti yang saya ungkapkan di atas, sampai akhir tahun 2011 saya masih berstatus mahasiswa. Jadinya, saya masih menerima kiriman uang dari kampung dan belum sarjana. Mungkin ini sebuah kegagalan, tapi saya tidak mau menyebutnya demikian. Itu bukan kegagalan, melainkan keberhasilan yang tertunda (inilah kata-kata yang paling saya benci seumur hidup).

Setali tiga uang dengan kehidupan asmara. Ciee kehidupan asmara ha ha ha. Sempat menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Sayang (bisa ditebak, akhirnya pasti menyedihkan). Hubungan tidak berjalan lama. Saya pernah bertemu orang tuanya dan ditanya kapan sarjana. karena tidak tahu harus jawab apa, dan setelah lama berpikir, dengan enteng saya jawab, "nanti om" Jawaban yang sangat politis dan spekulatif. Dua pekan kemudian, saya putus dengan anaknya tanpa alasan yang jelas.

Ah, dari dari tadi menyedihkan terus. Pelajaran apa yang mau diambil. Sama sekali tidak ada. Terus kenapa saya menulis "refleksi akhir tahun 2011"? Saya juga tidak tahu. Gamang.

***
Cerita menyenangkan. Entahlah, saya tidak tahu harus memulai darimana. Hanya dua kemungkinan, terlalu banyak  sehingga bingung mau mulai darimana atau memang tidak ada sama sekali. Sekali lagi, gamang.

Selain umur yang semakin bertambah, beberapa catatan penting selama tahun 2011 (tentunya tidak menyedihkan). Saya menerima tawaran pekerjaan yang akan dimulai pada awal tahun 2012. Cukup menggembirakan mengingat kondisi keuangan orang tua saya yang semakin tidak memungkinkan saat ini. Semoga terealisasi supaya punya dana cukup untuk melanjutkan pendidikan apoteker pada pertengahan 2012. Orang tua saya juga setuju dengan rencana tersebut.

Memang saya belum bertitel sarjana. Akan tetapi, progres yang sangat baik jelas terlihat. Skripsi sudah ACC, menunggu untuk di"sidang"kan. Tinggal berkas ujian yang perlu disiapkan dan beberapa perlengkapan administrasi. Selebihnya, sudah rampung. Kalau tidak ada aral melintang, awal 2012 saya sudah sarjana. 

Tetapi yang terpenting bagi saya, adalah dialektika pengetahuan yang sangat intens selama tahun 2011. Saya merasakan betul bagaimana pergulatan pemikiran yang mengubah paradigma. Banyak menyerap buku kontemporer yang merasuki alam pemikiran. Banyak pelatihan sempat saya ikuti perlahan mengubah persepsi saya. Memang hasilnya masih abstrak. Akan tetapi pola yang terbangun secara terstruktur semakin mendewasakan saya. Jelas ini menjadi modal penting mengarungi kehidupan selanjutnya. Saya sangat bersyukur.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya punya proyeksi sendiri. Tahun 2011, terlepas dari banyak kekurangan dan target yang tidak tercapai, memberikan pengaruh besar dalam upaya mematangkan proyeksi masa depan. Selebihnya adalah harapan. Bahwa hidup selalu membawa banyak kemungkinan. Ada rahasia dibalik peristiwa. Melihat fenomena, menyingkap noumena. Yakin Usaha Sampai...

14 November 2011

Bung Karno dan Jusuf Kalla Bicara Sejarah

JAS MERAH. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Idiom yang dipopulerkan Soekarno. Presiden pertama RI. Mengingatkan rakyatnya ketika itu. Iya, jangan melupakan sejarah. Apa yang kita nikmati adalah hasil rangkaian peristiwa masa lalu. Kemerdekaan yang kita capai adalah berkah sejarah. Makanya, jangan sekali-kali melupakannya. Maksud Bung Karno mungkin demikian.

Bung Karno percaya, sejarah adalah bagian vital bangsa. Beliau juga meyakini, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa pada sejarahnya. Dan bangsa yang tidak lupa pada sejarahnya adalah bangsa yang pandai berterima kasih. Berterima kasih pada pahlawannya. Berterima kasih pada pelajaran dan pengalaman pendahulunya. Berterima kasih atas pelajaran yang diberikan orang dahulu. Berterima kasih atas warisan budaya pelaku sejarah di masa lalu.

Memaknai sejarah sebagai kereta waktu yang terus melaju. Yang mengiri napak tilas perjalanan bangsa. Saya pikir kita perlu menempatkannya dalam posisi yang benar. Maksud saya, mengingat sejarah tidaklah cukup. Kita mesti memaknainya dengan benar. Memaknainya sebagai pelajaran, refleksi, dan evaluasi atas peristiwa di masa lampau. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Saya teringat dengan ucapan Jusuf Kalla (JK), ketika menyampaikan sambutannya di UNHAS beberapa waktu yang lalu. "Bukti kemunduran bangsa, ketika rakyatnya sibuk membanggakan sejarahnya". Pesan yang beliau hendak sampaikan, membanggakan sejarah tidak akan membuat kita lebih baik. Malah menjadi bukti nyata bahwa kita berada pada kemunduran nyata.

Sejarah adalah fase dimana pelajaran bisa dipetik untuk hidup yang lebih baik di masa depan. Pesan dua tokoh lintas generasi mungkin agak berbeda dalam memandang sejarah. Namun maksud keduanya jelas. Jangan lupakan sejarah, tetapi jangan pula membanggakannya.

10 November 2011

Ribut-ribut Tentang Komodo

Polemik seputar vote Pulau Komodo sebagai salah satu finalis 7 keajaiban dunia terus berlanjut. Ribet dan membingungkan. Banyak pihak menyalahkan satu sama lain. Tidak diketahui siapa yang benar atau salah.

Cerita berawal sebulan yang lalu. Ketika Jusuf Kalla (JK) ditunjuk menjadi duta Pulau Komodo untuk mempromosikan pulau tersebut menjadi 7 keajaiban dunia kategori alam. Untuk menang, Pulau Komodo mesti bersaing dengan 27 finalis lain dari seluruh penjuru dunia. Penentuan pemenang ditentukan berdasarkan jumlah dukungan. Bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu, vote langsung di situs resmi new7wonders.com, melalui telepon, atau SMS.

Tidak berselang lama, dukungan mengalir deras dari berbagai pihak. Terutama Operator Seluler yang rela memangkas tarif layanan premiumnya menjadi Rp.1/SMS. Cukup dengan mengetik KOMODO lalu kirim ke 9818. tidak kurang dari jutaan SMS dukungan masuk setiap harinya.

Di tengah euforia dukungan terhadap Pulau Komodo, muncullah berita yang menghebohkan. Djoko Susilo, Duta Besar RI untuk Swiss, meragukan kredibilitas N7W sebagai penyelenggara pemilihan. Mulai dari kantor fiktif N7W sampai statusnya yang tidak berada di bawah naungan UNESCO. Sontak, hal tersebut menjadi pemberitaan di berbagai media dan menjadi polemik hingga sekarang.

Pemerintah yang diharapkan menyelesaikan masalah tersebut malah lepas tangan dan tidak mau bertanggungjawab. Ada apa? Terlepas dari pandangan sebjektif, beberapa analisis saya bisa jadi pertimbangan:
  1. Djoko Susilo tidak pernah konfirmasi langsung pihak N7W, jadi tudingannya belum sepenuhnya benar dan tidak boleh dipercaya begiru saja. Djoko Susilo hanya memantau kantor N7W tanpa mengecek langsung kemudian langsung menympulkan bahwa N7W fiktif.
  2. SMS voting ke 9818 yang curigai sebagai bentuk penipuan, saya pikir telalu berlebihan. Nilai Rp.1,- adalah biaya untuk operator seluler. Panitia lokal (Ibu Emmy Hafid dkk) sama sekali tidak mengambil keuntungan dari sana. Oh ya, kalau anda pengguna telkomsel silahkan cek di *116#, ternyata 9818 tidak terdaftar sebagai konten premium, jadi tidak usah khawatir pulsa terpotong.
  3. Tahun 2007 Pemerintah, dalam hal ini Kemenbudpar, gagal meloloskan Borobudur menjadi salah satu 7 keajaiban dunia akibat tarif untuk memberi dukungan saat itu sangat mahal, yaitu Rp.1000,-. Kejadian sama berulang di tahun 2010 dan promosi Pulau Komodo oleh pemerintah gagal total. Belakangan isu setoran fee dijadikan alasan.
  4. Anggaplah SMS yang masuk senilai 100 juta rupiah. Uang tersebut tidak sebanding dengan nilai proyek promosi Pulau Komodo oleh pemerintah. Jadi ada alasan untuk mengurangi proyek promosi. Bukankah semakin banyak proyek, korupsi juga semakin tinggi.
  5. Atau jangan-jangan polemik Pulau Komodo merembes ke isu politik. Alurnya begini: Sekiranya Pulau Komodo berhasil menjadi salah satu keajaiban dunia, otomatis nama JK akan melambung dan ditakutkan mempengaruhi konstalasi 2014. Sudahlah, itu hanya pikiran kotor saya saja...
ingat...!
"Puluhan juta tahun Komodo hidup, mereka tidak pernah meributkan dirinya sendiri, jadi ngapain kita mesti ribut-ribut tentang Komodo" 

5 November 2011

November

Adzan subuh berkumandang, membelah rimbunan pohon yang baru saja diguyur hujan lebat. Konon katanya, kala itu pertengahan bulan November 1987, bertepatan dengan hari pertama saya menjejakkan kaki di dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim ibu saya. Jenis kelamin yang tidak dinantikan, karena sebenarnya kedua orangtua saya berharap anak keduanya berkelamin perempuan. Hiks.

Orang tua saya meyakini satu hal: anak keduanya, saya, lahir pada kamis subuh. Itulah mengapa saya katakan "konon katanya", karena berdasarkan kelender Masehi, tanggal 15 November 1987 jatuh pada hari Minggu. Sudah saya cek berkali-kali dan hasilnya tetap sama, bahwa tanggal tersebut bertepatan pada hari Minggu, bukannya hari Kamis. Sampai saat ini, saya juga meyakini hal yang sama, bahwa saya lahir pada kamis subuh, entah tanggal dan tahun berapa. Juga karena tidak ada bukti lain mengenai tanggal kelahiran tersebut kecuali ingatan kedua orang tua. Itu pula yang menjadi alasan mengapa tidak pernah merayakan ulang tahun di sepanjang saya hidup di dunia ini. 15 November bukan tanggal kelahiran saya!

Di kampung kami, dulu, tanggal lahir adalah persoalan remeh-temeh. Tidak diperuntukkan bagi kami yang tinggal jauh di desa. Tanggal lahir adalah urusan orang pintar yang berpendidikan tinggi. Kalau ditanya umur anak-anak mereka, jawabannya pasti panjang. Kurang lebih jawabannya seperti ini, "Si A lahir di bulan syaban, dua tahun lebih muda dari kakaknya, satu tahun lebih tua dari sepupunya, dan seterusnya". Jadi, ketika salah satu anak mereka melanjutkan pendidikan, dimana tanggal lahir mesti dicantumkan, maka mereka akan meminta guru untuk "menentukan" tanggal lahir anak muridnya sendiri. Saya sendiri baru tahu kalau saya lahir di bulan November ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Tahukah kawan, "Bulan November" adalah hasil diskusi antara guru dengan kedua orang tua saya. Ajaib kan!

Sekali waktu saya komplain, mengapa tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak sesuai dengan hari ketika saya lahir. Jawaban kedua orang tua sederhana, katanya, saya lahir kamis subuh, saat frekuensi hujan mulai meninggi di kampung kami, kala petani mulai membajak sawahnya, saat semangat kehidupan warga kampung memuncak setelah lesu akibat musim kemarau. Dan kamu tahu, nak, kata bapak, hal tersebut terjadi di Bulan November saja. Entah benar atau tidak, tapi sejak saat itu saya tak pernah lagi menanyakannya.

Tingkat pendidikan adalah penyebab lain kenapa tanggal tak penting bagi kami, terutama bapak ibu saya. Kedua orang tua saya berpendidikan rendah. Tapi tunnggu, sebenarnya agak risih juga kalau mereka disebut "berpendidikan" - meskipun rendah. Musababnya, mereka berdua tidak punya ijazah sama sekali. Hanya bapak yang paham baca tulis, sedang ibu saya tragis; buta huruf. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai petani, dan saya percaya, tidak butuh ijazah untuk menguasai ilmu membajak sawah.

Saya selalu bingung setiap kali diperhadapkan dengan  blanko, formulir, atau semacamnya yang meminta data pendidikan orang tua. Saya harus mengisinya dengan apa? Sedangkan option "tidak berpendidikan" tidak tersedia. Karena persoalan gengsi, saya isi saja "tamat SLTA". Untungnya, tidak pernah ada yang mengklarifikasi langsung kepada kedua orang tua saya. Urusannya bisa panjang.

Meskipun "tidak berpendidikan", kedua orang tua saya tahu betul bagaimana filosofi pendidikan. Terutama bapak, beliau selalu mengajarkan bagaimana adab menuntut ilmu. Sampai saat ini, meskipun beliau sudah tidak ada (semoga tenang di sisiNya), pesannya selalu saya ingat. dan menjadi energi besar yang siap melecut semangat.

Syukurlah karena orang tua saya memilih Bulan November sebagai bulan dimana saya lahir. Saya suka November. Lovely November...:D

4 November 2011

Setelah Sumpah Pemuda, Apa lagi?

83 tahun berlalu sejak dikumandangkan sumpah pemuda untuk kali pertama. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, sekumpulan pemuda mengukuhkan komitmennya sebagai wujud kesejatian anak bangsa yang kemudian diperingati setiap tahunnya hingga sekarang. Dan sekarang ini kita tengah berada dalam suasana memperingati semangat sumpah pemuda. Sebagai anak kandung bangsa kita telah bersumpah setia untuk satu nusa, satu bangsa, dan berbahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Juga, momentum sumpah pemuda mesti kita maknai sebagai bongkahan komitmen akan negeri kita tercinta, bukannya sebagai ritual tahunan. Semarak sumpah pemuda wajib harus kita jadikan sebagai pelecut semangat dalam membangun Indonesia di tengah keragaman suku, budaya, dan agama.

Tidak bisa dipungkiri, pemuda telah ikut berperan dalam rentetan sejarah bangsa indonesia. Berdiri di barisan terdepan melawan penjajah, saat deklarasi kemerdekaan, ketika pembangunan bangsa, sampai era reformasi. Di setiap catatan historis tersebut, selalu muncul pemuda sebagai motor penggerak. Founding fathers kita juga meyakini bahwa pemuda adalah aktor utama yang dapat diandalkan dalam mewujudkan cita-cita pencerahan bangsa sebagaimana termaktub dalam UUD 1945. Tentu saja, energi besar pemuda memungkinkan untuk diberi peran serta tanggun jawab besar seperti yang diamanahkan founding fathers kita.

Bagaimana pun, Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas utamanya adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan supra struktur negara maupun di lingkup infrastruktur masyarakat, terbuka luas untuk kaum muda Indonesia masa kini.

Tidak sulit memprediksi masa depan suatu bangsa. Lihat saja bagaimana kondisi pemuda mereka. Jika baik, maka baiklah bangsa itu nantinya. Akan tetapi, jika buruk maka bisa dipastikan nasib bangsa tersebut tidak akan lebih, bahkan kemungkinannya hancur dimasa yang akan datang. Bagaimana dengan pemuda Indonesia? Di tengah kepungan masalah yang datang silih berganti tanpa henti, budaya asing yang merangsek masuk. Sampai kita tidak bisa menunjukkan diri sebagai bangsa yang punya identitas serta nilai luhur budaya nenek moyang. Belum lagi kalau sikap pesimis, acuh tak acuh, serta malas kian mendarah daging di kalangan pemuda. Sekiranya memang demikian, maka sumpah pemuda sebagai ikrar serta komitmen kita sebagai pemuda hanya menjadi ritual tahunan, tanpa makna dan aksi untuk membangun bangsa yang lebih baik.

Sedikit banyak, apa yang menjadi keresahan kita semakin menampakkan dirinya. Gejala penyakit sosial kronis mulai menimpa kamu muda bangsa Indonesia. Dimana kaum muda sibuk dengan dirinya sendiri dengan tidak mempedulikan realitas sosial masyarakat sekitar. Apatis, individualistik, mempertuhankan materi, serta akrab dengan budaya hedonisme. Ditempat lain, sekelompok pemuda meneriakkan keadilan, perlawanan terhadap penindasan, memperjuangkan wong cilik, serta slogan-slogan “aktivis” lainnya. Tapi apa, mereka tidak lebih baik. Teriakan di jalan menguap ketika mereka pulang ke rumah masing-masing. Bau aspal jalanan mereka lupakan ketika berbenturan dengan realitas. Hanya mampu berteriak, tanpa aksi nyata. Mereka yang semestinya menjadi ruh perubahan terhadap kehidupan yang lebih baik kini tenggelam dalam refleksi kata. Kondisi demikian oleh Prof. Jimly Asshiddiqie disebut verbalisme. Suatu keadaan dimana kemampuan reflection saja yang berkembang, sedangkan agenda action mandek. Padahal, dalam tataran ideal, keduanya mesti seimbang sebagai syarat utama menatap perbaikan bangsa di era selanjutnya.

Membentuk Karakter Pemuda
Menurut Quraish Shihab, serumit apa pun persoalan yang menimpa bangsa kita, maka selalu ada jalan yang membawa secercah harapan. Harapan yang dimaksud adalah kaum muda. Seharusnya memang demikian. Namun, kita mesti siap menelan pil pahit melihat kondisi pemuda sekarang ini. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Jawaban terakhir yang bisa dilontarkan adalah membentuk karakter pemuda yang berintegritas, satu kata dalam perbuatan.

Dalam membentuk karakter, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak praktis. Ini penting mengingat perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh setiap anak bangsa, terutama anak-anak muda masa kini.

Di samping kemampuan reflektif, kaum muda Indonesia juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Sebagaimana slogan learning by doing, dimana kebiasaan bertindak akan menjadi pengalaman yang selanjutnya membentuk kepribadian. Menggantungkan kemajuan pada tataran wacana tidak berarti banyak jika tidak ada agenda aksi yang nyata. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata. Karenanya, membentuk karakter kaum muda diperlukan kemampuan memaknai (rerleftion) serta bertindak (action). Hanya dengna begitu, harapan kaum muda membawa angin segar perubahan bangsa akan tercapai.

Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua anak muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, keterampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.

Zaman akan terus berlari dan menjauhi mereka yang tidak mau belajar dan berusaha. Terbukti, hanya orang-orang yang mau belajar dan berusaha yang mampu memimpin dan berada di garis terdepan peradaban. Sejarah telah berbicara banyak, bagaimana keberhasilan para pendahulu kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Kita semua berharap aroma perbaikan bangsa berasal dari para pemuda. Tentunya kita bisa optimis akan hal itu, sekiranya kaum muda punya karakter seperti yang disebutkan di atas.

Momentum sumpah pemuda baru saja berlalu dan kita tidak berharap peringatannya sekedar ritual tahunan belaka. Terserah bagaimana cara kita memperingatinya, karena yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai semangat yang dibawanya dalam konteks pembangunan bangsa yang lebih baik. Sekali lagi, sumpah pemuda mengajarkan kita bagaimana membentuk komitmen sebagai wujud kecintaan kita pada bumi pertiwi. Semangat ini tidak boleh berlalu begitu saja, mesti dijadikan bahan evaluasi serta refleksi terahadap sumbangan atau perjuangan kita pada bangsa.

wallahu a’lam bishawab

18 Oktober 2011

Jangan Sebut Saudara Kita Non-muslim...!

Teringat dengan diskusi dengan beberapa orang teman 2 minggu yang lalu. Diskusi kecil-kecilan yang menyorot tema budaya. Setelah pemaparan dari pemateri, berlangsunglah sesi diskusi panjang. Cukup hangat dan menarik. Saya sendiri terlibat aktif di dalamnya dengan mengajukan berbagai permasalahan yang mengganjal di kepala. Begitu juga dengan teman-teman yang lain, mereka cukup aktif menyimak selama sesi pemaparan maupun diskusi.

Dalam perjalanannya, kami mengerucut pada persoalan budaya khas Sulawesi Selatan. Saya semakin tergugah ketika pembahasan melebar ke masalah pergaulan antar-pemeluk agama. Saya pikir ini sangat penting mengingat di Sulawesi Selatan, keragaman umat beragama adalah keniscayaan. Karenanya perlu dibangun sikap positif guna sebagai pengejewantahan sikap toleran, hormat-menghormati, dan persamaan derajat. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil dan sederhana.

Saya beragama Islam. Agama yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia. Selain Islam, masih ada beberapa agama lain yang diakui negara misalnya, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Meski saya tidak pernah sepakat dengan aturan tersebut. Agama adalah persoalan pribadi dan tidak boleh diintervensi, termasuk oleh pemerintah. Tapi sudahlah, saya tidak mau berspekulasi sampai kesana.

Seperti disebutkan di atas, Islam adalah agama mayoritas di Indonesia, sedangkan pemeluk agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu adalah pemeluk minoritas. Tidak jarang, kita yang muslim, menyebut saudara kita yang berkeyakinan lain dengan sebutan non-muslim. Awalnya saya sepakat saja dengan sebutan demikian. Namun, akhirnya saya sadar penyebutan non- sangat tidak etis. Seandainya, Islam adalah agama minoritas di indonesia, maukah kita disebut non-Kristen, non-Hindu, dan non- yang lain. Saya pikir tidak!

Penggunaan kata non- menunjukkan disparitas dan diskriminasi antar-pemeluk agama. Seolah saudara kita yang berbeda keyakinan memeluk agama yang "berbeda", atau "lain". Padahal agama diturunkan untuk manusia.Agama lahir bukan untuk mengkotak-kotakkan manusia. Jadi, apa sulitnya menyebut agama saudara kita. Tidaklah susah rasanya jika kita mengatakan, si A beragama Kristen, si B beragama Hindu, dan seterusnya.

Sekali lagi, keragaman umat beragama adalah keniscayaan. Derajat kita sama, apa pun keyakinannya...

21 September 2011

Belajar dari Negara Pembelajar

Saya percaya bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dengan sendirinya, tanpa sebab. Selalu ada faktor X yang mengiringi perjalanan mereka. Untuk membuktikannya, kita bisa menoleh torehan sejarah yang mereka bangun. Apa saja yang mereka lakukan sampai meraih capaian menakjubkan yang bisa menginspirasi bagsa lainnya. Saya pikir, tidak ada yang benar-benar ajaib, semuanya adalah konsekuensi logis dari apa yang mereka perbuat.

Sebut saja, Inggris, Amerika, Jepang, bahkan China. Mereka adalah sekian dari negara-negara yang mampu menorehkan serta mencetak peradaban besar. Keberhasilannya berperan sentral dalam mempengaruhi arah peradaban. Boleh dibilang, mereka mendikte sejarah. Bagaimana tidak, Amerika dengan keunggulan militer berhasil menjadi polisi dunia. Begitu pula Jepang dengan kemampuannya mencetak barang berteknologi tinggi, murah, dan berkualitas. Inggris, China, serta negara maju lainnya juga demikian.

Seperti saya katakan sebelumnya, mereka tidak lahir dengan sendirinya. Berdiri sebagai bangsa kemudian tiba-tiba unggul, dan maju di segala bidang. Tidak demikian. 8 abad yang lalu, Eropa tidak ada apa-apanya dibanding peradaban lain, terutama Islam. Jangan sebut Amerika, Jepang, bahkan China, mereka tidak ada apa-apanya. Kebangkitan Eropa lahir setelah renaissance menguasainya, abad kegelapan hancur lebur. Disusul ditemukannya alat dan teknologi canggih yang berhasil mengubah nasib mereka, menguasai dunia.

Juga Amerika setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan Inggris melalui pertempuran heroik George Washington dan koloninya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Amerika yang dulunya tempat pembuangan, kini menjadi kekuatan terbesar dunia. Lain cerita dengan Jepang dan beberapa negara serumpun, perjuangannya lebih heroik lagi. Bom atom yang merata-tanah-kan Hiroshima dan Nagasaki tidak meruntuhkan superioritas negara matahari tersebut. Malah, mereka hanya butuh waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi raja, mengungguli Amerika. Kebangkita Jepang diikuti tetangganya, Korea dan China. Nilai  ajaran Confucius tertanam kuat di benak mereka. Memberi semangat kebangkitan luar biasa.

Kalau mau sedikit jeli, sebenarnya bisa ditarik benang merah yang menghubungkan negara-negara maju tersebut. Selain faktor internal (budaya) masing-masing. Apa rahasia sukses mereka? Menjadi pembelajar yang cepat. Ketika penguasa abad kegelapan Eropa terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban Islam, seketika mereka menjadi pembelajar. Transfer ilmu marak terjadi sampai pengetahuannya melebihi sang guru, Peradaban Islam. Amerika yang tertinggal tidak kalah cepat belajarnya. Banyak ilmuwan lahir yang nantinya berpengaruh besar dalam memajukan Amerika.

Paling ajaib dari semua itu adalah Jepang. Mungkin banyak yang menyangka bahwa itu merupakan keajaiban. Saya tidak percaya! Keajaiban hanya untuk orang tolol yang tidak memahami titik persoalan. Jepang, pasca restorasi Meiji menjadi negara pembelajar tercepat. Saking besarnya minat belajar, mereka mendatangkan guru atau ahli yang gajinya lebih tinggi dari kaisar mereka! Pemimpin tertinggi Jepang. Bayangkan! Usai PD II, otomatis Jepang lumpuh total. Siapa yang menyangka keunggulan teknologi dikuasai oleh Jepang 30 tahun kemudian. Amerika sendiri, jelas-jelas sebagai pemenang PD II, terkaget-kaget. Tapi kenyataan telah berbicara, sejumlah merk dagang asal Jepang merajai duni. Sebut saja Sony, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya. Sekali lagi, ini bukan keajaiban yang tumpah dari langit. Melainkan, atas usaha, kegigihan, kerja keras, niat belajar yang dimiliki rakyat Jepang.

Tambahan pula, saat ini rakyat Jepang adalah pembaca buku terbanyak di dunia. Rata-rata mereka menghabiskan 40 buku dalam setahun. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang hanya menghabiskan sekitar 20 buku . Tidak usah sebut Indonesia, tidak bisa dituliskan, malu! Anda tentu mengerti maksud saya.  

Yah, mereka, yang disebut di atas, adalah negara-negara pembelajar. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar adalah pengetahuan. Tanpanya, kita hanya bisa jadi pengekor, penurut, dan terjajah. Mungkin, penggambarannya terlalu dramatis, tapi demikianlah kenyataannya. Sampai di sini, anda pasti tahu faktor X yang saya maksud.
Jika melihat orang besar, tirulah apa yang dia lakukan. Confucius
Banyaklah belajar, karena dalam pengetahuan selalu ada jalan...

Wallahu a'lam

15 Agustus 2011

Menerapkan atau Sekedar Meneriakkan Ekonomi Islam

Secara pribadi, ada kesan tersendiri melihat kegigihan teman-teman yang memperjuangkan Islam. Melihat bahwa agama samawi termuda ini merupakan solusi komplit dalam semua aspek kehidupan. Jalan yang ditawarkan Islam,menurut mereka, merupakan kesatuan utuh. Menghilangkan sebagian, artinya merusak seluruhnya. Beragama tidak cukup dengan mengucapkan kalimah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji, lebih jauh, merupakan jalan hidup, ideologi. Termasuk di dalamnya yang banyak mendapat perhatian khusus adalah bidang ekonomi. Terang saja, isu ekonomi yang mereka sebut "Islami" meluap-luap, menyuarakan idealitas, turun langsung dari Tuhan, dan dipraktekkan oleh Rasulullah sendiri dan pemerintahan pascanabi. Once again, saya bangga terhadap mereka.

Saya sendiri sebelum menulis artikel ini, terlebih dahulu menelaah pembahasan mengenai sistem ekonomi yang dimaksud "Islami" menurut teman-teman saya. Tidak lupa, usaha untuk membandingkannya dengan sistem ekonomi yang ditawarkan sosialisme, maupun kapitalisme. Semata dilakukan agar informasi yang didapat berimbang. Tentunya isi tulisan ini tidak akan terhindar dari penilaian subjektif saya. Akan tetapi, maksud saya jelas, ingin melihat perspektif secara "adil" dan meminggirkan sentimen pribadi di dalamnya.

Saya tergelitik dengan postulat Adam Smith, salah satu pakar ekonomi kapitalis, "otak bekerja karena perut". Itulah "tujuan" kapitalisme. Memutar otak, tenaga, dan segala usaha untuk memenuhi lolongan perut yang minta diisi. Argumen ini kemudian dipelintir, "setelah perut kenyang, apa lagi?". Pada titik ini kapitalisme dianggap mandek, tidak punya arah lagi. Malas, perut buncit, dan akhirnya runtuh. Cukup sederhana. Lain lagi dengan sosialisme, paham yang populer lewat Karl Marx ini membatasi kemampuan individu untuk berusaha. "Yang penting rakyat hari ini kenyang semua", slogan sederhana untuk menggambarkan kehidupan sosialisme. Lantas apa yang ditawarkan ekonomi Islam?

Jujur, saya tidak pernah menemukan pembahasan detail, yang ditawarkan mengenai ekonomi Islam. Yang terlihat, sering diulang-ulang, sistem ekonomi yang ditawarkan Islam adalah jalan tengah, antara kapitalis dan sosialis. Mengedepankan pemerataan ekonomi (mirip sosialis) sekaligus mengajurkan individu untuk mendapat banyak materi (kapitalis). Keunggulan yang disinggung banyak dikaitkan dengan kejayaan Islam masa lalu, sebelum paham materialisme menguasai dunia.

Saya sayangkan sangat ketika titik pembahasan telalu banyak diarahkan pada kelemahan kapitalisme. Kritikan bertubi-tubi memperlihatkan kelemahan yang dianut oleh kapitalisme. Langkah tersebut, menurut saya, tidak akan meruntuhkan kapitalisme, kalau pun tidak sia-sia. Mengapa? Kapitalisme merupakan paham dinamis. Kritik terhadapnya adalah saran bagi kapitalisme,  alih-alih meruntuhkan, malah semakin menguatkannya. Kritik kita akan dimaknai sebagai sempalan, sebagaimana paham alternatif yang banyak muncul di Eropa,yang hanya perlu diakomodasi untuk menyempurnakan sistem kapitalisme. Bukankah ini sia-sia kawan?

Belum lagi, praktek ekonomi Islami tidak diusahakan untuk diterapkan. Tidak perlu menunggu berdirinya khalifah islamiyah. Keberhasilan menerapkan ekonomi Islam, walaupun dalam skala kecil, akan menjadi bukti konkret untuk diikuti. Saya pikir, ini sangat efektif menggugah daya tarik masyarakat. Selama ini ekonomi Islam, hanya menang dalam teriakan, tanpa implementasi. Sangat disayangkan!

Penulis sadar betul, menerapkan sistem ekonomi Islam di bawah bayang-bayang ekonomi liberal kapitalis adalah hal sulit. Benturan pasti akan terjadi, silang pendapat, bahkan pertentangan antara keduanya. Jikalau status quo adalah ekonomi kapitalis, maka kita mencoba ekonomi Islam, mengapa tidak? Saya pikir tidak ada gunanya meneriakkan kejayaan Islam di masa lalu. Sejarah tidak akan mengubah apa-apa kawan, kecuali angan kedaulatan masa lalu. Tidak ada gunanya!

Wallahu a'lam bishawab...

13 Agustus 2011

Terjebak pada Pusaran Verbalisme

Menengok kondisi kekinian bangsa, sangat miris rasanya. Pemerintahan yang disokong dukungan kuat serta suara mayoritas rakyat Indonesia tidak berpengaruh signifikan dalam pembangunan bangsa. Pemerintahan SBY jilid II sedikit banyak telah terbukti "ompong" mengatasi masalah bangsa. Padahal, dalam sejarah pesta demokrasi pasca reformasi, SBY dan Boediono adalah peraih suara terbanyak. Awalnya, dukungan tersebut memberi kita harapan besar mengenai perbaikan bangsa dan negara. Apatah dikata, dilihat dari berbagai sudut pandang, pemerintahan kali ini lebih layak dijudge gagal.

Penulis pribadi, berbesar hati ketika SBY mendeklarasikan, untuk kesekian kalinya, penegakan supremasi hukum. Dalam perjalanannya, asa itu kemudian pudar seiring dengan kesibukan pemerintah mengurus dirinya. Alih-alih mengurus rakyat, SBY malah sibuk menjaga citranya di mata rakyat. Pekerjaan sia-sia yang tidak jelas juntrungannya. Pun kemajuan yang didengungkan selama ini tidak menyentuh rakyat secara riil. Hanya kata yang terlontar tanpa implementasi. Akhirnya, pemerintah mengalami pergeseran fungsi, dari yang awalnya mengurusi rakyat menjadi pabrik kata-kata.

Di lain pihak, politisi sibuk mencari celah kekuasaan. DPR yang sejatinya tempat memperjuangkan aspirasi rakyat malah menjadi arena pertarungan politik, gulat kekuasaan. Bak arena tinju untuk mempertontonkan siapa yang lebih baik. Tidak mengherankan jika setiap masalah yang dianggap populis di mata rakyat selalu di buatkan panja, pansus, atau apa pun istilahnya, kemudian di siarkan dimedia secara massif. Akhirnya, rakyat hanya akrab dengan wajah politisi tanpa tahu apa yang mereka telah lakukan untuk bangsa, kalau pun ada. Sibuk berdebat kiri kanan, menuding si A dan si B. Di saat rakyat pusing memikirkan bagaimana mereka bisa makan hari ini, para politisi malah sibuk berdebat. Jadinya, saya bisa mafhum sekiranya seseorang ditanya mengenai tugas anggota DPR; berdebat.

Verbalisme
Paulo Freire mengakui, perubahan selalu dimulai dari kata-kata. Akan tetapi, kata yang baik dan efektif menurutnya haruslah mengandung dua dimensi, yaitu refleksi (reflection) dan aksi (action). Jika kata hanya bersisi refleksi, pengertian, pemahaman saja, jika penguasaan kata hanya terletak pada sisi ini saja akan menghasilkan verbalisme. menguasai kata secara kognitif (verbalis). Lebih populer dengan sebutan NATO atau "no action, talk only". Tetapi sebaliknya, jika kata hanya berisi aksi atau tindakan, maka kata yang demikian hanya akan menghasilkan aktivisme, yaitu aktivitas tanpa perenungan dan kedalaman makna.Karena itu, Paulo Freire menawarkan konsep praxis sebagai gabungan dimensi refleksi dan aksi dalam kata. Praxis inilah yang penting diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu pendidikan kata-kata yang menyatu dengan tindakan nyata.

Kekhawatiran saya mengerucut pada pembentukan karakter bangsa. Cukup beralasan, saya kira. Sedikit banyak pengalaman berperan sentral membentuk watak dan karakter bangsa. Perdebatan serta pencitraan yang mengedepankan aspek kekuasaan tanpa disertai wujud nyata dalam pembangunan akan menggiring bangsa ke budaya verbalisme. Bagaimana pun, elit penguasa tetap mempunyai pengaruh ke rakyat banyak. Jika pun demikian seterusnya, tontonan verbalis lambat laun menjadi pengalaman yang ikut menentukan karakter bangsa.

Hemat penulis, membangun karakter tidak cukup dengan verbalisme seperti yang sering dipamerkan elit penguasa. Terjebak pada verbalisme akan menumbuhkan budaya malas, debat kusir. Seharusnya, mereka sebagai suara representatif rakyat mencontohkan budaya  positif dengan belajar memahami demokrasi sebagai alat untuk mensejahterahkan rakyat. Harapan besar berada di pundak mereka, semoga saja mereka sadar.

22 Juni 2011

Menggugat; Kenapa Harus Keren ?

Saya berani bertaruh, tidak ada seorang pun di antara kita yang tahu secara "pasti" defenisi "keren". Kata yang sering kita lekatkan pada sesuatu. Di setiap tempat ada saja kata "keren". Saking familiarnya, sampai sampai kita tidak tahu definisi sebenarnya. Dugaan saya, (walaupun sangat meragukan), "keren" hanya terdefinisikan ketika dilekatkan pada suatu objek. Seperti kata "tampan", hanya terdefinisi jika melekat pada objek. Tetapi "keren" dan "tampan" tidak bisa dianalogikan begitu saja, ada jurang besar yang membedakan keduanya.

Bagaimana kalau saya katakan:
Keren itu, naik mobil pribadi kampus.
Keren itu, punya Blackberry. BBM-an tiap hari, di kantin, ruang kuliah, koridor, pete-pete, bahkan di toilet.
Keren itu
, jalan ke mall, nonton di XXI, nongkrong di Pizza Hut, singgah di Solaria atau, ngumpul di KFC.
Keren itu, Jalan-jalan ke Bali, berjemur di Kuta Beach, nginap di hotel berbintang.
Keren itu, Memakai barang merk terkenal yang harganya selangit.
Keren itu, nongkrong di Inulvizta, Nav, Orange, atau tempat karaokean yang lain.
Keren itu, ber-ladies night di Redtro, Balleza, dll.
Keren itu
, menikmati lagu-lagu Lady Gaga, Maroon 5, Taylor Swift, Rihanna, BEP, Cold Play, dan sejumlah musisi barat lainnya.

Itulah keren. Jika ada yang mau menambahkan, silahkan.

Baik, saya mau memperlihatkan fakta unik terkait dengan ke-keren-an.
Tahu tidak, kenapa mall, bioskop, kafe n resto, Bali, hotel berbintang atau tempat "keren" lainnya jadi tempat favorit untuk berfoto? Hasil jepretan di simpan di PC, terus di upload ke Facebook atau twitter. Kenapa? Hanya untuk memperlihatkan, "ini loh saya, keren kan!".  Lain lagi dengan status facebook, "@Kuta beach, panasnya,..hufft", "@Trans studio bareng blablabla", "@XXI", "@Kampung Popsa, yummi...". Kenapa? Supaya orang tahu, "ini loh saya, keren kan!". Masih banyak hal "keren" yang tidak disebutkan. Tapi tujuannya satu, yaitu SAYA KEREN!

Kita ke pertanyaan selanjutnya, kenapa orang berlomba-lomba menjadi keren? Tidak rumit menjelaskannya. keren adalah prestise, mirip dengan gelar sarjana, doktor, atau professor (walaupun orientasinya berbeda). Sedikit saja orang bergelar professor dan gelar tersebut punya prestise wah di mata orang. Menjadi keren itu berbeda dan ekslusif. Keren berarti extraordinary. Orang ingin menunjukkan, bahwa "saya berbeda dengan anda!", "saya bisa meraih sesuatu yang anda tidak bisa capai!", "saya lebih baik dari anda!"

Siapa yang menciptakan budaya keren? Masyarakat itu sendiri yang komponen utamanya adalah individu! Tapi perlu diketahui, keren tidak muncul dengan sendirinya, butuh patron/standar ke-keren-an. Disinilah budaya komsumtif yang biasa disebut komsumerisme dipacu sekencang-kencangnya. Adapun kapitalisme berperan untuk menyediakan segala barang/jasa demi telaksananya budaya komsumtif. Tidak hanya itu, kapitalisme menetapkan patron keren dan tidak keren. Diciptakanlah idol-idol sebagai model yang 'keren'. Jadi, dalam hal ini bisa ditarik benang merah, masyarakat komsumtif yang rakus, kapitalisme memfasilitasi sekaligus menetapkan patron, dan masyarakat/individu sendiri sebagai client (pemakai). Terjadilah hubungan patron-client (tuan-hamba). Saya ambil contoh, Sejelek apa pun rambut Justin Beiber , fans akan tetap menyukai bahkan menirunya. Kenapa? Justin Beiber adalah patron (simbol) ke-keren-an, mengikutinya berarti menjadi keren juga.

Dengan dukungan komsumerisme, budaya keren akan tetap hidup seperti sebuah siklus. Apa yang anda sebut keren hari ini belum tentu berlaku di keesokan hari, begitu seterusnya. Tidak akan berakhir selama rantai yang menghubungkannya tidak terputus. Individu akan terkooptasi, mau tidak mau harus ikut. Pilihannya hanya dua, anda ikut atau menyingkir dari masyarakat atau bersemedi di gunung, sendirian! Saya yakin tidak ada seorang pun diantara kita yang rela menghabiskan hidupnya di gunung sendirian.

Sudahlah! Toh, akhirnya hidup adalah omong kosong[?]

13 Juni 2011

Plato Menggugat Demokrasi

Filsuf besar Yunani Kuno, Plato (428-348 SM) pernah berkata: "bisa saja demokrasi menjadi mimpi buruk dalam sistem pemerintahan". pertama: demokrasi bisa mengarah pada gerombolan 'mafia' pemuas hasrat sesaat. Kedua: demokrasi yang dikuasai pandir yang hanya pintar beretorika. Ketiga: demokrasi mengarah pada intrik pertikaian. Menghindari hal tersebut, Plato mengajukan filosof-raja sebagai kepala negara. Filosof tidak diragukan lagi sebagai pencinta kebenaran mestilah mengambil keputusan sesuai prinsip kebenaran dan keadilan. Pesan Plato cukup jelas, pemimpin harus cinta kebenaran dan mampu menegakkan keadilan.

Gugatan Plato sangat mungkin benar. Tidak perlu kembali ke Zaman Plato untuk membuktikannya, lihat saja negara kita sekarang. Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai negara penganut demokrasi semakin tidak becus saja. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, kapitalisme berwajah neoliberal, dan sekelumit masalah lain. Pemerintah yang seharusnya menjaga dan membangun negara tercinta, malah sibuk bersafari keluar negeri, menjajakan kekayaan alam pada investor asing, beretorika, dan pekerjaan konyol lainnya. Belum lagi budaya korupsi yang mengakar dari RT sampai pejabat teras. Akhirnya, kekuasaan diidentikkan dengan ladang korupsi. Akibatnya, pedagang, petani, akademisi, pengusaha sampai bencong ikut meramaikan Pemilihan Umum. Walaupun mungkin beberapa di antara mereka memang natin tulus, tapi yakinlah sebagian besar dari mereka bertujuan  untuk menduduki kursi empuk di gedung-gedung pemerintahan.

Belum lagi, ongkos demokrasi yang tidak kalah menterengnya. Tidak sedikit kandidat (bupati sampai Presiden) rela menggelontorkan milyaran rupiah demi kekuasaan. Seorang teman berseloroh, "ah, kekuasaan itu seperti barang dagangan dan pencari kekuasaan adalah pengusaha (pedangang,red)". Memang terlihat skeptis, tapi pernyataan teman saya ada benarnya. Korupsi disinyalir sebagai upaya 'mengembalikan modal'. Masih untuk kalau hanya mengembalikan modal. Toh, tidak ada pedagang mau rugi.

Artikel ini tidak akan selesai untuk menguraikan masalah yang mendera Bangsa Indonesia. Baiklah, kita kembali ke pokok pembicaraan. Pertanyaan yang paling mungkin kita lontarkan: sebagai sistem, benarkah kemusykilan terjadi karena sistem kita, demokrasi? Sistem multi-partai yang dianut pascarformasi yang dianggap kemajuan pesat bagi demokrasi malah semakin menenggelamkan Indonesia. Sekarang korupsi sudah dilakukan berjamaah. Istilah politisi, "yah, kita sama-sama tahulah...hehe". Apakah demokrasi yang patut dipersalahkan?

Anas Urbaningrum dalam acara Kuliah Tamu beberapa waktu lalu di Universitas Hasanuddin, menegaskan "perubahan mendadak pascareformasi membuat rakyat, termasuk politisi dan pemimpin kita, kaget. Reformasi dipahami secara sempit. Setiap pemilihan umum dianggap sebagai gelanggang kekuasaan, siapa saja boleh terlibat dan bertarung dalam politik. Inilah yang saya sebut demokrasi artifisial. Tapi, kita harus optimisi untuk mengubah demokrasi yang dipahami salah (artifisial,red) menuju demokrasi substansial, yaitu demokrasi yang beretika, menjunjung tinggi moral, dan mensejahterahkan bangsa sebagaimana cita-cita founding fathers kita". Perlu dipahami bahwa demokrasi semata alat dan hasilnya sangat bergantung bagaimana kita menggunakan alat tersebut.

Kita tidak pernah berharap gugatan Plato menjadi kenyataan, bahwa demokrasilah yang jadi biang keladinya. Hemat penulis, tidak perlu mengkambing-hitamkan demokrasi. Seperti kata pepatah, "daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin". Memperbaiki dan mencari pemimpin berintegritas yang memahami demokrasi sebagai alat untuk mensejahterahkan bangsa jauh bermanfaat.

Salam demokrasi...!

12 Juni 2011

Misi Kenabian dan Peradaban Ideal

Istilah nabi berasal dari Bahasa Arab nabiy berarti utusan (messenger) atau pembawa berita (prophet). Para nabi diutus (rasul) oleh Tuhan kepada manusia untuk menyampaikan pesan Tuhan, mengarahkan dan mengorganisasikan umat. Mereka datang untuk melepaskan belenggu yang mengikat manusia pada nafsu hewani, tuhan-tuhan palsu, dan berhala (idol). Nabi diberikan sifat khusus yang berbeda dengan masyarakat awam, disebut mukjizat, sekaligus untuk meneguhkan kekuasaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

Dalam sejarah kenabian, mereka diturunkan di tengah-tengah masyarakat untuk membimbing menuju jalan kebenaran. Sebagai utusan, Nabi bertugas memimpin manusia, mengelola dan menggerakkan manusia ke arah kehendak Tuhan dan demi kebaikan umat manusia. Walaupun Seorang Nabi diberi keistimewaan, kesempurnaan pribadi, dan ketidakcacatan, dia tidak lepas dari sifat kemanusiaan seperti makan, minum, berkeluarga, bahkan mati. Perbedaan mendasar Nabi dan manusia biasa terletak pada wahyu beserta tuntutannya. Wahyu sama sekali tidak membebaskan Nabi dari kehidupan masyarakat, tetapi menjadikan mereka teladan manusia sempurna bagi orang lain. Karena itu, Nabi diasosiasikan sebagai perintis dan pemimpin.

Misi seorang dapat dibagi menjadi 2 kategori, pertama: menyampaikan tahuhid, keesaan Tuhan (monoteisme individual). Bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah. Kedua: membangun peradaban dengan menancapkan pilar-pilar utamanya, yaitu keadilan dan kesederajatan manusia (monoteisme sosial). Kedua misi tersebut tidak terpisahkan dalam misi kenabian. Oleh karena itu, nabi yang tidak mampu membangun unsur monoteime serta peradaban ideal dalam msyarakat, dipastikan nabi tersebut palsu.

Karl Marx yang menuding agama (yang dibawa nabi) sebagai penghalang cita-cita ideal peradaban, komunisme. Menurutnya, agama, kapitalis, dan penguasa adalah biang kemelaratan kaum proletar. Bahkan Nabi digolongkan sebagai kelas penguasa oleh Marx. Untuk mencapai masyarakat ideal, kaum proletar harus melawan penindasan dan ketidakadilan dengan cara menumpas penghalang di atas. Dengan begitu lahirlah masyarakat tanpa kelas, tanpa penindasan, apalagi ketidakadilan. Jelas Marx tidak melihat kehidupan Nabi Muhammad selama menjalankan misi kenabian. Pandangan Marx yang materialistik tidak mampu melihat sisi lain dalam peradaban, yaitu spiritualisme.

Madinah (awalnya bernama yatsrib), tempat Nabi Muhammad membangun peradaban disulap menjadi 'surga duniawi' bagi masyarakat, termasuk non-Muslim. Tidak ada alasan untuk membantah fakta ini. Sepanjang sejarah manusia, ketauhidan dan peradaban ideal diramu menjadi satu. Jauh melampaui cita-cita Marx.

Menengok era globalisasi, nilai-nilai luhur peradaban selama masa kenabian mutlak untuk dicontoh. Sangat jelas dalam Al-Quran, bahwa nilai-nilai peradaban yang termaktub dalam agama menjadi lawan terhadap ketidakadilan dan segala bentuk penindasan. Mengapa harus nilai? Kondisi di masa Nabi jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Cara dan pendekatan yang digunakan harus sesuai dengan konteks dan bentuk masyarakat kekinian. Jadi, satu-satunya yang bisa diterapkan adalah nilai-nilai luhurnya. Nilai bersifat universal dan tidak temporer sehingga masa berlakunya adalah sepanjang sejarah manusia, termasuk sekarang dan di masa depan.

Wallahu a'lam bishawab