Tampilkan postingan dengan label Seri Metamorfosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Metamorfosa. Tampilkan semua postingan

9 November 2023

Pulang Kampung

Tradisi pulang kampung selalu spesial bagi sebagian besar orang, termasuk saya pribadi. 19 tahun berlalu sejak saya untuk pertama kalinya meninggalkan kampung untuk menempuh pendidikan, pulang kampung selalu istimewa dan memberikan kesan tersendiri. Meskipun perjalanan merantau kala itu tidaklah begitu jauh, tetap saja momen pulang setiap 1 atau 2 minggu sekali adalah peristiwa yang dirindukan dan selalu dinanti. Bahkan ketika perjalanan pulang tidak sederhana dan mudah lagi (berbayar pula!), melewati perjalanan darat hingga berjam-jam lamanya disambung dengan pesawat udara, rutinitas pulang kampung tetap saya lakukan.

Nasib siapa yang tahu. Saya membangun keluarga dan rumah di perantauan yang memastikan saya akan menjalani proses pulang kampung seumur hidup. Tetapi kembali lagi, nasib siapa yang tahu, entah besok lusa saya akan menetap hidup di kampung lagi.

Mungkin sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, saya anak kedua dari dua orang saudara. Tidak mungkin bertambah lagi. Alasan pertama, ibu sudah menopause dan kedua, ayah saya sudah meninggal. Kakak menetap di kampung dengan profesi petani, saya di perantauan sebagai profesional di bidang asuransi kesehatan sosial. Kakak berprofesi sebagaimana ayah kami, petani tentu saja, sedangkan saya bekerja di bidang yang sangat berbeda. Pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tidak berlaku bagi saya. Rasanya saya jatuhnya kejauhan.

Karena pekerjaan kami berbeda, perjuangannya juga beda. Kakak memegang gagang cangkul, berpindah dari kebun yang satu ke kebun lain berharap cengkeh atau mericanya bertahan hidup dengan panen melimpah setiap tahun. Saya sendiri bekerja dengan memutar otak, menjadi budak korporasi yang cekatan, rapat sana-sini dalam gedung ber AC nan sejuk.

Kembali ke pulang kampung. Tepat seminggu lalu ketika perjalanan bersama kakak dari kota kembali ke kampung, kami banyak bercerita seperti biasa. Dia meminta saran untuk anaknya yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin. Bukan tanpa alasan sebenarnya, pertama saya juga alumnus kampus tersebut dan kedua, pekerjaan saya terbilang mapan bermodalkan ijazah dari kampus tersebut.

Saya tidak menjelaskan secara teknis. Tetapi intinya kira-kira begini. Pertama, selesaikan yang telah dimulai, yaitu memperoleh ijazah sebagai modal administrasi. Ibaratnya, ijazah adalah kesan pertama. Di Indonesia, ijazah memperbesar peluang untuk sukses, karena kita akan diberi kesempatan. Kalau tidak punya ijazah, peluang dan kesempatan menjadi jauh lebih sempit. Ada orang sukses kaya raya tanpa ijazah, tapi hanya sedikit.

Kedua, keistimewaan keluarga kita (kami berdua khususnya) unik, dalam kacamata pribadi saya. Saya katakan, perjuangan kita berbeda, pun dengan tingkat kesulitannya masing-masing. Bertani dan berkantor cara berjuangnya berbeda, tapi tidak derajatnya. Sama belaka, sama-sama mulia. Untuk bertahan dan maju, masing-masing kita wajib memiliki etos kerja prima, adaptasi di segala situasi, dan kuat menahan lelahnya berjuang. Istilah kerennya, resiliensi. Sifat yang harus kita wariskan ke anak-anak kita.

Kakak saya memandang jauh keluar jendela mobil yang melaju pelan. Memandangi hamparan sawah kering kerontang akibat kemarau panjang. Mengiyakan tanpa berkata-kata. Dia mengisap rokok Surya penuh hikmat. Di balik kemudi mobil, saya mengintip lewat spion, menelan liur yang nyaris meleleh.



29 November 2019

I'm Back


Tiga tahun berlalu tanpa postingan di blog. Tidak ada aktivitas, bahkan draft tulisan pun tidak ada. Meski sebelumnya juga tidak rutin setiap bulan, tapi 3 tahun tanpa tulisan rasanya kok kelewatan.Tapi itulah kenyataannya.

Tiga tahun terakhir adalah salah satu periode terbaik dalam hidup saya. Berkeluarga sejak akhir 2016, anak pertama lahir tahun 2017, rutin olahraga di tahun 2018, dan 'kurus' di tahun 2019! Itulah rentetan momen sehingga saya harus kembali menulisnya di sela 'ketidaksibukan' di kantor. I,m back!

Saya percaya setiap orang punya momentum atau titik balik dalam hidupnya. Kita mengenal Kolonel Sanders yang berhasil mewaralabakan KFC pada usia 65 tahun dan banyak cerita heroik lain dalam hidup seseorang yang berhasil mengubah hidupnya. Tentu saya tidak akan membandingkan apalagi mensejajarkan perjalanan hidup saya dengan Kolonel Sanders. Tapi bagi saya, titik balik hidup selalu spesial bagi siapapun, sekecil apapun perubahan itu.

Memutuskan nikah menjelang usia 30 tahun adalah salah satu keputusan terbesar. Ada banyak pertimbangan di sana serta tantangan di awal pernikahan. Syukurnya mental saya cukup siap untuk mengarungi gelanggang pernikahan. Walaupun perjalanan 3 tahun ini belumlah menjadi pembuktian yang cukup, tetapi ada banyak alasan rumah tangga kami akan baik-baik saja hingga seterusnya.

Momentum kedua dari tiga tahun paling berkesan adalah saya berhasil mengubah hidup. Tepatnya, berat badan! Menderita obesitas sejak tahun 2010 awal sungguh tidak mudah. Segala cara sudah ditempuh untuk mengoreksi berat badan. Pernah berhasil, tetapi kebanyakan gagal. Puncaknya, timbangan badan menunjuk angka 84 - 85 kg di tahun 2018. Belum lagi keluhan sakit pinggang, kepala, dan leher. lengkap sudah.

Saya pernah berpikir untuk pasrah bahwa usia 30-an adalah tahap awal memasuki masa tua. Sehingga wajar kalau 'nikmat sehat' akan Tuhan kurangi sedikit demi sedikit sampai kita menjemput ajal.

Lari...
Ya, larilah yang mengubah hidup dan menyelamatkan saya. Entah mengapa tiba-tiba saya rutin berlari. Tepatnya pada Agustus - September 2018 saya memulai rutinitas tersebut. Jika sejak tahun 2014 saya berlari sekali seminggu, dua minggu, bahkan sebulan sekali, kali ini saya mencoba 3 - 4 kali seminggu. Cukup mudah memulainya. Hanya perlu bangun lebih pagi, lari, dan konsisten.

Hasilnya luar biasa dan akan cukup panjang jika diuraikan dengan kata-kata. Intinya jika sebelumnya saya berpikir wajar jika usia 30 tahun mulai sakit-sakitan, sekarang usia 30+ adalah waktunya menikmati hidup berkualitas dan sehat sampai tua.

Di sinilah saya sekarang. Melanjutkan perjalanan dan tulisan...


Gorontalo, 29 November 2019

15 Oktober 2014

Tanpa Judul (2)


Madrasah Tsanawiyah tempat aku menimba ilmu terletak di seberang kampung. Jika ditarik garis lurus, jaraknya sekitar 5 km dari rumahku. Dibatasi sungai tua yang arusnya cukup deras. Untuk tiba di sekolah, aku harus melewati jalan setapak, menembus kebun yang lebih mirip hutan.

Setiap pagi aku dan teman-teman yang lain berangkat sepagi mungkin. Kami berjalan kaki pulang dan pergi sekolah. Waktu tempuh sekitar 25 menit. Siswa yang lebih mapan biasanya memilih naik sepeda motor dengan waktu tempuh yang nyaris sama karena harus  berkelok memutar arah melewati jalan yang bisa dilalui kendaraan. Bedanya: yang naik motor tiba di sekolah dengan senyum sumringah, sedang kami tiba dengan wajah kelaparan. Sarapan tadi pagi tak tersisa, habis dalam perjalanan.


Satu waktu, aku ditunjuk untuk mengikuti perlombaan. Semacam cerdas cermat yang pemenangnya sudah bisa diprediksi. Sekolahku diundang dan aku didaulat untuk ikut meramaikan. Ikut meramaikan, bukan untuk memenangkan kompetisi. Musababnya, guruku saja susah payah menjawab contoh soal lomba, apalagi aku yang notabenenya siswa. Belum lagi buku panduan sangat terbatas. Jadi tak salah kalau niatnya cuma turut meramaikan. 

Persiapan menjelang lomba, aku diwajibkan pulang lebih lama untuk berlatih memecahkan contoh soal. Kadang berdebat sengit dengan guru. Sekali waktu, guruku keliru menjawab soal deret angka. Soal tersebut terbilang muda, akibatnya, kepercayaanku runtuh. Sejak saat itu, aku selalu curiga dengan jawabannya. Dan sejak saat itu pula, perdebatan demi perdebatan terus terjadi dalam kelas.

Pelajaran hari ini usai. Aku masih menatap tajam lembaran soal sampai lupa waktu. Lomba dua hari lagi. Adalah waktu yang singkat untuk memecahkan puluhan soal. Ingin kubuktikan bahwa aku bukan siswa level 'turut meramaikan' dalam perlombaan. Aku bisa lebih baik. Hujan turun tanpa disangka-sangka. Sore mulai layu, senja mengintip, dan aku termenung memamtung putus asa di luar kelas...


Aku menatap dingin pada daun yang mulai samar. Kasihan, daun yang selembar itu menari sendiri dalam sendu. Sendiri ia menghadapi hujan, tak ada teman, tak ada kawan yang membantunya menangkis butiran air atau pun sekedar menghiburnya. Ia seakan tumbuh untuk menghadapi dunia sendirian. Mungkin tak lama lagi ia beranjak tua, menguning, lalu gugur dalam sepi tanpa seorang pun yang peduli atas kekalahannya. Sementara itu, aku duduk terpekur di sudut gedung. Menatap daun yang seolah mewakili kesendirianku. Nelangsa. Gelisah menanti hujan yang tak kunjung reda. 

Satu jam berlalu. Matahari lelah dan menyerah pada malam. Bumi terasa suram, gelap lebih awal dari biasanya. Tanah basah pasrah menerima guyuran hujan. Sesekali bunyi sumbang kodok di seberang rumpun bambu. Bunyi yang mungkin niatnya hendak menghibur tapi terdengar seperti ledekan dan ejekan. Dasar kodok yang tak tahu cara menghibur.

Hujan terus menahanku. Aku menengok langit, sebentar lagi malam menyergap. Dengan berat hati, seragam sekolah dan sepatu aku lepas, lalu menjejalkan benda tersebut ke dalam tas plastik bersama buku pelajaran. Aku harus beranjak. Aku berlari kecil memotong daun talas dekat selokan untuk melindungi kepalaku dalam perjalanan pulang. Yah, kepalaku. Hanya itu yang kubutuhkan agar esok tidak terserang flu atau demam.

Baju dalam yang kupakai nyaris basah seluruhnya. Dalam perjalanan yang bisu, sendiri, dan tak romantis itu, air mataku jatuh. Jatuh bersama hujan. Hutan gelap dan menyeramkan tak aku pedulikan. Pikiranku terlalu sibuk dengan harapan. Tekad bahwa perjuanganku tak akan sia-sia. Ini adalah awal yang mesti dinikmati, tak peduli bagaimana pun sulitnya. Hidupku sempurna meski tak mewah. Tubuhku kuat dan orangtuaku siap mendukung apa yang kulakukan kini: menuntut ilmu.


Sepanjang ingatan, kedua orangtuaku tak berkata banyak. Apalagi bapakku yang tak tahu menahu soal kata-kata bijak atau sekedar memberi motivasi kepada anaknya. Mungkin karena pendidikannya terlalu rendah untuk menggurui. Mungkin juga, karena bakat petani yang lebih banyak bekerja daripada bicara. 

Aku tiba di rumah. Sepatu dan seragam aku keluarkan. Esoknya, aku terserang demam sepanjang minggu dan tidak bisa mengikuti lomba. Sial! (Tuhan, ampuni dosaku karena menuliskan kata itu)

17 Agustus 2014

Merdeka dalam Maya, Sunyi Di Dunia Nyata

Minggu pagi. Jalan poros kota Gorontalo tampak lengang. Tidak seperti hari lain, kali ini tak ada lalu lalang kendaraan. Di Traffic light, 2 orang Polantas mematung, menatap bosan. Tak ada tumpukan kendaraan. Tak ada yang perlu ditertibkan. Di ujung jalan, di perempatan Rumah jabatan Gubernur, Satpol PP sibuk mengatur kendaraan dinas yang hendak parkir. Pagi ini, tepat tanggal 17 Agustus 2014. Hari kemerdekaan Indonesia ke-69. Pegawai Negeri tumpah di lapangan Taruna, mengikuti acara tahunan; Upacara. Kegiatan yang berbuah hukuman kalau tak diikuti. Itu saja, selebihnya hanya basa-basi.

Aku membelokkan motor ke arah Kantor. Jam tangan menunjuk angka 06.55. Upacara kemerdekaan yang dijadwalkan tepat 07.00 sesuai perintah Direktur Utama. Tiba di kantor, aku dimandat sebagai pembaca doa. Meski sudah kutolak dengan alasan intonasi suaraku tak cocok membacakan doa. Tak mengharukan, tak meyakinkan. Lagipula, seumur hidup aku tak punya pengalaman baca doa pada upacara formal seperti ini. Tapi tetap saja, aku didaulat menjalankan tugas itu. Langsung kuminta teks doa, membacanya berulang kali agar bisa kulafalkan dengan baik.

Seperti dugaanku, upacara baru dimulai tepat 07.15. Telat 15 dari jadwal. Tak apa, kita patut bangga, itulah salah satu ciri kita sebagai Bangsa Indonesia. Justru aneh kalau acara dilangsungkan tepat waktu. Upacara dimulai, komandan memberi aba-aba. Aku berdiri di barisan petugas upacara. Mendengarkan secara seksama arahan Direktur Umum yang dibacakan oleh kepala Cabang, ada rasa yang tersentuh. Membayangkan tempatku menapak kaki, Indonesia berumur 69 tahun, aku ditugaskan menjadi bagian dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa. Aku diberi amanah untuk mengabdi, menjadi sekrup kecil dalam gerbong raksasa. Ada semacam tunas, tekad yang tumbuh dari hati bahwa tanggung jawab sedang aku pikul. Tetap berusaha memberi manfaat meski tak seberapa besar. Dan yang aku bicarakan bukan klise semata!

Upacara usai, barisan bubar. Foto bersama dan sedikit basa-basi, lalu pulang. Melanjutkan tidur, mungkin. Kemerdekaan selesai!

Aku pulang. Mengayuh motor butut. Menyusuri jalan berbeda. Musababnya, sebelum beranjak pulang, muncul ide untuk melihat seberapa antusias warga Gorontalo menyambut Dirgahayu Indonesia. Tujuan pertama, Lapangan Taruna, tempat Pemerintah Provinsi Gorontalo beserta jajarannya melangsungkan upacara kemerdekaan. Hendak masuk melihat lebih dekat, sayang tak diijinkan. lalu aku membelokkan motor ke arah jalan lain, berharap bisa menemukan celah. Tetap tidak bisa. Semua kendaraan dialihkan ke jalur lain. Provost tampak kokoh berdiri tengah jalan, tanda tak sembarang orang bisa menembus area yang dijaganya. Kecewa. Upacara meskipun cuma seremoni, tapi tak dirayakan bersama masyarakat. Minimal, warga sekitar. Ekslusif dan elitis seperti tahun-tahun sebelumnya.

08.15. Aku beranjak, melanjutkan perjalan. Bukan pulang! Aku melewati perempatan, belok lalu belok lagi. Jalanan Sunyi. Nyaris tak ada aktivitas warga. Sesekali berpapasan dengan bentor (becak-motor), yang juga kosong melompong tak ada penumpang. Tak ada tanda atau sisa perayaan. Hanya umbul-umbul yang berdiri setengah hati di pinggir jalan utama. Dalam hati, inilah potret sebagian besar kita. Merayakan sekedar basa-basi -atau karena takut kena hukuman dari atasan. Upacara semu yang hanya boleh diikuti -dirayakan- oleh Aparatur negara. Akhirnya, rakyat memilih untuk tidak berbasa-basi; tak merayakan kemerdekaan bangsanya! Lagi pula, merayakan kemerdekaan tak berpengaruh pada kepulan asap dapur sebagian besar warga. Mungkin demikian. Mungkin.

Tak butuh waktu lama untuk mengelilingi jalan utama -dan lorong- Kota Gorontalo. Juga tak semua sudut kota aku kunjungi, tak ada gunanya. Toh, yang kulalui sudah cukup representatif untuk menggambarkan perayaan yang tak dirayakan itu-Kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Aku pulang. Tiba di rumah, melepaskan seragam kantor yang tak sempat dicuci lagi karena harus digunakan esok. Kaget, ada banyak notifikasi di Smartphone. Notifikasi dengan tema yang sama; Perayaan Kemerdekaan Indonesia. Ternyata perayaan sunyi yang baru saja aku lewati, tidak berlaku di dunia maya. Sosial media mengekspresikan Dirgahayu Indonesia begitu riuh dan antusias. Foto, status, dll betebaran. Oh, mungkin nanti, momen penting bangsa ini tak perlu dilangsungkan di lapangan, jalan, atau... di dunia nyata. Cukup dijepret, ditulis, lalu diposting di media sosial. Merdeka dalam maya, sunyi di dunia nyata.

Dirgahayu Indonesia. Merdeka. Merdeka. Merdeka!!!
Gorontalo, 17 Agustus 2014

8 Agustus 2014

Potret dari Sudut Jendela Pesawat

Minggu pagi. Derit suara sumbang alarm memekakan telinga. Memaksa tubuh beranjak dari kasur. Tangan merayap mencoba menggapai asal bunyi, tapi gagal. Belajar dari pengalaman, alarm sengaja ditempatkan dari tempat yang tak terjangkau tangan. Hanya dengan begitu, alarm dapat berfungsi sebagaimana mestinya: membangunkan tuannya! Otak setengah sadar berusaha mengingat kenapa saya setting alarm di pagi buta, di hari libur yang semestinya menyenangkan ini. Oh, saya ada jadwal penerbangan pagi dan harus tiba di Bandara paling lambat 1 jam sebelum boarding time.

Gosok gigi dengan mata terkantuk, lalu mandi sambil mengutuki air yang begitu dingin. Mata dan otak pulih 100% setelah tersapu guyuran air dari pancuran. Sejam kemudian, saya tiba di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Setengah jam lebih cepat dari yang diperkirakan. Jalan poros Makassar bersahabat pagi ini, tidak macet seperti hari lainnya. Di bandara, check in lalu menepi di sudut kedai kopi. Menghibur diri dengan secangkir kopi Toraja. Puji Tuhan, hari mendadak indah.

Pesawat take off tepat pukul 11.30. Gemuruh mesin membelah landasan pacu. Mulut saya komat-kamit, berharap semoga bisa memberi tenaga tambahan agar besi terbang bisa meluncur mendongak sempurna, menerbangkan kami para penumpang. Entah doa itu berguna atau tidak, yang penting berdoa. Itu cukup. Saya duduk di deret kedua setelah jendela evakuasi, bagian dimana sayap pesawat menjulur keluar. Ibarat tubuh, saya berada tepat di pangkal lengan.

Pesawat semakin tinggi. Menembus gumpalan awan yang berlapis-lapis. Tak berapa lama pengumuman boleh melepas sabuk pengaman, tanda ketinggian mencapai titik ideal, pesawat kini berada di jalurnya. Saya duduk di seat kanan paling luar dengan maksud tertentu. Sengaja check in lebih awal agar bisa memilih kursi terluar. Dengan konsekuensi, sebisa mungkin saya tidak ke toilet pesawat agar penumpang di samping saya tidak terganggu. Triknya; kurangi minum air putih, apalagi sehabis ngopi, respon fisiologis tubuh memaksa kita ke 'belakang' lebih sering. Alhasil, lancar sepanjang perjalanan tanpa harus ke toilet sekali pun.

Jendela tak saya tutup. Di luar terlihat cerah. Sesekali gumpalan awan terpecah oleh sayap pesawat. Dari tempat saya duduk, awan seperti kapas beterbangan, berirama membentuk formasi yang teratur seperti kasur. Kasur yang sangat luas. Langit sedang biru-birunya, awan tipis memanjang menambah indah pemandangan. Saya meraih handphone dari tas kecil, lalu memotret dari sudut jendela, berkali-kali. Tak perlu mengatur angle, karena semua jepretan terlihat bagus. Tak perlu fotografer handal untuk mengasilkan foto terbaik dari atas pesawat.

***
Memotret dari balik jendela pesawat menjadi kebiasaan rutin akhir-akhir ini. Bukan hanya karena pemandangan indah, ada sesuatu yang lebih dalam dan bermakna. Foto hasil jepretan seperti konklusi, kesimpulan kecil atas perjalanan hidup saya. Saya membayangkan, gumpalan awan adalah usaha dan doa semua orang. Bahwa saya berada di balik jendela pesawat karena ikhtiar serta doa yang panjang, terus menerus dari saya sendiri, orang tua, keluarga dan teman-teman yang lain. Saya masih dalam perjalanan, itulah mengapa saya menyebutnya sebagai kesimpulan kecil. Dan di sinilah saya berada, di balik jendela Garuda.

Jika saya mengingat kembali kondisi keluarga, lingkungan masa kecil, mengabadikan gambar dari pesawat adalah mimpi di pagi buta. Mimpi buta. Mengarapkan kemampuan ekonomi orang tua, injak bandara saja sudah mewah. Ibu saya tertawa geli karena waktu kecil saya menjerit ketakutan kala mendengar suara pesawat terbang. Dia tertawa sambil menitikan air mata, mungkin terharu sekaligus bangga, anaknya kini bersahabat dengan awan, melintasi langit berkali-kali. Setelah tertawa, dia kembali mengulang pesan yang ribuan kali saya dengar; baik-baiklah dengan orang, dengan begitu orang akan akan menghargaimu, meskipun kau tidak kaya. Hanya itu. Dia tak punya basa-basi yang lain.

Sadar bahwa saya tidak punya banyak kelebihan (kecuali berat badan, mungkin) dibanding orang-orang di sekitar saya. Termasuk di dunia baru saya; tempat kerja. Beruntungnya, pengamatan sejauh ini, rekan kerja saya adalah orang-orang baik. Manusia-manusia yang penuh dedikasi dalam bekerja. Saya mesti bertindak, juga dengan menunjukkan yang terbaik, sekuat tenaga dengan segala kemampuan sebagai ungkapan syukur. Karena sejatinya bersyukur adalah dengan bertindak.

Pada akhirnya, saya percaya, tak ada kejutan berarti dalam hidup. Prinsip hidup tetaplah sama; semua soal kepantasan. Selebihnya, hanya kebetulan tak berarti (orang menyebutnya keberuntungan). Itulah mengapa, saya malas mendengar celoteh motivator atau membaca buku motivasi, keduanya membuat hidup terdengar begitu rumit. Tapi yah kembali lagi, lain orang lain pendapat dan begitulah cara saya memandang hidup. Life must go on dan saya akan terus memotret dari sudut jendela pesawat. Insha Allah...

7 Juli 2014

Secangkir Kopi Di Bawah Jendela.


"Tak usah bijak sementara kamu sedang kenyang, karena itu palsu." Dalam perut yang terisi penuh, otak tersumbat, mata sayu, mulut menguap. Kebijaksanaan apa yang engkau harapkan. Revolusi tak pernah lahir dari perut buncit, tapi tercipta dari tubuh lapar yang memimpikan kehidupan yang baik.

7 tahun lalu, rentetan kalimat di atas diucapkan berapi oleh seorang senior di hadapan juniornya dalam sebuah aula kumuh. Saya berstatus sebagai mahasiswa tingkat dua kala itu. Bersama kumpulan mahasiswa bau aspal kering, kami mendengarkan dengan khusu'. Bak  teriakan penyulut darah, kalimat di atas membuat bulu kuduk berdiri.

Selang waktu 7 tahun, saya berada di ruang yang berbeda. Putaran waktu cepat berlalu dan rasanya begitu romantis mengingat kejadian-kejadian tersebut. Ada rindu terselip, indah. Walau tentu saja saya tak berniat kembali mengalami masa itu. 

****
Kenyataan, realita, atau apa pun namanya, seperti tetesan air yang dengan sabar menggerogoti batu idealisme. Terkikis sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti, akar idealisme tercerabut seiring dengan tanggung jawab yang kita emban kini. Ujungnya kita lalu kadang lupa atas janji masa muda (bukan berarti saya sudah tua yah). Betul kata orang bahwa pundak hanya mampu memikul kenyataan selebihnya hanya angan heroisme utopis, tak nyata.

****
Saban hari, tumpukan kertas berhamburan di atas meja kerja. Saya mengintipnya satu persatu, menganalisa, dan memilih mana yang akan saya tuntaskan terlebih dahulu. Gelas ukuran jumbo, berisi kopi super kental sesekali saya seruput takzim. Kompensasi yang sepadan atas kerja keras otak. Aroma pengharum ruangan dan hembusan malas Air Conditioner menusuk tulang tak mampu meredakan suhu otak. 

Tak ada yang romantis. Semua berjalan secara mekanis. Seharian duduk di kursi yang sama, menatap layar komputer yang berisi data. Sesekali mencuri waktu di dapur, sekedar meluruskan punggung atau menghabiskan satu batang rokok. Kemudian pulang tanpa sapaan manis senja. Malam sudah meniup matahari kembali ke peraduannya. Betul kan, tak ada yang romantis.

Nyatanya, bekerja sesuai passion hanyalah klise. Ungkapan i love my job tak lebih dari sekedar upaya menghibur diri. Digaji untuk bekerja, kau anggap passion atau apa pun itu, tak ada urusan, yang penting selesai. Lagi, tak ada yang romantis.

Boleh jadi, di masa depan, rutinitas saat ini akan saya ingat sebagai sebuah romantisme. Dan mungkin di masa depan cara menimbang hidup menjadi berbeda. Jika saat ini, ingar bingar adalah solusi ampuh membalas kesedihan, mungkin di masa yang akan datang, renungan teduh diam menyepi adalah cara saya menghadapi kenyataan.

****
Malam. Secangkir kopi di bawah jendela. Pikiran di antara jeda waktu. Dan akhirnya apa pun itu, hidup adalah soal waktu dan ruang kita dimana berada. Karena masa lalu hanya pantas untuk dikenang. Show Must go on. Sekian.


16 Maret 2014

Gorontalo Pada Suatu Siang

Jam besar menggelantung di lobby hotel. Pukul 07.45 sopir tiba di pelataran hendak menjemput. 12 orang dari kami enggan berbicara dan bercanda seperti hari-hari sebelumnya. Musababnya, tepat pada hari itu, Kamis 13 Maret 2014, kepala divisi regional X akan membacakan Surat Keputusan penempatan. Keputusan yang akan mengubah bentuk cara hidup kami, setidaknya untuk jangka 2-3 tahun ke depan. Hening berlanjut dalam perjalanan ke kantor. Sopir memancing tawa tapi kami bungkam. Memikirkan nasib dan jalan yang menentukan. Masa depan di ujung tinta selembar kertas yang kini ada di tangan kadivre. Betapa menjengkelkannya.

Tiba di kantor, duduk di lobby. Semburan AC membuat beku suasana. Kami berkumpul, berdempet menoleh ke ruangan kepala unit SDM. Menanti arahan. 08.45, seorang staf mengarahkan kami menuju ruangan kadivre. Ibu paruh baya itu tampak kukuh menyambut kami dengan ramah. Sorot matanya menebar aroma tegas. Kami duduk melingkar, pasang muka ramah dengan sedikit senyum. Kadivre memulai pembicaraan, memperkenalkan diri dan perjalanan karirnya selama mengabdi di perusahaan. Kami pun begitu, berdiri satu per satu, memperkenalkan nama, asal daerah, latar belakang pendidikan dan seterusnya. Suasana bertambah horor kala staf lain memasuki ruangan dengan selembar kertas di tangan kanannya.

Oh, ternyata SK Penempatan. Ekspresi kami langsung berubah. Ibu berambut sebahu itu memandang kami dengan senyum simpul. Kata motivasi langsung keluar dari mulutnya sebagai respon atas ekspresi kami. Waktu terasa lambat, saya seakan berada di dunia lain. Membayangkan daerah mana saja yang kemungkinan menjadi tempat saya menghabiskan banyak waktu nantinya.

SK dibacakan seperti surat vonis. Satu per satu. Ekspresi senang dan sedih bercampur ketika teman yang lain mendengar penempatannya. Tiba giliran saya. "Muhammad Kasim, kamu ditempatkan di kantor cabang Gorontalo. Di sana kamu harus bla bla......" Kalimat terakhir itu tak lagi saya dengarkan. Pikiran saya terlalu sibuk memikirkan apa yang akan saya lakukan di sana. Saya akan menghabiskan waktu panjang di daerah yang sama sekali belum pernah saya injak. Pikiran saya terlalu sibuk hingga tak lagi mendengarkan kelanjutan pembacaan SK penempatan.

Jumat sore. Hujan. Bandara Sultan Djalaluddin saya injak pertama kali. Tanggal 14 Maret 2014. Momen yang akan saya ingat seumur hidup...


Gorontalo, minggu 16 Maret 2014. 12.05 pm

20 Desember 2013

Petani dan Hantu Inferioritas

Miris melihat data sensus pertanian yang dirilis oleh BPS pertengan 2013 lalu. Setiap tahun jumlah petani susut rata-rata 1,75%. BPS menyebutkan, jumlah rumah tangga usaha tani di Indonesia turun 5,04 juta dari tahun 2003 yang sebesar 31,17 juta. Jika dihitung dalam satu dekade terakhir jumlah petani anjlok hingga 16%. Artinya, jumlah petani hingga kini tersisa sekitar 26,13 juta. Tren penurunan ini diperkirakan akan terus berlanjut sekiranya tak ada langkah efektif dan serius pemerintah. Sementara itu, agak absurd berharap banyak pada pemerintahan SBY mengingat signifikansi penurunan jumlah petani terjadi selama SBY berkuasa.

Secara nasional, penurunan jumlah petani tentu saja menyerempet banyak aspek. Terutama ekonomi dan stabilitas pangan di Indonesia. Saya sendiri tak mungkin membahasnya detail. Terlebih keterbatasan ilmu di bidang pertanian dan ekonomi. Juga tak akan membahas kehidupan ekonomi mereka yang memilih pensiun sebagai petani. Saya hanya akan membahas kasus yang mungkin sifatnya 'kasuistik', tak berlaku di tempat lain. Tulisan ini tidak memuat data, hanya pengamatan kecil dan berusaha menarik benang merah atas fenomena di atas.

Sebagai informasi awal. Saya lahir di sebuah kampung sederhana bagian utara Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kampung berpenduduk nyaris 100% petani dengan tingkat pendidikan rendah. Rata-rata tamat SD, yang buta aksara juga tak sedikit. Hingga awal 2000-an, tak sampai 10 orang yang menamatkan pendidikan sampai tingkat universitas. Sedih juga, tapi itulah kenyataannya. Kendala ekonomi dan orang tua yang parno dengan pendidikan tinggi - yang katanya berbiaya tinggi. Faktor terakhir ini lebih dominan sebenarnya. Lebih baik berhenti ketimbang menjual tanah warisan demi biaya sekolah.

Seiring berjalannya waktu, ditambah serbuan informasi - terutama dari TV - membuat persepsi warga kampung tentang pendidikan berubah. Fakta ini setidaknya bisa diamati sejak tahun 2005 hingga sekarang. Ditunjang kehidupan ekonomi yang semakin membaik karena peningkatan harga komoditas tani. Banyak orang tua mengirim anaknya kuliah di Makassar. Kabanyakan ilmu keguruan atau bidang kesehatan. Menggembirakan. Kendati tersimpan bahaya laten jika menaksir keberlangsungan profesi petani di masa depan. Berikut yang mungkin berguna sebagai bahan renungan.

Coba tanya satu orang anak petani, satu saja. Mau jadi apa jika dewasa kelak. Jawabannya mungkin macam-macam kecuali satu; jadi petani. Nyaris tak ada anak petani - dalam bayangan saya - yang mau mewarisi profesi orang tuanya, kecuali terpaksa atau dipaksa keadaan. Taruhlah 10 anak petani, semuanya bercita-cita berprofesi apa saja kecuali jadi petani. Mungkin hanya 1 atau 2 saja yang 'sial' dan akhirnya jadi petani, selebihnya tidak. Apa artinya, petani tak mewarisi petani baru - yang lebih muda. Akibatnya, lambat laun usia petani semakin tua dan hanya digantikan segelintir orang-orang sial yang jumlahnya lebih sedikit. Bagaimana 10 tahun ke depan, 20 atau 30 tahun? Tidak usah dijawab. Nah, itu yang pertama.

Tidak usah guru atau tenaga kesehatan, coba tanya sarjana pertanian yang rela jadi petani. Nyaris tak ada (bisa dicek lagi kebenarannya). Sulit ditemukan, pemuda lulusan pendidikan tinggi yang mau jadi petani, sekalipun dia anak seorang petani. Seringkali ini yang jadi pembenaran: sarjana pertanian tugasnya pada bagian manajemen pertanian, penyuluh, atau pengembangan bibit unggul. Bukan saya mencoba mendiskreditkan profesi "tanpa keringat" tersebut. Akan tetapi, aneh saja jika semua sarjana pertanian ogah mengayun cangkul, cemplungkan kaki di lumpur, dan merasakan gemburnya tanah ladang.

Akhirnya, lambat laun stigma bertani sebagai pekerjaan kasta rendah, kotor, dan hanya andalkan otot melekat sudah. Anggapan ini menggiring petani menjadi kaum inferior di antara profesi-profesi lain. Sekali waktu dalam pengumuman kelulusan siswa, ayah salah seorang siswa dipersilakan duduk di kursi terdepan oleh kepala sekolah. Dia bingung tak berani mengangkat muka dan memilih duduk di kursi belakang. Maklum, sebagai petani biasa dia tak terbiasa duduk di kursi terdepan yang dianggap "terhormat" dan hanya pantas ditempati pejabat atau mereka yang punya kuasa di pemerintahan. Intinya, dia malu dan tidak pantas karena merasa "lebih rendah". Di tempat lain, tak jarang kita melihat pemandangan serupa, di mana petani memilih duduk di pojokan karena merasa itulah tempat wajar bagi mereka. Miris.

Inferioritas petani memang sudah luas menggejala. Kehidupan royal masyarakat perkotaan yang nyaris tanpa petani dan pedesaan yang diisi kaum udik minus pengetahuan dan teknologi semakin menyudutkan petani. Di masa yang mungkin tak lama lagi, bertani adalah pemandangan langka. Hamparan sawah hanya menyisakan dongeng pengantar tidur. Alat pertanian tradisional ditaruh di museum karena tak ada lagi yang menggunakannya. Di kampung, boleh jadi di Indonesia juga, petani musnah digantikan mesin dan pekerja (bukan petani) di tanah pertanian perusahaan. Entahlah.

Bayangan saya - semoga tidak terjadi - suatu saat, petani kita menyerah pada zaman. Tua, perlahan mati bersama karat cangkul dan terkubur bersama hantu inferioritas. Semoga tidak!

2 Agustus 2012

Tips Sederhana

Tips menulis yang saya sadur dari 7quotes.webs.com. Sederhana, tapi cukup penting bagi kita yang punya minat menulis.

Baca dan kemudian membaca lagi
Baca! Baca! Baca! Dan kemudian membaca lagi. Bila Anda menemukan sesuatu yang menggetarkan Anda, mengambilnya terpisah paragraf demi paragraf, baris demi baris, kata demi kata, untuk melihat apa membuatnya begitu indah. Kemudian gunakan trik pada saat Anda menulis. 

Tentang mengapa Anda menulis.
 Ini adalah keinginan terdalam dari setiap penulis, yang kami tidak pernah mengakui atau bahkan berani berbicara tentang: untuk menulis sebuah buku kita dapat meninggalkan sebagai warisan. Dan meskipun kadang-kadang mudah lupa, ingin menjadi penulis bukan tentang review atau kemajuan atau berapa banyak kopi yang dicetak atau dijual. Hal ini lebih sederhana dari itu, dan lebih bergairah. Jika Anda melakukannya dengan benar, dan jika mereka menerbitkannya, Anda sebenarnya dapat meninggalkan sesuatu di belakang yang dapat berlangsung selamanya.  

Pengalaman terlalu dilebih-lebihkan.
Menulis adalah mengetahui. Pada keadaan tertentu, anda mesti berusaha menghindari pengalaman. Menulis pengalaman tidak menambah ilmu anda bukan? Itu maksud saya. Cobalah lebih selektif dalam memilih pengalaman yang pantas dan tidak pantas untuk diceritakan. Syndrom menceritakan pengalaman biasanya melanda penulis pemula. So, jeli terhadap pengalaman itu penting! 

Motivasi menulisSeorang penulis harus memiliki semacam dorongan kompulsif untuk melakukan pekerjaannya. Jika Anda tidak memilikinya, Anda lebih baik mencari yang lain jenis pekerjaan, karena itu hanya dorongan yang akan mendorong Anda melalui mimpi buruk psikologis menulis.

Sebuah aturan sederhana.
Sebuah aturan sederhana. Jika anda mengatakan kepada diri sendiri anda akan berada di meja kerja anda besok pagi, sebenarnya anda telah berjanji. Yang mesti anda lakukan adalah membuat janji tersebut penting. Sama halnya ketika anda berniat akan menulis di suatu tempat, katakan: Saya akan berada di sana untuk menulis.
 
Berhenti.
Seringkali kita tidak menemukan bahan cerita yang layak ditulis. Semakin kita berpikir, semakin sulit kita mendapatkan ide. Berhenti menulis! Beri jeda yang cukup sampai anda benar-benar rileks untuk menulis kembali.

11 Februari 2012

Takdir

Takdir dipahami sebagai kejadian yang telah dialami manusia. Keberlangsungannya niscaya, kita tidak punya wewenang untuk mengubahnya. Seperti kejadian yang baru saja berlalu, kita tidak bisa mengubahnya. Itulah takdir. Sejalan dengan ungkapan, "takdir tidak bisa diubah". Pertanyaannya kemudian, apakah kita tidak punya wilayah pada takdir itu sendiri?

Yang saya ketahui, bahwa takdir memang tidak bisa diubah karena jelas itu bukan wilayah manusia. Akan tetapi, pada kondisi tertentu takdir bisa diset sesuai dengan keinginan kita. Orang tua, jenis kelamin, gravitas bumi, dan golongan darah adalah contoh takdir dimana kita tidak punya pilihan untuk mengubahnya. Sedangkan, pakaian, sepatu, pendidikan, dan makanan adalah wilayah takdir dimana kita punya wewenang untuk menentukannya sendiri. Dalam bahasa agama, hal ini juga dijelaskan secara sederhana oleh Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, seorang mendatangi Ali dan bertanya tentang konsep takdir. Ketika itu beliau meminta orang tersebut berdiri dengan satu kaki dan berselang beberapa waktu diminta lagi untuk mengangkat kakinya yang satu lagi. Sontak, orang tersebut terjatuh. Pesan yang beliau hendak sampaikan, bahwa ada wilayah dimana kita punya kesempatan untuk berikhtiar dan ada pula kondisi dimana kita tidak punya wewenang untuk berusaha.

Dalam kehidupan sehari-hari, takdir sering diasosiakan dengan hal yang sifatnya negatif, misalnya, miskin, kecelakaan, banjir, musibah, dan sederet kejadian yang tidak menyenangkan. Padahal kaya, bahagia, cantik, dan gagah juga bagian dari takdir. Dalam hal ini, kita harus bijak memaknai sesuatu. Tentu Tuhan punya maksud kenapa kita terlahir dari orang tua miskin misalnya. Pasti ada hikmah yang hendak Tuhan sampaikan, baik tersurat maupun tersirat. Jangan sampai kita menyesali sampai mengumpa takdir tersebut. Seperti kata pepatah "terjatuh, tertimpa tangga pula". Kasian di kitanya dan sama sekali tidak gunanya.

Lebih parah jika kita menyesali takdir, dimana kita punya wilayah untuk berikhtiar, misalnya ketika nilai ujian jelek. Lantas menyalahkan takdir. Ini sungguh pekerjaan yang sia-sia. Toh, yang paling pantas disalahkan jika memang demikian adalah diri kita sendiri.

lantas bagaimana cara mengubah takdir? Tidak ada cara lain kecuali membuat diri kita pantas. Jika mau lulus ujian, maka kita harus belajar sampai kita pantas untuk lulus. Mau kaya, maka kita mesti menjadi pribadi yang pantas kaya dengan cara berusaha dan bekerja keras. Maksud saya, takdir harus dipahami sebagai sebuah efek atau kesimpulan. Jika kita melakukan hal yang baik, maka efeknya akan baik pula dan itulah takdir. Sedangkan jika kita berbuat jahat, maka efeknya akan negatif dan itu juga takdir. Intinya kembali ke diri kita masing-masing, bahwa takdir juga sangat bergantung dengan apa yang kita lakukan.
Wallau a'lam bishawab

18 Januari 2012

Reformasi Menurut Cak Nur //Part 2 (selesai)

Menyambung tulisan sebelumnya reformasi menurut Cak Nur, saya hendak menyampaikan beberapa poin mengenai persoalan tersebut. Mengingat tulisan tersebut belum tuntas sepenuhnya. Ada beberapa kecenderungan yang semakin menguatkan pendapat Cak Nur bahwa reformasi adalah turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, tidak lebih tidak kurang. Bahwa reformasi hanyalah rekayasa sosial. Yakni beberapa pihak menginginkan Indonesia berubah menjadi negara "liberal". Ini bukan sekedar preseden atau asumsi murahan, melainkan fakta telah menunjukkan validitasnya.

Mengorek kembali sistem demokrasi yang dipahami zaman orde. Pada saat itu, hanya diakui 3 partai dimana Golkar sebagai ban serep pemerintah sedangkan 2 partai lainnya, PDI dan PPP hanya sebagai "pelengkap". Mengkritik pemerintah bisa berbuntut panjang. Sentralisasi segala bidang yang begitu kental. Hanya orang-orang yang dekat dengan keluarga cendana yang bisa menduduki pos penting dalam roda pemerintahan. Siapa yang tidak patuh, siap-siap saja dihabisi. Orde baru menjadi monster raksasa yang menelan korban, entah jumlahnya berapa. Tidak usah bertanya jika ada orang yang tiba-tiba hilang, karena mungkin dia sudah diciduk "aparat". Jauh ke pelosok desa, informasi sangat terbatas. Mereka buta informasi terhadap kondisi pemerintahan karena memang aksesnya sangat terbatas. Lagi pula mereka juga tidak peduli. Toh, yang penting bisa hidup dengan tenang. Dan itulah yang menjadi jaminan mengapa orde baru bertahan sampai 3 dekade (32 tahun).

Akhirnya seperti kita ketahui, reformasi tumbang pertengahan 1998. Indonesia memasuki babak baru sistem pemerintahan, reformasi. Harapan dan semangat membangun Indonesia terkristalisasi dalam benak rakyat seperti yang dicita-citakan founding fathers. Supremasi hukum, pemberantasan KKN, perbaikan ekonomi, sosial, dan politik, pembukaan kran demokrasi adalah beberapa tujuan reformasi. Cita-cita yang sungguh mulia. Namun, perjalanan reformasi menjadi bias. Tuntutan tahun 1998 menguap begitu saja, entah kemana. Korupsi merajalela membentuk lingkaran setan, hukum tebang pilih, KKN, ekonomi tersandera oleh asing, sosial politik hingga budaya yang semakin kabur dari ciri ketimuran. Demokrasi yang sejatinya sebagai instrumen untuk mensejahterahkan rakyat malah menjadi "industri" besar oknum tertentu. Indonesia menjadi negara besar yang lumpuh, tidak mampu berjalan dengan kaki sendiri. Terbukti dengan trilyunan bantuan asing yang masuk untuk memberi napas bangsa Indonesia.

Liberalisasi berkedok globalisasi. Caranya dengan  mengutus "agen global" untuk diadopsi di Indonesia seperti film, fashion, gaya hidup, teknologi, dan lain-lain. Otak rakyat Indonseia disetting sedemikian rupa agar mengikuti trend global. Film barat berbau seks, pornografi, dan brutal menjadi tontonan kaum muda di bioskop. Belum lagi produk-produk asing yang murah tapi "keren" membanjiri swalayan-swalayan. Hasil karya anak bangsa  kian tersisih. Coba perhatikan kehidupan kita selama 24 jam dari bangun tidur hingga terlelap di malam hari, hampir semua yang kita gunakan adalah produk asing. Bayangkan jika produk Unilever, Danone, Nokia, Blackberry, Telkomsel, Acer, Thosiba, dan Indosat distop sehari saja, niscaya rakyat Indoesia akan kelabakan. Belum lagi DPR dan pemerintah yang semestinya menjadi tameng bagi rakyat yang terlanjur lemah ini, malah menjadi sarang kompromi terhadap asing. Terlihat dengan sejumlah regulasi dan Undang-undang yang mereka keluarkan. Sampai disini, relevansi Cak Nur tentang demokrasi kian terang-benderang.

Bicara ketidakberesan Indonesia tidak akan ada habisnya. Reformasi yang memudahkan modal asing masuk ke Indonesia. Perusahaan lokal diadu langsung dengan perusahaan asing. Jelas, perusahaan lokal kalah telak. PSM diadu dengan Manchester United. Tidak masuk akal kan! Konglomerat asing masuk begitu mudahnya dan menguasai sektor strategis perekonomian kita. Menjadikan ekonomi tersandera oleh asing. Dengan kondisi seperti ini, rakyat tidak akan menuntut apa-apa. Mereka tidak tahu apa-apa kok! Rakyat gamang dengan perubahan yang cepat. Mereka tidak sempat berpikir. Mereka tidak mau tahu, yang penting mereka hidup "baik" hari ini. Arus frontal yang datang seketika tidak mampu dibendung oleh rakyat. Tidak peduli jika dibodohi sekalipun. Siapa yang salah? Reformasi, pemerintah, atau rakyat itu sendiri? Tidak semudah mengacungkan jari telunjuk. Kita mesti berpikir dan melihat masalah secara holistik. Terlebih dahulu kita harus membongkar paradigma dan kesalahan sistemik yang merantai bangsa Indonesia.

Secara tersirat, Cak Nur memang melihat reformasi cenderung mengarah pada liberalisasi. Hal ini bisa diatisipasi jika ada pengawal yang konsisten. Sayangnya tidak?! Aktor reformasi tersisih dan digantikan oleh aktor lama yang korup dan amoral itu. Aktor lama itu seperti macan lepas kandang, menyeruduk, menggonggong, menjilat, dan menerkam di sana-sini. Merekalah yang sibuk berceloteh di depan media. Memperebutkan kekuasaan, membagi jatah proyek, lompat kiri kanan, berganti topeng, seakan merekalah reformis yang sesungguhnya. Di sisi lain rakyat tidak siap dengan format baru yang dibawa reformasi. Berpikir sempit dan pendek. Pendidikan yang mereka peroleh jelas tidak cukup untuk mengawal reformasi. Bagaimana dengan intelektual kampus yang suaranya paling nyaring ketika Soeharto ditumbangkan? Setali tiga uang, mereka terlalu sibuk menikmati masa muda. Sulit saya jelaskan.

Inilah reformasi. Jika Indonesia harus tumbang nantinya, tidak ada yang harus disalahkan kecuali rakyat termasuk pemerintah. Dan saya yakin, jika keadaan ini terus berlangsung maka Indonesia akan menjadi negara gendut, pemalas, bodoh yang dipenuhi penyakit seperti stroke. Tewas tidak bersisa. Maaf kalau saya terlalu sinis melihatnya. Inilah bentuk keresahan yang terus menghantui saya. Sudi atau tidak, kita mesti mengakui bahwa reformasi sekedar angin segar tapi beracun.
wallahu a'lam... 

17 Januari 2012

Simpati Jadi Antipati

Matahari meninggi tepat di atas ubun-ubun. Bayangan benda yang disinari tepat jatuh di bawahnya, vertikal. Tidak seperti biasanya mengingat bulan ini adalah puncak musim penghujan. Di daerah tropis seperti Indonesia, Januari tidak pernah lepas dari guyuran hujan. Hampir setiap hari.  Di hari yang berbeda ini, arus lalu lintas sangat padat. Kehidupan masyarakat lebih cepat. Kendaraan melintas, lalu-lalang memanfaatkan kesempatan "mumpun tidak hujan".

Hari itu, pemandangan lain di sebuah perempatan jalan. Sekelompok orang memampang spaduk protes. Di antara mereka ada yang membawa bendera organisasi berukuran mini. Tidak peduli dengan bau aspal menusuk hidung dan terik matahari yang membakar kulit. Katanya mereka adalah mahasiswa. Mahasiswa yang resah dengan kebijakan pemerintah. Pilihan turun ke jalan dipilih sebagai bentuk protes. Berharap pemerintah menganulir atau setidaknya mengubah kebijakannya. Pemandangan seperti ini kerap terjadi, hampir setiap hari. Tentunya di sudut jalan yang lain. Dibantu dengan megaphone, mereka berteriak tidak peduli. Teriakan yang diselingi dengan sumpah serapah.

Aksi mahasiswa tersebut berhasil memacetkan jalan. Kendaraan yang sangat padat berderet rapih hingga ratusan meter. Bagaimana tidak, di tengah jalan berdiri pagar hidup yang bernama mahasiswa. Hampir seluruh badan jalan tertutupi hingga tidak ada yang tersisa bagi kendaraan untuk lewat. Sekali lagi, pemandangan seperti ini sudah lumrah, sering terjadi acap kali aksi mahasiswa dilakukan. Ketika aksi, mahasiswa menjadi penguasa jalan.

Di atas kendaraan yang berderet itu, di balik kaca bening mobil pete-pete, beberapa orang juga mengumpat. Namun, berbeda dengan mahasiswa yang mengumpat kebobrokan pemerintah. Mereka -orang-orang itu- malah berbalik menggerutu melihat sikap pongah para mahasiswa. Letak dilematisnya berada pada titik ini, dimana mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat malah dibenci oleh orang-orang yang diperjuangkannya sendiri. Paradoks dan kontradiktif.

Lantas apa yang mesti dilakukan oleh mahasiswa dalam memperjuangkan rakyat? Haruskah mereka terus turun ke jalan setiap kali menyampaikan aspirasi rakyat? Saya takut, aksi yang berharap simpati malah berbuah antipati dari masyarakat sendiri. Jika demikian -dan memang demikian-, aksi mahasiswa menjadi sia-sia. "Jauh panggang dari api" alias nihil.

Akhir-akhir ini saya mulai berpikir, ada sistem dalam pergerakan mahasiswa yang salah. Gerakan cenderung monoton, elitis, dan tidak "berperikerayatan". Slogan "mahasiswa dan rakyat bersatulah!" yang sering diteriakkan itu tidak lagi relevan pada tataran implementasi. Mesti dilakukan refleksi guna mengevaluasi kembali gerakan mahasiswa hari ini agar perjuangan mahasiswa tidak berbenturan dengan kepentingan rakyat. Kurikulum gerakan mahasiswa mesti di reform guna mengubah paradigma lama menjadi paradigma yang lebih progresif, fleksibel, dan "ngonteks" dengan zaman. 

Salam Perjuangan...!

5 November 2011

November

Adzan subuh berkumandang, membelah rimbunan pohon yang baru saja diguyur hujan lebat. Konon katanya, kala itu pertengahan bulan November 1987, bertepatan dengan hari pertama saya menjejakkan kaki di dunia ini. Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim ibu saya. Jenis kelamin yang tidak dinantikan, karena sebenarnya kedua orangtua saya berharap anak keduanya berkelamin perempuan. Hiks.

Orang tua saya meyakini satu hal: anak keduanya, saya, lahir pada kamis subuh. Itulah mengapa saya katakan "konon katanya", karena berdasarkan kelender Masehi, tanggal 15 November 1987 jatuh pada hari Minggu. Sudah saya cek berkali-kali dan hasilnya tetap sama, bahwa tanggal tersebut bertepatan pada hari Minggu, bukannya hari Kamis. Sampai saat ini, saya juga meyakini hal yang sama, bahwa saya lahir pada kamis subuh, entah tanggal dan tahun berapa. Juga karena tidak ada bukti lain mengenai tanggal kelahiran tersebut kecuali ingatan kedua orang tua. Itu pula yang menjadi alasan mengapa tidak pernah merayakan ulang tahun di sepanjang saya hidup di dunia ini. 15 November bukan tanggal kelahiran saya!

Di kampung kami, dulu, tanggal lahir adalah persoalan remeh-temeh. Tidak diperuntukkan bagi kami yang tinggal jauh di desa. Tanggal lahir adalah urusan orang pintar yang berpendidikan tinggi. Kalau ditanya umur anak-anak mereka, jawabannya pasti panjang. Kurang lebih jawabannya seperti ini, "Si A lahir di bulan syaban, dua tahun lebih muda dari kakaknya, satu tahun lebih tua dari sepupunya, dan seterusnya". Jadi, ketika salah satu anak mereka melanjutkan pendidikan, dimana tanggal lahir mesti dicantumkan, maka mereka akan meminta guru untuk "menentukan" tanggal lahir anak muridnya sendiri. Saya sendiri baru tahu kalau saya lahir di bulan November ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Tahukah kawan, "Bulan November" adalah hasil diskusi antara guru dengan kedua orang tua saya. Ajaib kan!

Sekali waktu saya komplain, mengapa tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak sesuai dengan hari ketika saya lahir. Jawaban kedua orang tua sederhana, katanya, saya lahir kamis subuh, saat frekuensi hujan mulai meninggi di kampung kami, kala petani mulai membajak sawahnya, saat semangat kehidupan warga kampung memuncak setelah lesu akibat musim kemarau. Dan kamu tahu, nak, kata bapak, hal tersebut terjadi di Bulan November saja. Entah benar atau tidak, tapi sejak saat itu saya tak pernah lagi menanyakannya.

Tingkat pendidikan adalah penyebab lain kenapa tanggal tak penting bagi kami, terutama bapak ibu saya. Kedua orang tua saya berpendidikan rendah. Tapi tunnggu, sebenarnya agak risih juga kalau mereka disebut "berpendidikan" - meskipun rendah. Musababnya, mereka berdua tidak punya ijazah sama sekali. Hanya bapak yang paham baca tulis, sedang ibu saya tragis; buta huruf. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai petani, dan saya percaya, tidak butuh ijazah untuk menguasai ilmu membajak sawah.

Saya selalu bingung setiap kali diperhadapkan dengan  blanko, formulir, atau semacamnya yang meminta data pendidikan orang tua. Saya harus mengisinya dengan apa? Sedangkan option "tidak berpendidikan" tidak tersedia. Karena persoalan gengsi, saya isi saja "tamat SLTA". Untungnya, tidak pernah ada yang mengklarifikasi langsung kepada kedua orang tua saya. Urusannya bisa panjang.

Meskipun "tidak berpendidikan", kedua orang tua saya tahu betul bagaimana filosofi pendidikan. Terutama bapak, beliau selalu mengajarkan bagaimana adab menuntut ilmu. Sampai saat ini, meskipun beliau sudah tidak ada (semoga tenang di sisiNya), pesannya selalu saya ingat. dan menjadi energi besar yang siap melecut semangat.

Syukurlah karena orang tua saya memilih Bulan November sebagai bulan dimana saya lahir. Saya suka November. Lovely November...:D

30 Oktober 2011

Oktober

Oktober

Senja mulai menampakkan dirinya. Sayup angin menyambut. Hamparan langit membentang memeluk bumi. Langit biru berganti latar menjadi gelap. Awan mulai menyelimuti dengan gagahnya. Alam menunaikan persembahannya pada jutaan spesies makhluk hidup. Rinai hujan berjatuhan menyapa rimbuan pohon. Air menetes di ujung daun, jatuh ke tanah. Serabut akar berderet riang menyambut kehidupan. 

Oktober. Bulan dimana musim berganti. Dahaga tanah tandus terpuaskan sudah. Butiran air dari langit akan turun membasahinya, sebentar lagi. Nelayan mulai menggerutu akibat fenomena alam yang terkadang mengganggu aktivitasnya. Di belahan bumi yang lain, sekelompok orang menawarkan sesajian pada sang Yang Mahakuasa. Tanda syukur bahwa mereka masih diizinkan melanjutkan hidup. Mereka adalah petani-petani yang memancangkan harapan di atas gemburnya tanah. Hujan adalah berkah tiada tara.

Oktober adalah jalan menikung, asing, penuh misteri, satire. Layaknya butiran air yang tumpah dari langit, tidak mampu menebak dimana dia akan jatuh. Seperti lemparan dadu, tidak mampu dijelaskan ilmu fisika. Sejak kapan saya memikirkan teka-teki bulan Oktober? Saya tidak tahu.

Sebentar lagi Oktober akan berlalu. Menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Menyimpan misteri yang tidak terucap, terkunci rapat di bawah lembaran hari. Saya bukan pelaut yang membenci Okober, bukan pula petani yang selalu rindu dengan Oktober. Saya seperti bujang yang menunggu kepulangan sang perawan yang tidak pasti. Sedang saya benci menunggu. Sungguh menyesakkan. Hanya alunan rindu, harmoni gesekan daun yang bisa sedikit menenangkan. Aku menunggu November.

Kini, segenggam asa masih tersimpan. Harapan akan sesuatu yang lebih baik. Oktober sendiri enggan membantu. Saya mulai lelah, resah dalam penantian. Jika memang tidak, cepatlah berlalu...

29 September 2011

Hidup Terlalu Ironis untuk Dijalani dengan Pesimis

Setiap orang pasti mempunyai cara pandang tersendiri dalam memaknai kehidupan. Cara pandang saya sangat mungkin berbeda dengan orang lain, begitu juga sebaliknya. Tidak menjadi masalah kalau berbeda dan memang begitulah seharusnya. Jadi masalah ketika kita tidak mampu menangkap makna kehidupan kita sendiri. Boleh jadi perbedaan itu muncul karena rentangan waktu kita diisi pengalaman yang berbeda. Jadi, perbedaan muncul karena kita menangkap makna kehidupan dari sisi yang berbeda dengan orang lain.

Kalau saya ditanya, bagaimana anda memaknai hidup? Sederhana saja, hidup adalah serangkaian proses, pencapaian, dan cita-cita. Meskipun, hidup bukan persoalan sederhana untuk dijalani. Perjalanan hidup seperti gerbong kereta api yang menyusuri rel, langkah demi langkah, sampai jauh dan sampailah kita pada stasiun, kematian.Gambarannya memang tidak sesederhana itu, tetpi menurut saya gambaran tersebut cukup sempurna sebagai analogi kehidupan.

Coba kita ingat kembali ketika menginjak usia sekolah. Kita berjuang sampai menamatkan sekolah dasar. Satu rel terlewati. Kemudian kita memasuki dunia remaja sampai dewasa. Coba perhatikan, dalam setiap fase  kehidupan, kita selalu merencanakan langkah selanjutnya. Setelah rencana tercapai, kita merencanakan lagi target selanjutnya. Begitu seterusnya sampai usia dewasa, paruh baya, usia senja hingga menemui ajal.

Lantas jika demikian adanya, kapan kita benar-benar "menikmati" hidup? Jika hidup diisi dengan target, cita-cita, harapan, artinya kita hidup hanya untuk mengejar setiap apa yang kita rencanakan. Intinya, kita tidak menikmati kehidupan. Sekali lagi, hidup kita hanya diisi dengan rutinitas tiada henti. Kemudian kita mati dengan bungkusan kain kafan, hanya itu! 

Hidup terlalu ironis untuk dijalani dengan pesimis. Menyalahkannya pun adalah perbuatan yang sia-sia, tidak perlu! Nikmatilah setiap alur dan proses kehidupan. Waktu tidak akan kembali, sekali pun ditangisi. life must go on! Saya pikir, tidak ada cara lain kecuali menikmati setiap proses kehidupan. Setiap target adalah keharusan, karena memang hidup adalah pencapaian. Namun, yang tertpenting adalah menikmati setiap perjalanan meraih target atau capaian.

Intinya adalah nikmati setiap proses kehidupan. Optimis melihat setiap jejak langkah. Begitu sia-sianya ketika hidup diisi dengan keluhan, tidak ada gunanya! Nikmatilah setiap hembusan napas anda. Kejar apa yang menjadi harapan anda  dan jangan lupa, nikmati setiap prosesnya.

Entahlah jika anda punya pandangan yang berbeda. Apa pun pendapat anda, maka itulah yang benar, setidaknya menurut anda pribadi. Toh, mustahil saya bisa menangkap setiap makna kehidupan. Saya hanya memegang sedikit serpihan gelas kehidupan, boleh jadi andalah yang memegang pecahannya yang lain.. Wallahu a'lam bishawab

23 September 2011

Makassar, Kota Daeng yang Tetap Memikat

Saya tidak ingat kapan terakhir kali berkeliling menyusuri jalan di kota Makassar. Berekeliling menikmati jalanan yang sesak di malam hari. Melihat kendaraan yang berjejer menguasai setiap sudut jalan. Sebenarnya saya tinggal di Makassar. Namun, aktivitas banyak saya habiskan di kampus sehingga tidak punya banyak kesempatan menikmati hiruk pikuk kota, terutama di malam hari.

Coto Makasar (source:casavina.com)
Alhamdulillah, malam ini saya punya kesempatan untuk jalan menyusuri sudut kota. Bermodalkan motor butut yang saya punya. Berkeliling sendirian sambil menyempatkan diri menikmati makanan khas Makassar, coto. Saya memutuskan melewati jalan Veteran kemudian belok di perempatan jalan menuju jalan Ratulangi. Di simpang jalan ratulangi, saya mengarahkan kendaraan ke jalan Kakatua. Setiba di ujung jalan, aroma tajam khas coto Gagak memenuhi indra penciuman. Saya memarkir motor kemudian memesan satu porsi coto. Akh, rasanya begitu nikmat. Sepadan dengan harga yang harus saya bayarkan.

Keluar dengan perut kenyang, saya melanjutkan perjalanan menyusuri jalan Penghibur. Sengaja saya pelankan kendaraan sambil mengamati bibir pantai Losari. Cukup mengagumkan mengamati Losari di malam hari. Temaran lampu menghiasi trotoar jalan. Berjejer menambah semarak jalan yang padat. Saya tetap melanjutkan perjalanan. di ujung jalan, saya berputar menuju jalan Ahmad Yani. Berjalan lurus melewati Makassar Trade Center (MTC) yang super sibuk, saya sampai di Jalan Bulusaraung.

Waktu menunjukkan 10.00pm, saya singgah di salah satu warkop di sudut jalan Urip Sumoharjo. Lelah dengan perjalanan yang cukup panjang lepas sudah setelah menyeruput kopi susu. Nikmat sekali. Perjalanan ini ingin saya tutup dengan sebuah catatan kecil. Catatan yang bisa menggambarkan sedikit suasana yang saya rasakan. Makassar memang sudah jauh berubah. Namun, perubahan itu masihlah menyisakan keindahan dan ciri khas kota Daeng ini.

Akhirnya, saya harus melanjutkan perjalanan menuju peristirahatan di Tamalanrea. Tempat saya menikmati banyak keajaiban hidup. Kawasan pendidikan yang tetap hidup dipenuhi hiruk pikuk mahasiswa. Saya tahu, perjalanan malam ini tidaklah begitu spesial bagi orang lain, mungkin. Tapi saya cukup terhibur. Setidaknya, kepenatan selama sepekan terbayar sudah.

Makassar, kota Daeng yang tetap saja memikat mata, menghibur hati. Terima kasih...!

21 September 2011

Belajar dari Negara Pembelajar

Saya percaya bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dengan sendirinya, tanpa sebab. Selalu ada faktor X yang mengiringi perjalanan mereka. Untuk membuktikannya, kita bisa menoleh torehan sejarah yang mereka bangun. Apa saja yang mereka lakukan sampai meraih capaian menakjubkan yang bisa menginspirasi bagsa lainnya. Saya pikir, tidak ada yang benar-benar ajaib, semuanya adalah konsekuensi logis dari apa yang mereka perbuat.

Sebut saja, Inggris, Amerika, Jepang, bahkan China. Mereka adalah sekian dari negara-negara yang mampu menorehkan serta mencetak peradaban besar. Keberhasilannya berperan sentral dalam mempengaruhi arah peradaban. Boleh dibilang, mereka mendikte sejarah. Bagaimana tidak, Amerika dengan keunggulan militer berhasil menjadi polisi dunia. Begitu pula Jepang dengan kemampuannya mencetak barang berteknologi tinggi, murah, dan berkualitas. Inggris, China, serta negara maju lainnya juga demikian.

Seperti saya katakan sebelumnya, mereka tidak lahir dengan sendirinya. Berdiri sebagai bangsa kemudian tiba-tiba unggul, dan maju di segala bidang. Tidak demikian. 8 abad yang lalu, Eropa tidak ada apa-apanya dibanding peradaban lain, terutama Islam. Jangan sebut Amerika, Jepang, bahkan China, mereka tidak ada apa-apanya. Kebangkitan Eropa lahir setelah renaissance menguasainya, abad kegelapan hancur lebur. Disusul ditemukannya alat dan teknologi canggih yang berhasil mengubah nasib mereka, menguasai dunia.

Juga Amerika setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan Inggris melalui pertempuran heroik George Washington dan koloninya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Amerika yang dulunya tempat pembuangan, kini menjadi kekuatan terbesar dunia. Lain cerita dengan Jepang dan beberapa negara serumpun, perjuangannya lebih heroik lagi. Bom atom yang merata-tanah-kan Hiroshima dan Nagasaki tidak meruntuhkan superioritas negara matahari tersebut. Malah, mereka hanya butuh waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi raja, mengungguli Amerika. Kebangkita Jepang diikuti tetangganya, Korea dan China. Nilai  ajaran Confucius tertanam kuat di benak mereka. Memberi semangat kebangkitan luar biasa.

Kalau mau sedikit jeli, sebenarnya bisa ditarik benang merah yang menghubungkan negara-negara maju tersebut. Selain faktor internal (budaya) masing-masing. Apa rahasia sukses mereka? Menjadi pembelajar yang cepat. Ketika penguasa abad kegelapan Eropa terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban Islam, seketika mereka menjadi pembelajar. Transfer ilmu marak terjadi sampai pengetahuannya melebihi sang guru, Peradaban Islam. Amerika yang tertinggal tidak kalah cepat belajarnya. Banyak ilmuwan lahir yang nantinya berpengaruh besar dalam memajukan Amerika.

Paling ajaib dari semua itu adalah Jepang. Mungkin banyak yang menyangka bahwa itu merupakan keajaiban. Saya tidak percaya! Keajaiban hanya untuk orang tolol yang tidak memahami titik persoalan. Jepang, pasca restorasi Meiji menjadi negara pembelajar tercepat. Saking besarnya minat belajar, mereka mendatangkan guru atau ahli yang gajinya lebih tinggi dari kaisar mereka! Pemimpin tertinggi Jepang. Bayangkan! Usai PD II, otomatis Jepang lumpuh total. Siapa yang menyangka keunggulan teknologi dikuasai oleh Jepang 30 tahun kemudian. Amerika sendiri, jelas-jelas sebagai pemenang PD II, terkaget-kaget. Tapi kenyataan telah berbicara, sejumlah merk dagang asal Jepang merajai duni. Sebut saja Sony, Toyota, Honda, dan merk-merk lainnya. Sekali lagi, ini bukan keajaiban yang tumpah dari langit. Melainkan, atas usaha, kegigihan, kerja keras, niat belajar yang dimiliki rakyat Jepang.

Tambahan pula, saat ini rakyat Jepang adalah pembaca buku terbanyak di dunia. Rata-rata mereka menghabiskan 40 buku dalam setahun. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang hanya menghabiskan sekitar 20 buku . Tidak usah sebut Indonesia, tidak bisa dituliskan, malu! Anda tentu mengerti maksud saya.  

Yah, mereka, yang disebut di atas, adalah negara-negara pembelajar. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar adalah pengetahuan. Tanpanya, kita hanya bisa jadi pengekor, penurut, dan terjajah. Mungkin, penggambarannya terlalu dramatis, tapi demikianlah kenyataannya. Sampai di sini, anda pasti tahu faktor X yang saya maksud.
Jika melihat orang besar, tirulah apa yang dia lakukan. Confucius
Banyaklah belajar, karena dalam pengetahuan selalu ada jalan...

Wallahu a'lam

17 September 2011

Jangan Sekali-sekali Mengganti Blog Address

Beberapa hari yang lalu saya menggati blog address. Di postingan terakhir saya membahasnya. Kemarin saya berkonsultasi (curhat) dengan seorang teman, mengenai hal tersebut. Dia kaget, kok saya tega menggantinya, padahal itu sangat beresiko. Kepala saya langsung pening. Bagaimana tidak, menurut teman tersebut,  butuh waktu lama untuk memperbaiki serta meningkatkan traffic rank ketika alamatnya diganti.

Karena penasaran, beberapa menit lalu saya menelusuri postingan blog ini lewat search engine, google. Taukah kawan, hasilnya sangat parah, betul-betul parah!  Coba lihat gambar dibawah ini.

Sigmund Freud dan Hasrat Kebinatangan Manusia adalah salah satu tulisan yang pernah saya posting. Hasil pencarian melalui google, ternyata masih dideteksi di blog address lama, kasimbenzema.blogspot.com. Bahkan, setelah saya membuka page selanjutnya, tidak ada tanda-tanda artikel tersebut muncul dengan blog adress yang baru. Saya juga mencoba beberapa postinga lain. Hasilnya sama! Tragis betul nasib blog ini.

Masih ada yang lebih parah: penurunan traffic rank.  Biasanya, setiap hari, blog saya dikunjungi setidaknya 100 kali (tanpa blogwalking). Sekarang, statistik pengunjung terjun bebas tanpa hambatan, 10 viewer bung! Parah banget kan. Lama-lama saya yang terjun bebas lantaran stres berat. Fiuhh...!!!

Bagaimana pun tidak ada yang perlu disesali karena akan lebih menyakitkan lagi. Setidaknya, saya mendapat satu pelajaran penting: JANGAN SEKALI-SEKALI MENGGANTI BLOG ADDRESS. 

Tuhan, ampuni dosa hambamu ini...!!!

15 September 2011

Hanya Sekali, Cukup Sekali!

Lama juga saya tidak memposting langsung di blogger. Beberapa bulan terakhir, tulisan (catatan pendek) yang saya publikasikan bersal dari notepad yang ada di notebook. Bahkan, saya sampi bingung bagaimana cara menulis di blogger dengan tampilannya barunya (katro yah).

Beberapa pekan terakkhir, saya menjumpai banyak sketsa kehidupan. Semakin membuat saya sadar bahwa hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Lebih jauh, banyak makna, noumena tesirat yang patut kita renungi. Awalnya memang terlihat biasa saja, akan tetapi setelah diselami, ternyata luar biasa. Entah bagaimana mengungkapkannya lewat deretan kata. Sampai disini saya biasa bingung sendiri (hehe...).

5 Tahun lalu, saya menginjakkan kaki di Fakultas Farmasi UNHAS. Sampai sekarang masih berstatus mahasiswa. Semester 11 sedang berjalan. Yah, saya bangga dengan semester 11! Setiap kali bertemu teman lama, pertanyaannya selalu sama: kapan sarjana? Walaupun jengkel, saya menjawab seadanya, "bentar lagi, nih lagi nyusun skripsi". Jawaban paling sederhana dan tidak membutuhkan pertanyaan lanjutan. kalaupun ditanya lagi, paling cengar-cengir lalu melengos pergi.

Selain jawaban di atas, saya masih punya ribuan jawaban lain. Budaya pergaulan bangsa kita, telat sarjana adalah sebuah kelainan, tidak biasa, aneh. Makanya, saya harus punya banyak alasan bagus supaya semuanya bisa logis. Tuntutan hidup supaya saya masih dianggap "normal".  Sengaja saya pelajari baik-baik bagaimana menemukan jawaban yang tepat. Hasilnya, perbedaharaan jawaban atas pertanyaan tersebut meningkat pesat beberapa bulan terakhir.

Setelah merenung selama beberapa tahun (wah, lama juga yah), saya menemukan kesimpulan berdasarkan observasi langsung, bahwa kita harus mencintai bidang ilmu yang digeluti untuk meraih titel sarjana. Sayangnya, saya tidak gampang jatuh cinta. Bukan, bukan saya mencari-cari alasan, tapi inilah kenyataannya. IPK saya lumayan bagus, tentunya alasan "bodoh" tidak bisa digunakan dalam hal ini. Walaupun ada beberaa variabel lain yang berpengaruh, tetapi saya pikir alasan diatas yang paling menonjol.

Mengerjakan sesuatu yang tidak anda sukai jauh lebih berat, walaupun sebenarnya perkerjaan tersebut ringan. Bukan karena kita tidak bisa, tetapi dorongan semangat sangat penting untuk membangkitkan energi. Nah, semangat inilah yang muncul dari rasa suka maupun senang terhadap sesuatu.Sama halnya ketika saya menjalani rutinitas akademik, saya merasa ada sesuatu yang hilang, ada yang tidak sesuai idealitas. Saya tidak tahu bentuknya, yang jelas ada. "Saya mau mencari sesuau yang lain", kata-kata tersebut sepertinya lebih tepat. lagi-lagi ini bukan alasan yang dibuat-buat, tapi inilah kenyataannya.

Sampailah saya di tahun ke-5 dan saya masih belum mencintai farmasi. Akan tetapi saya sadar pada sebuah kenyataan, "saya berada di farmasi dan tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik dari ini". Tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik belajar mencintai farmasi ketimbang menyalahkannya. Saya bukan pasrah, tidak. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada banyak kemungkinan, rahasia, serta makna yang bisa saja di kemudian hari baru kita sadari.

Lagi pula tidak mungkin saya memutar waktu. Pekerjaan yang bahkan tuhan tidak mampu melakukannya. Saya pikir, membuat lebih banyak kemungkinan adalah jalan terbaik saat ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, saya butuh sesuatu: SARJANA.

Saya percaya bahwa jejak kehidupan hanya berlalu sekali. Hari ini tetap saja berbeda dengan kemarin, besok, tahun lalu. Tidak ada yang sama. Fase hidup sekarang ini, akan saya jalani sekali saja. 10 tahun ke depan (mudah-mudahan saya masih hidup), saya akan bercerita kisah lain. Tidak ada niat lain kecuali mengabadikan apa yang saya rasakan dan alami sekarang. Hanya itu.

*Farmasi Unhas, 15 Sepetember 2011, 11.41am

22 Juni 2011

10 Cara Atasi Tumpukan Bacaan yang Harus Dibaca

Apakah bahan bacaan Anda begitu banyak sehingga sudah menggunung? Jika begitu sekarang waktunya untuk mengatasinya. Berikut ini adalah 10 cara untuk melakukannya.

1.Beri tanda highlighter
Jika membaca koran atau majalah, bacalah dengan memakai Highlighter. Bacalah dulu secara sepintas lalu seluruh halamannya dan tandai semua judul yang menarik perhatian Anda. Kemudian kembali dari awal dan baca hanya artikel yang Anda sudah beri tanda.

2.Sobeklah
Jika Anda tidak mempunyai waktu saat ini untuk membaca artikel yang sudah Anda beri tanda, sobeklah halamannya dan tentukan waktu untuk membacanya nanti. Dengan cara ini, Anda tidak perlu lagi mencarinya di seluruh koran atau majalah Anda. Lagipula Anda tidak perlu menyimpan koran atau majalah yang tidak
diperlukan lagi.

3.Pakailah Kartu Indeks
Jika membaca buku, gunakan kartu indeks untuk mengingat bagian yang Anda anggap penting. Di dalam kartu itu dicantumkan nomor halaman, bagian di halaman itu (A=Atas, T=Tengah, B=Bawah) dan satu atau dua kata yang membantu Anda untuk mengingat hal yang menarik perhatian Anda. Dengan demikian Anda tidak perlu membuang waktu untuk mencarinya di seluruh bagian buku tersebut.

4.Membaca Cepat
Jika Anda mempunyai begitu banyak informasi yang harus Anda simpan, Anda mungkin harus mengambil kursus Membaca Cepat. Atau anda dapat mencari buku mengenai hal itu, dan melatihnya sendiri.

5.Tentukan Waktu Untuk Membaca
Tentukan tanggal dan waktu untuk membaca. Atau gunakan 15 menit setiap hari untuk membaca, dan catatlah waktu ini di kalender Anda. Ingatlah janji ini, seperti juga janji untuk mengerjakan hal lain. Dengan demikian, membaca akan menjadi bagian dari rutinitas Anda.

6.Hindari Kekacauan
Karena koran berisi kejadian terakhir, koran kemarin berisi berita yang sudah basi. Majalah hanya berlaku 1-2 bulan. Singkirkan koran dan majalah yang lama! 

7.Buatlah File 'Untuk Dibaca'
Bualah map khusus atau kerjangjang dengan tanda 'UNTUK DIBACA' untuk menyimpan seluruh bachan bacaan Anda. Akan lebih mduah untuk melihat berapa banyak yang harus Anda baca jika semuanya disimpan di satu tempat, daripada tersebar di seluruh rumah atau kantor Anda.

8.Cobalah Realistis
Jika bahan bacaan Anda sudah terlihat menggunung, mungkin Anda mencoba untuk mengerjakan terlalu banyak. Banyak orang yang terlalu ambisius dalam menentukan berapa banyak waktu yang mereka dapat pakai untuk membaca. Jangan biarkan bahan bacaan Anda melebihi tempat penyimpanannya. Jika begitu, sudah waktunya untuk menyingkirkan yang tak berguna.

9.Bawalah Bacaan Bersama Anda
Jika Anda merencanakan untuk pergi seharian, bawalah beberapa bahan bacaan Anda. Jadi, jika Anda mempunyai kesempatan, Anda bisa dengan mudah membacanya. Misalnya jika menunggu seseorang di kantor, sedang di kendaraan dalam perjalanan, atau sedang antri di kounter.

10.Sumbangkan.
Apakah Anda mempunyai buku atau majalah yang sudah tidak terpakai lagi? Anda dapat menyumbangkannya ke perpustakaan atau menjual ke tokok buku bekas. Perpustakaan setempat juga akan senang mendapat sumbangan majalah bekas.


Sumber: Maria Gracia - Get Organized Now