12 Mei 2016

Menjebak Hujan

Pakaianku nyaris basah kuyup dalam perjalanan ketika aku menepikan motor di sudut warung kopi. Berlindung dari hujan yang tiba-tiba tumpah dari langit. Sepertinya Tuhan tidak sedang bercanda. Atau mungkin Tuhan tiba-tiba mendapat ide untuk memaksaku singgah di warung kopi setelah sekian lama tidak menikmati kopi. Ditemani hujan. Tuhan yang Pengasih.

Perihal terjebak dan menjebak. Korban dan pelaku. Analogi keduanya mirip, dimana terjebak adalah korban, sementara menjebak adalah pelaku. Seringkali kita menempatkan diri sebagai pihak terjebak untuk mendiskreditkan atau menyudutkan pihak lain. Manusia terlalu banyak salah sampai lupa menyudutkan diri mereka.

Kembali ke ihwal hujan. Hujan dan perasaan terjebak. Manusia ketika dalam perjalanan lalu turun hujan, yang pertama kali muncul di benak adalah kita terjebak hujan. Karena hujan kita tidak dapat melanjutkan aktifitas. Manusia adalah korban dan hujan adalah pelakunya. Seperti yang kualami saat ini. Tersudut di warung kopi karena hujan.

Aku teringat wejangan Pramoedya Ananto Toer. Adil sejak dalam pikiran.

Hujan dan manusia adalah dua eksistensi. Bisakah kita menilai hujan secara adil? Pernahkah kita membayangkan hujan telah terjebak dan kita berada dalam jebakan itu. Kita di antara pihak yang dilibatkan Tuhan ketika hujan terjebak. Jangan-jangan hujan  sedang berpikir, manusia -yang terlibat- yang menjebaknya, sebelum kita berpikir telah dijebak hujan. Manusia menjebak hujan. Hujan hanyalah korban.

Hujan tak pernah memilih kapan dan dimana dia akan jatuh. Hujan jatuh di tempat kita berada, lalu menyalahkan hujan dan berdalih kita terjebak hujan. Sungguh tidak adil. Mas Pram, maafkan kami.

Aku ingin menjebak hujan.

17 Mei 2015

Bukan Puisi

Semua tahu, aku tak lihai berpuisi.
Tak tahu menahu teori puisi.
Aturah puisi, sajak, Bait, larik, rima, aku tak mengerti.
Yang aku tahu, puisi hanyalah deretan kata.
Tentu saja untuk dibaca oleh kita maupun penulisnya.
Sesekali untuk dimengerti.

***
Nyaris 11 tahun aku menghabiskan malam di luar rumah. Rumah dalam arti sebenarnya. Kampungku.
Aku terbawa cita yang tak pernah sempat aku rumuskan.
Aku hanya berjalan melewati labirin waktu, tempat, dan juga hati.
Hingga aku betul-betul menjauh dari rumahku.

Tak ada yang menyangka, termasuk diriku.
Kamu anak bungsu pewaris rumah orang tua, tak boleh jauh-jauh. 
Kamu gagap sejak pertama kali mampu merapal kata.
Lidahmu kaku, sudah dikutuk untuk tak mampu menyebut R dengan sempurna.
Ya, huruf R seperti olok-olok ketika keluar dari ujung lidahku.
Itu kata banyak orang yang kukenal sejak kecil.

Waktu berjalan. Perjalananku semakin jauh. Dari rumahku, mulai dari jarak 30 km, 150 km, hingga ribuan km.
Aku semakin jauh.
Dulu, aku bertemu ibuku sekali seminggu, lalu sekali sebulan, lalu kini enam bulan sampai setahun sekali.

Tentang ibuku. Tujuan aku merunut kata-kata ini.
Tunggu sebelum kulanjutkan. Sebenarnya, aku menulis ini bukan untuk dibaca olehnya. Sebab;
Dia tak tahu alamat blogku.
Tak tahu mengakses internet.
Tak tahu menyalakan komputer.
Tak tahu membaca.
Bahkan tak tahu kalau aku menulis untuknya, saat ini.

Baik, kulanjutkan.

Dia, ibuku, menelponku sebulan lalu.
Bukan, aku yang menelpon atas permintaannya lewat kakakku.
Dia tak menanyakan kabar. Seperti biasa.
Dia hanya berpesan, jadilah lelaki yang berani menagih piutang.
Lalu melanjutkan basa-basi lain yang tak penting.

Perihal ibuku yang tak pernah menanyakan kabar.
Begini.
Dia menggunakan firasat seorang ibu.
Ketika aku sakit, dia pasti tahu.
Entah lewat apa, aku tak mengerti sama sekali.
Aku sedang gelisah pun, dia tahu.
Itulah kenapa, dia tak pernah menanyakan kabarku, kecuali untuk sekedar basa-basi.

Ibuku selalu ragu pada kemampuanku.
Katanya, aku terlalu muda sejak kali pertama merantau.
Terlalu lemah, karena aku bungsu.
Dia membandingkanku dengan anak pertamanya, kakakku, yang terlanjur tangguh sejak menggantikan peran ayahku.

Aku yatim.
Tak ada ayah yang melindungiku.
Itu ketakutan terbesar ibuku.
Dia takut, saat aku jauh dia tak mampu melindungiku.
Meskipun firasatnya kuat, jarak tetaplah jarak. Butuh waktu untuk menyelamatkan anaknya jika terjadi apa-apa.

Ibuku tak punya banyak nasihat.
Pesannya selalu berulang ketika aku pulang menemuinya.
Dia tak punya banyak kata-kata seperti dalam buku.
Lagipula, dia, seumur hidupnya tak pernah membaca buku.
Dia buta huruf. Kalian sudah tahu.
Berikut nasihatnya:
Jangan terlalu mudah meminjamkan uang.
Baik sama orang, siapa pun itu.
Jangan bermain perempuan.

Nasihat terakhirnya, aku bingung.
Aku tak bermain perempuan.
Juga perempuan tak ingin bermain denganku. 
Aku hanya tak serius dengan banyak perempuan. Beberapa maksudnya.
Aku pertegas: banyak, bukan semua.
Tak serius tidak sama dengan main-main.
Itu dua hal yang sama sekali berbeda.
Kalian paham maksudku.

Tapi tak tampan begini, aku pernah diajak menikah oleh seorang perempuan.
Bukan, dia bukan perempuan putus asa.
Dia berpendidikan dan cukup waras, seingatku.
Aku tertawa. Lalu mengalihkan pembicaraan.
Dia akhirnya putus asa. Sementara aku masih tertawa.
Aku sedih karena tak tahu cara berkomitmen. Ya, aku sedih tapi masih tertawa di hadapan perempuan itu.
Aku ikut putus asa dan masih tertawa.

Di umurmu sekarang, kakakmu sudah punya 2 anak, kata ibuku.
Aku mati akal.

***
Betul kan, tak seperti puisi.

2 Januari 2015

Pagi Di Teras Kost

Ibarat pelaut, saya baru saja menaiki perahu besar dengan kaki gemetar. Pengalaman belumlah pantas untuk diceritakan kepada orang lain sebagai sebuah kebanggaan. Kaki saja masih gemetar, mata tak lihai menyigi kompas, apalagi tangan yang tak tahu meraba peta. Saya sedang menapaki dunia yang begitu serius, dunia dimana tertawa di depan orang adalah hal yang tabu. Sedang saya berasal dari dunia antah berantah, sama sekali tak serius, tak ada beban apalagi tekanan. Dunia seenaknya, dunia yang hanya dihadapi jika mau, yang bisa ditinggalkan semudah menghabiskan kopi pagi.

Pandangan saya tertuju pada sebatang nyiur yang melambai indah mengikuti gerak angin. Sepertinya dia sedang menikmati pagi yang romantis bersama angin. Bergoyang seiring laju angin. Sejenak saya iri dengan kehidupan yang dia punya. Hanya perlu berdiri tegak, menari bersama angin setiap hari, sesekali menadah bulir air hujan. Tak perlu menyisir rambut, tak perlu bangun pagi untuk pergi ke kantor, dan tak perlu duduk kesepian seperti yang saya alami saat ini.

Pernah saya membayangkan hidup sederhana. Bangun pagi, menyeduh kopi, menghabiskan beberapa batang rokok sambil berselonjor malas di beranda rumah. Tak ada derit kasar alarm yang memaksaku terjaga tiap pagi, melainkan perempuan mungil yang membangunkanku, membelaiku sampai terjaga dari percintaan sepanjang malam. Sampai saya tersadar, dunia tersebut mungkin hanya ada dalam lamunan, khalayan yang tak akan terwujud.

Sekarang, tanggal 3 Januari 2015. Saya menua, nyaris karatan. Hujan baru saja mengaduk debu jalanan menjadi lumpur. Tak jauh, deru traktor memecah kebisuan pagi. Membuyarkan segala khayalan. Laju waktu tak dapat ditahan, garis datar tepat di dahi semakin tegas. Saya menua. Betul-betul menua, merenta.

Di teras kost tempat saya berdiri, tanpa kopi, hanya buku yang tak kunjung usai dibaca. Saya telah melalui kekalahan yang indah. Bekerja, merantau agar terlihat normal seperti kehidupan banyak orang. Tahun berganti, terus berganti, lalu saya lupa berkembang biak. Dan lapuk, membusuk.

Pagi mendadak hancur ketika short message muncul dari balik layar Iphone bututku, "Nikmati masa muda ta, tapi jangan ki lupa, ibu ta hanya manusia biasa yang ingin menimang cucu di hari tuanya. Cuma mengingatkan"
Saya tertegun. Lalu mati...

31 Desember 2014

Suatu Waktu Di Jalan Pulang

Traffic light bergeser ke hijau. Aku menarik handling kopling, memutar gas secara perlahan, motorku melaju pelan melewati antrian kendaraan di ujung zebra cross. Di seberang jalan, di atas trotoar, seorang ibu menepuk pelan paha anak kecil. Mungkin anaknya yang sedang dia tidurkan. Mungkin juga bukan, tapi siapa yang tega anaknya dititipkan kepada ibu yang hidupnya seberat itu. Dia sama sekali tak peduli deru kendaraan lalu lalang di hadapannya. Bukan lantunan musik atau nyanyian teduh, melainkan bunyi knalpot beradu yang mengantar tidur si anak. Sejenak, wajah anak tersebut begitu teduh.

Si ibu tampak kusut. Rambutnya terurai tak tertata. Di hadapannya terhampar mainan yang warnanya sama sekali tak menarik. Sepertinya untuk dijual. Aku melewatinya pelan, melirik tapi tak berhenti. Dalam perjalanan, motor yang biasanya kupacu dengan kecepatan tinggi sengaja aku undur ke 30 km/jam. Pemandangan barusan menghantuiku.

Di atas motor, aku menitikan air mata. Mungkin terharu dengan adegan yang baru saja kulewati. Betapa hidup tak gampang bagi sebagian orang. Berapa banyak ibu yang mesti mengais rejeki di trotoar sambil menidurkan anaknya. Aku terharu betapa beruntungnya aku yang disekolahkan sampai bisa hidup berkecukupan. Ibuku tak kenal ingar bingar hidup. Dia tak membutuhkannya. Yang beliau inginkan, anaknya bisa sekolah, bekerja, lalu hidup mapan. Ah...terlalu berat untuk dilanjutkan.


15 Oktober 2014

Tanpa Judul (2)


Madrasah Tsanawiyah tempat aku menimba ilmu terletak di seberang kampung. Jika ditarik garis lurus, jaraknya sekitar 5 km dari rumahku. Dibatasi sungai tua yang arusnya cukup deras. Untuk tiba di sekolah, aku harus melewati jalan setapak, menembus kebun yang lebih mirip hutan.

Setiap pagi aku dan teman-teman yang lain berangkat sepagi mungkin. Kami berjalan kaki pulang dan pergi sekolah. Waktu tempuh sekitar 25 menit. Siswa yang lebih mapan biasanya memilih naik sepeda motor dengan waktu tempuh yang nyaris sama karena harus  berkelok memutar arah melewati jalan yang bisa dilalui kendaraan. Bedanya: yang naik motor tiba di sekolah dengan senyum sumringah, sedang kami tiba dengan wajah kelaparan. Sarapan tadi pagi tak tersisa, habis dalam perjalanan.


Satu waktu, aku ditunjuk untuk mengikuti perlombaan. Semacam cerdas cermat yang pemenangnya sudah bisa diprediksi. Sekolahku diundang dan aku didaulat untuk ikut meramaikan. Ikut meramaikan, bukan untuk memenangkan kompetisi. Musababnya, guruku saja susah payah menjawab contoh soal lomba, apalagi aku yang notabenenya siswa. Belum lagi buku panduan sangat terbatas. Jadi tak salah kalau niatnya cuma turut meramaikan. 

Persiapan menjelang lomba, aku diwajibkan pulang lebih lama untuk berlatih memecahkan contoh soal. Kadang berdebat sengit dengan guru. Sekali waktu, guruku keliru menjawab soal deret angka. Soal tersebut terbilang muda, akibatnya, kepercayaanku runtuh. Sejak saat itu, aku selalu curiga dengan jawabannya. Dan sejak saat itu pula, perdebatan demi perdebatan terus terjadi dalam kelas.

Pelajaran hari ini usai. Aku masih menatap tajam lembaran soal sampai lupa waktu. Lomba dua hari lagi. Adalah waktu yang singkat untuk memecahkan puluhan soal. Ingin kubuktikan bahwa aku bukan siswa level 'turut meramaikan' dalam perlombaan. Aku bisa lebih baik. Hujan turun tanpa disangka-sangka. Sore mulai layu, senja mengintip, dan aku termenung memamtung putus asa di luar kelas...


Aku menatap dingin pada daun yang mulai samar. Kasihan, daun yang selembar itu menari sendiri dalam sendu. Sendiri ia menghadapi hujan, tak ada teman, tak ada kawan yang membantunya menangkis butiran air atau pun sekedar menghiburnya. Ia seakan tumbuh untuk menghadapi dunia sendirian. Mungkin tak lama lagi ia beranjak tua, menguning, lalu gugur dalam sepi tanpa seorang pun yang peduli atas kekalahannya. Sementara itu, aku duduk terpekur di sudut gedung. Menatap daun yang seolah mewakili kesendirianku. Nelangsa. Gelisah menanti hujan yang tak kunjung reda. 

Satu jam berlalu. Matahari lelah dan menyerah pada malam. Bumi terasa suram, gelap lebih awal dari biasanya. Tanah basah pasrah menerima guyuran hujan. Sesekali bunyi sumbang kodok di seberang rumpun bambu. Bunyi yang mungkin niatnya hendak menghibur tapi terdengar seperti ledekan dan ejekan. Dasar kodok yang tak tahu cara menghibur.

Hujan terus menahanku. Aku menengok langit, sebentar lagi malam menyergap. Dengan berat hati, seragam sekolah dan sepatu aku lepas, lalu menjejalkan benda tersebut ke dalam tas plastik bersama buku pelajaran. Aku harus beranjak. Aku berlari kecil memotong daun talas dekat selokan untuk melindungi kepalaku dalam perjalanan pulang. Yah, kepalaku. Hanya itu yang kubutuhkan agar esok tidak terserang flu atau demam.

Baju dalam yang kupakai nyaris basah seluruhnya. Dalam perjalanan yang bisu, sendiri, dan tak romantis itu, air mataku jatuh. Jatuh bersama hujan. Hutan gelap dan menyeramkan tak aku pedulikan. Pikiranku terlalu sibuk dengan harapan. Tekad bahwa perjuanganku tak akan sia-sia. Ini adalah awal yang mesti dinikmati, tak peduli bagaimana pun sulitnya. Hidupku sempurna meski tak mewah. Tubuhku kuat dan orangtuaku siap mendukung apa yang kulakukan kini: menuntut ilmu.


Sepanjang ingatan, kedua orangtuaku tak berkata banyak. Apalagi bapakku yang tak tahu menahu soal kata-kata bijak atau sekedar memberi motivasi kepada anaknya. Mungkin karena pendidikannya terlalu rendah untuk menggurui. Mungkin juga, karena bakat petani yang lebih banyak bekerja daripada bicara. 

Aku tiba di rumah. Sepatu dan seragam aku keluarkan. Esoknya, aku terserang demam sepanjang minggu dan tidak bisa mengikuti lomba. Sial! (Tuhan, ampuni dosaku karena menuliskan kata itu)

28 September 2014

Kasur

Hei kamu, iya kamu! Singkirkan tubuhmu dan bangkit segera. Sudah pagi, mau jadi apa kamu. Bergegaslah, berangkat kerja...

***

Langit nyaris tak terlihat. Awan tipis berlapis menapis sinar matari. Malam siap menyergap hari, menelannya dalam gelap. Lalu. Kita berjumpa pada senja kelabu. Kau datang menenteng koper besar dengan wajah lusuh. Kau melongok lewat jendela kamar. Kau mendapatiku terlentang malas tanpa sehelai kain yang membalut tubuhku. Aku terkejut. Oh My God, kau melihatku telanjang. Tapi kenapa kau hanya menatapku datar, nanar, tanpa ekspresi. Apakah aku tidak menarik di matamu. Sungguh, kau keterlaluan. Dasar laki-laki. Eh, aku ini apa? Ah sudahlah, tak usah diperdebatkan.

Aku masih ingat jelas, saat senja sedang murung, setelah berdiskusi dengan temanmu, kau memutuskan untuk tinggal bersamaku, di kamar sempit ini. Aku tak memilihmu, kaulah yang memilihku. Hidup adalah pilihan, sedang aku tak hidup makanya aku tak punya pilihan. Apa sih...

Oh iya, aku lupa mengucapkan selamat datang padamu. Selamat datang di Gorontalo. Maaf, aku tak punya banyak kata. Lagipula, tak ada guna, toh kita berkenalan saja belum.

Namamu Kasim. aku tahu dari name tag yang kau lempar sembarang di atas tubuhku. Asalmu dari Kabupaten Bulukumba tapi kau menyebut "...dari Makassar' ketika orang menanyaimu. Ah, dasar munafik! Pantas kau tak punya wanita spesial, asal kampung saja kau tak mau jujur. Tapi apa hubungannya? Aku sendiri bingung. Lupakan saja.

Sebenarnya aku tak risih dengan berat badanmu yang nyaris satu kwintal itu. Eh, maaf 70 kg maksudku. Aku kesal padamu karena  seprei -pakaianku- nyaris tak pernah kau cuci. Satu lagi, singkirkan semua bukumu dari tubuhku, cukuplah aku menanggung berat tubuhmu.

Aku tahu kebiasaan dan sifatmu. Kau adalah lelaki penyendiri, suka bicara dan tertawa sendiri. Awalnya kupikir kamu gila. Tapi tidak, aku salah, kamu hanya melakukannya kala membaca novel. Aku sering melihatmu termenung sehabis membaca novel. Aku tak tahu betul kehidupanmu diluar sana, diluar kamar ini, diluar wilayah kekuasaanku, tapi kalau boleh aku tebak, kehidupan sosialmu biasa saja. Selain peminum kopi dan perokok berat, tak ada yang spesial dari dirimu. Camkan itu!

Boleh aku bertanya, siapa wanita yang sering menelponmu? Hehe, kalau malu tak usah kau sebut, tapi beritahu aku usai menuntaskan tulisan ini. Tapi kok, sepertinya kau menghindari perempuan itu. Kenapa? Ingat, sahabatku (ffiuhh, sahabat apaan), tak banyak wanita yang dekat denganmu, cobalah membuka diri. Ingat umur, kau sudah setengah abad lebih, ditambah dirimu pendiam dan pemalu. Susah dapat perempuan. Atau....kau masih teringat perempuan terdahulumu. Sudahlah lupakan, dia sudah hidup bahagia dengan suami dan anaknya.

Hei kawan, aku punya ide. Sedikit ekstrim, tapi aku yakin kamu suka. Bagaimana kalau membawa wanita di kamar ini, agar ada bau wanita sesekali yang tertinggal di tubuhku. Aku penasaran dengan kemampuanmu di atas ranjang, di atas kasur. Baik, baik, kau marah rupanya. Aku tidak akan menyinggungnya lagi. Tapi ideku tolong dipikirkan lagi, siapa tahu kau berubah pikiran. Iya iya, maaf, aku tidak mengatakannya lagi, sumpah!

Kau tahu, sekarang hari minggu. Hari yang kau sukai tapi aku tidak. Kau begadang di malam minggu, membaca novel sepanjang malam, sampai pagi. Tidur. Bangun telat, lalu melanjutkan bacaanmu. Kau tidak mandi, bau keringat menempel nyaris di sepanjang tubuhku. Tapi, ngomong-ngomong bau keringatmu lumayan juga, khas laki-laki.

Sesekali bangunlah pagi-pagi. Shalat. Aku tak mau ikut-ikutan masuk neraka hanya karena dianggap bersekutu denganmu. Aku tidak mau dituding sebagai biang kerok atas kemalasanmu bangun pagi.

Senin di ujung fajar. Cepat tidur, tak usah baca novel sampai larut supaya kau bisa bangun pagi. Shalat subuh. Jangan lupa, rapikan aku sebelum dirimu berangkat kerja...

***

Aku titip catatan ini di notepad notebookmu. Jangan lupa posting di blogmu, jika sempat...

Salam,
Kasur


Gorontalo, 21 September 2014

9 September 2014

Bapakku

Bapakku petani. Petani tulen. Tak jarang dia memeras keringat dari bajunya di tengah terik matari. Nyaris sepanjang hidupnya tak menginjak gedung, tak merasakan semburan AC. Dia akrab dengan tanah kebun, lumpur sawah, Al quran tua, dan Durratun Nasihin lusuhnya.

Jumat pagi seperti biasa, dia tak beraktivitas di kebun atau sawah. Selepas subuh, 4 jam lalu, dia sibuk di samping jendela rumah. Hingga kini. Menatap kata, mengejanya dengan khusuk. Matanya sigap mengikuti arah telunjuk. Terlihat kaca mata pemberian sepupunya menggantung malas di ujung hidung. Sesekali pulpen menari di atas kertas kecil. Tangannya yang kaku, keras, berkulit tebal menelurkan huruf Arab dengan fasih. Hasil belajar autodidak.

Sementara itu, aku duduk termangu di tangga rumah. Mengintip jalan. Mengawasi langkah perempuan paruh baya muncul dari jalanan tak beraspal itu, pulang dari pasar. Ibuku. Pekerjaan yang kulakukan setiap jumat pagi hingga usiaku menginjak sekolah dasar. Kali ini, aku berharap pasar tak 'diserbu polisi'. Musababnya, kalau pasar ' diserbu polisi'  artinya takkan ada penjual kue. Tak ada apang, tak ada jalangkote, tak ada gambang, tak ada lammang. Aku percaya cerita itu, cerita ibuku. Belakang kutahu kalau itu cuma cerita rekaan agar anaknya tak merengek minta kue.

Pasar kacau. Penjual kue lari berhamburan. Ada yang mati ditembak. Polisi menyerbu pasar dengan brutal. Bahkan, uang receh pun dirampas polisi sampai tak tersisa. Begitu cerita ibuku sambil membersihkan sisik ikan. Aku duduk diam, nyaris menitikan air mata. Tak ada wangi kue, hanya bau ikan dan minyak tanah yang dibawa ibuku pulang dari pasar.

Asap mengepul memekakan mata dari balik dapur. Ibuku sedang memasak ikan yang tak sempat dirampas polisi. Tak lama kemudian kami bertiga makan dengan lahap. Sejenak aku melupakan kue, melupakan polisi jahanam yang menyerbu pasar.

Bapakku kembali dengan kitabnya. Dia akan membawakan khutbah siang ini, seperti pekan-pekan sebelumnya. Jam 11 siang kurang seperempat kami bersiap-siap. Bapakku kembali mengenakan celemek robeknya, celemek satu-satunya yang dia miliki. Sarung sudah tergulung rapi di lingkar pinggang, songkok hitam, terakhir dia mengenakan baju kokoh berbintik hitam akibat sisa keringat. Aku pun sudah siap melangkahkan kaki ke mesjid.

Untuk sampai di mesjid butuh waktu tak kurang dari setengah jam. Kami berdua melewati hutan rimbun, jalan setapak. Jalan yang juga dilalui kuda orang-orang kampung. Kalau hujan, jalanan akan sangat becek. Untung hari ini gerimis tak turun. Awan bersahabat. Langit sedang sumringah. Aku berjalan di depan bapakku. Aku takut di balakang. Dia, bapakku, terus berceloteh, menyibukkan telingaku agar tak menoleh ke arah kuburan yang kami lewati. Aku takut pada nisan kuburan. Dia tahu itu.

Tiba di mesjid, bapakku menuntunku ke tempat wudhu. Dia tidak wudhu di mesjid tapi di rumah sebelum berangkat. Biar pahala jumatnya lebih besar, katanya. Sedang aku tak tahan untuk tak kentut dalam perjalanan. 

Kami di mesjid paling awal. Bapakku menginjakkan kaki, melewati pintu, lalu mengambil barisan terdepan. Aku berdiri di sampingnya. Menjiplak gerakannya seperti bebek mengikuti kawanannya. Bapakku rukuk, aku ikut. Mataku tak melihat tempat bersujud karena sibuk mengamati gerakan lelaki yang berada di sampingku, bapakku.

Khutbah. Shalat. Jumat usai. Kami pulang. Matahari mulai beranjak ke barat. Dalam perjalanan pulang, di sela dedaunan pohon kemiri, kami mempercepat langkah. Aku tahu, bapakku akan ke kebun lagi siang ini. Pulang tanpa kata, hanya hentak kaki kecilku. Kami melewati kuburan lagi, dia meraih tanganku. Aku berlari kecil dengan tenang. Damai.

Bapakku ke kebun. Aku ikut. 2 jam berlalu, keringatnya mengucur. Dia memeras keringat dari bajunya. Dia lelah. Lelah yang dinikmati. Aku terpaku. Aku menangis saat menuliskan paragraf ini. Semoga engkau, bapakku, tenang di sisi-Nya. Sekian...

Gorontalo, 10 September 2014